
"Cie….. Betul kah ini?" Paman-pamanku sejak tadi meledekku yang sudah siap dengan tuxedo hitam ini.
Lihatlah Cinderella yang tak kehilangan sepatunya itu, ia asyik berfoto-foto bersama adik-adik iparnya dan saudaranya. Lepas ini, aku yang akan bingung akan memulai dari mana dulu untuk melanjutkan hidup dengannya.
"Akad jam berapa sih, Yah?" Aku sudah merasa gerah dengan dasi kupu-kupu ini.
"Jam sepuluh, resepi sampai jam dua belas aja." Ayah banyak diam dan terlihat tidak ceria.
Kalau memang pernikahan ini membawa kerunyaman di pikirannya, kenapa ayah ikut menggelar acara ini?
"Aku mau ada ngomong sama Ayah." Aku memandang wajah ayah dari samping.
"Nanti aja selesai acara, Ayah lagi enak sendiri." Dirinya pun hilang senyum sejak kejadian itu.
"Terlalu lama, Yah." Aku mulai merokok.
"Tak, sebentar aja. Persiapannya aja ini yang lama, acara sih sebentar." Ayah tertunduk memperhatikan sepatunya, kemudian berjalan menjauh dariku.
Terlihat dari tempatku, jika ayah mendatangi biyung dan memeluk biyung dari belakang. Tempat mereka cukup sepi, tapi tidak tertutup apapun. Jadi siapapun, jelas bisa melihat kegiatan hangat ayah.
Mereka berbalik badan, ayah sudah tidak lagi memeluk biyung. Rangkulan ayah begitu mesra pada biyung, biyung pun dengan egois memeluk pinggang ayah. Ayah seperti tengah mencoba mengalihkan kerunyamannya dengan berinteraksi dengan biyung, meski aku yakin jika ayah belum cerita apapun tentang kegundahannya pada biyung.
"Bang…. Latihan dulu katanya." Zio menyerukan suaranya.
"Pengalaman dia," ledek pakcik Gavin yang diikuti tawa riuh semua orang.
Aku hanya membalas dengan senyum, aku melangkah pelan menuju meja akad. Aku langsung fokus pada jumlah mahar yang tertulis, karena sebelumnya Nahda tidak menuntut apapun dariku.
Seperangkat perhiasan seberat empat puluh satu gram. Lebih sederhana, dari mas kawin untuk Izza dulu.
Kemudian, aku melirik nama dari Nahda dan nama ayahnya. Sudah almarhum, ayah Nahda sudah meninggal itu fakta yang aku tahu sejak dulu.
Nahdatillah Rahman binti Afrizal Dewangsa.
Akad nikah yang tertulis di sini menggunakan bahasa Indonesia, mirip seperti akad nikah untuk Izza dulu. Tapi sekarang, aku tidak begitu kalap dan grogi.
__ADS_1
"Coba dulu, Bang." Zio menduduki kursi akad.
"Bisa lah, tak usah belajar deh." Aku mudah menghafal jika tidak dalam tekanan seperti dulu.
Entahlah, yang pertama rasanya deg-degan dan seperti panik tidak jelas.
"Coba dulu." Zio yang nampak excited.
Aku memperhatikan kembali tulisan itu, aku mengingat nama lengkap Nahda dan juga ayah kandungnya. Karena terang saja, aku tidak tahu nama lengkap Nahda dan ayah kandung Nahda.
Aku memejamkan mata, merangkum lafadz akad tersebut agar tidak kaku dan lebih mudah diucapkan. Kemudian….
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Nahdatillah binti Afrizal Dewangsa dengan maskawin seperangkat perhiasan seberat empat puluh satu gram, tunai."
Hanya latihan, tapi Zio sampai bertepuk tangan heboh. Melihat kehangatan keluarga, aku merasa lebih tenang.
"Tinggal akunya, Bang." Bunga menepuk pundakku.
Beberapa orang yang mendengar langsung tergelak lepas. Aku pun hanya bisa menoleh dan membawanya dalam rangkulanku. Aku yang dekat dengannya, aku yang membawanya setiap malam minggu, tapi keluarga malah salah paham denganku dan Nahda.
Namun, ini tentang kesiapanku. Apa aku siap dan mampu untuk membimbing seorang istri yang usianya cukup jauh lebih muda dariku? Bukan hanya itu saja, karena lebih tepatnya istriku masih anak-anak. Ia bahkan tidak pernah berpacaran, apalagi membayangkan realita rumah tangga yang sesungguhnya.
