Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA84. Tidak mengerti situasi


__ADS_3

"Ya…," sahutku dengan menoleh ke belakang. 


Izza langsung duduk di belakangku dan memelukku. Papa Ghifar membuang muka, ia pasti sungkan melihat kami bermesraan begini. Bermesraan boleh, tapi tidak di suasana tegang seperti ini. 


"Aku tak apa, tenang aja." Aku mengusap-usap tangannya yang berada di depan perutku. 


Aku tidak enak dilihat beberapa keluarga yang masih ada di sini. Aku mencoba melepaskan tangan Izza yang tertaut di pinggangku. 


"Ya Allah, Abang…." Suaranya menurun kecewa. 


Ia tahu situasi tidak sih? 


"Banyak orang," bisikku dengan melirik ke arahnya. 


Ia sudah cemberut saja. 


"Kau tau alamat rumahnya Vano?" tanya papah kemudian. 


Aku maju satu keramik, untuk menjaga jarak dengan Izza. Jika kondisinya tengah kumpul bersama, aku tak masalah ia memelukku seperti ini. Tapi kondisinya kan seperti ini, rasanya kami seolah tidak tahu situasi jika bermesraan di hadapan musibah ini. 


"Tak tau, Pa. Tapi mungkin yang lain tau, Pa. Pas kak Jasmine nikah itu, aku masih di Singapore dan tak datang karena lagi ada kegiatan apa gitu. Kegiatannya tak bisa ditinggal, jadi aku tak pulang." Aku tahu bang Vano itu dari video call dan dari lebaran kemarin itu. 


Mereka pun belum lama menikah, mungkin baru setengah tahun. Sekarang saja, kak Jasmine baru hamil tiga bulan. 


"Takutnya dia udah punya ancang-ancang kabur." Papa Ghifar mengusap wajahnya. 


"Ayah udah telpon om Vendra belum?" Inilah jalan ninjaku jika harus berurusan dengan hukum. 


Papa Ghifar menggeleng. "Ayah kau kalapnya polisi sini dulu. Coba kau kabarin dulu, kalau empat rumah di sini kebakaran." Papa Ghifar menoleh ke arahku, kemudian beliau melirik Izza. 


"Huft….." Aku merasakan angin dari rok Izza. Kemudian, ia menghentakkan kakinya untuk masuk kembali ke dalam rumah. 


Daripada ia di rumah sendirian, lebih baik di rumah kak Key ramai-ramai di sana. Tapi entahlah, namanya juga Izza. 


"Istri kau kenapa?" tanya papa Ghifar bisik-bisik. 


Aku tersenyum. "Tak apa, Pa." Aku tidak mau keluarga lain ikut pusing memikirkan problem lainnya. 


"Coba telpon om kau," pinta papa Ghifar kemudian. 

__ADS_1


"Ya, Pa." Aku yakin sih om Vendra langsung tindak. 


Kontak om Vendra dicariku kembali, panggilan langsung berdering tapi belum diangkat juga. Eh, aku lupa jika ini tengah malam. 


"Hallo…."


Kok suaranya ramai sekali? 


"Ya hallo, Om. Ganggu kah?" Aku mengira ia tengah beristirahat. 


"Tawuran, biasa. Balap liar, ribut, biasa di sini. Ini lagi nonton, nunggu anggota nyergap. Gimana, Bang? Kau belum tidur jam segini? Tumben, biasanya kau disiplin betul." 


Dengan saudara kandung ayah dari kakek Hendra, aku hanya akrab dengan om Vendra. Bahkan saat lulus dari pesantren, MA itu, aku diajak untuk sekolah sejenis militer. Namun, aku menolak. Aku ingin jadi orang kaya saja seperti ayah yang bekerja dari jauh begini, mentalku tidak bisa melihat keributan atau kekacauan. 


"Satu jam yang lalu, empat rumah di sini kebakaran. Asal ledakan api dari…." Om Vendra tidak sopan sekali, karena ia langsung memutus ucapanku. 


"Om cari tiket sekarang. Ayah kau tak apa? Biyung kau tak apa kan?"


Aku belum selesai cerita padahal. 


"Aku, Cala sama pengasuh Cala yang terluka. Cala dirawat, kepalanya……"


Panggilan terputus. Aku. Belum selesai cerita, bahkan kalimatku belum sempurna. Antara ia bingung repot dengan tugas, atau memang panik dan langsung mencari tiket. 


Om, om. Ya ampun, adik ayah satu itu. 


"Apa katanya, Bang?" Papa Ghifar menepuk lututku. 


