
"Bisa, bisa, bisa. Nanti aku bantu kenalkan produk itu di kampus, kebetulan aku ada teman di fakultas lain, Bang. Jangan dulu pakai artis endorse lah, mahalan endorse dia daripada jatah bulanan aku."
Ya ampun, ke arah sana lagi.
"Maaf ya? Belum bisa kasih banyak jatah bulanannya." Aku mencoba tersenyum lebar, kemudian menggenggam punggung tangannya.
"Yang penting ladang sembilan puluh sembilan hektar target kita, Bang. Jangan sia-siakan pendidikan aku nih, sudah lelah hayati sebetulnya." Nanda membuang napas gusar.
Saat aku menoleh sekilas, ia menatap lurus ke depan. Aku tersenyum samar melihat wajahnya, kemudian meluruskan pandangan lagi.
Ekspresi lelahnya terlihat sekali. Ah, semoga ia tetap ikhlas menjalani pendidikan ini meski dengan sedikit keterpaksaan.
"Aamiin, Dek. Abang pun pengen juga kok, Dek." Targetnya sembilan puluh sembilan hektar katanya, aku pasti usahakan itu.
"Bang, nginep di rumah mama ya? Capek masak, sesekali pengen tinggal hap." Ia mengusap-usap pahaku.
Manis sekali jika ada inginnya.
"Sekarang pun tak masak kan, Dek?" Ia hanya perlu bilang, tidak perlu sampai meminta ingin di rumah orang tuanya.
"Yaaa, tapi tuh pengen tidur di sana. Sekali aja ya, Bang? Sama Abang juga, tak sendiri kok."
Padahal rumah orang tuanya dekat saja.
"Iya, Dek. Tapi abis ini, Abang masih ada kesibukan." Aku harus produktif di usia muda.
Pusing-pusing sekalian.
"Ya tak apa, pulangnya ke sana. Ini Abang mau ke mana? Kok tak ke arah jalan balik?" Tangannya masih berada di atas pahaku.
"Mau makan siang dulu, Dek. Sampai rumah mama, Adek bisa langsung istirahat nantinya." Aku menarik sudut bibirku.
"Aku bakal kabar-kabaran sama temen aku yang bisa masarin produk, Bang. Dia itu bisnis MLM gitu, punya. Dia catering juga, ada. Dia juga punya kesibukan di toko real lifenya, kek toserba gitu ukuran sederhana. Dia jual di platform belanja online, dia pun jual juga di tokonya. Biar pas masa dia live jualan produk dagangannya, dia bisa selipkan tentang produk kita. Aku ngerti kok, nanti aku kasih jajan lah gitu." Nahda memamerkan giginya.
Aku yakin otaknya pasti jalan.
__ADS_1
"Makasih ya, Sayang? Nanti Abang kasih kontak nomor orang yang pegang rumah produksi jahe itu, biar Adek langsung nembusin ke dia. Masa Abang pulang, Adek bisa cerita ke Abang." Karena jika ia melapor lewat ponsel, aku jadi tidak fokus pada pekerjaan yang saat itu aku pegang nantinya.
"Siap, Abang." Ia memberi gerakan hormat.
Gemasnya, aku mencubit pelan pipinya.
"Yuk turun? Kita isi perut kita dulu." Aku mengambil baju jalan.
"Apa? Resto mahal lagi? Jangan lah, kita tabung uangnya untuk beli ladang. Patungan deh, nanti aku lebih giat lagi main saham sama nyisihin uang belanjanya." Nahda menyentuh tanganku yang masih bertahan di stir.
"Sesekali tak apa kali." Aku menarik rem tangan.
"Tak usah! Kemarin udah pernah, Bang. Ayolah patuh, biar ada hasilnya. Kita jalan lagi aja, kita cari tempat makan biasa aja," tegasnya kemudian.
Galaknya.
"Oke, oke. Di mana makannya?" Aku menurun rem tangan, kemudian bersiap naik ke apalan lagi.
"Kita jalan aja dulu." Nahda mengambil ponselnya dan memainkan ponselnya.
Tak lama, ia menunjukkan rumah makan yang ia ingin. Apa coba pilihannya? Rumah makan padang biasa, yang seporsi seharga dua puluh lima ribu sudah termasuk minumannya. Termasuk murah, dengan lauk yang enak juga. Karena bakso saja, di sini ada yang sudah tiga puluh ribuan seporsinya, tergantung pilihannya apa.
