Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA187. Coffee shop


__ADS_3

"Tak apa sih, khawatir aja." Aku tidak ingin membahas Ra di depan pakwa. 


Bagaimana ya? Aku merasa hal itu seperti aib keluarga. 


"Ada Ayah, Bang. Kau walinya, tapi mereka kewajiban Ayah."


Ah, buktinya saja ayah kurang kontrol. 


"Heem, Yah." Mungkin selepas pakwa pulang nanti, baru aku memberitahu tentang Ra. 


"Gini, Bang. Pakwa berubah pikiran." Pakwa langsung mengganti topik pembicaraan. 


"Memang Chandra nawarin apa?" Ayah memperhatikan pakwa yang pandangannya kosong lurus ke depan itu. 


"Bunga, Van." Pakwa memandang ayah sekilas, kemudian pandangannya lurus ke depan kembali. 


"Kenapa Bunga?" Ayah memberikan laptopnya padaku. 


Alhamdulillah, perkembangan yang sangat pesat dari tambakku. Lebih dari dua kali lipat dari hasil awal, benar-benar di luar dugaan. 


"Slide ke bawah, itu hasil bersih setelah bayar orang-orang yang urus." Ayah menunjuk panel navigasi di laptopnya. 


"Iya, Yah." Aku melihat slide selanjutnya soft dokumen tersebut. 


"Bunga kenapa?" Ayah tidak bertanya padaku. 


Pandanganku dan telingaku terbagi fokusnya.


"Having s**." Pakwa geleng-geleng kepala. 


"Sama siapa? Sama Chandra?" Ayah menyentuh lenganku. 


Aku melirik pada tangan ayah yang berada di lenganku, kemudian memperhatikan wajah ayah dari samping. 


"Bukan, anak kau bilang kalau laki-lakinya dia ya tak mungkin kabar ini sampai ke aku." Pakwa bertopang dagu yang siku tangannya bertumpu pada lututnya. 


"Yaaa, betul juga sih." Ayah mematikan rokokku yang berada di sela asbak. 


Tamat riwayat rokokku, padahal masih setengah batang.

__ADS_1


"Betul juga sih! Betul juga sih! Apanya?! Masa anak kau jadi bajingan, kau suka?" Pakwa melempar korek api milikku ke arah ayah. 


Ayah terkekeh pelan. "Logikanya, tak ada maling yang ngaku. Terus, ceritanya ngegap Bunga lagi mesum gitu?" Ayah menyenggol lenganku. 


"Iya, Yah." Aku mengembalikan laptop milik ayah, aku sudah mengecek semuanya. 


"Terus, siapa laki-lakinya?" Jari ayah bekerja di atas keyboard laptop. 


"Ada, aku kenal. Laki-lakinya punya etika baik, cuma Bunga nolak komitmen." Aku masih belum membuka identitas Hema. 


"Jadi siapa laki-lakinya?" tanya pakwa kemudian. 


"Pakwa tak mau buat dia celaka kan?" Aku sedikit khawatir, karena tadi pakwa sempat emosi. 


"Tak!" jawab pakwa singkat, tapi seperti membentak. 


"Mau kau apakan, Bang? Mau kau minta dia kawini Bunga?" tanya ayah kemudian. 


"Kalau anak perempuan kau digauli laki-laki sebelum nikah, apa yang bakal kau buat?" Pertanyaan pakwa memang untuk ayah, tapi aku yang merinding mendengarnya. 


"Aku…." Suara ayah menggantung di udara. 


"Cuma kau tegur? Kau tak berbuat sesuatu yang udah buat rugi anak kau?" Aku bisa melihat ayah gelisah dengan ucapan pakwa barusan. 


"Jujur aja, beda kasus beda aku ambil opsi. Contohnya Jasmine, aku paham Vano dan Jasmine sejauh apa. Cuma memang, aku tak tau pasti bagaimana sifat Vano masa itu. Kesalahan aku di situ. Aku tegur Vano, aku cuma bilang ke dia, kalau mau serius ya nikahin, kalau mau main-main ya tinggalkan dari sekarang. Tapi seminggu kemudian, dia datang bawa keluarganya. Aku takut, aku takut anak-anak aku hilang perawan sebelum nikah. Tapi aku lebih takut, kalau mereka salah pilih suami. Pendapat aku kadang salah kira, contohnya aku kira Fa'ad ini main-main, aku pun tak yakin dengan penghasilan Fa'ad masa itu. Aku justru yakin ke Vano, karena dia kerja pun udah lebih dari dua tahun. Tapi nyatanya, Fa'ad bisa jadi suami yang baik, sekaligus tangan kanan mertuanya. Malahan, Vano yang zonk kan? Aku ke Fa'ad justru yang beralasan, berniat misahkan. Contohnya kek, Key harus lulus kuliah dulu. Padahal sejujurnya aku tak mempermasalahkan hal itu. Aku tak keberatan anak-anak aku kuliah dan menikah, kalau memang mereka siap dan sanggup secara ekonomi dan mental. Cuma kan aku khawatir sendiri, ini laki-laki serangannya brutal, aku takut anak perempuan aku habis duluan. Makanya aku ambil opsi, untuk udah aja nikahin Fa'ad sama Key. Beda anak, beda aku tangani." Ayah berbicara sangat perlahan. 


