Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA157-158. Terkuak (Jessie Fransisca Ratag)


__ADS_3

Sepertinya, aku mulai penasaran dengannya. Terbukti dari beberapa kali aku mencari nama sosial medianya, tapi tidak satu pun aku menemukan atas namanya. 


Tan Malaka. 


Benar-benar tidak ada wajahnya dengan nama itu, sampai aku rela masuk ke satu persatu profil yang bernama itu. Ia kan influencer, harusnya pencarian namanya langsung muncul teratas. Namun, tidak dengan dia. 


Apa nama tenarnya berbeda. 


"Bang, ada Jessie."


Ayah mendatangiku di balkon halaman belakang. 


"Jessie?" Aku mengerutkan dahiku. 


Siapa lagi perempuan itu? Selain Mala, aku memiliki Bunga sebagai teman wanitaku. 


"Ya, anaknya pak Darmaji."


Hah? Pak Darmaji memiliki anak berapa sih? 


"Yang mana?" Aku tiga kali keluar jalan-jalan dengan Mala, ia tidak pernah bercerita memiliki saudara bernama Jessi. 


"Yang dua kali ke sini itu, anak tirinya pak Darmaji, anak bawaannya ibu Niken." Ayah menjelaskan dengan ekspresi jengkel. 


Aku salah kah? 


"Itu sih Mala." Mala dua kali ke sini untuk mengajakku keluar.


Yang terakhir, aku berani menjemputnya di rumahnya. Orang tuanya welcome padaku, mereka tidak banyak berbicara denganku tapi terlihat keberatan aku membawa anak perempuannya jalan-jalan hanya untuk makan. 


"Mala? Mala siapa? Jessie, Bang. Ayah tuh nanya langsung ke pak Darmajinya, Ayah ngobrol sama dia." Ayah sampai ngotot. 


Aku masih kurang percaya dengan hal itu. 


"Ayah jangan ngarang deh, nama dia Tan Malaka." Aku mematikan api di rokokku. 


Aku tidak fokus merokok lagi jika begini. Ini bukan kekeliruan saja loh, ini masalah identitas yang serius menurutku. 


"Masa iya? Pak Darmaji bilang anak tirinya namanya Jessie Fransisca Ratag, profesinya DJ kan dia itu? Dia pakai nama samaran kali sama kau. Orang pak Darmaji sendiri bilang ke Ayah, oh ya nitip Jessie ya soalnya sering main sama Chandra. Gitu, Bang."


Mendengar penjelasan ayah, aku langsung bergerak untuk menemui Mala. Ia membohongiku? Ia menyembunyikan identitasnya dariku? Ia ingin menipuku? 


"Tan Malaka?" Aku menyebutkan namanya yang ia kenalkan padaku itu. 


Ia menoleh dan tersenyum lebar. "Bang, aku mau ajak Abang keluar." Ia terlihat tidak merasa bersalah. 


Atau ia memiliki nama cadangan untuk laki-laki lain? 


"Atau, Jessie Fransisca Ratag?" Aku memandangnya dalam. 


"Iya makanya aku ajak keluar, kita perlu ngobrol." Ia terlihat santai. 


Ia tidak ada otak kah? 


"Udahlah! Aku malas sama kau. Maksud kau apa gitu? Kau banyak nanya tentang aku, seolah jadi manusia asyik yang ingin tau banyak tentang aku, tapi akhirnya kau bohongi aku." Aku enggan duduk di sofa. 


"Sini dulu, duduk. Kita bisa ngomong baik-baik, tolong jangan buat aku malu untuk bertamu lagi. Aku datang baik-baik, Bang." Ia pindah duduk dan menarik tanganku. 


Aku membuang napasku, kemudian duduk di sampingnya. "Aku tak suka dibohongi!" Aku mengibaskan tanganku yang ia genggam. 


Secara tidak langsung, berarti benar namanya itu. Harusnya aku curiga sih, nama ibunya saja Niken. Wajar saja, namanya seperti luar negeri begitu. 


"Kita ngomong di luar, aku tak bisa ngomong di sini." Ia seperti gelisah. 

__ADS_1


"Kenapa tak bisa? Ngomong tinggal ngomong." Aku menggeser posisi dudukku. 


"Aku tak mau nangis, apalagi nampak cengeng depan keluarga Abang." Ia menundukkan kepalanya. 


