Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA56. Amarah tercurahkan


__ADS_3

"Jangan sembarangan minum obat maag, meski tau obat itu nampak aman aja. Diistirahatkan dulu, setelah masuk beberapa suap nih. Kalau udah enakan, lanjut makan lagi." Kenandra mengamati bahwa Izza sudah mau mengunyah dan menelan makanannya. 


"Tapi masih mual katanya." Chandra nampak begitu khawatir dengan istrinya. 


"Iya kasih air hangat aja dulu." Kenandra hendak kembali keluar kamar tersebut. 


"Dia minta obat aja katanya, Bang." Canda mengikuti langkah kaki Kenandra.


"Iya nanti, setelah ini kalau tak mendingan nanti dikasih obat." Kenandra duduk kembali menghampiri Givan. 


"Akhir bulan nanti, jadwal aku suntik KB ulangan." Givan menoleh sekilas pada Kenandra. Givan amat pusing dengan problem rumah tangga anak-anaknya, meski masalah rumah tangga Ceysa dan Hadi sudah surut kembali. Namun, Givan terus memikirkan bagaimana mereka kedepannya. Karena ia yakin, jika masalah ekonomi tanpa penanggulangan yang tepat, pasti akan terulang terus menerus. 


"Iya, nanti aku sediakan." Kenandra mengecek ponselnya, ia mendapatkan pesan dari istrinya. 


"Canda, suruh Izza sama Chandra tinggal di sini dulu. Sementara rumah itu belum tertata, maksudnya belum ada apa-apa tuh. Biar dia tak malu kalau mau makan, tak usah bolak-balik keluar masuk rumah. Lain Key, lain Jasmine, lain juga Ceysa. Key sama jasmine sih, suaminya bisa menafkahi dan sebelumnya pun Key dan Jasmine udah punya peralatan rumah tangga. Lain lagi Ceysa, dia terpaksa diasingkan karena keadaan. Mau tak mau, Ceysa dan Hadi harus mandiri. Apalagi ini Chandra sama Izza masih baru, pasti kaget harus atur makan segala macam. Ditambah kemarin, Izza kan apa-apa ibunya. Lain Jasmine sama Key kan, dia itu dari masuk kuliah punya dapur sendiri, urus makanan sendiri. Jadi tak kaget, pas nikah harus siap masak, harus siap cuci baju. Didikan dan kebiasaan Izza tak sama dengan anak perempuan didikan dan asuhan kita. Wajar, kalau dia kaget, keteteran untuk urus suami. Ditambah kan, di rumahnya tak ada apa-apa. Jadi, dia ini serba bingung. Sedangkan kan, waktu kau masuk di keluarga kita, aku ini di tempat rehabilitasi. Kau datang, kau tak punya kewajiban urus aku. Aku udah dateng pun, kewajiban kau urus aku dibantu mamah. Di awal, kau tak benar-benar masak sendiri, kau cuma bantu mamah masak. Cuci baju pun, kau dibantu papah Adi. Baru setelah aku tau, aku ngamuk dan kau mulai berubah sedikit. Jangan sungkan, jangan sungkan! Hei, kau pun dulu sungkan kan? Karena serumah, karena tiap waktu ketemu mertua, karena kau sama-sama mertua terus, karena satu dapur dengan mertua, sungkan kau jadi hilang. Cobalah, kita berkaca dari diri sendiri. Wajar aja, satu dua hari mereka di kita dulu. Malam pertama kek, malam kedua, kita sering melakukannya dan tak bakal iri juga sama anak mantu. Jangan jadikan alasan, daripada baru nikah satu hari menantu udah sakit. Malu kita, Canda. Apa yang ada di pikiran orang lain yang tau, lebih-lebih kalaun keluarga Izza yang tau, penyakitnya karena lapar ditahan. Pasti orang-orang berpikir, mertuanya pelit, suaminya pelit, masalah makanan aja hitung ijiran. Sepele memang, tapi semua keluarga bakal kena omongan tak enak, tak cuma Chandra. Tak apa kalau anak perempuan kita sih, kita udah didik mereka mandiri sejak kecil. Anak laki-laki kita pun begitu. Tapi karena pikiran mereka, bahwa mereka ini bekerja. Mereka jadi berpikir, bahwa yang harus bekerja di rumah itu istrinya, mereka sengaja melepas kemandirian mereka di rumah karena statusnya yang udah punya istri. Tahan aja Izza di sini sama Chandra, biar mereka ngomongin kita di belakang juga." Givan meluapkan kekesalannya pada istrinya. 


