Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA135. Tuduhan sadis


__ADS_3

Aku menyesapi aroma tubuhnya, aroma yang selalu membuatku tenang dan nyaman sebelum aku memaksakan akan menggagahinya setiap ia menuntut. Tahu begini kejadiannya, aku akan menahannya untuk datang ke rumah sakit. Tahu nyawanya melayang, aku tak akan berpikir untuk mengobati fibroidnya. Toh dalam keluarganya, tidak ada cerita mereka meninggal karena fibroid tersebut. 


"Diurus dulu, Bang." Pakwa menarik bahuku. 


"Coba dicek ulang, Pakwa." Aku memeluk tubuh dingin ini. 


"Iya, Bang. Keluarlah dulu, Pakwa cek ulang."


Aku menggeleng atas perintahnya, aku tahu aku hanya dibohongi. Karena Izza akan dibersihkan, bukan menjalani perawatan intensif lagi. 


"Innalillahi…." Suara ayah mendekat. 


"Bang, sini dulu." Kaf menyentuh punggungku kemudian menarik lenganku. 


Aku menggeleng tanda penolakan. Aku nyaman memeluk istriku seperti ini, istriku yang selalu memberikan efek mengantuk sangat untukku. 


"Sini sama Ayah, Bang. Anak laki-laki Ayah, sini, Nak." Suara ayah yang bergetar, membuatku kembali pada pelukan ayahku. 


"Ayah…." Aku memeluknya erat dan menyembunyikan wajahku di sana. 


"Anak laki-laki Ayah kuat, anak laki-laki Ayah tabah." Ayah menepuk-nepuk pundakku. 


"Izza senang ninggalin aku, Yah. Dia senyum terus dari kemarin, karena bakal bebas dari aku," aduku pada ayah. 


"Tak begitu, Bang. Dia pengen kau ingat senyumnya, dia pengen kau ngerti kalau dia bahagia udah dikasih kesempatan nemanin kau." Ayah menarikku keluar dari ruangan ini. 


Ada beberapa obrolan terjadi di sana, tentang bagaimana sebaiknya jenazah Izza langsung dibawa pulang atau langsung dimandikan dan dikafani di situ. Pakwa berbohong kan? Ia tidak mengecek ulang keadaan Izza, tapi membereskan Izza untuk dikembalikan ke pihak keluarga. 

__ADS_1


"Yah…." Panggilan Kaf seperti memiliki kepentingan dengan ayah. 


"Nih…." Tangan ayah terlepas dari punggungku, kemudian aku merasakan pergerakan ayah memberikan sesuatu pada Kaf. 


"Pinnya 311731." Ayah memberikan kartu debitnya untuk Kaf mengurus administrasi ini semua. 


"Yahhh…." Aku tidak melepaskan pelukan ayahku. 


Aku berharap aku pingsan, agar tidak melihat serangkaian prosesi terakhir untuk Izza. Nyatanya, tubuhku diharapkan untuk menyaksikan ini semua.


Aku tidak pernah melepaskan ayahku, aku tidak pernah menjawab siapapun yang bertanya padaku sampai rombongan kami sampai di rumah. Hal buruk yang tidak aku sangka saat pengumuman duka ini dikumandangkan di masjid terdekat, keluarga Izza langsung datang berbondong-bondong dan mulut mereka dengan kejam menuduh keluargaku melakukan pemujaan untuk kekayaan. 


"Tak mungkin kaya tak habis-habis begitu, udah pasti Izza jadi korban pesugihan kalian. Sejauh ini, udah dua masa cerita tentang menantu dari keluarga besar kalian meninggal mendadak begini! Di masa lampau, ada dokter Kin yang kematiannya aneh sekali. Di masa sekarang, keponakan kami jadi korban selanjutnya. Dia tak sakit apapun, dia tak punya penyakit mematikan apapun, dia tak punya riwayat penyakit menyeramkan, tapi tiba-tiba Izza meregang nyawa di rumah sakit." Paman Izza yang menikahkan kami dan aku pernah menitipkan Izza padanya, begitu lancang menuduh keluargaku. 


"Aku dokternya, biar aku ceritakan setelah Izza selesai dikebumikan. Jangan malah buat kacau begini, kau pikir kedatangan kalian ini sopan?!" Pakwa memberikan suara lantang. 


"Jenazah keponakan kami, tak usah diurus keluarga kalian. Biar kami yang urus, biar kami bawa pulang." Paman Izza yang lebih muda maju dan mendorong dadaku. 


Ayah mendorong kembali laki-laki tersebut, kemudian ia membersihkan dadaku dari bekas tangan paman Izza yang lainnya tersebut.


