Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA218-219. Kabar dari biyung


__ADS_3

"Ayah sih malah kasih opsional begitu, tak kasian tante Nina." Aku menggerutu di resto hotel, di meja yang isinya hanya aku dan ayah saja. 


Dehen, Balawa, Esmee, om Vendra dan tante Nina memilih untuk makan di luar. Biarkan saja, biar akur katanya. 


"Kasian gimana? Seorang istri itu ada hak untuk mempertahankan suaminya, tak boleh langsung dilepas nanti rumah tangga semua orang bisa hancur kalau gitu caranya. Coba aja tanya biyung kau yang ahli hadits, rumah tangga itu wajib dipertahankan dan diperbaiki sebelum benar-benar memutuskan untuk berpisah. Kau aja kemarin titipkan Izza dulu ke omnya, kau tegur, kau nasehati, kau pikir matang-matang kan? Kau tak langsung ceraikan dia, begitu ada hal yang menurut kau tak cocok dengan kau. Ya laki-laki pun punya hak yang sama untuk ditegur, dinasehati dan diperbaiki. Laki-laki tak cari nafkah, itu ditegur dari teguran halus sampai tegas. Kalau tak ada perubahan, boleh tuh si istri nuntut cerai." 


Aku jadi banyak ilmu jika begini. 


"Makanya Ayah ada ngomong, kalau om kau tak ada perubahan ke Caitlin, ya bolehlah tante kau proses om kau. Tapi dengan melanggar aturan suku, Ayah yakin pasti ada sanksi tegas untuk om dan tante kau." Ayah mengusap-usap dagunya yang hanya memiliki beberapa helai bulu. 


"Sanksinya kek mana contohnya ya?" Aku tidak tahu aku ini suku apa, aku pun merasa tidak mengikuti aturan kelompok tertentu. 


"Kek dirinya tak bisa dapatkan tahta berikutnya, ataupun warisan harta tertentu. Semacam kerajaan, Bang." Ayah tersenyum ramah pada pelayan yang mengantarkan makanan kami. 


Aku masih berpikir dan membayangkan, dengan memperhatikan piring-piring yang ditata di atas meja ini. Jika semacam kerajaan, berarti suku tersebut beranggotakan banyak orang dan sebuah kelompok besar. Aku kira seperti suku pulu-pulu yang ada di kartun Upin dan Ipin, salah kira ternyata aku ini. 


"Ayah tau?" tanyaku setelah pelayan itu pergi. 


"Apa tuh?" Ayah mengaduk makan miliknya. 


Sederhana saja ayahku si herbivora itu, ayah hanya memesan gado-gado yang dikemas dalam bahasa Inggris. Tak lupa juga, dengan seporsi nasi ukuran kecil karena tidak disediakannya lontong di sini. 


Eh, vegetarian maksudnya. 


"Ish, maksudnya tuh tau kah kalau suku di sana itu besar?" Ayahku mungkin hilang fokus, karena pembicaraan terjeda tadi. 


"Tau, Bang. Ayah buka tambang aja tuh, yang susah itu izin ke penduduk asli yang merupakan bagian dari suku kek gitu lah. Waktu nikahan om Vendra pun Ayah datang juga." Ayah mulai menyantap makanannya. 


"Ohh, gitu. Apa mereka penganut agama tertentu?" Aku masih belum jelas membayangkannya. 


"Setau Ayah sih, agama mereka ya mayoritas Islam. Tapi kepercayaan mereka terhadap ajaran dan tradisi nenek moyang itu tak lepas, ilmu tradisional dan pengobatan tradisional pun masih banyak di sana. Patah tulang, langsung nyambung lagi tulangnya. Tapi katanya kalau orangnya tak percaya, jangan sekali-kali berobat ke sana. Apalagi orang-orang logis kek Ayah, ya tak disarankan berobat di sana. Bukan karena nanti tak bisa sembuh atau gimana, tapi nantinya malah ocehan di hati ini menyakiti perasaan mereka. Konon katanya, mereka bisa paham isi hati seorang pasiennya." Ayah lanjut makan setelah menjelaskan. 


Aku manggut-manggut, kini aku malah membayangkan sekumpulan orang-orang yang memakai baju adat daerah. Apa seperti itu? Tapi jika bertanya kembali, aku takut ayah merasa terganggu dan tidak selera untuk makan. Ya sudahlah, cukup jelas kok. 


