Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA192. Perlu meyakinkan


__ADS_3

"Kok repot? Itu resiko jadi orang tua, Dek. Kau ngerasa jadi anak rasanya begini, kau harus bisa terapkan ilmu parenting ke anak lebih baik dari pengalaman kau jadi anak. Patokan Ayah sih begitu, biar keturunan Ayah lebih baik dari Ayah. Ayah pun merasa campur aduk dengan banyaknya saudara, Ayah berusaha adil, pahami semua anak Ayah, jadikan diri Ayah teman untuk mereka semua, biar rasanya tak campur aduk kek Ayah pas paham punya saudara banyak. Ayah kan jadi sulung, yang punya banyak adik. Ayah belajar dari situ, karena Ayah punya banyak anak. Satu lagi yang harus kau pahami, anak itu selamanya jadi anak. Orang tua tetap merasa anaknya masih anak kecil, yang butuh panduan dari orang tuanya dan butuh tuntunan dari mereka. Sedangkan anak umur sembilan tahun aja tuh, mereka udah merasa mandiri, mereka udah merasa kuat, makanya sering main tanpa izin. Seleknya sama anak tuh di situ tuh, nah pintar-pintar orang tua lah menyampaikan bagaimana perasaan orang tua pada anaknya, biar si anak paham bahwa kita ini senantiasa menganggap mereka anak kecil yang begitu mengkhawatirkan." Penggambaran ayah begitu mudah dan masuk akal. 


"Ayah, aku khawatir melahirkan anak dengan nasib Bunga selanjutnya. Bagaimana kalau pernikahan aku tak lama? Bagaimana kalau aku akhirnya menikah lagi dengan bukan ayah kandung anak aku? Terus gimana caranya aku mampu didik anak-anak aku tanpa mereka merasakan pilih kasih?" Bunga sudah memandang jauh ke depan. 


Aku dulu menikah tidak melulu memikirkan cara mendidik anak, karena memiliki anak saja belum. Aku dulu hanya fokus memikirkan bagaimana pasanganku dan konflik dengan pasanganku agar terselesaikan, aku pun fokus memikirkan ekonomi kita karena selalu habis berapapun gaji kita. Apa mungkin karena aku laki-laki? Yang faktor utama yang aku pikirkan adalah penghasilan untuk mencukupi kebutuhan keluarga? 


"Ayah tak paksa kau nikah, Dek. Tapi apa kau bisa janji dengan diri kau sendiri atas nama Tuhan kau, kalau kau tak mengulangi kegilaan kau lagi?" 


Sepertinya pakwa tidak cocok dengan ucapan ayah, ia langsung memelototi ayah dengan tajam. 


"Gimana kalau aku tunangan aja dulu?" Bunga meringis kuda. 


"Ayah tak setuju, terang aja. Karena apa? Karena nantinya kau bakal lebih bebas untuk melakukan zina, dengan alasan sudah bertunangan. Kalau memang kau akhirnya tak ambil opsi manapun, yang artinya kau lebih milih untuk sendiri dulu. Ayah inginnya kau pindah kota, pindah kampus, atau aktivitas dengan pengawasan dan sopir pengantar. Ma Giska, dia tak bermasalah dan tak buat masalah kek kau, tapi pulang pergi dia dengan sopir pribadi. Ngerasa aman memang, apalagi sopir on time nungguin jam pulang bubaran." Benar juga pemikiran ayah. 


Bertunangan bukanlah ikatan suci pernikahan, berbuat seperti itu tentu lebih bebas dengan dalih ada hubungan bertunangan. Aku jadinya setuju jika Bunga menikah saja, atau ia pindah tempat, pindah pendidikan, untuk meminimalisir rasa malunya pada Hema. Dari situ pun, ia bisa memulai hidupnya dari awal dengan bantuan pengawas pribadi atau sopir pribadi. 


"Yah, pasti rasanya risih betul. Aku bukan orang yang suka diikuti dan diawasin." Bunga membuang napas panjangnya, kemudian menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. 


"Karena kami selaku orang tua udah tak percaya lagi dengan diri kau sendiri, Dek. Kau ingin dibebaskan, tapi cara kau begitu jaga kepercayaan, ya udah tak bisa lagi." Ayah selalu berkata benar dan menusuk, on point saja. 

__ADS_1


"Ambil keputusan sekarang, Bunga," timpal pakwa yang terus memandang wajah Bunga. 


