Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA273. Kerinduan


__ADS_3

"Imbalan kentut." Aku menanggapi dengan candaan. 


"Ya itu sih urusan kau sama ayah kau, Papa cuma menyampaikan." Papa Ghifar menarik map yang paling bawah. 


"Iya, Pa." Aku tidak mengharapkan juga. 


Rumah pengolah jahe saja, sekarang dikelola oleh orang ayah sementara. Aku diutus ke sini, ayah pun mendapat kerepotan untuk menempatkan orang di sana. 


"Terakhir, hubungi om kau katanya kalau memang terbukti bersalah. Libatkan dengan pak Susanto, terus penuhi point-point yang di sini." Ini semacam undang-undang pelanggaran hukum. 


"Om Vendra? Atau siapa." Aku merasa memiliki om tidak hanya satu. 


"Iya, om Vendra yang anggota itu. Bilang aja, orang ayah bermasalah gitu. Tapi syaratnya, bukti udah terpenuhi dan kau bisa banting naik usaha ayah kau lagi." Papa Ghifar mendorong tiga map itu lebih dekat ke arahku. 


"Iya, Pa. Aku usahakan, ini demi perut biyung dan adik-adik." Ini jalan cari makan orang tuaku, aku tidak mungkin tega membiarkan usaha ayahku terpuruk dan gulung tikar. 


"Iya dong, tanggung jawab kau besar. Tapi selama ini Nahda mendukung semuanya kan?" Papa Ghifar duduk bersandar di tembok terdekat. 


"Dukung sih, Pa. Dia tak pernah larang, tapi dia keberatan aku berhutang." Aku menghela napasku dan melirik istriku yang pulas di dekatku. 


"Iya, Nahda cerita kok. Mama kau sampai berbuih nasehati Nahda, tanpa dia, istri kau tak mungkin semengerti ini. Perempuan yang baru jadi istri tuh, keknya bengkoknya setengah mati. Dibandingkan janda dan perawan, janda lebih memahami konteks perumahtanggaan menurut Papa. Sedangkan Nahda gadis, untungnya mama kau ikut andil arahkan dia." Papa Ghifar memandang anak tirinya yang pulas sampai mulutnya terbuka itu. 


Jadi, mama Aca banyak menasehati Nahda? 


"Aku kira dia paham sendiri semuanya, Pa." Aku menumpuk berkas ini di bawah laptopku yang sudah tidak beroperasi. 


"Tak, Bang. Papa tau sendiri, dia banyak nanya kenapa kau begini, kenapa kau begitu."


Hah? 


"Apa ada masalah yang dia pendam tentang aku?" Aku trauma dengan Izza kemarin. 


Ia banyak memendam tentangku, hingga kondisi kesehatannya semakin memburuk. 


"Ya biasa sih. Kok Abang tak betah lama-lama sama aku, kok Abang keluyuran terus, kok Abang bolak-balik ke biyung terus, kok Abang kek risih, kok Abang rewel makannya, kok Abang kek cepet capek, kok Abang kek males hubungan suami istri sama aku, kok stamina Abang kalah sama aku." Papa Ghifar melirikku dan menahan tawa. 

__ADS_1


"Hah? Nahda ngomong begitu?" Aku teringat akan ajakan rutin papa Ghifar yang mengajakku untuk pijat ke tabib itu. 


"Hmm, gitu lah yang baru jadi istri. Papa ngerasain sendiri, waktu punya istri tante Novi itu." 


"Kok mulutnya begitu sih, Pa? Dia tak bisa jaga nama suaminya." Aku menyugar rambutku. 


"Udah mama ajarkan, kau tenang aja. Anaknya polos betul, kau harus sering-sering nasehati dia. Satu pesan Papa, Bang. Jangan pernah macam-macam sama dia, jangan sampai jandakan dia. Dari cerita mama, Nahda ini bahaya kalau sampai terlepas dari kau. Usahanya bukan main, rela tebas ujian sekali selesai, biar bisa nemuin suaminya. Dia berani ke sini sendiri, tapi Papa yang tak tega dia di perjalanan seorang diri." Papa Ghifar menatap dalam anaknya yang pulas itu. 


"Ya kenapa tak hubungi aku? Aku bisa jemput dia di bandara." Aku mengusap keringat yang berada di dahi Nahda. 


"Kau lagi ditantang ayah kau, Bang. Kau lagi dikasih tanggung jawab, bukan buat wisata di sini itu. Tiket kereta Papa jam sebelas malam nanti, Bang. Papa tidur dulu ya? Jam sembilanan Papa udah set alarm, buat prepare dan perjalanan ke stasiunnya." Papa Ghifar bangkit dan berjalan ke kamar. 


