Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA215. Kacungnya ayah


__ADS_3

Aku memahami maksud ayah.


"Abang tuh kalau bahas tentang perempuan sampai dikuliti." Tante Nina menahan tawanya. 


"Bukan dikuliti, biar kau ada gambaran. Intinya, jangan macam-macam sama komandan. Karena anak buahnya bukan yang di satu pulau aja, bukan yang jaga di sini aja." Ayah menoleh ke arahku. 


"Telpon CS hotel, booking satu kamar lagi untuk tante kau," pinta ayah dengan menunjuk telepon kabel yang berada di atas nakas. 


"Dih, Abang! Beneran aku disuruh lihat video close up?" Mata tante Nina sampai membulat. 


Aduh ya ampun, tertawa lagi saja aku ini. 


"Terserah kau." Ayah tertawa lepas. "Suami kau pulang ke kau, ambil king bed aja, jangan twins begini. Dehen sama Balawa suruh di sini aja, kita empat orang di satu kamar." Ayah menoleh ke arahku kembali. 


"Iya, Yah." Aku menaruh keripik ubi ini, kemudian berjalan ke arah telepon kabel itu. 

__ADS_1


"Aku tak mau Vendra pulang ke aku." 


Sebelum berbicara dengan CS, aku sempat mendengarkan keluhan tante Nina itu. Entah ayah mengobrol apa, karena aku lanjut berbicara dengan pihak hotel. Setelah beres berurusan dengan pihak hotel, aku menutup panggilan dan mencari keripik ubiku lagi. 


"Ngunyah terus, Bang." Ayah melirikku dengan menyangga tangannya ke belakang tubuhnya. 


"Ayah belikan, kan mubazir kalau tak kemakan." Aku mendekati ayah dengan membawa keripik ubi ini. 


"Dia yakin istrinya yang di sana bersih, dirinya pun bersih, Nin." Ayah memandang tante Nina kembali. 


"Aku pasti terus bayangin caranya dia nidurin perempuan itu, Bang." Tante Nina menutupi wajahnya. 


Tante Nina memandang ayah, ia mengangguk mantap. "Tapi gimana caranya aku hidup setelah ini, Bang? Apa keluarga aku boleh tau?" 


"Kau jamin Vendra tetap hidup, meski keluarga kau tau? Bukannya apa-apa, Nin. Aku kakaknya, aku walinya, dia meninggal, anak-anaknya pasti kalap jajan, makan, pendidikan. Nanti aku lagi yang angkut, apalagi kalau Canda tau, karena dia orangnya tak tegaan. Anak-anak kau sih udah besar, mungkin aku arahkan sekolah paket dan ambil universitas terbuka. Tapi kembali lagi tentang permasalahan Vendra akan kau, yaitu mungkin tak nih anak-anak kau pun bisa dibawa keluar dari pulau itu? Kalau aku angkut semua anak-anak Vendra, karena Vendra dibuat meninggal sama keluarga kau. Anak-anak kau, anak-anak yang di Sulawesi, mau tak mau harus lanjut sekolah sampai selesai. Aku keberatan bukan tentang biaya, tapi didikan, perhatian, asuhan. Aku tak mau dihisab di akhirat, karena angkut anak adik, tapi tak bisa didik mereka. Di akhirat bukan tentang uang aja dihisab, tapi bagaimana tanggung jawab kita terhadap anak-anak kita sendiri ataupun yang kita asuh dan orang yang kerja sama kita. Anak aku udah banyak, belum anak yang aku asuh, karena meski mereka udah besar pun mereka tetap anak aku. Kalau kau kasihan sama aku, jangan buat Vendra meninggal. Biarkan dia tetap tanggung jawab ke anak-anaknya, karena memang itu tugas dan kewajibannya. Memang siapa lagi kalau bukan aku yang terbebani, kalau Vendra meninggal? Madhava? Mahadevan? Maheswara?" Ayah mengacungkan satu persatu jarinya kala menyebutkan nama-nama adiknya. 

__ADS_1


"Bang, aku tak berpikir sejauh itu. Tapi bagaimana kalau aku aja yang gugat cerai? Biar tak banyak ribut, biar keluarga aku di sana pun minim tau konfliknya. Daripada nunggu aku diceraikan Vendra, pasti keluarga nanya alasannya." Tante Nina memijat pelipisnya. 


