
"Kenapa kau tak nyalakan lampu, Dek?" Givan mengawali dengan pertanyaan mendasar.
"Kan otomatis, Yah. Jadi, misalkan buka pintu kan lampu nyala sendiri. Otomatis gitu, Yah. Kamar hotel modern, yang masuknya pakai kartu." Ceysa tidak tahu ayahnya tidak sebodoh itu, sampai ia harus menjelaskan dengan lugas.
"Terus? Lampunya tak nyala begitu?" Givan merasa hotel mewah tidak akan seceroboh itu.
"Iya, Yah. Lampunya tak nyala sama sekali, jadi aku nyalain flash dari HP," terangnya kemudian.
"Terus, kenapa diarahkan ke tembok?" Givan masih mencoba memahami tindakan yang anaknya ambil.
"Silau, Yah. Seberang kamar itu kamar mandi yang disekat pakai tembok kaca gitu." Ceysa merasa ayahnya seolah tidak percaya padanya. "Kalau Ayah berpikir aku sengaja, aku udah lakuin dari dulu-dulu. Lagian, toh Hadi punya apa? Kenapa aku sampai harus merendahkan diri untuk laki-laki? Sekalipun memang tak ada jodoh sama Hadi, aku tak akan korbankan marwah aku sendiri untuk dijadikan tumbal atas sifat pemangsa laki-laki," lanjutnya kemudian.
"Kau cinta sama Hadi, ambisi perempuan itu besar kalau udah cinta." Givan mengerti akan perasaan perempuan.
"Tak kek gitu, Yah. Perempuan tak kek laki-laki yang kalau udah cinta itu kepengen memiliki." Ceysa mencoba membenarkan dirinya.
"Kau yakin, kau tak sengaja antar Hadi yang mabuk dan dalam pengaruh obat itu? Ayah berpikir, kau cukup cerdas menyelamatkan diri." Givan kini memojokkan Ceysa, anaknya sendiri.
"Terserah apa yang Ayah pikir, aku bisa iyakan agar Ayah tak repot-repot intimidasi aku. Aku cuma kasian, karena Hadi udah payah. Bang Chandra tak memungkinkan, dia sempoyongan sendiri. Sekar bahkan udah K.O sejak di meja kita." Ceysa cukup cerdas untuk memahami sudut pandang ayahnya.
"Kenapa kau tak berpikir untuk antar Sekar aja? Kalian sama-sama perempuan." Givan semakin membuat Ceysa terpojokkan.
"Aku kasiannya ke Hadi, Yah. Bukan kasian ke Sekar, aku ngeklaim bahwa Sekar yang jahat di sini. Karena dia udah kasih obat di gelas Hadi." Suara tegas Ceysa keluar seperti almarhum ayah kandungnya.
"Yah, Sekar sengaja ambil kesempatan dalam kesempitan. Dia ngaku ke Hadi, bahwa dia yang diperdaya Hadi. Dalam pengecekan Hadi pun, keadaan Sekar udah tanpa segel. Yang artinya, Sekar memang ngerencanain ini semua. Makanya dia punya pikiran untuk kasih tembok antara Hadi dan Ceysa, karena dengan Hadi merasa berbuat, sedangkan dirinya tidak merasa berbuat dengan Hadi, pasti dia tau kalau memang Ceysa lah yang diperdaya Hadi. Dengan ingatan samar yang Hadi punya, dia ngakuin bahwa dirinya korban dari Hadi," ungkap Givan, yang ia dapat dari cerita Hadi.
Hadi merasa malu sendiri, karena kakak sepupunya ternyata menggali informasi untuk kepentingan diskusi. Tapi ia merasa bersyukur, karena kakak sepupunya berpihak padanya.
__ADS_1
"Siapa tau Hadi memang sebelumnya sering ngelakuin dengan Sekar." Givan memutar pandangannya ke arah Hadi.
"Van, kenapa kau berpikir anak aku serakus itu?" Zuhdi tidak terima dengan ucapan Givan yang seolah menuduh.
"Karena anak kau laki-laki. Aku tau gimana laki-laki." Givan menoleh ke arah Zuhdi.
"Tapi tak semua laki-laki itu buruk, Van!" Zuhdi tidak terima, karena sejak tadi Givan menyudutkan anaknya terus.
"Tapi kita tau tabiat laki-laki, Di! Kau jangan munafik dan menganggap anak kau sepolos itu. Dengan dia bisa buat hamili, permainan dia tak main-main dengan skill yang dia miliki." Givan paham proses pembuahan di mana si perempuan pun harus minat juga.
"Kau berpikir anak aku punya skill untuk naklukin perempuan karena dia sering melakukan begitu? Pikiran kau jahat betul ya, Van?" Zuhdi geleng-geleng tak percaya.
