Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA127. Bernapas pun kaya


__ADS_3

"Entah, Pakwa. Aku tak pernah macem-macem jajal soal begituan, pengalaman aku tak banyak dan juga aku baru nikah juga." Aku mengedikkan bahuku. 


"Nah, justru itu. Baru menikah, tapi udah begini. Itu yang dipermasalahkan, Bang. Baru nikah itu yang malah rakus, karena kau belum pernah macem-macem sebelumnya. Pakwa tak menyarankan kau untuk jajal perempuan lain, tapi tak ada salahnya untuk kau berobat ke psikolog atau psikiater. Nanti Pakwa arahkan, kalau udah tau informasinya. Bukannya apa-apa, tapi kurang normal aja. Masih muda udah begitu, apalagi nanti kalau udah tua? Begitu loh maksudnya, Bang. Jadi pengobatan sejak dini, biar kedepannya tak semakin melemah." 


Benar juga, mudanya saja aku kadang mau kadang tidak untuk berhubungan suami istri. Apalagi tua, khawatir istriku malah minta jajan laki-laki. 


"Tapi untuk durasi, aku tak kek yang gimana gitu. Maksudnya, tak lemah gitu. Lumayan lah, tak terlalu lama juga." Aku memberitahukan bagaimana kondisiku yang lemah untuk bangun di awal ini.


"Ya iya, berarti kurang lebihnya kau kek paman kau. Ketahanan dia oke, tapi sulit terbangkitkan. Udahlah, kata Pakwa sih periksa aja. Nanti nih setelah Izza tindakan, kau ambil pengecekan untuk diri kau. Besok Pakwa antar deh Izza untuk tindakan, biar tak usah ada penjelasan lagi. Karena sekalipun hormon laki-laki tak seimbang, efeknya itu bukan tak n*****n. Karena laki-laki itu biasa rakus dan agresif sifat aslinya, Bang. Kalau udah berumur, kek gitu wajar. Kau masih muda, masa depan masih panjang, pengalaman juga belum dijajal semua. Kasian gitu sama diri kau sendiri, pasangan kau pun nantinya akan merasa bahwa kau monoton dan menyadari kau lemah. Kau tak mau kan, kalau sampai kau direndahkan karena tak jantan?"


Aku menunduk. "Tak mau, Pakwa." Aku meluruskan pandangan, kemudian menoleh ke samping kananku. "Yaudah gimana baiknya aja menurut Pakwa, nanti aku bilang ayah," lanjutku kemudian. 


"Kok kenapa bilang ayah kau?" Pakwa mengerutkan dahinya. 

__ADS_1


"Ayah yang cover biaya lain-lain, Pakwa. Aku belum sukses." Aku memamerkan gigiku. 


"Wah, tak mungkin. Kau bernapas aja udah kaya, Bang. Apalagi, kau ada aktivitas begini."


Jelas aku melongo mendengar pernyataan dari pakwa. Memang aku siapa? Kenapa sampai sekaya itu? 


"Pakwa ngomong apa sih?" Aku merasa pakwa ngaco. 


"Kok bisa?" Aku tak berkedip sejak tadi. 


