
"Berarti udah boleh nih ditinggal-tinggal? Udah tak ada petugas yang ke sini lagi kan?"
Perasaan, pernyataan om Vendra sudah jelas. Hadeh, dasar Zio segenggam otak biyung!
"Udah boleh, udah tak ada yang cek lagi. Kalian pun tak perlu repot bolak-balik persidangan. Tau beres ya Pak Zaenal?" Om Vendra menoleh pada rekannya yang ia bawa.
"Iya, tau siap aja. Nanti digabungkan sama kasus kemarin," sahut pak Zaenal tersebut.
Kasus kemarin tentang perceraian dan wanita simpanan itu?
"Makasih ya, Om?" Zio tersenyum ramah.
"Sama-sama. Nih, simpan balik rokok kau. Dikira Om minta uang keringat kah?" Om Vendra melempar rokok yang tersisa itu pada Zio.
Mereka semua tertawa lepas, tawanya saja terdengar gagah. Tapi tetap aku takut, aku takut ditilang. Meski tentu tugas mereka berbeda-beda.
"Adik kau yang luka di rumah sakit mana? Kamar berapa?" Om Vendra mengeluarkan kunci mobil dari dalam sakunya.
"RSUD Muyang Kute, Om. Kamar anggrek 01." Itu rumah sakit terdekat dari tempat kami.
"Om mau ke sana?" tanya Zio kemudian.
"Iya, kau mau ikut?" Om Vendra melangkah ke arah mobil.
Zio memandangku. Pasti ia berpikir, siapa yang akan membantuku beraktivitas.
"Ya udah ikut aja, nanti ada Ceysa ada Hadi." Aku tidak mungkin mengunci Zio untuk tetap membantuku beraktivitas.
"Ati-ati ya, Bang? Jangan turun-turun teras." Zio menepuk pundakku.
"Oke." Aku mengangguk dan mengacungkan jempol.
"Om…. Tunggu, Om." Zio berlari kecil.
"Iya." Om Vendra berbincang kembali pada anggota polisi yang sudah berada di dalam mobilnya.
Aku memperhatikan mobil-mobil tersebut sampai tidak terlihat lagi di pandangan mataku. Kemudian, aku melepaskan rem kursi roda ini dan mencoba menggerakannya dengan tangan.
Jangan beranggapan bahwa aku akan terjun dari teras, karena nyatanya pun menggerakkan rodanya saja sulit. Tangan kananku nyeri lagi untuk memutar roda ini. Bagaimana caranya mengoperasikan kursi roda ini?
__ADS_1
"Zaaa…. Dek Izza…." Aku tidak mungkin menunggu seseorang datang sendiri.
"Ya…." Lamat-lamat terdengar jauh.
"Sini, Za! Dipanggil tuh datang," seruku seperti tenggorokan ini akan lepas.
Tak lama ia muncul, dengan keadaan tangannya yang kotor. Ia baru selesai makan atau belum selesai makan? Risihnya melihat tangannya kotor, apa ia tidak sempat untuk mencuci tangan dulu?
"Masih makan?" Aku memandang tangannya.
"Masih, Bang." Matanya berkedip polos.
Aduh, ampun.
"Cuci tangan dulu, nanti ke sini lagi." Aku tidak suka bau makanan dan bumbu pindah ke mana-mana.
Lagi pun, nantinya kursi roda ini menjadi kotor.
"Tapi aku lagi makan, Bang."
Maksudnya, ia keberatan menerima perintahku?
"Jadi aku dibiarkan di sini? Oke, tak masalah! Lanjutkan acara makan kau!" Gondok sekali rasanya.
"Abang mau masuk? Kan tinggal bilang."
Pikirannya ini ke mana sih?
"Bentar, aku cuci tangan dulu." Ia berlari masuk ke dalam rumah.
Jika aku mengembalikannya, sebelum berusaha merubahnya. Berarti, akulah yang salah besar. Tapi apa aku sabar, untuk merubahnya sedikit demi sedikit?
Karena aku merasa, Izza sejak jadi istri seperti melunjak. Dulu saat masih berpacaran, kita selalu berselisih, tapi ia selalu minta maaf lebih dulu. Tapi sekarang, ia tidak pernah menyadari kesalahannya. Lebih-lebih, ia selalu sakit jika tengah ribut denganku setelah nikah.
Izza muncul, kemudian ia mendorong kursi rodaku masuk. Aku manja sekali, memang. Tapi rasa sakit ini tidak bohongan. Dokter pun menyarankan untuk rawat inap, tapi pikiranku tentang keadaan rumah saja. Aku tidak tenang, jika tidak tahu sendiri keadaan orang-orang rumah.
"Stop, Za. Selesaikan makan kau, aku mau ngomong setelah ini." Aku sudah berada di dalam ruang tamu.
"Ya, Bang." Izza meninggalkanku kembali.
__ADS_1
Aku ingin berbicara empat mata bersama Izza, sebelum Ceysa dan Hadi datang. Karena pasti saja ada drama air mata.
