
"Jangan sampai sakit, habiskan makannya." Pakwa menemaniku di malam harinya kembali.
"Pakwa tak ajak ayah?" Aku melanjutkan menghabiskan nasi goreng yang ia bawa.
"Cali jatuh, mimisan. Jadi rewel anak itu. Kau kan tau, dia anak ayah kau."
Aku terkekeh mendengarnya. "Besar nanti pun pasti dia tau siapa ayahnya. Ayah tak keberatan ngasuh, karena hitung-hitung shodaqoh jariyahnya." Maka dari itu, ayah tidak pernah keberatan jika ada saudaranya yang menitipkan anaknya.
"Padahal bibi kau sayang loh kelihatannya sih. Kak sini, kak sini, diajakin terus, ditawarin terus."
Bibiku adalah ibu sambungnya Cali.
"Sayang, cuma anaknya tak mau. Calinya juga merasa, sedikit paham tuh siapa mereka. Tapi ya namanya anak-anak, ayah ya ayah Ipan, ibu ya biyung." Anak itu manja, tapi sulit dibujuk.
Jika jatuh lalu menangis, ia tak bisa berhenti menangis. Ia berhenti menangis, sampai ketiduran atau sampai lelah sendiri.
"Kirei pun kek kakaknya juga. Ayah ya, ayah Apin." Pakwa adalah ayah kandung anak bibiku.
Kirei adalah adiknya Bunga, ia cantik seperti Bunga dan ramahnya luar biasa. Sopan santun anak kelas dia SD itu patut diacungi jempol, tutur katanya halus tapi suaranya besar. Suaranya seperti pembina upacara, keren jika menjadi abdi negara.
"Ya mending lah Kirei sih ada ramahnya ke ayah kandungnya. Nah Cali? Sana ayah Apin pergi! Apa tuh, dekat-dekat aku terus!" Aku mencontohkan keketusan Cali.
Anak itu seperti balonku ada lima. Yang penting tidak tidak berwarna hijau saja, nanti meletus.
"Tapi tak tersinggung ya ayahnya?" Pakwa sampai tertawa geli.
__ADS_1
"Ayahnya pun sama begitu, agak-agak. Ini jajanan, untuk kak Cala. Cali tak dikasih, soalnya mirip kelinci." Pamanku pun agak aneh menyikapi anaknya yang tidak bisa didekati itu.
Meledek itu setiap berkunjung, membuat rumah pun berisik sekali dengan dua orang itu.
"Pas ulang tahunan kemarin, Kirei dikasih marmot sama ayah sambungnya itu. Pas dia bilang, marmot tuh kembaran Kirei. Udah tuh, langsung nyes di hati tuh."
Aku tertawa lepas. Pakwa lucu sekali, dengan berakting memegangi dadanya yang seolah terluka.
"Tapi seru, kek ke temen tuh. Kirei ngadu juga, responnya tak kek yang gimana gitu. Kalau ayah tau anaknya dinakalin kan, pasti bilang gini 'siapa bocahnya? Sini ayah marahin'. Kalau pak cek tak gitu, dia malah kek gerombolan sahabat gitu. Iya ya nakal, awas aja pulangnya. Gitu tuh, Pakwa. Anak sih akur lagi, tanpa pak cek ikut campur. Cuma tuh tanggapannya lain, malah kek sahabat yang mau hadang anak itu. Tapi tak dihadang juga, dibiarkan aja selagi tak gimana-gimana. Pernah Kirei kena bully pun, aku ingatnya pak cek malah ngadu ke guru. Jadi gurunya yang menasehati anak bersangkutan, jadi tak main antar orang tua." Aku sebenarnya mengobrol kosong saja, tapi mungkin bisa sedikit menenangkan pakwa. Karena ia kan tidak pernah tahu sendiri bagaimana interaksi di dalam rumah antara anak kandungnya dan ayah sambungnya.
Pakwa manggut-manggut. "Konsentrasi Pakwa fokus ke Hana aja, jadi ke Kirei cuma say hai sama kasih jaminan aja. Interaksi tak banyak, anaknya pun padat aktivitasnya. Jadi kadang ke sana, Kirei lagi madrasah, atau lagi ngaji, kadangnya malah lagi les."
Pakwa memiliki empat anak perempuan dan satu anak laki-laki tiri. Yang kandungnya perempuan semua, yang pertama Bunga, Kirei, Hana dan Hua. Empat nama anak perempuan tersebut, semuanya bermakna Bunga. Bahasa Indonesia, bahasa Jepang ada dua makna, yaitu Kirei dan Hana, yang terakhir bahasa Cina. Hana adalah anak spesial, ia pengidap down syndrom dan memiliki penyakit jantung bawaan. Entah sudah berapa kali operasi, operasinya pun selalu dilakukan di luar negeri.
Ia memiliki rumah sakit bedah umum, tapi siapa tahu ia akhirnya memiliki anak yang beberapa kali dibedah juga untuk operasi penyakit jantungnya. Ada cerita di balik kisah panjang ini, kalian bisa baca novel Mabuk Duda (Ceria Sekalane Waktu).
