
"Iya aja udah." Susah jika memang orangnya tidak mau percaya.
Toh, aku dan Nahda sudah sah juga. Apalagi yang harus aku ributkan?
"Aku mau depan laptop dulu, mau urus laporan." Aku meninggalkan ayah ke dalam kamar, tidak lupa dengan tote bag yang bertengger di depan pintu kamarku.
Cepat-cepat aku menyelesaikan tugas dan pekerjaanku. Benar kan, tidak lama jika tengah fokus. Kebetulan sekali pekerjaan sudah selesai, aku mendapatkan notifikasi gajian sudah masuk. Entah kenapa, aku senang saja melihat informasi tersebut setiap bulannya.
Adzan Ashar sudah berkumandang, aku berbenah mengambil beberapa pakaian untuk di rumah Nahda. Belum sempat mandi, sengaja agar baju kotor berada di sana, aku bergerak kembali ke rumah Nahda.
Seperti tadi, keadaan rumah masih sepi. Aku ingat kemesraan ayah, mungkin biyung masih berada di ketiak ayah sekarang juga.
Hifzah dan Hasna berada di ruang tamu, mereka ditemani oleh pengasuh dan banyak mainan di meja ruang tamu. Rumah papa lebih mewah dari rumah ayah, tapi luas bangunannya lebih kecil dari rumah ayah. Karena bangunan rumah papa itu tinggi, memiliki lantai dua. Sedangkan rumah ayah tidak memiliki lantai dua, meski atapnya sudah dibeton.
"Lagi apa, Ma?" tanyaku pada mama Aca yang tengah berada di dapur.
"Masak makan malam." Mama Aca terlihat benar-benar sibuk.
Ya sudah, aku pun hanya basa-basi saja.
Sampai di depan kamar istriku, sandinya benar seperti yang ia katakan. Namun, orangnya pun masih pulas seperti posisi awalnya. Aku jadi ingin mengusilinya.
Tidur lelapnya ternyata mudah terganggu. Saat aku merebahkan tubuh di sampingnya, kedua tangannya langsung bergerak layaknya seperti bayi yang sedang kaget. Tetapi, setelah itu ia pulas kembali. Nahda kagetan ternyata, meski tengah tidur.
"Korban film! Hubungan suami istri, Abang suami, aku istri. Tak salah memang." Aku terkekeh kecil dengan merapikan rambutnya yang menutupi wajahnya.
Cantiknya anak mama Aca.
Aku merengkuh pinggangnya, tanganku naik menyelinap di tengah-tengah kedua saudara kembar terbelah itu. Kemudian, aku menarik tubuhnya ke belakang. Sehingga Nahda lebih dekat denganku, kami hampir tak berjarak. Aku melakukannya di luar pakaiannya.
Seperti kucing kecil, Nahda mencari kenyamanan di dadaku. Seperti kebiasaannya, ia tersentak kaget setelahnya.
"Bangun yuk, jalan-jalan." Aku berbicara lembut, agar ia tidak bertambah kaget.
"Heem." Ia menggosokkan wajahnya dan hidungnya. Kemudian, ia menguap lepas.
Jika dibiarkan, aku yakin ada adegan dewasa. Karena yang di tengah-tengah sana sudah mulai bangkit bergerak naik, ia tahu saja jika yang berada di depannya adalah part belakang seorang wanita yang merupakan istriku sendiri.
"Ayo, Dek." Aku mengusap dadanya, sembari menarik tanganku kembali untuk tidak lanjut memeluknya.
Sepertinya ia terkejut, mungkin ia baru tersadar jika aku begitu dekat dengannya. Pahaku ditendang olehnya, mungkin ia tidak sengaja melakukannya.
"Abang…." Ia beringsut menjauhiku.
__ADS_1
"Iya ini Abang, kenapa?" Aku menggapai tangannya.
"Mau apa, Bang?" Matanya langsung mekar sempurna.
"Nahda, dengerin Abang. Mau ada aktivitas fisik apapun antara Abang dan Nahda, kalau tak melanggar aturan agama, itu diperbolehkan. Jangan mau apa, mau apa aja, Abangnya tersinggung, Dek." Ingin marah pun bagaimana, aku hanya bisa menasehatinya dengan lembut.
Nanti tinggi sedikit suaraku, ia menangis lagi. Ia takut bentakan sepertinya, mungkin karena sejak kecil dididik laki-laki yang lembut bertutur seperti papa Ghifar.
"Aku cuma kaget, Bang."
Aku merasa ia berbohong. Ia tak cuma terlihat kaget, tapi ia merasakan ketakutan dengan sentuhanku.
"Sini ngedeket, peluk Abang. Adek tau siapa Abang, Adek tau agama Abang, Adek tau bibit bebet bobot Abang. Abang bukan orang baru di kehidupan Adek, kenapa harus terlihat asing begitu?" Aku menarik lembut tangannya, sampai kepalanya berbantal lenganku.
"Bukan karena Abang siapa, tapi aku kaget disentuh terus sama laki-laki. Aku sama bang Kaf pun tak terlalu dekat, peluk dia kalau minta maaf pas lebaran aja." Napas Nahda menerpa dadaku.
