
"Kau jangan bikin Abang jadi was-was." Aku menjepit lehernya di siku dalamku.
"Apa sih, Bang? Aku nanti kuliah mau bawa mobil sendiri, biar tak repotin. Bang Zio udah balikin mobil ayah, udah nambah armada katanya." Ra masih bisa bersikap santai, meski instingku ia tengah menutupi sesuatu.
Ia tidak mungkin belajar mobil di pesantren, rasanya aneh saja jika keluar pesantren ia bisa membawa mobil. Aku malah curiga ia tidak jelas di pesantren dan sering kabur-kaburan.
"Ada Abang, Dek. Abang antar tak masalah." Aku tak apa repot, asal adik-adikku aman terjaga.
"Lihat nanti lah, ijazah aja belum keluar." Ra melenggang santai meninggalkanku.
Bukan aku tidak betah di rumah, karena kehadiran adik-adikku. Tapi aku selalu pergi setelah sholat Ashar, karena tahu setiap malam lepas Maghrib Jessie datang ke rumah untuk belajar mengaji.
Bukan aku tidak mau berteman dengannya. Tapi aku mencoba memahami pendapat orang terdekat seperti Bunga dan Hema, sembari aku mencari informasi tentangnya. Bahkan di malam rabu ini, jam sembilan malam Jessie masih berada di rumah.
Aku langsung buru-buru keluar rumah lagi, setelah memikirkan motorku di halaman rumah. Lebih baik aku ke tempat Bunga saja, toh pakwa kemarin bilang malam rabu akan tidur di tempat Bunga.
Ngapain Jessie sampai malam ada di rumahku? Apa ia tengah mencoba akrab dengan keluargaku? Tapi untuk apa coba? Aku bisa menahan diriku untuk tidak meladeninya, tapi jika ia terus ke rumah ya aku repot sendiri.
Ada mobil milik pakwa, tapi pintu rumah sudah terkunci. Untungnya, aku tahu pin pintu ini.
Beberapa lampu sudah padam, apa mereka sudah tidur? Namun, gelak tawa terdengar lepas dari ruangan atas. Aku segera menaiki tangga, untuk memastikannya sendiri.
Hingga sampailah di kamar Bunga, aku malah melongo melihat ayah dan anak itu tengah beradu botol dan melempar kartu remi ke lantai. Mereka benar-benar mabuk bersama, seperti apa yang Bunga katakan di hari Minggu saat ada Hema.
"Ehh, Bang. Sini gabung." Bunga menyadari kehadiranku.
"Agak gila Pakwa ini." Aku geleng-geleng kepala dan memasuki kamar Bunga.
"Daripada dengan laki-laki lain, kena bungkus, malang lagi nanti nasib Bunga." Pakwa meneguk kembali minuman beralkohol tersebut.
"Pakai uang lah, Yah. Tak seru Ayah ini." Bunga sudah amburadul, dengan wajah yang memerah seperti demam.
Jadi, apa harus seperti itu menjadi teman seorang anak? Apa sekhawatir itu pakwa dengan putrinya jika mabuk dengan laki-laki lain, sampai ia membuat dirinya sendiri menjadi partner mabuk Bunga?
"Boleh, boleh. Kecil-kecilan aja dulu kita." Pakwa mengeluarkan dompetnya.
Aku yang ikut gila di sini.
"Masih ada kok, Bang. Pilih aja di kulkas lemari itu." Bunga menunjuk lemari pakaian yang berada di belakangku.
"Masih ada apa?" Aku menoleh dan bingung.
Aku kira, aku diminta untuk mengambil sesuatu. Kakiku melangkah dan membuka apa yang Bunga tunjukan, itu adalah sesuatu yang serupa dengan minuman keras di genggaman mereka.
__ADS_1
"Hana sama Hua aman, Pakwa?" tanganku kemudian, dengan mengambilkan satu botol minuman tersebut bermaksud untuk mereka.
Karena, aku mengira disuruh untuk mengambilkan botol ini.
"Aman, udah pada tidur. Hua udah stabil, tapi dokter masih stay di sana." Pakwa tidak mengalihkan perhatiannya sedikitpun dari kartunya.
"Sok, Bang. Kalau doyan sih." Bunga pun fokus pada kartunya.
"Habiskan, Dek." Pakwa menyodorkan botol yang ada di dekatku ke anaknya.