"Aku tau laki-laki, Di! Kau berpikir aku jahat, atau kau yang berpikir bahwa anak kau sebaik dan sepolos yang kau kira?!" Emosinya terpancing kembali.
"Udah, udah! Sekarang kita perlu bawa Sekar di sini, atau secepatnya nikahin Ceysa dan Hadi." Keith mencoba menengahi situasi yang kurang kondusif ini.
"Ya, Bang. Aku punya bukti status dari sosial media lamanya." Hadi sudah menyimpan beberapa bukti tersebut.
"Coba lihat." Givan ingin tahu sendiri.
"Ini, Yah." Hadi memberikan ponselnya. "Di galeri, udah Hadi screenshot."
Givan mengambil alih dan melihat-lihat isi tangkapan layar tersebut. Beberapa di antaranya, membuat Givan tidak percaya. Namun, ia memiliki pemikiran bahwa akun tersebut bukan milik Sekar sendiri. Tapi hal yang membuatnya heran, karena tak mungkin orang lain memiliki foto Sekar yang begitu mempertontonkan dirinya jika bukan pemilik tubuh itu sendiri yang berpose dan mengambil gambar.
"Mana, Mas?" Canda melongok ingin melihat juga.
Givan membagi layar ponsel Hadi pada istrinya. Ia mulai berpikir, jika ia menarik Sekar dalam diskusi ini. Pasti akhirnya Sekar menyebarluaskan fakta bahwa Ceysa mengandung di luar pernikahan.
__ADS_1
"Nikah di mana sebaiknya?" Givan memandang Hadi dan Ceysa bergantian.
"Maksudnya, langsung dinikahkan kah?" Chandra tidak ingin pernikahan terjadi secepat itu juga, karena permasalahan dari Sekar pasti datang dengan cepat.
"Iya, toh sama Sekar belum ada lamaran ini." Givan berpikir, bahwa tidak perlu ada etika baik untuk Hadi pamit pada Sekar.
Ia berpikir untuk tetap menikahkan Hadi dan Ceysa, meski benar ada pihak Sekar yang membuat keadaan mereka menjadi seperti itu. Ia mengambil asumsi sendiri, bahwa Sekar dalam akun lamanya tersebut adalah seorang gadis yang tengah mencari jati dirinya. Tapi dengan keadaan Ceysa yang dirugikan di sini, ia ingin memberikan sedikit keberuntungan untuk anaknya.
"Tak bisa gitu, Yah. Kita harus cecar Sekar terus, kita juga harus buat Sekar ngakuin dan selesaikan hubungannya sama Hadi." Chandra sudah berpikir untuk ini sejak mereka masih berada di Singapore.
"Sekar bakal sebarkan kenyataan bahwa Ceysa punya anak sebelum pernikahan, takutnya warga kampung dan kepala desa dengar. Anak Ayah nanti bisa dihakimi, karena sampai punya anak dari perzinahan." Givan berpikir kritis.
"Tapi, Bang. Kalau Saya boleh kasih saran, baiknya kita libatkan juga orang desa. Karena dari cerita Ceysa dan Hadi, mereka ini korban. Mereka tidak menghendaki perzinahan itu, mereka tidak melakukan sesuai keinginan mereka. Tapi, atas dasar pengaruh obat yang Hadi rasakan. Ceysa pun seperti korban pemerkosaan, dia bisa bebas dari sanksi." Keith kembali menengahi mereka.
"Paling, mungkin kena hukum miras itu. Kalau zina, mungkin mereka aman karena kasusnya penjebakan dan pemerkosaan untuk Ceysa." Zuhdi berpendapat seperti Keith.
"Iya betul, kena miras aja paling." Giska membenarkan pendapat suaminya.
"Miras pun kena hukuman, Giska. Bukan cuma Ceysa dan Hadi yang kena cambuk, tapi Chandra juga." Canda cukup mengerti kondisi ini.
"Ya kalau begitu, berarti Sekar juga kena." Chandra menimpali pernyataan ibunya.
"Permasalahannya merumit kalau kek gini." Hadi memijat pelipisnya.
"Ya kek saran dari Saya tadi. Kalian bakal aman, kalau pernikahan dilakukan di luar daerah ini. Kalian juga harus tinggal di sana, untuk besarkan Dayyan." Keith kembali mengemukakan pendapatnya.
"Aku tak mau sembunyikan Dayyan, dia bukan aib." Ceysa kembali keras kepala mengenai pendapat yang menyarankan bahwa mereka harus menyembunyikan Dayyan dari warga sini.
__ADS_1
...****************...