Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA85. Tidur bersama Zio


__ADS_3

"Papa ganggu tak?" Papa Ghifar ada di ambang pintu dengan kursi roda yang sudah berbentuk sempurna. 


"Tak, Pa." Aku merilekskan otot-otot wajahku. 


Bagaimana ya? Sudah keadaan tengah susah begini, ditambah istriku seperti itu. Aku tidak bermaksud mementingkan keluargaku, tapi keluargaku butuh aku. 


Izza seolah ingin menguasai waktuku, tubuhku dan pikiranku. Ia tutup mata dari kedudukanku di keluarga besar ini. Aku besar dengan didikan keluarga besar. Aku terbiasa membagi waktuku dan kepedulianku pada saudara-saudaraku. 


"Sini, Papa bantu pindah dan bantu kau pipis." Papa Ghifar mendekatiku. 


"Ya, Pa. Aku minta tolong, Pa." Aku sadar diri tengah selemah ini. 


Aku pindah ke kursi roda, kemudian papa Ghifar mendorongku ke kamar mandi. Sampai beliau membantuku untuk buang air. 


Apa ini efek obat bius lokal yang sudah habis ya? Setelah dari kamar mandi aku langsung panas dingin. Papa pun menyadari hal itu, kemudian membantuku berselimut tebal di ranjangku. 


Entah ke mana Izza, ia tidak ada di kamar. Ia tahu padahal, bahwa aku butuh seseorang untuk membantuku bangun dan beraktivitas ringan. Tapi, ia malah tidak ada di sisiku. 


"Nanti Papa bilang ayah kau kalau kau demam mengigil. Obat kau di mana? Dapat obat tak?" Papa menempatkan kursi roda ini di samping ranjang, persis di sampingku. 


"Di Zio obatnya, Pa. Ayah juga suruh istirahat, besok aja ke biyungnya gitu." Aku khawatir ayah langsung pergi ke rumah sakit setelah polisi pergi. 


"Iya, nanti Papa sampaikan. Kau udah minum obatnya?"


Aku merespon dengan anggukan kepala. 


"Ya udah, Papa keluar dulu. Kalau Izza tak kuat bantu kau, kau telpon Papa atau Kaf aja." Papa Ghifar mengusap-usap tubuhku yang berselimut sebelum pergi. 


Izza ke mana??? 


Gemasnya aku ini. 


"Bang…. Chandra…." Itu suara ayah. 


Tok, tok, tok. 


"Masuk aja, Yah," seruku cepat. 


Ceklek….

__ADS_1


Ayah berjaket tebal, aku tahu itu milik Zio tadi. "Dingin betul, Bang." Ayah masuk ke dalam kamarku. 


"Yah, aku sulit jalan." Laki-laki cengeng ini mulai mengadu pada ayahnya. 


"Kau pahlawan, tak apa, kau bakal cepat sembuh." Ayah tersenyum padaku. 


"Polisi udah pulang kah, Yah?" Aku menggeser punggungku, agar ayah bisa duduk di tepian ranjang. 


"Udah pas papa bawa masuk kursi roda. Ini obat dari Zio, kau udah minum?" Ayah menaruh obat itu di nakas. 


"Udah pas di mobil, Yah." Saat perjalanan pulang ke sini itu. 


"Izza ke mana? Mau Ayah panggilkan tak?" Ayah melirik tempat di sebelahku. 


Kosong, memang. 


"Boleh, Yah. Aku butuh orang untuk bantu aku ke kamar mandi." Aku melirik ke arah pintu yang setengah terbuka. 


Izza belum muncul juga. Jika memang ia dari dalam kamar mandi, harusnya ia sudah kembali. 


"Ya, Ayah panggilkan. Cala di kamar berapa, Ayah tak tenang." Ayah memasukkan tangannya ke saku jaket. 


"Kalau Ayah ke sana, besok yang urus ini siapa? Yah, aku awam betul." Aku menahan tangan ayahnya. 


Seperti anak kecil aku ini. 


"Kau kira Ayah terbiasa ngurus musibah kebakaran begini?!" Ciri khas ayah memang seperti itu. 


"Terus di sini gimana?" Aku merengek seperti anak kecil. 


