
"Gini deh, ingin Izza itu sederhananya bagaimana? Rumah tangga masih seumur jagung, malu kalau harus terus ribut kek gini." Ayah menghela napasnya.
"Ingin aku anteng di rumah, jangan bolak-balik aja ke orang tua. Aku ke sini kan, untuk bahas kerjaan, bukan main aja. Aku udah ajak dia, Yah. Za, ayo ke biyung. Za, ayo ikut tak. Dia menolak terus, seolah memang tak mau aku dekat dengan keluarga." Jelas aku tidak mau disalahkan di sini.
"Kerjaan ya? Oke, bisa lewat email. Arahan, bisa ketemu di tempat kerja. Berkunjung ke orang tua, dibuat mudahnya seminggu sekali. Tapi tentu, dengan Izza juga. Bolehlah, setiap malam Minggu tidur di sini. Tapi kalau kau udah nempatin rumah kau yang di sini, sedekat ini kau datang seminggu sekali, pasti jadi biyung berpikir buruk."
Tuh kan? Ayah malah menyuruhku menuruti Izza.
"Aku tak cocok dengan pendapat Ayah." Mungkin keras kepala dan keras kepala tak bisa sepemikiran.
"Mau kau gimana? Dengan Bunga jadi janda, pemikiran laki-laki Ayah jadinya buruk ke kau." Ayah memicingkan matanya padaku.
Jahat sekali ayahku ini.
"Tak ada urusannya sama Bunga lah! Aku pengen, Izza itu mau kalau diajak main ke sini. Aku pengen, Izza itu tak keberatan tiap kali aku berkunjung ke orang tua." Aku memiliki keinginan demikian, karena aku tak mau orang tuaku kehilangan anaknya setelah anaknya menikah.
__ADS_1
Pernikahan, bukan pemutus hubungan anak dan orang tua.
"Udah ngomong begitu ke Izza?" Ayah menyatukan alisnya.
"Udah, Yah. Tapi yang aku dituduh macam-macam itu, yang aku dikira ini dan itu tuh." Rasanya aku ingin menangis saja, berdebat sama ayah membuatku dongkol tapi takut untuk marah. Karena pastinya, Ayah akan lebih marah padaku.
"Ya iya! Ayah bilang apa?! Kau ke sini seminggu sekali, ambil tengahnya karena kau hidup sama istri kau juga. Kau dekat ini, Ayah butuh bisa datang, biyung butuh, bisa telepon. Kek jauh beda negara aja, kau nampak begitu bingung begitu." Ayah memukul lenganku lumayan sakit.
Ayah kesal denganku rupanya.
"Aku tak mau begitu, Yah!" Aku ingin menangis saja kalau aku perempuan.
"Ayah ngomongnya jelek terus." Aku merubah posisi dudukku untuk bersandar pada dinding dengan kaki selonjoran.
"Ayah nanya, kau di pesantren ikut aturan pesantren tak?" Ayah sampai condong ke arahku.
__ADS_1
"Ya ikut lah, Yah! Ayah ini ada-ada aja." Aku menggerutu jua.
"Ya sama halnya rumah tangga. Kau percaya tak, kaki Ayah pernah diikat dengan kaki biyung masa Ayah tidur? Karena apa? Karena Ayah sering pergi pas biyung kau tidur. Alhasil, tidur dengan kaki terikat ke dia. Kau percaya tak, Ayah harus membiasakan diri tangan digandeng di setiap kesempatan? Ayah tak suka, Ayah risih, tapi Ayah turutin. Karena hal sederhana itu, bisa buat pasangan kita senang. Ayah pun tentu punya banyak aturan untuk biyung, biyung santai karena biyung udah biasa. Lima tahun pertama pernikahan, biyung banyak nangis, Ayah pun banyak diam dan cuma bisa marah. Ayah mulai belajar dari situ, dari semua yang udah kita lewati. Suka duka, canda tawa, bahkan air mata sedih dan air mata bahagia. Setelah jadi mantan, pikiran mulai terbuka, mulai mengerti sudut pandang biyung ke Ayah, Ayah mulai nyaman dengan sifat biyung kau yang memang wataknya begitu. Ayah bawa santai itu semua, biyung pun bawa santai meski dengan ngambek-ngambek sedikit. Itulah rumah tangga, memahami satu sama lain dan mengertikan satu sama lain. Tak ada penguasa dan rakyat jelata dalam hubungan suami istri, kita setara dan kita harus bisa memposisikan diri juga masa kita buat pasangan kecewa. Izza itu udah kecewa dengan diri kau, tapi dibuat sedih karena kau malah pulang ke rumah orang tua kau. Ibaratnya, sudah jatuh tertimpa tangga pula." Ayah mendadak bertutur lembut, dengan menepuk-nepuk pundakku.