Bunga menarik napasnya dalam, kemudian ia melirik ke arah Hema. "Aku kurang yakin sama Hema," ungkapnya kemudian. 


"Terus kau mau milih laki-laki lain untuk nikahin kau, begitu? Kenapa tak kau kasih Hema pertanyaan, biar kau sedikit lebih yakin. Atau, kau bisa cari tau sendiri tentang Hema lewat jejak digitalnya atau orang terdekatnya. Tak yakin, bukan berarti bukan pilihan. Masalahnya, aib kau ada di dia. Aib dia ada sama kau, Dek. Kalau suami kau tak harus Hema, tak masalah. Asalkan, kau lanjutkan hidup kau dengan pengawasan dan sopir pribadi terpercaya." Ayah yang bersemangat sekali menyelesaikan masalah Bunga, sedangkan pakwa hanya banyak diam meratapi anaknya. 


Ada apa dengan pakwa? Apa ia tengah bersedih hati? Atau ada sesuatu yang di pikirannya yang tak bisa kutebak? 


"Ayah, maksud aku gimana nanti dia didik aku?" Bunga menggoyangkan lengan ayah. 


"Gimana tuh, Hem? Tanya Hema langsung." Ayah menunjuk Hema dengan dagunya. 


"Aku bisa menghargai kau kalau kau taat, Bunga." 


"Kau pikir aku pembangkang, Hem?" Bunga terlihat sedikit marah. 


"Tak juga, tapi plin-plan. Khawatirnya, sembuh gila untuk bangkang suami." Hema melirik ke arah lain. 


Mungkin Hema banyak tahu tentang sifat Bunga, karena tiap hari ia bertemu di kampus dan berinteraksi dengan Bunga. Meskipun aku tahu Bunga sejak kecil, tapi tidak paham asli sifat aslinya. 

__ADS_1


"Jujur aja, Ayah khawatir malah bertanggung jawab untuk kau dan Bunga juga. Bukannya melepas tanggung jawab ke kau, tapi malah nambah tanggungan." Raut wajah pakwa seperti melamun. 


Ternyata ini yang ia pikirkan, tentang Hema dan candunya. Aku yakin yang pakwa maksud adalah Hema yang belum bisa lepas dari Psikiater, belum bebas dari rehabilitasi. 


"Masalah itu, Bapak bisa bicarakan langsung dengan keluarga aku. Aku pun bakal sulit beralasan ke keluarga, kalau tiba-tiba langsung minta nikah. Paling, nanti aku ajak mereka berkunjung dan biar Bapak yang bilang langsung ke keluarga aku. Dari tadi aku kepikiran untuk caranya ngomong ke kakak aku sama ke bang Wildan, Pak. Aku yakin, mereka tak akan lepas tanggung jawab ke aku. Aku pun bakal berusaha, untuk bisa lepas dan mandiri lebih cepat. Kalau memang perlu, aku bakal lepasin pendidikan aku untuk fokus ke pekerjaan aku nanti." 


Aku rasa, Hema sudah diambang kepasrahannya. Aku paham ia cinta dengan Bunga, tapi aku merasa ia tidak yakin untuk bisa bersatu dengan Bunga karena keadaannya. 


Ia insecure karena batangnya katanya, aku tahu bagaimana kebenarannya. Hal itu malah kebalikannya, Bunga suka dengan milik Hema. 


"Ini bukan tentang materi, Hem. Tapi Saya khawatir, kau malah gila-gilaan sama Bunga. Bunga begitu, bukannya mendidik, tapi kau ketularan dia, atau kau sama aja kek dia nantinya. Itu yang Saya khawatirkan." Pakwa belum bisa santai seperti ayah pada Hema. 


"Gila-gilaan gimana, Pak? Kalau kita tinggal di sini, kita pasti aman dari pergaulan club malam. Terang aja, aku kenal mariyuana pun di club malam. Sedangkan di provinsi ini, jangankan club malam, bioskop aja kan tak ada." 


Hmm, Hema belum tahu saja bagaimana Bunga. 


"Bangunlah kau, sini ikut." Pakwa turun dari ranjang, kemudian merangkul Hema. 


Hema menyelaraskan kakinya, ia diajak berjalan ke suatu rak tanam yang dibawahnya jelas ada kulkas mini. 

__ADS_1


"Ayah, jangan!" Bunga terlihat panik, kala ayahnya membuka lemari pendingin berukuran kecil tersebut. 


...****************...


__ADS_2