"Ada papa ada yang lain tuh. Ayah tak tenang, kalau tak tau sendiri gimana keadaan anak ayah. Mobil biar di sini, untuk kendaraan kau sama Zio. Biar Ayah pakai taksi online aja, karena mobil satu lagi kena imbas ketindihan bangunan. Tiang pondasi baru yang di lantai atas rumah kau itu, jatuh dan nimpa mobil." Ayah mengisyaratkan posisi tiang yang jatuh di atas mobil dengan tangannya. 


Rumahku tengah direhab ulang, sepertinya akan direhab total karena kejadian ini. Bukan tentang kerugian saja, tapi imbas dari kejadian ini tentang trauma yang didapat oleh anak-anak. 


"Ayah tak apa pergi sendiri? Aku khawatir, Yah." Ayahku sudah tua. 


"Kau bisa antar Ayah?"


Tentu aku menggeleng. 

__ADS_1


"Ya udah, makanya. Zio kasian, dia keknya ngantuk betul." Ayah menarik selimutku sampai sebatas leher. 


"Ayah jangan pakai taksi deh, minta pak cek Gavin atau Gibran." Aku malah tidak tenang, jika ayah pergi sendiri dengan taksi online. 


"Iya, Bang. Oke deh, oke." Ayah bangkit dari duduknya. 


"Ayah telpon dulu pak ceknya." Aku tidak percaya pada ayah. 


"Pak cek kau kumpul di teras Zio. Cali tak mau masuk ke rumah, dia ketakutan terus. Tak mau tidur, nanti kaget lagi katanya." Mendengar cerita ayah, Cala pun di sana pasti sering terbangun karena bayangan buruk. 


"Ya udah deh, Ayah ati-ati ya?" Mungkin tidak ada anak laki-laki yang seperti ini pada orang tuanya, terutama ayahnya. Tapi aku sekhawatir itu kehilangannya, atau sampai ayahku kenapa-kenapa. 


Semua orang bergantung padanya, termasuk aku juga. Ayah seperti kiblat untukku dan peneranganku. Sedangkan biyung, ia seperti semangatku dan energiku.


"Iya, nanti Ayah chat dan kirim foto kalau udah sampai di kamar Cala." Ayah melangkah keluar dari kamarku dan menutup pintu kamarku. 


Sampai aku selesai mengobrol, Izza belum datang juga loh. Tadi ia di kamar saja, sekarang aku datang, ia malah hilang entah ke mana. Masa iya di kamar mandi lama sekali. 


Suara pintu depan terbuka dan tertutup kembali, kemudian pintu kamarku terbuka dengan menampilkan Zio. "Ayo kelon sama aku aja, Bang. Kakak ipar udah pulas sama kak Jasmine di rumah kak Key." Zio menutup kembali dan langsung berjalan ke arah ranjangku. 


"Kalau mau pipis bangunin aja, Bang. Mata aku pedas betul." Zio langsung ambruk di tempat Izza biasa tidur. 


Izza tidur pulas dengan kak Jasmine? Kenapa saat aku tak ada tadi, ia tak kunjung tidur? Saat aku datang dan butuh seseorang, ia malah tidak mengambil posisinya untuk membantuku.


Ini acara marahnya kah? Atau, setelah aku marah ia langsung bergerak untuk melakukan pendekatan dengan keluargaku? 


Apa itu dibenarkan? Apa aku bawel? Apa yang Izza simpulkan dan pikirkan tentangku? 


"Awas, awas….."


Aku melirik ke arah Zio. Ia mulai mengoceh saat tidur, tandanya ia sudah amat pulas dan tubuhnya amat kelelahan. Mulutnya akan berisik saja, jika tidur dalam kondisi seperti itu. Jika ia tengah sakit pun, ia pasti merintih terus saat tidur. 


Izza, Izza.


Lama mengenal, kita tetap nol besar dalam fase pernikahan. Kita seperti mulai dari awal lagi, bukan melanjutkan fase kehidupan selanjutnya. 


Kenapa aku berbicara seperti ini? Karena fase pernikahan di mana kita terkunci dua puluh empat jam dengan pasangan hidup kita setiap hari, membuat sifat asli pasangan yang tidak aku ketahui selama berpacaran akhirnya terbongkar sudah. 


Izza seperti Izza, aku pun seperti aku. Ia dengan sifat penguncinya, dengan aku yang ingin tetap bisa bersosialisasi pada keluarga dan saudaraku. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2