Adik-adikku berlarian, mereka pun sempat menoleh ke arah kami. Kemudian, pengasuh mereka lewat dan sempat melirik kami. Memang tidak nyaman, jika mengobrol di sini. 


"Aku izin ke ayah dulu." Aku meninggalkannya sejenak. 


Setelah mendapat izin seperti biasa, aku membawanya ke tempat makan lesehan yang cukup sepi. Seperti tempat makan khas Sunda, tapi di sini menu utamanya ikan bakar pedas. Sesuai selera masyarakat di sini. 


"Aku pernah minta maaf di awal kan? Ya sebenarnya, minta maaf untuk ini." Ia tidak sungkan merokok di depanku lagi, bahkan meski di sini ada beberapa orang. 


"Lihat KTP kau." Barangkali nama di KTPnya beda lagi. 


"Aku minta maaf ya, Bang? Tetap jadi teman aku ya?" Ia menaruh rokoknya di ujung meja, kemudian ia mengambil sesuatu di dalam tasnya. 


"Aku tak ngerti kenapa kau berani bohongin aku." Aku menarik cepat KTP yang baru ia keluarkan. 


Kelahiran Jakarta, usianya terpaut satu tahun denganku. Alamatnya di Jakarta, ia pun belum menikah. Namanya menjadi tujuanku, benar namanya sesuai yang ayah beritahu.


Jessie Fransisca Ratag. 


"Ayahku bandar s***, aku bandar mariyuana. Cuma sekolah aku, teman sekolah aku dan keluarga tau yang tau nama aku. Ayah aku ketangkep, aku pun ketangkep. Ayah nyuruh aku berhenti dan pulang ke ibuku, setelah aku keluar dari sel. Update terakhir tentang kabar ayah aku, dia cuma kena kurung berapa bulan lagi, karena tak adanya barang bukti. Beberapa bulan lagi, aku bakal jemput ayah di Jakarta dan aku antar dia pulang ke kampungnya. Usaha untuk masa tua ayah udah aman, jadi kita tak perlu untuk lanjutkan jaringan. Karena memang tangkap tangan, jalan keluar untuk keluar dari jaringan itu. Kita tak bisa tiba-tiba keluar, dengan alasan pengen insaf. Jadi, dipenjara itu sengaja biar kita lepas dari jaringan hitam ini. Satu lagi…. Aku masuk sekolah itu lebih dini, jadi aku wisuda tahun lalu juga kek Abang. Lima hari setelah wisuda, aku masuk penjara selama tujuh bulan. Terus, aku usahakan ongkos pulang dari beberapa teman aku yang aku titipkan uang." Ia berbicara di dekat telingaku. 


Aku menoleh dengan tatapan datar, aku memandang matanya dengan seribu pertanyaan bodoh. Yang jelas, aku shock mendengar pengakuannya. 


"Kode etiknya, memang tak boleh kasih identitas kita. Entahlah, aku kebawa untuk berhati-hati sampai sekarang." Ia menarik kembali rokoknya yang berada di ujung meja. 


"Aku minta maaf ya, Bang? Seumur-umur, aku baru cerita ke Abang aja. Bahkan ibu aku tak tau, kalau aku terlibat dalam jaringan gelap sama ayah. Yang ibu tau, aku cuma jaga toko kelontong punya ayah di Jakarta. Aku benar-benar lega udah lepas dari dunia itu, sekarang pengen mulai hidup baru di lingkungan baru. Meski sebenarnya, aku belum terbiasa berhijab." Ia menyentuh punggung tanganku sekilas. 


Aku masih belum bisa berkata-kata. Ini terlalu berat untuk aku terima, masa lalu gadis cantik sepertinya sesuram itu. 


"Kau pemakai juga?" Hanya itu yang ada di otakku sekarang. 


Ia mencari uang dengan cara merusak otak orang. Aku tidak membenarkan, tapi aku sedikit terkesan dengan perjuangannya bertahan hidup di sana. 


"Kenapa kau ambil pilihan itu?" Aku memandang wajahnya terus menerus. 


Aku tengah mengamati perubahan di wajahnya dan membaca ekspresinya. Ia terlihat sedih dan menyesal, bisa jadi ia melakukan karena keterpaksaan. 


