Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA167. Ngemie bersama


__ADS_3

"Bang, nginep sih." Kaf malah ikut masuk ke gerbang rumah ayah. 


"Lah, bilang orang rumah dulu sana." Aku tidak mau orang rumah mencarinya dengan khawatir. 


"Udah nanti aku WA mama." Kaf membawa motornya masuk ke halaman rumah ayah. 


"Kau kenapa sih? Sesedih itu kah putus cinta?" Aku mengunci pagar rumah. 


"Tak tau, Bang. Aku kacau betul hari ini, menang taruhan juga keknya tak buat senang." Kaf memarkirkan motornya di sebelah motorku. 


"Jadi kau ikut taruhan? Gila betul kau!" Aku tak habis pikir dengannya. 


Ponselku berdering. Aku memperhatikan keadaan Kaf dulu, sebelum mengangkat telepon ini. 


Bunga Malati. 


"Ya, Dek." Baru juga aku antarkan ini bocah. 


"Abang udah di rumah, apa keluyuran lagi?" Ia mesti saja begitu. 


"Di rumah, Dek. Baru markirin motor, kenapa? Mau beli jajan?" Aku memperhatikan sandal di teras rumah, tidak ada sandal milik ayah. 


Apa ayah tengah mencariku di luar? Soalnya sering seperti ini. 


"Tak, Bang. Mastiin aja, ya udah ya? Aku istirahat dulu."  


"Oke." Aku langsung mematikan sambungan teleponku. 


"Yuk, masuk. Menang berapa kau tadi?" Aku menarik lengan baju Kaf. 


"Tujuh ratus ribu, Bang." Tubuhnya terlihat lemah. 


Apa ia lapar? 


"Ngemie yuk?" Aku membuka kode kunci rumah. 


Terbuka, kemudian aku masuk dan disusul dengan Kaf juga.


"Tak kepengen makan aku, Bang." Ia membanting tubuhnya di sofa tamu. 


Kini, giliran Kaf yang mendapat telepon. Namun, rupanya bukan panggilan suara biasa. Karena Kaf menghadapkan layar ponselnya ke wajahnya. 


"Pulang kau!" Suara papa Ghifar tegas sekali. 

__ADS_1


"Tidur di Bang Chandra, Pah." Kaf mengarahkan ponselnya padaku. 


"Hm, yaudah." Terdengar sekali panggilan itu terputus. 


"Yuk, buat mie." Aku si perut karet seperti biyung. 


"Abang aja, aku tak."


Ia berbohong, karena suara perutnya sampai terdengar. "Udah ayo, bantuin." Aku menarik tangannya. 


"Hmm." Ia terlihat malas-malasan untuk bangkit dari rebahannya. 


Kaf banyak melamun selama di dapur, tapi ia tetap mematuhi perintahku. Sampai akhirnya kami merokok bersama, karena makanan sudah habis. 


"Ayah ke mana ya?" Aku merasa tidak ada ayah di rumah ini. 


"Tidur lah, Bang. Setengah dua malam ini." Kaf melirik jam tangannya. 


"Bentar deh." Aku penasaran sekali untuk mengecek langsung. 


Benar, ayah tidak ada di kamar dan biyung hanya tidur sendiri. Apa kak Jasmine melahirkan? Tapi masih sekitar satu bulan lagi seingatku. 


Bertanya pada siapa ya? Biyung tengah pulas. Ah, baiknya aku menelpon ayah saja. Aku khawatir dengan keberadaan ayah. Jika benar ia mencariku, biasanya tak selama ini jika tidak menemukanku di luar. 


"Hallo, Bang. Jangan nginep di luar, Bang. Jagain biyung, Ayah tak di rumah."


Benar ternyata. 


"Ayah ke mana? Kok tak bilang kalau mau pergi? Kan aku bisa pulang cepat." Bukan jam segini, aku baru pulang. Kan khawatir dengan orang rumah juga, karena tak ada yang menjaga. 


"Ke pesantren Ra, Cani ribut terus sama temen kamarnya. Ra udah ujian juga, mungkin nanti kita antar lagi kalau ada acara perpisahan sekolah. Ayah pergi sama om Nando, Bang. Mungkin besok sore pulang, jangan keluyuran aja ya?" 


Permintaan sederhana. 


"Oke, Yah. Ati-ati, Yah." Aku jadi memikirkan kenapa adikku bisa ribut saja dengan teman satu kamarnya. 