Mungkin ia bisa mencium bau khas tubuhku sekarang.
"Jangan kaget, biasain. Ini suaminya, Dek. Tak perlu heboh, panik, takut dan lain sebagainya. Coba Adek bayangkan, kalau Adek dinikahkan sama orang asing yang tak tau bagaimana sifat aslinya dan agamanya? Yang harus Adek yakini, setiap Abang nyentuh Adek itu, bukan bermaksud melukai. Tak ada niat untuk melukai, Abang cuma pengen berinteraksi dengan Adek, menyalurkan kasih sayang Abang ke Adek. Gitu, ngerti tak?" Khawatirnya, malam nanti aku apa-apakan nanti kabur-kaburan. Takutnya lagi, ia akan menangis heboh.
"Janji ya, Bang?" Ia mendongak, sampai hidungnya bersenggolan dengan daguku.
"Iya janji." Aku sedikit menunduk dan mengukir senyum.
"Iya, Bang. Sebentar ya, Bang?" Nahda melepaskan dirinya dariku.
"Abang mandi belum?" tanyanya setelah ia duduk.
"Belum, mau ngajakin bareng kah?" Aku harus menahan tawa mengatakan hal ini.
"Tak, Abang." Jawabannya cepat sekali, ia takut aku nekat sepertinya.
"Lain kali boleh ya?" Aku pun duduk di atas ranjang ini.
Bisa-bisa pulas, jika aku terus rebahan.
"Memang harus gitu?" Ia mengerutkan keningnya.
"Ya tak harus, tapi boleh ya tak apa. Kan sesekali, tak tiap mandi juga. Gih cepetan, terus gantian. Barangkali mau jama'ah sholatnya, ya tunggu Abang mandi sebentar." Aku mengeluarkan sabun cuci mukaku dari tas yang berisi beberapa stel pakaianku.
"Iya, Bang." Nahda melangkah ke sudut ruangan paling depan.
Rupanya di situ pintu kamar mandi berada.
__ADS_1
Kami benar-benar sholat jamaah, kemudian bersiap-siap dengan penampilan kami sore ini. Seperti biasanya, aku mood menggunakan kaos polos biasa dengan bahan yang nyaman, dipadukan dengan celana jeans kali ini. Sedapatnya saat menarik celana, kadang chinos atau cargo.
"Ma, izin keluar ya?" Aku turun lebih dulu dari kamar.
Nahda masih menghias wajahnya.
Mama Aca tersenyum memandangku. "Kabarin ya kalau ambil kamar? Biar tak was-was nungguin pintu."
Aku yang malu. "Iya, Ma." Aku duduk di kursi makan, memperhatikan makanan yang telah siap.
Amazing, ikannya besar sekali.
"Mau makan ya makan, Bang." Mama Aca langsung menyodorkan sebuah piring padaku.
"Mau makan di luar sama Nahda." Sebenarnya aku tergoda melihat ikannya.
"Aduh, Papa…." rengek Kal, yang berada di gendongan papa Ghifar.
"Nahda sana gangguin, aku udah tua." Kal diturunkan di depan meja makan.
Oh, jadi biasanya papa Ghifar mengisengi Nahda.
"Udah ada suaminya, Kak Kal yang belum. Ayolah, temani Papa makan." Papa Ghifar merangkul Kal untuk duduk di sebuah kursi yang sudah ia siapkan.
Sepertinya sedih, menjadi seorang ayah yang ditinggal nikah oleh anak perempuannya.
"Kek siapa aja yang nikahin Nahda, suami-suami apalah." Kal mengambil piring kosong di hadapanku.
Papa Ghifar terkekeh geli. "Siapa memang? Jatah keluarga laki-laki untuk nikahin kau jadi berkurang ya?"
"Memang udah tak ada lah! Lagian aku tak mau nikah sama keluarga sendiri, soalnya kalau keluarga sendiri itu marahinnya tak tanggung-tanggung. Masalah sama suami, nanti orang tuanya suami ikutan juga karena keluarga sendiri." Kal dengan santainya mengambil nasi dan lauk pauk yang sudah disediakan.
Kal menjadi kakak iparku begitu? Aku kan abang, malah jadi adik ipar.
"Warisan aman, Dek," timpal mama Aca yang disambung tawa oleh papa Ghifar.
Mendengar tawa mereka, aku yakin ini hanya bercanda. Lagipun, jangankan keluarga sendiri, anak orang yang diasuh saja dapat bagian warisan.
Ngomong-ngomong tentang warisan, aku jadi teringat ucapan Jessie. Pesan itu masih berada di ponselku dan aku belum menghapusnya. Aku pernah berkata bukan, jika chat dengan Izza di jaman pacaran saja masih ada, jadi aku adalah orang yang tak pernah menghapus chat.
Namun, sekarang aku memiliki istri dan Jessie adalah orang yang pernah dekat denganku. Apa aku harus menjaga perasaan Nahda, dengan menghapus jejak pesan dari Jessie dan menyembunyikan tentang Jessie yang pernah dekat denganku?
...****************...
__ADS_1