Rumah tanggaku memang terlihat tidak bermasalah. Tapi rasanya masalah di mana-mana, hal-hal kecil yang Izza sikapi menjadi masalah besar untukku.
"Aku udah selesai, Bang." Izza tersenyum manis padaku.
"Sini duduk." Aku menepuk sofa di hadapanku.
"Ada apa?" Ia terlihat seolah tidak ada masalah.
"Kau makin ke sini, makin buat aku kaku hati. Sikap kau bisa dirubah tak?" Aku menggenggam tangannya.
"Sikap gimana?" Izza menatapku serius.
Wajahnya tidak ada yang berubah. Kulitnya malah semakin terawat, sejak menikah denganku.
"Za, kau sadar tak sih kalau kau keterlaluan? Kau seolah pengen nguasain aku, waktu dan kehidupan aku. Kau lupa, kalau aku ini anak laki-laki tertua. Kau lupa, kalau orang tua aku dukung finansial aku dan usaha aku. Kau lupa, bahkan kita masih numpang ke mereka. Pengen aku, kita sama-sama gitu loh. Bukannya aku tak mau menikmati waktu dengan kau, tapi kita bisa menikmati waktu bersama keluarga. Bermesraan? Begituan? Kan ada waktunya. Kita selalu di kamar pun, kita tak melulu begituan. Apa sih yang kita obrolkan? Tentang anak, yang belum dikasih. Tentang usaha, yang tengah aku usahakan. Tentang anggota dan sentuhan yang kita sukai. Ditambah aku tetap harus kerja, cek laporan, buat laporan dan kirim laporan. Tenaga aku dipakai di lapangan, urus ini urus itu, urus usaha baru kita." Aku berbicara lembut dan halus, agar ia mau mengerti.
"Anak biyung sama ayah itu bukan cuma Abang." Ia menepuk dadaku.
"Memang, tapi siapa lagi??? Zio? Dia masih kuliah, dia urus ini dan itu. Kau tak tau, kalau Zio jadi orang ayah yang paling utama. Aku cuma dipanggil, diminta antar ini, antar itu, itu sedikit dan sebentar, Za. Tak sebanding dengan tugas Zio sebagai anak lajang yang jelas masih bebas, ayah pun enak aturnya. Kau di kamar aja, ya jelas tak tau bagaimana anak-anak ayah disuruh ini itu. Bukan karena pengen merepotkan anak, tapi karena ayah ingin anaknya serba bisa dalam menjalankan bisnis nanti."
Memang benar anaknya bukan cuma aku saja. Memangnya aku disuruh apa coba? Hanya dipanggil, untuk mengobrol tentang pekerjaan. Itu setiap hari dan Izza merasa keberatan. Banter-banternya, disuruh antar biyung dan menjemput biyung. Izza yang selalu protes tiap malam, karena aku katanya dipanggil orang tua terus.
"Kan ada anak perempuannya. Anak banyak, tapi kesannya kek anaknya cuma satu."
Kok begitu ia menanggapinya?
"Ra sama Cani di pesantren, kalau kau lupa. Mau bahas bisnis sama siapa? Cala dan Cali? Iya? Atau, mau nyuruh kak Jasmine yang lagi ngidam? Nyuruh kak Key yang diekori Kaleel?" Aku sudah berusaha sehalus mungkin, tapi sepertinya ia memang suka suaraku meninggi.
"Nanti lain kali, kalau aku dipanggil ayah, aku ajak kau. Biar kau tau apa yang ayah tanyakan, apa yang ayah butuh dari aku." Aku meredam emosi ini, dengan memejamkan mataku sejenak.
"Tak perlu." Izza membuang wajahnya.
"Za, mau kau aku ini harus gimana? Makin ke sini, kita makin renggang kalau kau tetap gini." Ia harus membuka matanya dan sadar keadaan kita saat ini.
Baru sebulan sudah seperti ini rasanya, bagaimana setahun nanti?
"Aku mau Abang ada waktu untuk aku, anggap aku ada dan pentingkan aku. Pikirkan bagaimana perasaan aku, kebahagiaan aku, kesenangan aku. Bukan tentang cari uang aja." Senjatanya keluar, air mata.
__ADS_1
"Begitu? Jadi, kau mau kita nyusahin orang tua terus? Pengeluaran kita sebulan itu lima belas juta, bulan ini nih. Padahal kita tak punya cicilan mobil, cicilan rumah, tak ikut arisan keluarga juga. Kau minta, aku kasih. Itu totalnya sebulan ini. Oke, kita coba dengan aku tak berusaha keras cari uang. Aku cari uang sedapatnya aja, biar punya banyak waktu untuk kau." Aku ingin Izza merasakan sendiri resiko hidup kami, jika aku tak fokus memikirkan usaha baru dari sekarang. Uang gajiku di perusahaan di Singapore, apa ia akan mampu membagi uangnya atau tidak. Kita lihat nanti, agar dia sadar sendiri.
...****************...