
"Anak kau udah sembilan, Vin! Ngajak adu jantan-jantanan?!" Pakwa mengelin lengan kemejanya.
"Nampak jantanan aku kali, anak aku sembilan, anak kau cuma empat." Pakcik Gavin malah menunjukkan otot tangannya.
"Masuk aja lah, Pakwa. Kirei baru masuk tadi." Pusing aku melihat perdebatan dua orang ini.
"Eh, janganlah! Istri aku lagi pakai tanktop, nemu dia." Pakcik Gavin mendahului masuk ke dalam rumah.
"Heran, Ria kok betah sama suami yang absurd begitu?" Pakwa menduduki kursi teras yang tadi diduduki oleh pakcik Gavin.
"Ehh, Bang. Seminggu belakang, kau ada antar Bunga ke kampus?" Pakwa memandang ke arahku.
"Tak ada antar, Pakwa. Semalam aja aku ajak main, sama pagi tadi aku gangguin. Kenapa gitu?" Aku mulai menyalakan rokokku.
"Kau bawa-bawa anaknya pak Darmaji terus sih ya? Kalau bukan kau yang jaga Bunga, mau siapa lagi? Janganlah bawa-bawa anak gadis orang terus, mana tau hamilnya sama orang ngakunya sama kau." Pakwa celingukan ke pintu masuk.
Mungkin ia menunggu datangnya Kirei.
"Nah, terus kalau Bunga hamil ngakunya sama aku juga gimana dong?" Pakwa dan ayah seolah menjadi jomblang antara aku dan Bunga.
"Memang kau tega hamili adik kau sendiri?" Senyum pakwa langsung sumringah, melihat anak perempuannya keluar dari pintu utama.
"Ayah Kentir." Kirei berjalan manja ke arah ayah kandungnya.
Senyum sumringah pakwa seketika menjadi datar. "Kau carilah ayah sambung yang baru, yang tak ngajarin manggil Ayah jadi ayah kentir." Pakwa melirik sinis pada anak perempuan yang langsung duduk di pangkuannya.
"Iya maaf, Ayah. Ayah, aku minta uang mau buat berenang."
Kirei adalah anak yang selalu ramah pada siapa saja. Bahkan, ia bisa menyembunyikan rasa marahnya dengan senyumnya. Hanya orang-orang yang dekat dengannya, yang tahu karakter anak tersebut.
"Berenang sama siapa, Sayang? Berapa bayarnya?" Pakwa sudah merogoh kantong belakang celananya.
"Sama temen sekolah, lima puluh ribu." Kirei terlihat excited melihat isi dompet ayah kandungnya.
Tak dewasa tak anak-anak, lain cerita jika membahas uang merah.
"Kebanyakan." Pakwa tertawa geli, melihat Kirei menguras isi dompetnya dengan sekali tarikan.
"Kan saudara aku delapan, sembilan sama aku. Udah empat ratus lima puluh ribu, Yah. Belum pengasuh, ibu, ayang Apin."
__ADS_1
Sungguh, aku tidak bisa tidak tertawa. Apalagi saat mendengar Kirei menyebut ayah sambungnya ayang Apin.
"Itu sih rekreasi keluarga, kenapa Ayah tak diajak?" Pakwa hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Ayah kan punya keluarga sendiri. Keknya aku sama pengasuh aja, adik-adik rewel kalau di tempat ramai. Tapi kan aku mesti jajan, ya kan? Makasih ya, Ayah?" Kirei langsung kabur setelah membawa semua uang merah itu.
"Kasih ke ibu, Dek. Hilang nanti." Pakwa terlihat santai uangnya dikuras anaknya.
Aku teringat jatahnya untuk istrinya sekarang. Sepertinya, nilai yang Kirei ambil setara dengan uang jatah untuk istrinya. Tapi, pakwa santai saja dan tidak mempermasalahkan hal itu. Coba pada istrinya, ia pasti ribut.
"Jadi, Bunga ada di biyung kah?" Pakwa mengucek matanya dan melihat ke arahku.
"Iya keknya, Pakwa. Bilang juga dipanggil aku gitu, Pakwa." Semoga pakwa tidak curiga.
Pasalnya, Bunga bukanlah orang yang selalu membawa ponsel.
"Mau diajak keluar kah?" Pakwa sudah bangkit dari posisinya.
"Tadi minta anter ngeprint, Pakwa." Aku sengaja meraup wajahku, agar tidak kentara berbohong.
"Ohh, oke." Pakwa berjalan pergi.
Beberapa menit terdiam, sampai akhirnya Hema menepuk pundakku.
"Itu ayah kandungnya Bunga?"
Hema begitu penasaran yang berbau tentang Bunga.