Aku yakin ia hanya tahu hal manis dalam rumah tangga, adegan romantis dan kebahagiaan rumah tangga, dari film-film yang ia tonton. Dengan aku laki-laki yang pernah berkeluarga, rasanya akan mentertawakan bayangannya berumah tangga sesuai adegan film.
Tetapi, pastinya aku tidak akan mentertawakannya. Pasti itu terlalu sensitif untuk anak muda yang baru mengenal dirinya sendiri, itu akan melukai hati kecilnya. Tantangannya adalah, memberi pemahaman pada istriku itu.
Aku sudah berpengalaman tentang sedikit mengenal sifat dan perasaan wanita, dari kisahku sendiri dengan Izza dan pahitnya luka tante Nina. Ini yang aku ambil, karena dari mereka aku memahami arti yang besar.
"Hema mana?" Aku mengusap lengannya, kemudian melepaskan rangkulanku padanya.
Bunga tersenyum lebar, ia menunjukkan jemari tangannya. "Kemarin, aku kedatangannya sama keluarganya. Aku dijanjikan tiga bulan lagi naik pelaminan, Bang."
Ia sebahagia itu loh? Keren.
"Kau mau?" Aku memberi jarak agar dapat memandang wajahnya.
__ADS_1
"Kenapa tak? Hema enak." Mendengar jawabannya, aku langsung menjitak pelan kepalanya.
Bunga tertawa geli, bahkan bulu matanya sampai terlihat rapat dan tebal karena matanya mengkincup karena tawa lepasnya. Ia memiliki bulu mata yang lebat, lentik dan indah. Seperti adiknya juga, Kirei.
"Dia teman yang asyik, Bang. Dia lagi cek up rutin hari ini, jadi dia tak bisa ikut datang. Ehh, tapi…. Ini beneran Abang nikah? Aku kaget loh kemarin ayah cerita, kalau hari ini Abang siap akad." Bunga memandang keberadaan ayahnya, kemudian ia memperhatikan wajahku lagi.
Bunga sedikit pendek, tidak sama tinggi dengan Nahda atau Ra. Jadi aku harus menunduk, untuk bisa memahami ekspresi wajahnya.
"Beneran, biasa lah." Aku tak mempu menjelaskan.
"Wah, padahal aku yang habis-habisan." Bunga berekspresi kecewa dan menutupi wajahnya.
"Mana ada!" Aku mengelak dengan suara lepas.
Beberapa perhatian terarah pada kami, aku dan Bunga melihat sekeliling dan tertawa geli bersama. Keluargaku tidak mengenal aku rupanya, mereka seperti melihatku heran ketika aku bersuara lepas.
"Ayo siap-siap, semuanya." Ayah bertepuk tangan cukup keras, membuat beberapa orang mengambil tempatnya masing-masing.
Begitu juga dengan Bunga, ia melipir bersama saudara perempuan yang lain. Ia pun akur dengan yang lainnya, hanya saja memang hanya berbaur dengan saudara yang menurutnya menyenangkan saja.
Nahda berada di sampingku, ia nampak gugup. Tetapi, saat aku menoleh padanya. Ia malah tersenyum kuda, memamerkan betapa rapinya giginya.
"Makan ramen enak, Bang," celetuk Nahda, saat penghulu sedang menyiapkan berkas.
Penghulu yang berusia seumuran ayah itu tersenyum tipis, kemudian geleng-geleng kepala. Sepertinya, Nahda menggunakan wali hakim. Lalu, entah siapa yang mama Aca telpon dalam panggilan video yang dipasang ke sebuah tripod handphone. Seperti panggilan grup, karena layar ponsel menampilkan beberapa petak dalam layar.
"Abis ini kita cari ramen." Aku menanggapi sedikit keinginannya itu.
Aku tahu, mungkin ia pengalihan dari rasa gugupnya. Tapi bukanlah kegugupannya akan sirna, ketika ada seseorang yang meladeni atau memihak padanya.
"Sama skincare dan baju. Tak ada hantaran, Abang bawa diri dan barangnya aja," ucapnya lirih dengan wajah kecewa.
Aih, kok bawa-bawa barang?
...****************...
__ADS_1