Aku memandang makanan yang aku pesan, sop ayam berkuah bening ini membuatku penasaran. Karena terang saja, sop ayam yang biyung masak itu selalu berkuah keruh karena bumbunya. Enak dan nendang betul rasanya, karena aku terbiasa makan dengan masakan itu. 


"Enak, Bang?" tanya ayah, setelah aku menyeruput kuahnya. 


Aku tersenyum. "Not bad, tapi enak biyung punya." 


Ayah terkekeh kecil. "Ini pun enak yang di car free day, di sini bumbunya kurang banyak. Jadi kesannya kek salad, terus bumbu kacangnya ini sausnya. Bukan kek gado-gado, yang kek sayur mayur mandi bumbu kacang gitu."


Ayah memiliki kurang cocoknya dalam menu tersebut rupanya. 


"Tapi estetik, Yah." Tampilannya indah dan memiliki seni. 


Kan jadi sayang untuk memakannya. 


"Iya sih, tapi Ayah bukan mulut orang kaya pada umumnya." Ayah terkekeh geli sendiri. 


Kami adalah orang yang rakus dalam makanan, bukan penyuka seni makanan. Kalau lapar, ya bagaimana gitu kan? Memang didikan kuli dan orang biasa itu beda, karena sebelumnya nenek dan kakek adalah bukanlah orang yang begitu kaya. 


Ah, aku jadi rindu beliau. Mereka yang selalu nampak romantis di depan anak cucunya, bahkan nenek tidak pernah lupa untuk menyediakan dan menyodorkan air minum ke kakek, setelah beliau datang dari bekerja atau memiliki suatu keperluan yang penting di luar. 

__ADS_1


Malam harinya, om Vendra menelpon keluarga tante Nina di kampung. Percobaan pertama yang ayah sarankan adalah, minta izin untuk berada di luar kota selama sebulan. Izin tersebut pun, rupanya langsung didapatkan. Paling lama katanya dua bulan, untuk tinggal di luar. Kemudian harus kembali lagi, untuk makan, tidur dan merasakan air kampungnya lagi. 


Hunian cepat diberikan om Vendra untuk tante Nina, di mana katanya adalah di rumah dinasnya. Jadi pun, om Vendra pulang ke rumah tante Titanic itu hanya untuk memberi perhatian dan menuntaskan kebutuhannya saja. Selebihnya, ia sibuk bekerja dan pulang rehat di rumah dinasnya. Tapi tentang kebutuhan, katanya hampir setiap hari. Yang artinya, om Vendra pun pulang tiap hari ke tante Titanic meski hanya sebentar. 


"Hen, kau dan adik kau tinggal di sini dulu. Kalian harus pro, demi keutuhan rumah tangga orang tua kau. Kabarin Ayah, kalau Papah kau itu ke Caitlin tanpa Mamah kau. Kasih tau Ayah, kalau memang Ayah kau masih cari pelampiasan ke Caitlin itu. Memang itu kewajiban, karena dia masih suaminya. Tapi ada niatan untuk menceraikan Caitlin, berarti kan memang kewajiban sudah tidak ditunaikan." Ayah menepuk-nepuk pundak Dehen dan merangkulnya. 


"Ayah mau ke mana memang?" Dehen menoleh ke arah ayah, kemudian ia memandangku yang tengah merokok di depan jendela. 


Kami berkumpul di kamar hotel twins bed lagi, dengan Esmee yang pulas saat mereka sampai. 


"Ya pulang ke Aceh, Ayah beristri di sana." Ayah melepaskan rangkulannya pada Dehen. 


"Kalau di sini tak beristri ya, Bang?" Om Vendra tertawa mengejek. 


"Bukan tak beristri, tapi tak ada istrinya di sini. Ada anak aja, satu di bawa, di rumah banyak." Ayah terkekeh geli. 


Ohh, begitu ya candaan orang dewasa? 


"Repot tak urus banyak anak gitu, Bang?" Tante Nina tersenyum memandang ayah. 


Ayahku menawan memang. 


"Repot tak repot, dinikmati aja." Ayah memasang senyum dan memandangku. "Pesan tiket sekarang aja, Bang. Biar besok udah di sana," pintanya kemudian. 


