
"Awas jangan salah." Izza pasrah dengan ketakutannya.
"Aku sering nonton b***p, tenang aja." Chandra masih mencoba mengalahkan dengan benar.
"Jangan ditekan." Izza menggigit bibir bawahnya.
"Ya masa diketok, terus bilang assalamu'alaikum?" Chandra menarik kembali miliknya.
Ia menghela nafasnya dengan memandang pesona istrinya yang paling menyilaukan matanya itu. Ia khawatir istrinya menangis, lalu malam pertama mereka malah menjadi kenangan menyakitkan untuk istrinya.
"Ada jalurnya tak sih?" Izza menyentuh permukaannya.
"Ya ada! Cuma tak sesuai ukurannya sama punya aku, tak kek di film, mereka punya saluran besar-besar. Jadi kek muat aja dijejali ukuran aku." Chandra menyibakkan dan melihat dengan jelas.
"Kau nangis tak kalau aku dorong?" Chandra memilih untuk istirahat sebentar dengan memeluk istrinya.
"Yang enak tuh, Bang." Izza merasakan kacau dengan pengalaman pertamanya ini.
Ia pun merasa aneh, dengan sentuhan yang suaminya berikan. Ia belum mengerti rasa minat apa itu sebenarnya, ia pun tidak mengerti harus melakukan hal apa dengan rasa itu.
"Ayah katanya pulang jam sepuluh, nanti aku tanya ayah dulu deh." Chandra berguling ke samping istrinya setelah mengatakan hal itu.
Tentu Izza kaget dengan penuturan suaminya. Ia tidak mau kegiatan mereka berdua, terbaca oleh ayah mertuanya.
"Jangan sih, Bang. Malu nanti." Izza menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
"Dari pada nanti aku kasih kenangan buruk, mending tanya ayah. Katanya tuh, aku bakal kesakitan juga. Jadi kan, meminimalisir rasa sakit itu gitu tuh." Chandra tidak mau mereka sama-sama trauma dengan kegiatan pertama mereka.
"Kan Abang laki-laki, naluri kelelakian Abang pasti kuat." Izza memeluk tubuh suaminya dari samping, ia menghirup aroma khas suaminya dalam-dalam.
Ia merasa kegiatan berpelukan seperti ini saja begitu romantis, apalagi jika dilakukan setiap hari. Pasti, ia merasa amat bahagia karena sudah berumah tangga dengan Chandra.
__ADS_1
"Iya paham, tapi pasti buat kau kurang nyaman. Kau pasti kesakitan, karena salurannya kecil dan kepala bawah aku gede betul." Tangan Chandra masuk ke dalam selimut, kemudian mengusap miliknya sendiri.
Izza merasa begitu disayang suaminya, karena suaminya memikirkan bagaimana dirinya. Ia semakin mengeratkan pelukannya, dengan tersenyum bahagia tanpa sepengetahuan suaminya.
"Ehh, itu suara gerbang dibuka. Alarm tak bunyi juga, berarti itu ayah. Kau tidur dulu aja, nanti aku bangunkan." Chandra langsung bangun dan meraih pakaiannya. Ia mengenakannya dengan terburu-buru, agar ayahnya tidak keburu masuk ke dalam rumah.
Izza hanya bisa menghela nafasnya dan menutupi wajahnya dengan selimutnya. Besok ia harus rela malu, karena tindakan suaminya yang malah meminta saran dari ayah mertuanya itu.
"Yah…," panggil Chandra saat melihat ayahnya tengah menutupi mobil.
"Hm?" Givan menoleh ke arah teras rumah anaknya.
"Ngobrol dulu, Yah." Chandra duduk di anak tangga teras rumahnya, kemudian ia menepuk dan membersihkan tempat di sebelahnya.
"Iya, bentar." Givan menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, ia berjalan ke arah anaknya dengan menenteng air mineral kemasan botol. Lalu ai duduk di sampingnya, kemudian menenggak air mineral lebih dulu.
"Udah, Yah." Chandra tengah menyusun kalimat agar terasa pantas meski mereka membahas hal yang berbau dewasa.
"Apa? Kenapa kua diam aja?" Givan menyatukan alisnya dengan menoleh ke arah anaknya.
"Eummmm…" Chandra masih menatap lurus ke depan, memperhatikan rumah kakaknya.
"Apa sih? Ada apa?" Givan tidak sabar untuk mendengar penuturan anaknya itu.