"Iya. Gimana Izza siang tadi? Pakwa belum ngobrol lagi sama dokter Fardan soalnya." Pakwa bertopang dagu dan menoleh ke arahku.
"Pendarahan itu cirinya seperti apa sih, Pakwa?" Aku menunda sendok plastik ini.
Bukan karena jijik. Aku dari siang tidak n**** makan, karena melihat air yang bercampur darah cukup banyak. Ya ketika mencucinya itu loh.
"Kok nanya gitu? Ada apa sama Izza?" Pakwa memandang Izza yang sudah terlelap sejak meminum obatnya.
"Ya gimana dulu ciri-ciri pendarahan itu?" Aku penasaran juga.
__ADS_1
"Ini banyak cabangnya, pendarahan apa dulu? Pendarahan haid upnormal? Pendarahan implantasi, atau mau hamil itu loh? Atau pendarahan dalam? Kek jatuh kebentur, muntah darah, nah itu pendarahan juga."
Oh, ternyata banyak ya jenisnya?
"Kalau ciri pendarahan haid upnormal itu gimana?" Karena Izza mengalami sejenis haid.
"Menstruasi lebih banyak dan lebih lama, sederhananya kek dua jam sekali atau kurang dari dua jam udah harus ganti pembalut, terus adanya gumpalan darah dengan ukuran lebih dari 2,2 cm. Yang kedua, menstruasi terlambat atau berhenti. Yang ketiga, nyeri hebat pas menstruasi. Yang terakhir, menstruasi di luar waktunya. Jadi misalkan datang bulannya sampai dua kali dalam satu bulan itu." Pakwa menunjukkan keempat jarinya.
"Bisanya datang bulannya sampai dua kali dalam sebulan itu karena apa? Soalnya, Izza ini haid lagi padahal pemeriksaan MRI itu baru selesai haid." Aku berbicara lirih, khawatir Izza menguping.
"Oh, Izza begitu? Bulan ini aja, atau sebelumnya sering?" Pakwa pun memelankan suaranya.
"Iya, Izza begitu. Bulan ini dia begitu, sebelumnya tak tau. Tapi sejak nikah, ya baru kali ini haid dua kali dalam sebulan." Aku berterus terang apa adanya.
"Kalau haid dua kali dalam satu bulan, belum bisa dikatakan yang gimana-gimana kalau baru sekali. Karena bisa jadi penyebabnya itu stress dan pola hidup yang buruk. Bisa juga, karena mendadak berat badan naik atau turun. Bisa infeksi menular s*****l, tapi kan tak mungkin itu. Kek alarm tubuh aja itu tuh, Bang. Tapi dilihat dari keadaan Izzanya, ya mungkin karena stress deh. Ya kan? Sampai tukak lambung kambuh, sampai kurang darah begitu." Pakwa tersenyum menenangkan dan menepuk bahuku.
Andaikan semua dokter penjelasannya seperti pakwa, mungkin Izza tidak stress duluan. Ya memang, dokter lain itu memberi gambaran dan informasi lengkap. Tapi kita orang awam kan jadi gentar duluan, karena diceritakan seperti itu.
"Aku kira dari fibroidnya begitu." Aku mencoba menghabiskan nasi goreng ini.
Acarnya enak. Aku suka acar mentah seperti ini.
"Tak, Bang. Jangan melulu disangkut pautkan, nanti stress sendiri. Apalagi kan, Izza baru satu kali, dua kali haid dalam sebulan ini. Lihat keadaan Izzanya aja, riwayat tukak lambung dan kurang darah. Pasti karena stress, juga pola hidup tidak sehat. Kenapa stress jadi pemicu tukak lambung? Karena orang yang tengah stress tidak merasa lapar, dia tidak memikirkan hal lain, karena yang ia fokuskan hanya satu permasalahan yang tak bisa ia uraikan. Telat makan, lupa makan, riwayat punya tukak lambung, jadi kambuh deh tukak lambung. Terus kenapa kurang darah? Karena orang yang tengah stress, pasti kesulitan tidur karena tak tenang. Istirahat kurang cukup, atau kesulitan tidur kan anemia jadinya. Tuh begitu logikanya. Kadang yang kita para dokter dapat di pendidikan itu, tak pas di praktek lapangannya. Tukak lambung kan penyebab sesuai pendidikan ini kan karena makan pedas, asam, tak teratur segala macam. Di faktanya kadang ada beberapa faktor yang berbeda, karena tukak lambung tidak semua penyebabnya karena itu. Bahkan ada penyebabnya itu karena efek obat-obatan tertentu, menyebabkan penipisan lambung dan jadi lambungnya luka. Ada yang karena efek obat, dilihat dari riwayat dan kondisi latar belakang pasien juga."
Benar yang ayah katakan, beliau adalah dokter yang handal.
__ADS_1
...****************...