"Bisa, masa itu Pakwa bolak-balik aja ke Malaysia ke Banjarmasin. Katanya tuh, anteng coba Ken, anak kau diasuh mamah tirinya, takut diapakan masa kau jauh. Disuruhnya Pakwa buka usaha aja biar anteng kontrol anak spesial Pakwa di sini, nurut aja Pakwa sama nenek dan kakek kalian. Kan kemarin halaman itu kebun pisang semua. Kebetulan, nenek dan kakek kau punya gantian ladang itu karena tetangga ada yang nikahkan anaknya tapi keteter biaya. Mereka minjem uang, tapi gak yakin bisa bayar. Jadi kata tetangga itu, ditukar pakai kebun pisang aja. Akhirnya nenek dan kakek kau mau, tapi karena luasnya tak seberapa, jadi dikasih ke Pakwa. Katanya, udah itu aja diolah untuk dijadikan tempat usaha aja biar kau dekat bolak-balik kontrol ke rumah. Pakwa ini basic usaha lain itu tak punya, pabrik kopi aja itu bantuan tangan kanan. Setelah diam ngamatin keadaan kampung, jadi Pakwa mutusin untuk buka klinik aja. Dengan biaya berobat tiga puluh ribu untuk pendaftaran, periksa dan obat, orang berani datang meski obat ada yang Pakwa minta mereka untuk tebus. Jadi tergantung sakitnya dan tergantung jenis obat yang ditebusnya, berbeda biaya tapi mereka mau buktinya. Ternyata juga, Pakwa tak bisa handle sendiri juga karena pasien bukan dari tempat ini aja. Ya udah deh, jadi dokter-dokter baru masuk. Tak dokter umum aja, dokter gigi dan dokter kulit, USG kehamilan pun bisa. Dulunya tak begini konsepnya, tapi sekarang malah jadi wadah untuk mereka yang tak punya tempat. Ya udah, tak apa. Yang penting Pakwa tetap kontrol aja, biar terkesan kerja." 


Kembali tentang pekerjaan, kalimat terkesan kerja ini menyangkut harga dirinya. Begitulah laki-laki, sesensitif itu jika menyangkut pekerjaan. 

__ADS_1


"Untuk biaya hidup dengan lima anak, satu pengasuh dan satu ART, kisaran berapa juta, Pakwa?" Barangkali memiliki tips, karena aku tidak memiliki aturan ekonomi di rumah. 


"Kalau dapur, paling cuma tujuh juta aja. Makan di luar seminggu sekali, habis lah tiga jutaan. Udah sepuluh juta aja tuh untuk makan aja. Gaji ART sama pengasuh, lima juta. Nafkah lahir untuk istri Pakwa, Pakwa kasih lima juta, untuk keperluan ego pribadinya. Tapi tidak termasuk sandang dan pangannya, jadi untuk pegangan pribadi dia aja. Kan beda soalnya uang nafkah dia sama uang dapur ini. Yang tak terbatas jumlahnya itu, ya uang untuk anak-anak Pakwa. Pendidikan, jajan, kebutuhan, sandang, kesehatan dan lain sebagainya. Sandang anak-anak kan tak bisa pas jalan-jalan kek istri Pakwa, istri Pakwa kan belanja bulanan dapur, stok isi dapur, sekalian Pakwa belikan baju untuk dia juga. Apalagi Bunga, kan online terus. Tiap orang beda-beda aturnya, Bang. Ayah kau bebasin istri, karena istrinya tau atur barang yang mana yang ia butuhkan. Pakwa tak bebasin istri, karena istrinya dibebaskan malah tak tau diri. Pernah malah sebulan habis sampai lima ratus juta, masanya Pakwa pegangin kartu debit Pakwa ke dia. Kok beda sama bibi kau kan gitu? Bukan pengen pelit ke istri juga, tapi kan hidup ini bukan untuk menghambur-hamburkan uang aja. Banyak ngeluh ini itu kendor, wajah kerutan, ya Pakwa ajak ke klinik kecantikannya, tak kasih uangnya. Karena bisa menggila kalau dikasih uang tuh, jadi Pakwa yang atur semua keuangan di rumah."


Aku manggut-manggut. "Boleh ya atur keuangan di rumah? Kan kita ini laki-laki." Karena di masyarakat kita, management keuangan adalah seorang istri. 


Aku jadi berpikir, apakah Izza terlalu boros? Tidak membayar ART, tidak memiliki stok makanan di dapur, karena Izza memilih belanja tiap hari. Tapi kisaran pengeluaran untuk begitu-begitu saja, sampai habis dua puluh juta. 


Kadang memang ada pikiran juga, jika begini terus nanti kerja habis untuk makan sebulan saja. Belum ada anak, tapi resiko hidup seolah besar sekali. 


"Begini nih….. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2