Aku paham ayahku bukan Tuhan, ia tidak bisa menebak sifat asli perempuan. Izza yang aku kenal lama pun, sifat aslinya baru aku ketahui setelah pernikahan. 


"Jadi maksud kau, kalau calonnya benar kau nikahkan mereka. Kalau calonnya tak benar, kau halangi mereka? Tapi dengan pilihan kau, kau sempat salah kira gitu?" Kondisi muka pakwa begitu serius. 


"Betul, Bang." Ayah menjentikkan jarinya. 


"Calonnya menurut kau gimana, Bang? Pakwa penasaran sekali, apa dia kita ajak ngopi aja?" Pakwa menggosokkan telapak tangannya, kemudian bertopang dagu kembali. 


Ciri-ciri orang bingung, dilema dan pusing. 


Baiknya aku jujur saja dengan keadaan Hema kali ya? Tapi aku takut kebenaran itu menyulitkan Hema. Tapi aku pasti disalahkan oleh pakwa, jika sengaja menutupi tentang Hema. 


"Dia ada niat jalani hubungan sebelum kejadian mesum itu, niat dia serius dan untuk komitmen. Tapi Bunga jawab, untuk jalani aja dulu. Aku sempat ada bahas tentang pendidikan Bunga, kalau akhirnya mereka benar menikah. Dia bilang akan support pendidikan Bunga, entah dia harus lanjutkan warisan usaha orang tuanya, atau dia cari kerjaan di sini katanya." Aku masih mencoba mengeluarkan sedikit demi sedikit, sebelum tentang siapa Hema dan keadaannya saat ini. 

__ADS_1


"Berarti anak kaunya, Bang." Ayah menutup laptopnya, kemudian menaruhnya di tengah meja. 


"Betul, memang Bunganya. Belum aku tanya, karena pasti ada drama dia paling tersakiti. Aku mau tau kebenaran dari mulut laki-lakinya dulu, karena khawatirnya Bunga yang bohong nantinya. Maksudnya, bukan tentang kebenaran s**snya. Tapi tentang kebenaran hubungan mereka, juga kedepannya bagaimana. Jadi gimana kalau laki-laki itu, kita ajak ngopi di luar aja. Coba kau hubungi dia dulu, Bang. Tapi jangan kau bilang, kalau kau ajak Pakwa dan Ayah kau juga."


Kok aku terseret? Aku memiliki pembahasan juga dengan ayah. Jika begitu, kapan akan aku bahas dengan ayah?  Waktuku habis untuk memecahkan masalah Bunga saat ini. 


"Hubungi, Bang." Ayah memberikan perintah juga, dengan menepuk bahuku. 


Ya sudah lah. 


"Iya, Yah." Aku mengambil ponselku di saku kanan celanaku. 


Untungnya, aku sudah menyimpan nomor Hema. 


"Speaker, Bang. Coffee shop dekat sini aja," tambah pakwa kemudian. 


"Ya, Pakwa." Aku mengangguk, meski tengah fokus pada ponselku. 


"Hallo, Hem." Gercep sekali, Hema langsung menerima panggilan teleponku. 


"Ya, Bang. Gimana? Ada kabar apa?" Suara Hema terdengar jelas, karena aku sudah mengaktifkan speaker dalam panggilan telepon ini. 


"Hmm….. Gini, Hem. Aku mau ajak kau ngopi di luar, biar enak kita ngobrol tentang ini." Aku bingung menyaring kalimat, aku orangnya jujur. 


"Berarti udah ada kabar ya, Bang? Oke, oke. Aku ngerti, Bang. Jam berapa bisanya, Bang?" Suara Hema bersemangat sekali. 


"Sekarang juga bisa, Hem. Kita ketemu di coffee shop depan jalan ya?" Ia pasti tahu tempat ini. 


"Yang dekat bakso Langganan itu kan?" 


Bakso legend, sejak zaman nenek dan kakek katanya. Itu sudah generasi ke berapa, sudah turun temurun ke anak cucu. 


"Betul, Hem. Aku berangkat sekarang ya?" Aku melirik ke arah pakwa dan ayah yang terus memperhatikanku. 


"Oke siap, Bang. Aku siap-siap berangkat sekarang juga." 


Setelah itu, aku mengakhiri panggilan telepon dengan Hema. Kemudian, kami benar-benar bersiap berangkat ke coffee shop yang dimaksud dengan menggunakan mobil pink yang sering dipakai Ra. Bapak-bapak ke coffee shop menggunakan warna pink, sungguh mengguncang gengsi. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2