"Izza menantu di sini, dia istri keluarga ini, keluarga ini ada hak untuk mengurus dan bertanggung jawab sampai Izza kembali ke tanah. Kalau kalian mau ngurus, ya mari ngurus bareng-bareng, jangan ngajak ribut di suasana kek gini. Segala dorong-dorong anak laki-laki Saya, kau pikir Saya terima?!" Tangan kanan ayah merangkulku, sedangkan tangan kirinya menunjuk paman muda tersebut. 


Aku tidak mengerti dengan tuduhan pesugihan, mereka tidak tahu kah aset ladang keluarga besar kami? Masalah tidak habis-habis, karena ladang pencaharian masih produktif, jadi uang bersumber terus meski dimakan anak cucu setiap hari. Itu baru ladang-ladang keluarga kami yang nampak di sini. 


Belum usaha lainnya, padahal toko dan gudang material ayah terpampang jelas di dusun ini. Rumah furniture pun, merangkul beberapa tukang kayu yang sepi orderan di kampung ini. Belum usaha lainnya di luar kota, yang tidak nampak mata masyarakat sini. Kenapa sampai berpikir, bahwa keluarga ini melakukan pesugihan? 


Keluarga kita komplit, panjang umur semua. Cucu-cucu di sini tidak ada yang meninggal, paling ada satu dua memiliki penyakit bawaan dari lahir yang akhirnya bisa disembuhkan, menantu di sini pun panjang umur sampai sekarang. Tidak ada rutin yang meninggal di keluarga kami, tapi tega sekali mereka berpikir bahwa Izza menjadi korban pesugihan keluarga kami. 

__ADS_1


"Begini, Pak…." Ketua RT menengahi kami. 


Beliau mendekati keluarga Izza dan berbicara dengan mereka dengan suara pelan, ayah tetap merangkulku di tengah kesibukan orang mengurus pemandian Izza. 


Ternyata, keikhlasanku diuji luar biasa untuk mampu memandikan dan mengembalikan Izza ke tanah kembali. Senyum itu, senyum itu terus terukir kala aku memandangnya saat mengadzaninya. 


Perlahan, tumpukan tanah dialihkan untuk menutup papan yang terdapat Izza berbaring di sana. Kita benar-benar terpisahkan, terpisahkan dengan hal yang paling menyakitkan. Namun, adalah ketetapan Yang Kuasa. 


Kematian. 


"Apabila meninggal dunia seorang istri dan suaminya ridha niscaya ia masuk ke surga." Tepukan hangat dan suara lembut itu berasal dari ibuku. 


"Aku ikhlas dan aku ridho, Biyung." Aku masih menyaksikan tanah yang terus dibuat gunungan tersebut. 


Yang Kuasa lebih menyayangi Izza, lalu kenapa aku harus menahan Izza yang tak mendapat rasa sayangku seperti cara Yang Kuasa menyayanginya? Aku mulai paham, ini yang terbaik untuk Izza agar tidak menderita hidup dengan seorang suami yang memiliki banyak tuntutan. 


Tahlil dilakukan sesaat sebelum kami meninggalkan pemakaman keluarga ini. Dilihat dari mananya keluarga kami melakukan pesugihan, jika makam keluarga saja hanya ada beberapa saja. 


Hanya ada mangge Lendra, mama Kin, nenek Dinda, kakek Adi, ibu Ummu, dato Yusuf dan Izza. Makam keluarga pakwa Ken yang cukup banyak penghuninya, tapi diantara mereka pun kebanyakan meninggal karena sudah sepuh. 


"Ayo, Bang." Ayah merangkulku untuk pergi. 


Aku tidak akan lama-lama di sini, karena rasanya ingin menggali kuburan Izza kembali. Ternyata begini ya rasanya ditinggal mati? Pantas saja ayah pernah mengatakan bahwa dirinya lebih ikhlas diceraikan. 


N**** makanku tiba-tiba hilang, kantukku tidak kunjung datang sepanjang hari meski tubuhku begitu lelah menghadapi hari ini. Aku tidak tahu siapa saja orang yang menyapa atau mengajak berbicara denganku, karena aku benar-benar tidak ingin menceritakan pada siapapun seberapa menyesalnya aku membawa Izza ke rumah sakit. 


Memang penyakit adalah bom waktu, jika dibiarkan saja ia akan semakin parah. Tapi sepertinya, ada beberapa penyakit yang harusnya dibiarkan saja daripada merenggut nyawa seperti ini. Andai aku tidak menuntut kesembuhan Izza, agar kami lekas memiliki keturunan. Andai aku tidak menemaninya melakukan semua pemeriksaan, pasti sejak awal Izza tidak akan bersemangat untuk sembuh. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2