"Serius malam ini, Bang?" Om Vendra langsung merogoh ponselnya. 


"Iyalah, Canda ribut aja. Galon lah, gas lah, uang cash habis lah, kompor nyala merah lah, sepatu mangap lah, kipas rusak, lampu mati. Kalau tak dibawa, spam yang aneh-aneh. Bikin pikiran tuh, bikin tak tenang." Ayah geleng-geleng kepala.


"Tak posesif nanyain lagi di mana, sama siapa, aktivitas apa kah?" tanya tante Nina kemudian. 


"Tak sih, sejak rujuk dia tak kek gitu. Cuma tak pakai aba-aba, langsung video call. Sama kalau ada masalah di rumah, ya spam kek gitu." Ayah mengecek ponselnya lagi. 


"Jadi panik ya kalau lagi sama perempuan lain, Yah?" Dehen tertawa pelan. 


"Bukan lagi sama perempuan lain juga, tapi kadang kan lagi rapat, lagi di kamar mandi. Kalau tak diangkat itu, penjelasannya kepanjangan, belum harus ada saksi yang ikut jelaskan juga. Pernah buat kesalahan, meski tak diposesifin juga tapi dicurigai sih tetap. Terima aja, masih untung mau kembali." Ayah tersenyum manis dan mengusap dadanya. 


"Nih, Chandra ini Chandra. Ribut aja anak." Ayah menahan layar ponselnya ketika berbicara, sepertinya tengah membuat voice note. 


Kemudian, ayah mengambil fotoku tanpa meminta aku bergaya. Sudah seperti kurir paket saja, foto tak pernah minta aku bergaya. Masih untung tangannya saja, kadang ada yang full badan dan kondisi muka yang sedang amburadul juga penampilan yang apa adanya. 


"Biyung nyariin kah, Yah?" Aku menaruh puntung rokokku yang sudah habis di asbak meja sudut. 


"Nih, baca sendiri. Barangkali kau malu." Ayah memberikan ponselnya padaku. 


"Ada apa ya, Yah?" Aku mengerutkan dahiku, dengan mengambil ponsel milik ayah yang ayah sodorkan. 


[Jessie bilang, Chandra pacaran sama Nahda.]


[Awalnya dia nanya, Nahda pernah ke sini tak katanya. Aku tanya balik kan, Nahda siapa.]


[Katanya tuh, Mas. Nahda yang pacarnya bang Chandra. Terus aku dikasih lihat fotonya, Jessie juga kasih tau sisa chatnya sama Chandra. Di situ Chandra bilang, katanya Nahda itu calon istrinya dia.]


[Benar loh itu foto Chandra sama Nahda anaknya Ghifar.]

__ADS_1


[Chandranya mana? Dichat tak balas-balas.]


Pesan rentetan dari biyung. 


"Biyung kau memang bodoh, tapi dia jujur." Ayah berdiri di sampingku dan berbisik padaku. 


Aduh, napasku sudah berat aja. 


"Jangan aneh-aneh, kau duda, dia bocah kemarin sore," tambah ayah kemudian. 


"Iya, Yah." Ingin menjelaskan pun bagaimana, serba salah rasanya. 


Karena aku memiliki kesepakatan dengan Nahda, ide itu pun tercetus dari Nahda. Tujuannya agar Jessie mundur, bukan malah membuat runyam begini. Karena keluargaku selalu serius, jika tentang hubungan lain antar saudara. Perkiraan kami, Jessie hanya berani bertanya pada Ra. Bukan langsung sampai ke biyung begini, itu benar-benar di luar perkiraan. 


"Iya, Yah. Gimana? Betul?" Ayah merangkulku dan sedikit menj**** leherku. 


"Nanti Nahda jelaskan aja deh, bingung aku nih." Karena adanya ide ini kan dari dia, ide ini juga untuk kesepakatan tutup mulut tentang pod itu. 


"Kau tau hubungan ayah sama papa Ghifar gimana, kenapa kau malah dekati anaknya? Biyung kau mantan pacar papa Ghifar, mama Aca punya masa lalu sama Ayah. Kami para besan jadi kacau, Bang. Canggung, aneh, bingung rasanya." Ayah berbisik penuh penekan tepat di depan telingaku. 


Kemudian, ayah melepaskan leherku perlahan. 