"Ya terserah sih, tapi apa yakin tak dihamili lagi? Soalnya kasus suami yang tak mau diceraikan tuh, ya pakai cara itu semua. Papah sambung Abang, papah Adi, dia begitu. Ghavi, yang kembar itu, dia begitu juga. Itu tak harus dengan kesepakatan, kasusnya ya pemaksaan semua. Bukannya apa-apa, ambil opsi itu biar kau tak repot. Udah sih sulit, harus cari bukti, pengacara, kasus melebar, keluarga dan satu desa dengar semua. Mana efeknya nanti Vendra bisa bakal kehilangan profesinya, anak-anaknya terlantar dan aku lagi yang repot. Yang paling utama, uang Abang tak sedikit loh untuk Vendra sampai di posisi ini. Sayang kan pengorbanan Abang, usaha Abang, kalau akhirnya sia-sia dan tak sampai ke pensiunnya. Vendra dapat gelar begini, fungsinya sih suatu saat Abang butuh ya dia yang bereskan. Tapi kalau memang kau mau bereskan dia dengan keputusan kau, ya terserah aja. Semoga aja Canda tak tau kalau Vendra punya tiga anak sekolah, biar dia tak kasihan dan tak ajak aku kompromi untuk urus anaknya. Tapi meskipun Canda tak tau, besar kemungkinan Vendra yang malah minta aku untuk biayain anaknya dulu. Alasan sih pasti, hutang dulu nanti gampang dihitung aja. T** lah!"


Ayah tidak suka membantu adiknya atau bagaimana? Kok ayahku terkesan pelit dan perhitungan? 


"Memang serius Abang keberatan?" tanya tante Nina kemudian. 


"Ya bukan keberatan aja, macam-macam rasanya. Yang pertama, Abang kecewa karena posisi impiannya ini bukan cuma keinginannya, tapi harapan Abang juga. Yang kedua, bukan Abang pamrih, tapi dia lagi coba balas budi kebaikan orang yang ngebantunya di posisi ini. Abang tak minta uang kembali, sebagai kakak, Abang senang dia bisa bantu Abang di sulitnya menyelesaikan kasus yang berbau hukum. Abang bukan orang yang suka ribet, apalagi Abang adalah orang yang harus urut. Proses hukum, ditambah urut, itu pasti lama betul. Kalau misal kek kasus ledakan kemarin, kalau tak pakai tangan Vendra mungkin baru diproses setelah rumah dibangun ulang. Yang ketiga, anaknya banyak, tanggung jawabnya tak sedikit. Abang mau PHK orang pun mikir-mikir kalau anaknya banyak, karena Abang kena dosa dan tak tega juga. Mikirin sendiri, ngebayangin sendiri, gimana kalau itu di posisi Abang. Abang ngerasain sendiri pengeluaran orang dengan banyak anak tuh, Nin. Misalkan orang yang kerja sama Abang buat kesalahan di pekerjaannya tapi tak fatal, Abang oper dia di posisi lain. Tapi kembali lagi, terserah aja, jangan pikirkan bagaimana nanti dan bagaimana kecewanya Abang. Memang itu urusan Abang sama Vendra, kau tak perlu ikut campur. Tapi kan kau nanya kan? Ya gitu jawaban Abang." 


Jadi betulan, jika ayah orang yang membiayai om Vendra sampai jadi di posisi sekarang. Abang yang baik, penyongkong dan pendana yang kuat, untung juga ipar om Vendra adalah biyung. Jika modelnya perempuan yang perhitungan, pasti jadi masalah besar di saat ayah membiayai adiknya itu. 


"Aku dilema, Bang. Aku tuh pengen tau apa yang keluar dari mulut Vendra sendiri, tapi aku kek jijik atau gimana untuk ketemu dia. Aku sebenarnya mikirin juga gimana anaknya di sini, pasti Dehen dan Balawa pun ditarik untuk bantu biayain pendidikan adiknya. Bukan aku pelit, tapi memang kepikiran. Sebenarnya aku cuma pengen lepas dari Vendra aja, Bang. Aku tak pengen macam-macam, tak pengen hal yang menyulitkan atau hal yang menyusahkan. Biar aku tenang tanpa dia, dia pun bebas dengan istrinya itu. Gitu aja, sederhana aja. Daripada barengan begitu, mending aku sekalian tak punya suami. Mungkin aku kaget satu atau dua bulan, tapi akhirnya terbiasa juga tanpa dia." Tante Nina seperti melamun. 


"Ya udah, Bang. Telepon om kau, ditunggu di hotel gitu." Ayah menoleh ke arahku dan mengusap lututku. 

__ADS_1


Aku adalah kacungnya ayah.


...****************...


__ADS_2