"Cari tiket ke sini katanya." Aku menekan menu utama pada ponselku. 


"Perasaan kau belum cerita banyak." Papa menopang rahangnya untuk tetap menoleh padaku. 


"Yaitu, langsung dimatiin aja. Pa, anterin pipis sih." Aku menyakui ponselku. 


"Ayo, terus kau tidur. Api udah padam juga, udah aman. Kau harus istirahat, karena besok kau bakal repot." Aku langsung dibantu berdiri oleh papa Ghifar. 


"Kau bisa napakin kaki tak?" Papa Ghifar menahan pundakku. 


"Bisa sedikit, tapi sakit tak terkira. Dikurek loh, Pa. Udah macam kena mata ikan aku ini. Mending mata ikan sih kecil, ini aku agak besaran." Intinya sakit sajalah. 

__ADS_1


"Pakai kursi roda aja kah? Ada di rumah tuh." 


Meskipun papa Ghifar sudah membantuku berjalan, tapi terasa sulit sekali. Ditambah tanganku ada luka jahit, jadi menahan berat tubuh itu membuat linu luka jahitku. 


"Iya deh, Pa. Sakit betul." Serba salah rasanya. 


Aku nampak sehat, tapi kesakitan seperti ini. 


"Kau tunggu di ruang tamu ini dulu, Papa ambil kursi roda." Aku didudukkan papa Ghifar di sofa ruang tamu. 


Cengeng ya aku ini? Tapi nyatanya memang sakit. Apalagi Cala dan kak Hindun, begini saja rasanya wow sekali. Tapi jika dilihat, lukaku pun cukup parah. 


"Dek…. Izza…," panggilku berseru. 


"Apa?" Ia menyahut tapi tak kunjung muncul. 


"Aku tak bisa jalan." Setelah jawabanku itu, ia langsung muncul dengan tergesa-gesa. 


"Ya Iya, butuh kan? Kalau lagi sama keluarganya aja, sombongnya bukan main." Ia langsung duduk di sampingku. 


Harus ya mulutnya berbicara seperti itu? 


"Bukan tentang keluarga, tapi baca situasinya. Bisa tak ngertiin keadaan, aku sedih loh tengok tanggapan kau begitu. Aku tau kau menantu di sini, aku bersyukur kau tak terluka. Tapi tunjukkan sedikit rasa peduli kau, dengan ikut kumpul dengan yang lain. Toh, kau pun di sini tak tidur-tidur. Itu loh, Cali masih nangis aja. Kak Key punya anak kecil, kak Jasmine pun lagi hamil. Begadang sedikit tak apa, Za. Daripada di sini sendirian." Setelah sejak menikah, inilah kali pertamanya emosiku meluap dengan sempurna. 


"Kok Abang gitu?" Ia menyatukan alisnya. 


Pasti ia langsung sakit setelah ini. 


"Keluarga aku lagi kena musibah loh, Za. Aku kena musibah ini, Za." Aku menunjukkan luka di tanganku. 


Eh, ia malah langsung menangis saja. 


"Jangan dikit-dikit itu nangis, kesannya itu kek aku dzolim betul sama kau. Tolong ngertiin aku sedikit, Za. Aku butuh kau yang peduli sama keluarga kau, aku butuh kau yang anggap keluarga aku kek keluarga sendiri. Bukan karena kau tak punya keluarga, aku jadi nguasain hidup kau. Kan aku selalu bisa untuk keluarga kau, mereka butuh apa-apa, pertolongan entah lowongan pekerjaan, aku selalu bisa usahakan." Aku mengeluarkan unek-unekku di tengah tangisnya. 


"Inilah yang buat aku pengen nunda pernikahan kita terus-terusan, karena aku dari dulu udah paham bahwa kau tak bisa menyatu dengan keluarga aku. Kau ingin dihormati, kau ingin dianggap tamu terus. Ini bukan aku pengen kau bantu nyuci piring, atau ngepel rumah. Tapi berbaur dan peduli, plus ngertiin aku. Aku ini anak laki-laki tertua dan paling diandalkan untuk adik-adik aku, Za. Setidaknya, kau harus belajar banyak dari Biyung. Aku pengen kau seakrab biyung ke ipar-iparnya, entah laki-laki atau perempuan. Biar adik-adik aku tak sungkan untuk minta bantuan sama kau." Aku menggenggam punggung tangannya. 


Sungguh aku tak menginginkan perpisahan. Tapi bagaimana jika Izza sulit mengerti juga? 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2