"Itu, Yah. Apa harus didorong?" Ucapan Chandra tidak terarah. Ia menunduk memperhatikan kedua kuku kakinya.
"Apanya?" Givan mengarahkan pandangannya ke arah pandangan anaknya.
Ia bertanya-tanya, ada apa dengan jemari kaki anaknya? Apa jemari anaknya kejatuhan sesuatu atau terjepit? Ia masih memperhatikan jemari kaki anaknya, ia sungkan untuk menanyakan keadaan jemari kaki anaknya yang terlihat baik-baik saja tersebut.
__ADS_1
"Anunya." Chandra menoleh ke arah ayahnya.
"Anu?" Givan semakin menyatukan alisnya.
Kata keramat sejuta makna, anu.
"Iya, Yah." Chandra terlihat gelisah.
"Apa sih kau?!" Givan menepuk bahu anaknya, ia merasa bodoh sendiri dengan isyarat yang tidak jelas dari anaknya tersebut.
"Maksdunya tuh, misal aku dorong apa tak sakit? Kata Izza jangan ditekan. Kesal sendiri aku, masa harus diketuk sambil ucap salam," adu Chandra cepat.
"Heh?" Givan merasa ucapan anaknya semakin tidak jelas.
"Ish, Ayah!" Chandra memukul lututnya sendiri kesal.
"Ya kau apa? Apa yang didorong? Apa yang ditekan? Apa yang harus diketuk dan ucapin salam? Yang jelas gitu loh." Givan gemas sendiri.
"Kan aku mau begituan nih. Punya aku kan besar nih kalau keras, Yah. Nah, terus saluran Izza itu kecil. Kek garis aja gitu loh, Yah. Ehh, kok tak nampak yang kek di film. Atau, yang kek Ayah ceritakan. Udah basah nih kena pelumas, tapi kan harus ditekan tuh. Nah, dengan saluran yang nampak garis aja, apa Izza tak trauma kalau aku tekan aja?" Chandra benar-benar mengatakan dengan gamblang.
"Ohhhhhh…," Givan menjentikkan jarinya.
"Pemanasan dulu, biar agak melar nantinya. Logikanya, ayam suntikan aja kan besar tuh. Terus tuh, sambil gosok daging kecil yang keras di atas saluran itu tuh. Kau dorong perlahan, sambil ajak cium*n. Lepas masuk kepalanya, kasih nafas sebentar. Terus dorong lagi pelan. Fungsinya kau gosok itu, biar rasa nyerinya tersamarkan dengan rasa geli. Kalau ditekan langsung tanpa pemanasan dulu, bukan trauma lagi, Izza bisa pendarahan dan masuk rumah sakit. Kau ajak cium*n, biar dia tak teriak-teriak lebay. Karena kaget kan tuh, pasti ada aja drama mewek-mewek. Namanya saluran masih kecil, harus dimuat barang yang tak sesuai ukuran gitu. Semua laki-laki memang bisa, tapi ya setidaknya kan meminimalisir ketakutan perempuan. Soalnya Kin tuh, dulu malah malam selanjutnya pindah kamar karena takut. Udah pemanasan, tapi tak perlahan. Jadi satu rumah panik semua, ada yang teriak dikira kena musibah atau gimana." Givan memaklumi anaknya yang belum berpengalaman ini. Ia malah merasa senang anaknya bertanya padanya, karena ia tahu hari ini bahwa anaknya benar-benar belum pernah melakukannya sama sekali.
"Harus multitalenta gitu kah, Yah? Tak cuma tangan yang kerja, bibir pun kerja." Chandra menggaruk tengkuknya, karena gatal digigit nyamuk.
"Ya gimana ya? Mau tak mau, ya harus multitalent. Masa kita udah gerak aja tuh, tangan kalau diam malah dia bisa down. Tapi terlalu banyak menyentuh, malah dia down juga karena risih. Tapi kau perlu ingat, cara Ayah belum tentu cocok di Izza. Itu sih untuk pertama aja, karena kau tak mau Izza trauma kan? Nanti pun kau bakal tau, gimana kesukaannya Izza. Sekarang sih masih sama-sama baru, mungkin kalian butuh penyesuaian sampai lima atau lebih permainan kalian. Wajar, masih baru belum tau titik-titik sensitif pasangan."
Chandra manggut-manggut mendengar nasehat ayahnya. Ia akan mencoba cara dari ayahnya, karena menurut logikanya pun cara itu seperti paling halus dan aman.
...****************...
__ADS_1