"Jakarta itu keras, kontrakan satu petak aja di pusat kota itu udah dua jutaan. Kita tak bisa pulang, karena tak punya ongkos. Ayah pengen aku ngemban pendidikan, aku dari kecil tetap wajib sekolah meski keadaan beliau sesusah itu. Ayah dulu jualan nasi padang, tapi tak punya keberuntungan di sana. Hutang di mana-mana, Bang. Terus ayah terjunlah jadi kurir gelap dulu, terus ibu tau dan minta cerai. Ayah tak mau cerai, makanya sampai ambil paksa aku dari ibu. Ayah sekolahkan rumah nenek di kampung, untuk jualan nasi padang di kota. Ayah punya tanggung jawab untuk bayar angsuran rumah di bank, jadi ayah terus bertahan jadi kurir gelap. Sampai ekonomi mulai stabil, pendidikan aku terus nuntut biaya. Sampai akhirnya, ayah mutusin jadi bandar. Karena pergaulan di club malam, dari usia enam belas tahun aku bilang ke ayah untuk pegang mariyuana aja, karena di tempat aku begitu dicari. Aku juga bilang, aku pengen punya uang sendiri, bantu ayah untuk pendidikan aku sampai kuliah. Ayah tetap ngelarang, sampai aku setahun rutin keluar malam dan bisa ngeDJ karena aku orangnya mau belajar dan teman aku banyak. Sampai akhirnya, aku ambil barang di orang lain. Singkat cerita, aku ketahuan dan kata ayah pegang barang dari ayah aja biar aman dari pengintaian. Sejak tujuh belas tahun itu, aku ngeDJ dan jadi bandar besar. Aku kuat begadang, aku tidur di jam istirahat di sekolah. Aku tidur di angkot udah biasa, kecopetan pun sering. Pulang sekolah sampai menjelang tengah malam aku tidur, jam sepuluh mulai siap-siap berangkat kerja sampai Subuh. Toleransi alkohol aku cukup baik, aku tetap bisa ngerjain tugas sekolah pulang dari bekerja. Kebetulan sekolah aku bukan full day, jam dua siang paling lama pulang. Jadi ada waktu istirahat, untuk persiapan begadang dan siapin barang. Aku sebulan sekali pindah kontrakan, aku punya seribu ide nama samaran dan aku punya beberapa style pakaian untuk kamuflase biar tak terbaca orang sekitar. Tapi semenjak di sini, aku mulai sedikit bersosialisasi dengan identitas diri aku sendiri. Kecuali, memang cuma Abang yang tau siapa seorang aku." Sorot matanya dalam dan seperti ada kejujuran di sana. 


"Kau t*i sih!" Aku geleng-geleng kepala, kemudian mengalihkan perhatianku pada pelayan yang mengantarkan makanan pesanan kami. 


"Makasih." Aku membantu pelayan menata makanan kami. 


"Sama-sama." Pelayan tersebut tersenyum ramah. 


Aku menyeruput es lemon ini, kemudian menyodorkan pada Jessie untuk mencicipi. Jessie menyesapnya sedikit, kemudian ia merem-merem karena masam


Begitu saja aku tertawa. Tapi memang begitu candu ekspresinya yang membasahi bibirnya karena rasa masam, ia menarik sekali. 


"Maaf ya, Bang? Jangan ilfeel, tetap jadi teman aku." Ia mengusap lenganku dengan pandangan penuh harapan. 


"Kau cuma perlu jujur, Jessie. Aku banyak berpikir buruk, kalau kau bohongi aku." Aku menaruh gelas es tadi. 


"Ehh, tapi nama kau keren sih." Aku mencuci tanganku di kobokan air yang tersedia. 


"Masa? Nama ayah aku bahkan, Alfred Dario Garfield. Nama ibu aku, Niken Valencia Devi. Nama orang Pariaman keren-keren loh, Bang. Ada yang lebih dari nama kita. Tapi tak sedikit juga, yang bawa nama keluarga atau semacam suku." Ia mengusap bahuku. 


"Aku Indonesia sekali, Jes. Teuku Chandra Andiyana." Aku mulai mencomot ikan bakar ini. 


Menggiurkan sekali sepertinya. 

__ADS_1


"Keren, orangnya." Ia terkekeh geli dan merangkulku. 


Si paling physical touch. 


