Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA293. Kerumitan pekerjaan


__ADS_3

"Nanti WA aja jam satuan, dia baru pulang kuliah. Nanti biar enak ngobrolnya, kalau aku ada di rumah, nanti aku suruh kau ke rumah." Biarpun aku percaya pada Hema, tapi aku ingin tetap menjaga istriku. 


Khawatir tentang kasus pakwa Ken dan tante Novi, mantan istri papa Ghifar itu. Bunga memang cantik, Hema pasti tahu diri untuk tidak selingkuh. Aku pun percaya pada Nahda, jika keimanannya tidak selemah itu. Tapi mana tahu setan mengalahkan akal sehat mereka semua. 


"Oke siap, Bang." Hema tersenyum lebar. 


"Aku mau ke rumah jahe, kau mau ikut?" Hanya basa-basi, sebenarnya aku ingin pamit tapi tidak enak pada Hema. 


"Tak, Bang. Aku mau ngobrol-ngobrol dulu di sini, Bang. Dikasih pinjam tanah satu hektar sama pakcik Gavin itu, sok diolah katanya, jadi aku mau nambah wawasan dulu."


Biasanya tanah yang dipinjamkan adalah tanah baru beli. Begitu kebiasaan pakcik Gavin, ia pintar tidak mau mengolah tanah mentah karena sedikit susah dan lama. Berbeda dengan tanah bekas ladang sesuatu, tidak begitu rumit dan tidak memerlukan kesabaran yang ekstra. Tanah mentah biasanya tanah kering dan penuh ilalang, jadi bayangkan saja kesabaran yang harus kita usahakan. 


Sama sepertinya tanah yang menjadi ladang porangku ini, sebelumnya memang lama tidak terurus dan banyak ilalang. Aku sepertinya harus membicarakan dengan pakcik Gavin, agar tanah yang ia pinjamkan ini bisa dibeli olehku. Nahda semangat, agar kami memiliki banyak ladang. 


"Tinggal dulu ya, Hem?" Aku bangkit dan menepuk pundak Hema dengan berlalu pergi. 


"Ya, Bang. Ati-ati, Bang." Hema mengangguk dan pindah duduk di tempat yang aku duduki tadi. 


Rumah jahe sudah produksi lancar, hanya saja pemasarannya kurang. Jika masih ada nenek Dinda, aku pasti memaksanya untuk memasarkan di sosial medianya. Selanjutnya, keturunannya tidak ada yang setenar dirinya. Keahliannya dalam bidang literasi, tidak dilanjutkan oleh siapapun. Tidak ada di antara kami yang condong ke arah tersebut, atau bahkan terkenal dengan postingan makanan aesthetic seperti nenek Dinda. 


Kami sibuk dengan dunia nyata, hari bahagia kami bahkan tak pernah kami masukan ke sosial media. Aku bahkan belum sempat upload foto pernikahan kami ke sosial media. Jangankan upload, membukanya pun jarang. Aku lelah dengan pekerjaan, di rumah aku keenakan dengan Nahda. Rasanya tidak sempat memainkan ponsel, membuka laptop pun repot dengan laporan yang masuk ke email. 


Mustahil, bukan? Tapi banyak orang seperti aku, kebanyakan anggota keluargaku pun seperti itu. 


"Bawa aja ke istrinya, Bang. Tawarkan ke temen kampusnya. Atau setidaknya, kita rangkul artis yang biasa endorse produk. Bulan ini udah didaftarkan ke badan POM, masih nunggu antrian, Bang. Maksud Saya, sambil nunggu antrian, mana tau bisa memperbaiki pasar. Jual di aplikasi belanja keknya kurang, orang tak paham ini herbal kah hanya minuman penghangat tubuh biasa. Itu saran Saya aja sih, Bang."


Terus terang aku melamun. Berkembang memang, di tingkat ratusan orderan produk tersebut. Tapi memang kurang dikenal, bahkan tetangga tidak mau mengkonsumsi dengan alasan tidak ada di televisi. 

__ADS_1


Bayar pengurusnya mahal, daftar badan POM tentu perlu usaha ekstra. Tapi pemasukan kurang, dana produksi selalu ditalangi dan ditutupi dulu karena pemasukan tidak sebanding dengan pendapatan. 


"Berapa biasanya bayar artis?" Aku tidak pernah membayar artis untuk endorse seperti ini. 


"Kurang tau, Bang. Tapi Saya bisa cari informasinya dulu. Semisal mau dibawa ke pasar Brasil, produk harus aman dan berlisensi dulu. Ya semacam lulus uji ini dan itu."