"Ya, Pa. Aku masih belum ngantuk." Ini terlalu sore untuk tidur, meski aku bisa saja untuk tidur. 


Aku membaca ulang berkas-berkas dalam map ini. Aku memahami dan mencoba menghubungkan ini semua. Katanya, jangan tentang penilaian. Berarti, harus dengan bukti video atau suaranya langsung. Bisa juga dengan foto bahan baku yang ada di gudang, bisa juga dengan hasil dari pembuatannya. 


Aku mulai merangkum, mengumpulkan jadi satu dan menyertakan sedikit bukti yang aku dapat. Ini untuk awal, tapi lebih baik dikerjakan dari sekarang. 


Nahda menggeliat, aku hanya melirik sekilas dan lanjut mengerjakan tugas-tugasku. Tangannya pindah ke pangkuanku, aku berpikir itu di kesadarannya. Namun, tangannya merembet mengusap-usap pusaka yang lelap dalam wadahnya. 


Ketika aku memandang ke arah wajahnya, ia sudah terbangun dan tersenyum manis. Ia rindu dengan kegiatan itu rupanya, padahal baru sekitar tiga harian saja. 


"Udah, Bang. Tapi sampai sekarang, aku masih belum haid juga. Apa harus berobat lagi?" Raut wajahnya langsung bersedih. 


"Nanti cek lagi ya?" Terang saja aku khawatir dengan kondisi rahimnya. 


"Aku ngepod belum lama, Bang. Paling, baru tiga bulanan, pas USG pun rahim aku bagus kan?" Tangannya masih mengusap-usap barang yang berada di dalam sarung. 


"Sholat Isya dulu yuk? Takut keduluan b*****." Aku mengangkat tangannya dari sana. 


"Ayo." Ia segera bangkit. 


Kami segera sholat berjamaah, buruk galak itu perlahan jinak saat tidak ada sentuhan dari Nahda lagi. H***** rindunya terasa sekali, setelah kami berada di kamar yang aman. 


Pukul delapan malam, rasanya terlalu cepat untuk melakukan hubungan. Tapi jika diundur, akan berbenturan dengan jadwal papa Ghifar berangkat ke stasiun tujuan ke bandara terdekat. Aku takut tumpahan rindu ini tercium, jika tidak melakukan dengan segera. 

__ADS_1


"Buru-buru betul, Bang." Nahda pasrah dalam pelukanku. 


"Jam sembilan papa berangkat, Dek." Aku memejamkan mata menikmati rasa di dalam sana. 


"Nanti diulang ya?" Ia menyentuh tanganku yang berada di atas perutnya itu. 


Aku tengah melakukannya dari samping. 


"Kuras lagi, hm?" Aku berbisik di telinganya. 


Sudah semakin licin gerakanku. 


"Terserah Abang, Abang bebas ngelakuinnya." Ia menahan kepalaku di sana. 


Ia terlihat sangat menikmatinya. 


Tiga harian, sudah rindu sampai basah sekali begini. Bagaimana jika nanti tengah nifas, karena haid masih mending sebentar? 


"Dikasih kagetan sedikit, aku udah dekat betul." Nahda sudah kelimpungan. 


"Bentar lagi dong, tahan dong." Aku memiliki inisiatif untuk mempermainkannya. 


Ia merintih seperti menahan tangis, tapi itu bukan tangis kesedihan. Aku akan memberikan yang ia inginkan, saat sebentar lagi aku akan mendapatkan. 


Racauan, permohonan dan harapannya segera ia nobatkan. Tembok rumah sederhana ini, aku yakin menembus ke kamar sebelah tempat papa Ghifar beristirahat. Suara gagang pintu dan pintu yang ditarik dari kamar sebelah, menandakan orang tua tersebut mendapat gangguan dalam jam istirahatnya. 


Racauannya Nahda benar-benar tidak bisa ditahan-tahan, ia beranggapan seperti dirinya berada di tengah-tengah hutan. Suaranya lepas sekali, seolah ia tersakiti dengan perlakuan yang aku hadiahkan untuknya. 


Aku yakin papa Ghifar tengah bingung di luar kamar kami. Meredupnya suara Nahda, sialnya malah giliranku yang harus kelabakan karena segera akan mendapatkan tujuanku. 


"Abang…. Abang…." Nahda membingkai wajahku, di tengah kelabakannya ekspresi kacauku. 


"Tahan, Dek." Aku yakin wajahku sekarang merah padam menikmati gelombang panas yang segera datang. 


"Ganteng betul Abang begini." Seiring pujian hebatnya itu, aku meledak di bawah sana. 

__ADS_1


Aku tiba-tiba membayangkan bingungnya papa Ghifar, saat aku lunglai di atas tubuh anak tirinya ini. 


...****************...


__ADS_2