"Udah, Ayah." Bunga bahkan menaruh botolnya di dekatnya.
"Habiskan lah, nanti untuk siapa? Abang kau mana doyan."
Kenapa pakwa menjejal anaknya dengan minuman keras?
"Oke, oke. Sambil main kartu, Yah." Bunga sudah terlihat amat kalau.
Hingga beberapa uang dimenangkan oleh pakwa, Bunga langsung tergeletak di samping kartunya. Pakwa menghela napasnya, kemudian meluruskan kaki anaknya. Roknya dibenahi, kemudian posisi tangan Bunga dibuat senyaman mungkin.
"Nasib punya perawan." Pakwa memunguti botol minuman beralkohol itu.
"Sini dibantu, Pakwa." Aku tidak mungkin hanya menonton tanpa membantu pakwa yang setengah mabuk itu.
"Calon terapis, tapi hidupnya hancur lebih dulu. Kan lucu." Pakwa mengambil ancang-ancang untuk mengangkat tubuh Bunga.
"Yang penting dia udah terbuka dengan masalahnya." Berat juga Bunga ini.
"Cantiknya anakku." Pakwa menyelimuti tubuh Bunga dengan selimut, setelah ia dipindahkan ke atas ranjang.
"Kenapa Pakwa paksa dia mabuk separah ini?" Aku menyeka air mata Bunga yang keluar sendiri.
"Biar dia cepat berhenti minum malam ini. Kalau sedikit-sedikit, mau kapan habis? Mau jam berapa telernya? Kau jangan di situ, tak rela Pakwa kau sentuh wajahnya gitu."
Aku terkekeh dan pindah tempat.
"Pakwa kenapa izinkan dia mabuk? Pakwa ahli kesehatan, pasti tau dampak buruknya." Aku masih memperhatikan mereka berdua.
"Kalau dilarang, dia tetap melakukan. Dia punya barangnya, dia tak minum sama Pakwa nanti cari partner yang mau minum sama dia. Pastinya bukan kau, karena kita sama-sama tau kau gimana. Kalau lawan minumnya orang lain, pasti dia ambil kesempatan masa Bunga udah teler begini." Pakwa mencium dahi anaknya.
"Pulanglah kau, Pakwa mau istirahat juga."
Aku diusir? Ke mana lagi aku harus pergi? Jessie pulang belum ya? Sudah pukul sepuluh malam juga.
__ADS_1
"Aku sekalian kunci, Pakwa." Aku keluar dari kamar ini.
"Ya." Samar-samar terdengar, karena aku sudah menutup pintu kamar juga.
Nyata, masih ada Jessie. Aku tidak bisa kabur lagi, karena mereka terlanjur melihatku masuk ke halaman rumah. Jessie ada di teras, mengobrol bersama Ra dan ayah. Semoga, ia tidak membahasku.
"Dari mana, Bang?" tanya Ra dengan tersenyum lebar.
"Dari Bunga." Aku terus melangkah menghampiri mereka.
"Bunga? Ada apa?" Jessie menyatukan alisnya.
"Ya tak ada apa-apa, mau main aja." Aku merasa aneh dengan Jessie yang terlihat heran mendengar aku main ke Bunga.
"Abang setuju tak kalau aku ambil teknik?" Ra menarikku, agar aku duduk di sampingnya.
Bongsornya ayah, saking besarnya sampai sudah seperti mama Aca. Ya, mama Aca tinggi besar.
"Teknik apa?"
"Mesin." Ia memamerkan gigi rapinya.
"Tak, teknik pertambangan tak apa." Ayah memiliki usaha pertambangan, salah satu anaknya tak mengambil jurusan itu.
"Otomotif." Ra masih menego saja.
"Perminyakan deh." Ra sampai merangkulku.
"Terserah kau lah!" Aku meliriknya sinis.
"Oke, oke. Pertambangan, oke fix." Ra langsung mencium pipiku.
"Tanya Ayah!" Aku menarik hidungnya.
"Terserah kau, Ra." Ayah menghela napasnya.
"Udah malam, Jes. Kau tak ngantuk?" Aku baru menoleh ke arah Jessie.
"Hmmm…." Jessie menggulirkan pandangannya pada Ra dan Ayah.
Apa ia menunggu perintah agar aku mengantarnya?
"Yah…. Tolongin, aku…."
__ADS_1
Kami menoleh serentak ke pintu penghubung halaman samping.
...****************...