"Iyalah, kan kuliah di Singapore." Aku mulai menikmati sajian ini. 


"Wow, itu serius?" Jessie mencuci tangannya di kobokan air yang tersedia. 


"Serius, Jes. Aku dari keluar pondok, MA swasta. Aku langsung dipindahkan ke Singapore, sambil kerja juga." Aku bangga saja, karena aku bisa membagi waktuku untuk bekerja dan belajar. 


"Abang santri?" Matanya sampai berbinar. 


"Ya, kenapa?" Aku tertawa kecil. 


"Bisa dong aku belajar ngaji? Aku baru belajar sholat soalnya, lagi hafalan doa iftitah. Aku sering kebalik di muslimin dan musyrikin."


Fakta apalagi ini? Aku sampai lupa mengunyah makananku. 


"Kau serius tak bisa sholat? Maaf, apa kau non muslim dulunya?" Aku bukan bermaksud menyindir agama lain. Aku tidak mempermasalahkan agama, yang penting ia taat dengan agamanya. 


"Muslim dari keturunan sih. Aku lahir di Jakarta, orang tua udah krisis ekonomi, sedangkan orang tua nekannya pendidikan formal aja." Ia memamerkan giginya. 


Muslim? Dua puluh dua tahun baru belajar sholat? 


"Oke, tak ada kata terlambat." Aku takut ia tersinggung. 


"Betul, aku banyak belajar di sini. Aku sering main ke pesantren salafi, untuk ikut pengajian dan dengerin ceramah."


Baguslah, jika di kampung ini ia banyak belajar. 


"Mungkin dari iqra kali ya? Abis Maghrib, ibu aku biasa ngajar ngaji anak-anak, keponakan keluarga sendiri aja. Kau boleh datang ke sana, karena biasanya aku sibuk. Mungkin aku ajarin, kalau aku ada di rumah aja." Biyung pasti bisa menuntun Jessie dengan sabar. 


"Apa tak apa, Bang? Aku takut mereka meledek aku." Ia mulai mencicipi makanan pesanan kami. 


"Pastilah, kami keluarga tukang bully. Tapi jangan disangka, supportnya luar biasa." Aku menyiapkan makananku ke mulut Jessie. 


"Tuh kan? Aku tuh malu sendiri tuh, karena usia udah segini." Ia mau membuka mulutnya. 


"Tak apa, Jes. Datang aja, nanti aku ngomong ke ibu aku." Karena tempatnya cukup pribadi, berbeda di masjid atau mushola yang campur semua usia. 


"Oke deh." Ia manggut-manggut dan menikmati makanannya. 


"Jadi, apa nama tenar kau ngeDJ? Apa nama akun sosial media kau?" Aku memandangnya sembari menikmati makanan. 


"Nama akun sosial media aku, DJ Valerie. Nama tenar aku, Valerie Allison. Aku dikenal mereka itu blasteran, aku iyakan aja karena memang aku tak mau mereka tau identitas aku sebenarnya. Aku calon seorang ibu, aku takut anak aku tau background ibunya kalau aku segala sesuatu yang berbau negatif pakai identitas asli aku." Ia mengunyah dan minum dulu, sebelum menjelaskan hal itu. 


Keren, good attitude. Dalam makan pun, ada sopan santunnya. Malahan, nenek aku anti makan dengan mengobrol. 


"Tapi memang kau kek blasteran, Jes." Aku mengagumi rupanya yang indah. 


"Masa sih? Aku asli Sumatera Barat, Bang. Aku tadi udah cerita kan sedikit tentang keluarga aku? Kalau keluarga Abang sendiri?" Asyiknya Jessie adalah bertanya balik, jadi tidak suntuk mengobrol juga. 


"Jawa semua, ibu Solo, ayah Cirebon. Nenek aku nikah sama orang sini, jadi ayah ikut di sini deh." 


"Serius? Tapi sangar sih."


Aku langsung merapatkan bibirku dan memandangnya sinis. Jessie langsung tertawa lepas, sampai beberapa pasang mata menatap ke arah kami. 


Ia paling bisa menarik perhatian semua orang. 


"Kau menarik, Jes. Aku tertarik sama kau." Aku menyuapkan kembali nasi dan ikan bakar ke mulutnya. 


Jessie menoleh bodoh ke arahku. Tatapannya bulat dan kaget. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2