Yang badung ini Ra, tapi Cani yang ribut. 


"Oke siap, udah dulu ya? Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam." Aku menjawab salam dan mematikan sambungan telepon. 


"Ada di kamarnya?" Kaf bertanya, setelah aku menghampirinya kembali. 

__ADS_1


"Tak ada, ayah lagi jemput Ra sama Cani ke pesantren. Adik kau tak pesantren ya?" Aku duduk di sampingnya, kemudian mencicipi kopi buatan Kaf ini. 


"Tak ada yang bener,  berhenti di tengah jalan. Kak Kal yang sampai lulus, yang lain pada tak karuan. Aku ya sakit, Nanda kabur dia, bisa pulang sendiri. Si Hifzah, dia pindah asrama dan tak betah katanya." Asap rokok bocor dari mulut Kaf. 


"Abang jadi khawatir loh, Kaf. Kita kakak laki-laki tertua, terus adik-adik perempuan kita begini. Takut kedepannya, pasti kita harus ekstra jagainnya." Aku pun pasti ikut andil menjaga Nahda dan Hifzah. 


Kami saudara dekat, pasti kita saling membantu. 


"Masa lalu papa aman, tak mungkin adik-adik kena karma." Kaf menikmati kembali rokoknya. 


"Hai, mama kau. Rokok bukan kriminal, tapi pasti ada pergaulan yang buat dia kenal rokok. Tak mungkin pergaulan dari mushola bawa dia kenal rokok kan? Nah, kau pikir lah pergaulan dari mana. Paham, mama tiri kau perempuan baik-baik. Tapi pergaulannya mama, bisa turun ke kau atau adik perempuan kau. Itu yang Abang khawatirkan, karena tau ayah Abang ini sejenis setan." Itulah alasannya aku begitu memikirkan masa depan adik-adikku, sampai aku urung menikah. 


"Mama aku perempuan baik-baik, Bang. Abang kok ngomongnya gitu?!" Kaf terpancing emosi. 


Kaf terpancing emosi?


"Apa salahnya jaga-jaga? Kau paling semangat kalah cerita tentang kejelekan ayah Givan, tapi kau marah pas Abang cuma bilang pergaulan mama kau." Karakternya terlalu kolot tentang keluarganya. 


"Abang betul." Ia menundukan kepalanya, sampai tengkuknya rata dengan kepala belakangnya. 


"Abang tau apa aja tentang mama aku?" Ia menegakkan kepalanya melihat ke arahku. 


"Kalau kau tau kejelekan orang tua kau, memang kau mau apa? Sejelek-jeleknya perilaku orang tua, mereka berharap kita jadi anak baik-baik, makanya kita sampai dipesantrenkan." Karena pola pikir Kaf berbeda denganku, ia pasti tidak bisa menyikapi kebenaran dengan baik. 


"Jangan-jangan, aku begini pun karena kelakuan orang tua aku dulu?" Ia seperti bertanya pada dirinya sendiri. 


"Itu kelakuan kau! Jangan salahkan orang tua kau, nyatanya kau yang tak bisa jaga akhlak kau sendiri." Aku mesum dengan Izza pun, bukan karena jejak orang tuaku. Tapi karena memang aku yang penasaran. 


"Maksudnya, tentang dosa turun temurun. Ehh, apa ya? Pokoknya kalau orang tuanya begitu, anaknya pun pasti begitu."


Sebenarnya, aku tahu faktanya. Tapi untuk apa diungkap? Papa Ghifar pernah zina dengan mama Aca sebelum memutuskan untuk menikah siri, alasan menikah pun karena tidak mau terus berzina. 


"Tak usah dipikirkan, yang penting perbaiki diri aja. Tak ada faedahnya juga ungkit-ungkit dosa, nanti malah tak fokus untuk perbaiki diri." Aku menepuk pundaknya sekali. 


Kaf menoleh. "Apa aku harus berubah?"


Ih, kok t*l*l dia! 


"Terus, kau mau lanjut jadi pezina? Harapan orang tua kau besar, Kaf." Aku selalu teriris, kala ayah mengutarakan harapannya padaku. 


"Bukan lanjut jadi pezina juga, tapi maksudnya apa aku harus nutup diri dan nutup hati. Sebenarnya, aku bingung juga. Aku ini sebenarnya dilepaskan, atau hanya break." Kaf menepuk dadanya sendiri. 


"Kalau….

__ADS_1


...****************...


__ADS_2