"Ya kan udah damai juga, biyung maupun mama Aca kan santai aja." Aku meregangkan otot leherku. 


Tidak sampai membuat sesak napas, tapi sampai membuat leherku berbunyi. 


"Kami para laki-laki masih kerasa rasanya, Bang. Tak ada orang, kalau posisi ngobrol tak ada orang lain, kek teringat kejadian itu. Ngerasa nyesel betul, karena kejadian itu sekarang kek canggung betul kalau ngobrol berdua. Ngobrol ramai sih asyik, biasa aja memang. Tapi kalau timingnya lagi tak sengaja berdua, kek teringat perbuatan kami gitu loh. Papa Ghifar pun pasti sama, malah pernah terus terang sama Ayah kalau dia belum bisa tenang dan belum bisa lepasin biyung dari pikirannya. Papa Ghifar tuh pengen selalu biyung ada di depan matanya, meski tak serumah dan satu KK. Ayah tau hal itu dan Ayah benci fakta itu. Biyung kau istri Ayah, seburuk-buruknya Ayah dulu, sekarang kan bahkan dosa biyung kau ya Ayah yang tanggung. Papa terkesan tak percaya sama Ayah, malah berpikir biyung kau tak berada di tangan yang tepat. Karena apa? Karena cara Ayah rebut biyung dari tangan papa Ghifar itu, bukan dengan cara yang baik. Ayah tau kebenaran itu, terus kau beranggapan Ayah santai aja kalau mereka tak sengaja berdua gitu? Kau salah besar, Bang." Ayah geleng-geleng kepala. "Ayah tak tenang, karena khawatir papa kau itu nanya-nanya tentang rumah tangga kami. Sesalnya lagi, karena biyung kau pasti cerita jujur. Ayah tak masalah, kalau cerita yang baik-baik aja. Tapi mulut perempuan, kadang ada yang tak sreg sama suami tuh, kadang dilepaskan di orang lain dulu. Bikin tak enak laginya, Ayah ditegur papa kau. Hei, suaminya loh ini suami sah. Malah ditegur mantan pacar istri, meski notabene dia adik satu ibu sama Ayah. Tersinggung Ayah, Bang. Ayah terbuka dengan kritik dan saran, tidak dengan orang lain yang menasehati masalah intern rumah tangga Ayah. Karena itu masalah yang rahasia, yang bisa diselesaikan antara suami dan istri aja. Kecuali, ya kecuali Ayah minta saran." Ayah membuang napas panjangnya begitu cepat. 


"Jangan aneh-aneh lah, tak suka Ayah sama hubungan yang rumit. Kau sama Nahda memang sepupu jauh, tak satu nenek kek Kal atau Gwen. Tapi rumitnya karena hubungan Ayah dan orang tua Nahda, Bang. Kau suka yang yatim-yatim, bisa lah Ayah carikan. Nahda, ya jangan. Lebih baik kita diskusikan, daripada pas kumpul acara malah canggung," ungkap ayah, di saat aku masih diam tidak memberikan tanggapan. 


Ayah sudah mode serius saja, padahal belum mendengarkan penjelasanku dan Nahda. 


"Ayah percaya tak kalau aku ngomong itu cuma bohong aja?" Aku berbicara dengan hati-hati dan pelan. 


Untungnya, keluarga om Vendra tengah mengobrol sendiri. Jadi tidak menguping, atau mencampuri obrolan kami berdua.. 


"Tak! Izza aja kau bohong dia cuma teman, tapi temenan sampai nikah sih gimana?" Ayah menoleh dengan meninggikan dagunya. 


Ngajak gulat ayah ini. 


"Yaaa, lain ini sih." Masanya Izza kan aku masih bocah. 


"Lain apanya?! Kau ada hubungan sama perempuan, mulut kau ribet ngomong, tapi ekspresi wajah kau lain." Ayah menunjuk tepat di wajahku. 


"Ayah tuh ngegas aja." Aku langsung tertunduk. 


Tadinya aku mau meladeni ayah untuk gulat, tapi sekarang nyaliku menciut hanya ditunjuk saja. 


"Udah cepat cari tiket, pesan! Pulang kita sekarang!" Ayah meninggalkanku setelah memberi perintah. 


Komandan rumah tangga yang galak. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2