Aku manggut-manggut menyimak. "Ya, cari informasinya dulu aja. Saya nanti tanya-tanya ke keluarga, barangkali ada yang paham tentang endorse juga."


Tidak hanya minuman seduh. Sejauh ini, bahkan rumah produksi kecil-kecilan ini sudah mampu membuat permen lunak dengan rasa jahe dan permen keras dengan rasa jahe juga.


"Siap, Bang. Tapi ya silahkan dilihat dan dicermati dulu, Bang. Barangkali memang Abang ingin tau sendiri arahnya uang ke mana aja." Orang kepercayaan ayah yang di tempatkan di sini, memberiku buku seperti anak akutansi. 


"Ada soft filenya?" Aku malas dengan buku-bukuan. 


Maaf ya, nek. Aku memang tidak cinta sama sekali dengan buku-bukuan, kuliah pun aku membawa laptop atau semacam notebook saja. 


Senangnya dengan orang-orang ayah, karena mereka menganggap penting pekerjaan dan bergerak cepat mementingkan atasan.


"Saya lihat-lihat dulu ya?" Aku melangkah perlahan, memperhatikan para buruh wanita yang bekerja. 


Mereka berbondong-bondong ingin menjadi buruh, entah masih belia atau sudah tua. Karena mereka paham, di sini mereka pasti mendapatkan jatah sembako setiap bulannya. 


Tapi yang diterima bekerja di sini kebanyakan janda paruh baya yang staminanya masih terjaga, hitung-hitung membantu perekonomian mereka. Anak-anak yang lulus sekolah, perempuan khususnya. Di sini banyakan lanjut ke jenjang pendidikan perguruan tinggi, di sini banyak beasiswa jalur mengaji, orang tidak mampu bisa mengemban pendidikan tinggi. 


Tapi mirisnya anak laki-laki yang lulus sekolah di sini, banyak mereka yang malah tertarik menjadi buruh ladang. Intinya langsung bekerja, padahal mereka pun mendapat hak yang sama juga dengan anak perempuan. Beasiswa yang hafal Al-Qur'an itu tidak untuk anak perempuan saja, anak laki-laki pun sama.


Sebagian anak perempuan yang tidak ingin melanjutkan pendidikan, mereka banyak bekerja menjadi penjaga toko di pasar, atau konter rumahan, banyak juga yang berjualan. Di sini banyak pedagang, orang sini suka sekali berdagang. 

__ADS_1


Sebenarnya produk tidak mengendap juga, tapi prosesnya itu memakan waktu. Jadi produk jadi hanya baru beberapa, produk yang diolahnya tidak kalah banyaknya. 


Apa harus semuanya menggunakan mesin? Tapi modalnya tentu harus lebih besar lagi. Sedangkan tenaga manual saja, pengeluaran tetap terasa. Aku jadi teringat ucapanku pada Nahda, tentang perbedaan habisnya pengeluaran untuk masak tempe orek dan ayam seperempat. 


Kepalaku penat sekali, aku harus membagi kepusingan ini. Tiap usaha ada problem, aku jadi benar-benar merasakan repotnya jadi ayah. Pantas saja ayah cepat marah sekali, ternyata semumet ini ia di luar rumah. 


Waktunya menjemput Nahda, kebetulan adik-adikku kembali dijemput oleh sopir pribadi. Aku berencana untuk makan di luar, karena Nahda belum sempat masak pagi tadi. Kasihan jika pulang kuliah, ia langsung diminta untuk masak. 


"Bang, ujung dada aku kek gatal mengganggu dari tadi tuh. Tapi yang kanan aja, sampai aku cek di kamar mandi tadi takut ada semutnya." Nahda menggosok dada kanannya dari luar bajunya. 


"Jangan, Dek. Bisa lecet nantinya dong. Kenapa biasanya kalau begitu tuh?" Aku tidak paham alarm tubuh wanita. 


"Pengen disusui keknya." Ia melirik menggoda ke arahku. 


Aku menahan tawa dan hanya geleng-geleng kepala. 


"Tak tau kenapa, Bang. Sering begini, biasanya sih reda sendiri. Tapi mengganggu rasanya tuh." Ia menarik jarum pentul dari hijabnya. 


"Tanya mama nanti." Aku ingin membagi kerumitanku juga. 


"Sering, katanya tak apa nanti hilang sendiri. Gimana kerjaan Abang?"


Wah, kebetulan sekali ia bertanya. 


Aku menarik napas dalam-dalam, kemudian…… 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2