"Iya, Mas." Canda paham, bahwa jika suaminya seperti itu ia hanya perlu menurut saja. 

__ADS_1


"Aku resepkan multivitamin aja, Van. Aku balik dulu, jadwal si bungsu cek up." Kenandra memberikan resep obat di meja tersebut, kemudian ia pamit pergi. 


"Kalau muntah gimana, masa tak diobat?" Givan mengambil secarik kertas tersebut. 


"Coba aja makannya yang teratur, ngemil yang rutin. Perut terisi, pencernaan lancar, keknya itu benar-benar cuma lapar ditahan aja. Kalau tiga hari masih begitu, kabarin aku aja." Kenandra berbalik sesaat, kemudian ia melanjutkan langkah kakinya. 


"Hm, oke. Makasih." Givan manggut-manggut dengan membaca tulisan yang tidak jelas rupa huruf untuk dibacanya itu. 


"Katanya cuma vitamin, tapi banyak betul?" Givan bertanya-tanya seorang diri. 


Canda memikirkan itu, karena meski Ceysa bukan anak dari suaminya yang sekarang. Tapi, Ceysa adalah anaknya yang ia lahirkan. 


"Mau ngapain?" Givan selalu bertanya alasan Canda, setiap Canda ingin pergi keluar rumah. 


"Ke Ceysa sih." Canda memamerkan giginya. Ia tidak bisa berbohong sama sekali pada suaminya. 


"Mau apa?" Givan bukan berniat melarang, tapi jika ada tujuan lain selain hanya main, pasti ia melarang. 

__ADS_1


"Kasih uang." Senyumnya terpaksa lebar dibuat-buat. 


"Udah aku nanti handle. Kau main, main aja. Jangan kasih uang, apalagi depan Giska. Dia tersinggung nanti, kalau tau menantunya masih ngerengek minta uang sama orang tuanya aja. Pasti dia merasa bahwa anaknya tak bisa kasih, bahwa mereka tak mampu. Pasti aja ada pikiran begitu tuh. Kau main aja biasa, jangan singgung soal uang." Givan tidak bermaksud selalu mengurung istrinya di rumah, tapi ia tidak mau istrinya mengumbar apa yang benar di pikirannya sendiri. 


"Ya deh, Mas. Aku keluar dulu."


Izza yang mendengar ibu mertuanya main ke rumah besannya, karena anak perempuannya di sana, langsung berpikiran lain. Karena dalam kondisinya yang tengah sakit, ibu mertuanya malah berkunjung ke anak perempuannya yang jelas sehat dan tidak membutuhkan perhatiannya. 


Ia teringat beberapa saudaranya yang selalu berkomentar akan dirinya dulu, yang sudah digegerkan akan menjadi menantu juragan terkaya di kampung ini. Mereka berpendapat, yang kaya adalah juragannya. Sedangkan menantu, tetaplah orang asing yang tak akan pernah kecipratan kekayaan juragan tersebut. 


Di luar materi yang tidak begitu ia harapkan, ia hanya ingin diperhatikan lebih apalagi saat kondisinya tidak baik-baik saja seperti sekarang. Jangankan materi, perhatian pun ia akan kalah dari anak perempuan juragan ketimbang untuk menantu juragan. Ia tetap orang asing, di tengah keluarga besar yang kecukupan materi dan perhatian ini. 


"Ngelamunin apa? Dengar kah tadi ayah marah? Kita tak bisa ngelawan, nanti ayah lebih marah. Maaf ya? Aku cuma bisa minta maaf, karena belum bisa kasih hunian dan isinya yang nyaman. Aku merantau selama ini, sambil kuliah. Jadi, perkakas rumah tangga segala macam, ya lengkapnya di tempat tinggal aku selama aku merantau di sana. Aku tunggu kau sehat, nanti aku bicarakan rencana selanjutnya untuk kita. Maaf, tak bisa kasih resepsi mewah dulu. Karena aku punya rencana lain, yang lebih penting dari resepsi kita. Toh, yang penting kita udah sama-sama dalam ikatan yang suci kan?" Chandra mengusap pelipis istrinya. 


Izza tertegun, mendengar ada yang lebih penting dari resepsi mereka. Resepsi cukup penting untuknya, ia ingin seluruh teman-temannya tahu bahwa akhir perjuangannya selama sepuluh tahun ini berakhir bahagia. Ia ingin seluruh dunia tahu, bahwa akhirnya mereka berhasil bersatu dalam ikatan yang suci. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2