"Ayah tak ngerti posisi aku, Ayah cuma paham posisi Izza. Karena Ayah merasa senasib dengan Izza kan?" Contoh masalahnya pun, bahkan sama.
"Memang kau gimana? Kau cuma mau ego kau dituruti kan? Kau laki-laki, kau masih bebas pulang pergi ke rumah orang tuanya tak kek istri yang harus minta izin suami segala macam. Cuma kau butuh mulut Izza bilang, iya abang boleh main, iya aku ikut ke sana. Kau cuma butuh itu, Bang! Ayah paham kalau kau pengen didengar dan dituruti. Sedangkan Izza, ingin kau ngerti waktu, luangkan waktu dan tau posisi. Kenapa Izza bilang kau seolah pengen warisan orang tua? Karena kau udah dimodali orang tua, tapi kek tak tau diri menurut dia. Terkesan kau ini ngelunjak, kalau memang orang tersebut tak tau tujuan kau ke orang tua itu. Jangan berpikir Ayah keberatan, tapi Ayah lagi berusaha buka pikiran kau. Ayah dulu pengantin baru tetap ada keluyurannya, tapi jam delapan malam itu udah kekepan di ranjang. Tak melulu s**s aja, kadang cuma dengerin musik sambil kelonan, dengerin murottal sampai pulas dan datang ke pagi. Izza butuh waktu kau. Meski kau bilang cukup, tapi nyatanya masih kurang cukup untuk dia. Atau gini aja ambil tengahnya. Sabtu sore, sampai ke Minggu pagi waktunya kalian menghabiskan waktu sepuasnya. Minggu pagi sampai Minggu sore, kau dan Izza main ke sini. Kau jangan berprasangka buruk, tentang Izza yang kau anggap dia pengen ini dan itu, atau pengen ngusain kau. Dia cuma mau, kau ngertiin dia sedikit. Mulut perempuan yang frontal kek Izza begitu, dia udah kaku ngadepin kau, jadi pengen kau terbuka dengan tutur kasarnya. Selebihnya, perempuan hanya ahli nangis loh." Ayah menjelaskan dengan lembut dan pelan.
"Ayah kurang paham tentang aku." Aku merasa Izza ini memang tak mau berbaur dengan keluargaku.
"Apanya lagi? Sok bilang." Ayah menghela napasnya. Sepertinya, ayah pun kaku hati menghadapiku.
"Izza tak mau berbaur, kek sungkan, malah batasi aku dengan keluarga." Aku merangkumnya menjadi satu.
"Dia orang baru di keluarga ini, dari awal dia terbiasa jadi tamu yang dijamu tuan rumah. Terus datang dia kini jadi menantu, jelas dia bingung juga ingin apa. Butuh waktu untuk masalah itu, dia terlalu kaget untuk itu semua. Punya anak satu dengan kau sih, mungkin tak begitu lagi. Malah nanti dia butuh bantuan kita, untuk jaga anaknya sementara dia mandi dan sholat. Ayah sih yakinnya begitu, soalnya meme Tika tuh begitu. Apalagi, dia datang itu kek musuh betul sama kakek karena toleransi kakek kurang bagus sama non-muslim. Tapi sejak ada anak, dia bisa berbaur bahkan mengadu tentang suaminya ke mertuanya karena dia lelah nasehati suaminya. Belum juga dua bulan, belum juga hamil, kau tak perlu maksa dia jadi bagian dari kita. Sabar, semuanya perlu proses dan waktu. Jajal sendiri aja, kalau tak percaya omongan Ayah." Ayah tersenyum lebar.
__ADS_1
Benarkah? Benarkah? Benarkah?
...****************...