"Heem, dokter spesialis bedah umum. Itu ayah kandungnya, ibu kandungnya udah tiada." Aku mulai merokok kembali.
"Serius, Bang? Jadi, ibunya Bunga sama ibunya adik yang tadi itu beda?" Hema belum tahu banyak sepertinya.
"Beda, tapi satu ayah. Kenapa memang?" Hema hanya menggeleng samar, ketika aku tanya balik.
Semakin penasaran aku mengenai informasi tentang Jessie.
"Kau user yang ambil barang ke Jessie?" Mungkin pertanyaanku mendadak.
Hema menoleh bodoh. "Ganti topik kah?"
__ADS_1
Segala ia bertanya.
"Iya!" Keluar sudah suara ketusku.
"Yaaa, kek gitu lah." Ia mengusap lehernya.
Seperti ada kecemasan dengan pembahasan ini.
"Kau tau apa aja tentang dia? Apa dia P** juga?" Rasa penasaranku tidak bisa ditahan-tahan.
"Bukan, dia DJ. Pas di test urine pun dia bersih, Bang. Heran kan? Aku merasa tertipu jadi user dia?"
User itu pemakai kah? Kenapa bahasanya rumit sekali?
"Kenapa merasa tertipu?" Aku mengintimidasi gerak tubuhnya.
"Ya dia bilang di awal, aku juga pakai kok dan aman aja. Buktinya? Dia tak pakai tuh."
Aku jadi teringat ucapan Jessie, bahwa hal itu adalah bisnis. Pemilik pabrik rokok tak merokok, begitu pula b**** besar.
"Terus kenapa kau begitu sepelekan dia? Apa karena kau merasa ditipu?" Aku teringat ucapannya tadi yang mengatakan bahwa tak sepatutnya aku bangga membawa Jessie.
"Pembohong lebih parah dari pezina sih menurut aku, Bang." Ia tertawa sumbang. "Aku kena rehab sampai sekarang belum bisa lepas tuntas, itu karena dia loh. Gimana ya? Dia kek hancurin banyak mimpi orang tua ke anaknya, hancurkan otak anak muda. Karena dalam ajakannya, mariyuana ini herbal dan bukan termasuk golongan berat. Dia menarik contoh luar negara, tentang mariyuana dijadikan pengobatan. Aku bodoh juga sih, Bang. Harusnya aku ngerti, kalau aku orang sehat yang tak butuh herbal itu. Bodohnya aku di situ, tapi dalam pergaulannya aku merasa keren memakai herbal itu." Hema menyeka keringatnya.
Meskipun hitam, ia tidak bau badan. Ia cukup wangi, jarak semeter pun aroma wanginya masih tercium. Dari aroma parfumnya saja, terasa sekali parfumnya adalah parfum mahal. Wanginya menunjukkan bagaimana isi kantongnya, pantas saja Bunga berusaha juga untuk menyesuaikan diri dengannya.
Aku pun tidak mengerti kenapa orang-orang pada jatuh ke kubangan hitam. Ayahku sendiri saja pernah kena rehan, karena terbukti memakai s***. Padahal sekarang ia orang sukses, dari dulu ia berpikir luas, tapi tetap terkena dampak buruk bebasnya pergaulan.
"Kau tau kau bodoh, terus kenapa kau salahkan orang?"
Hema langsung menoleh cepat padaku. "Terus kau pikir, Bang. Kau pikir b***** besar itu pantas diagungkan? Kau ngomong kek gitu, seolah kau tak suka kalau Jessie disalahkan."
Karakter Hema berani juga ternyata.
"Aku tanya, kenapa kau salahkan orang?" Aku menaikan daguku.
"Karena dia ngerusak banyak orang, bukan tentang aku aja. Pezina contoh kecilnya, dia hanya merusak dirinya sendiri aja, Bang. Masa kita ketangkep itu, itu lebih dari dua puluh lima orang kena juga. Coba Abang bayangkan besar kadar herbal yang buat aku ketergantungan itu, sampai hampir setahun loh aku ini tak bisa lepas. Itu karena apa? Karena saking besarnya kadarnya, Bang. Logikanya begini, dari sepuluh langsung terjun ke angka satu, tubuh kita tak kuat. Jadi kita kita kurangi persatu persen, bahkan pernah aku kurangi nilainya nol koma nol sekian saking tak tahannya badan. Kalau ada pilihan mati, mungkin aku milih mati aja, Bang. Sayangnya, aku tak mati-mati dan malah orang tua yang mati satu persatu masa aku direhabilitasi." Ada emosi, penyesalan dan kekecewaan di raut wajah Hema.
"Memang di panti rehab dikasih herbal gratis ya?" Pertanyaanku membuat Hema tepuk jidat.
__ADS_1
Aku polos, harusnya ia hanya perlu menjelaskan saja.
...****************...