Kebetulan aku pun tau akses kunci rumah ini, jadi aku bisa nyelonong masuk. Namun, aku seolah tengah berada di depan sidang menegangkan langsung dari mama Aca yang duduk di tangga rumah dengan suaminya. Mama Aca tengah merokok, sedangkan papa Ghifar tengah sibuk mencelupkan biskuit ke dalam wedang yang aku tidak tahu isinya.
Tumpukan dokumen dan laptop yang menyala, menjadi santapan mereka. Ditambah dengan suara obrolan dan gelak tawa ringan, yang menghangatkan suasana malam suami istri tersebut.
"Baru pulang, Bang?" Mama Aca enggan melihat padaku.
"Iya, Ma." Aku ragu untuk menaiki tangga melewati mereka.
Mereka seolah menghadang jalanku. Lagipun kenapa para orang tua ini tidak bekerja di ruang kerja? Kok malah di tangga rumah begini? Kan bahaya meski anak tangganya lebar-lebar juga. Bagaimana kalau mereka terjengkang? Lalu terguling di beberapa anak tangga? Ya memang mereka tidak di tengah-tengah, mungkin di anak tangga kedua dari bawah. Tapi kan tetap beresiko.
"Makan gih, belum dimasukin lauknya ke kulkas," pinta mama Aca kemudian.
Sebenarnya, aku sudah makan.
__ADS_1
"Mau bersih-bersih dulu, Ma. Disimpan aja lauknya, keknya aku capek betul." Rasanya tidak enak hati menolak perintah kecil darinya.
"Udah makan?" Barulah beliau memandang wajahku.
"Eummm…." Aku melirik ke papa Ghifar, harusnya ia membantuku berbicara.
"Iy…. Iya, Ma." Ragunya aku berucap.
Kenapa setelah menjadi menantu kok kadang ada rasa canggung?
"Gih istirahat, Nahda baru masuk kamar." Papa Ghifar baru menoleh padaku.
"Si Toyik-Toyik udah lelah lupanya, laporannya kebalik." Mama Aca terkekeh kecil dengan menunjukkan sebuah map.
Hanya begitu padahal, tapi aku sampai tegang.
"Ya begitulah, makanya harus teliti." Papa Ghifar menyambungi tawa dan geleng-geleng kepala.
Aku mulai menaiki tangga satu persatu. "Permisi." Aku minta jalan.
"Kasih waktu untuk istri kau, Bang. Bolehlah sesibuk Givan, tapi Givan yang sering recokin Cendol lewat telepon masa dia sibuk di luar."
Ah, kena dasarnya. Mulut mama Aca langsung mengeluarkan jurusnya andalan untuk menegurku.
"Aku salah? Nahda lapor apa?" Aku berpikir istriku ada cerita tentang hubungan kami.
"Nahda anak Mama." Mama Aca menarik napasnya dan memandangku. "Dia kebelet BAB pun Mama paham, tanpa dia harus bilang," lanjutnya kemudian.
Papa Ghifar diam saja, katanya aku anaknya tapi tidak membantu bicara di depan istrinya.
"Kan aku kerja, Ma. Bukan keluyuran, bukan main ke teman." Ingin aku iyakan saja tegurannya, tapi aku tengah lelah dan ingin semua orang paham dengan kelelahan kau.
"Kalau itu urusan kau, Bang. Mau kau kerja kah keluyuran tak jelas, itu urusan kau sendiri dengan Tuhan kau. Tapi komunikasi kecil sama istri jangan putus, kalian masih baru loh. Jangan biarkan istri kau tanpa kabar dari kau, nanti dia terbiasa dan tak mikirin kau lagi, repot kau sendiri nanti. Maksudnya hubungi dia loh, tanya, kasih perhatian, kasih tau posisi dan kesibukan kau masa kau lenggang. Suami istri yang sensitif itu komunikasi, LDR dipaksa untuk komunikasi biar hubungan mereka langgeng. Yang nampak depan mata atau yang ditinggal kerja sementara pun kurang komunikasi, ya hancur juga. Jangan sampai kedudukan kau diganti dengan orang yang lain di chattingnya. Dia nungguin kau ngabarin, tapi ternyata laki-laki gabut yang duluan hubungi dia. Karena Nahda gabut juga, jadilah komunikasi di antara mereka terjalin. Cek HPnya, tapi jangan kau marahin dia. Itu salah kau!" Mama Aca memberi lirikan tajam.
Beliau membaca gerak-gerik lain dari Nahda?
__ADS_1
Tanpa mengiyakan, aku langsung melangkah cepat naik ke tangga agar segera sampai ke kamar istriku.
...****************...