Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA73. Chandra nyaman


__ADS_3

"Tapi Canda, dari pengalaman baru ke bosan itu ada prosesnya." Givan memperhatikan istrinya yang tengah menikmati hangatnya mie tersebut. 


"Skill," jawab Canda singkat. 


"Masa perempuan ada skillnya?" Chandra garuk-garuk kepala melihat jawaban ibunya. 


"Ada. Dulu ke ayahnya Ceysa, Biyung yang gatal. Dua minggu sekali pun dia tak tentu minta berhubungan. Ditanya, tak kepengen katanya. Karena dia beranggapan, s**s itu bukan kebutuhan utama. Sesekali aja loh gitu, tapi dia normal, suka perempuan." Canda begitu mudah mengatakan hal itu, tanpa memikirkan urat suaminya yang langsung menonjol karena kesal. 


"Masa iya aku kek mangge Lendra? Aku kan bukan keturunannya." Chandra mengusap-usap bulu halus di dagunya. 


"Coba ambil kamar, di penginapan nenek aja dulu. Kalau tak berhasil, coba liburan di daerah atas. Kan banyak fila di sana, kan?" Givan mencoba menyamarkan kekesalannya di depan anaknya. Ia tidak mungkin ribut dengan istrinya di depan anaknya, hanya karena cemburu saja. 


"Malam ini, Yah? Lucu betul ambil penginapan di daerah sendiri." Chandra terkekeh garing. 


"Ya udah, besok aja ke daerah atas. Sekalian, pikirkan peluang usaha di sana. Barangkali, nemu ide." Givan memperhatikan istrinya yang begitu lahap makan tanpa menawarinya itu. 


"Boleh nih, Yah?" Ia khawatir ayahnya marah. 


"Boleh, kirim ke Ayah dua puluh aja. Lima jutanya, kau pakai untuk liburan sehari dua hari sih. Ayah besok langsung ngomong ke abu, biar langsung digarap." Givan menopang kepalanya dengan kedua tangannya, kemudian ia bersandar nyaman di sofa dengan memperhatikan istrinya sedari tadi. 


"Oke, Yah. Aku yakin cukup juga kok, Yah." Chandra merasa, dirinya tidak akan seboros itu. 


"Hati-hati loh ngomong begitu. Ayah pernah ngajak dua anak, dengan satu pengasuh dan Biyung aja ke area bermain anak-anak dan game. Ayah sampai habis satu juta tiga ratus untuk tiketnya aja, isi lagi saldo kartu bermainnya, sampai berulang dengan jumlah segitu. Belum makan siang, beli yang lainnya." Givan sudah hafal risiko keuangan, jika membawa istri jalan-jalan. 


"Tak, Izza sih tak muluk-muluk." Chandra merasa paling tahu tentang Izza. Nyatanya, Izza menahan-nahan egonya untuk tidak membeli ini dan itu selama berjalan-jalan bersama kekasihnya.


"Iya deh, sok paling tau perempuan." Givan tersenyum meledek, dengan melirik anaknya. 


"Aku kamar dulu ya, Yah? Nanti aku kirim bukti transfernya." Chandra membenahi letak laptopnya yang masih menyala. 


"Oke, selamat berjuang. Cucu laki-laki ya? Kalau kau dapat cucu laki-laki, artinya kau hebat." Givan tertawa geli, saat rona malu terlihat di wajah anaknya. 


"Memang apa hubungannya, Mas?" Chandra melirik suaminya, berbarengan dengan sendok yang akan masuk ke mulutnya. 

__ADS_1


"Kalau anak laki-laki tuh, kata dokter sih katanya…. Indung telurnya keluar dari ovarium. Jadi, mempermudah untuk ketemu dengan air laki-laki. Dengan syarat, perempuannya terang***g luar biasa dan mendapatkan kl*maksnya." Givan mendekati mangkuk mie istrinya. 


"Aku keluar tiap kali main, tapi anaknya perempuan semua." Canda membiarkan suaminya mencicipi mie instan buatannya. 


"Selebih itu, takdir. Itu sih menurut ilmu aja." Givan menyuapi istrinya mie tersebut. 


"Kenapa Mas pengen cucu laki-laki?" Canda mengamati wajah suaminya yang tengah makan tersebut. 


"Penerus Chandra. Cucu laki-laki dari anak laki-laki, diutamakan di sini. Kau tau sendiri itu, Canda. Bagaimana Ghifar, bagaimana Chandra, iya kan?" Givan menaruh sendok tersebut ke mangkuk istrinya. 


Ia hanya berniat mencicipi beberapa suap saja. 


"Iya sih, Mas." Canda melanjutkan kegiatannya memakan mie instan tersebut. 


"Malam ini kau harus gerak, Canda. Makan yang banyak, biar tak lemas." Givan kembali ke tempatnya semula. 


Canda menoleh bingung ke arah suaminya. "Ngapain?' 


Canda mengedikkan bahunya, ia tidak ambil pusing untuk itu. Lihat nanti saja, ia tidak mau hal itu menjadi beban pikirannya yang mengurangi rasa nikmatnya memakan mie instan. 


"Kirim ke ayah untuk apa?" Izza memperhatikan layar ponsel suaminya, yang tengah menjadi perhatian suaminya. 


"Rahab rumah, Dek. Aku yakin tak akan cukup, tapi ayah bilang hitung-hitung untuk biaya pernikahan." Chandra langsung mengirimkan bukti transfer tersebut ke ayahnya, setelah ia selesai mengirimkan dana sejumlah dua puluh juta pada rekening ayahnya. 


[Oke.] balasan itu diterimanya dari Givan. 


Cup….


Izza memberikan satu kecupan di pipi kiri suaminya. Ia tersenyum lebar, saat Chandra meliriknya. 


"Besok kita liburan ke daerah atas, ayah minta cucu laki-laki." Chandra mengisengi istrinya, dengan memencet hidung istrinya. 


"Kalau dikasihnya perempuan gimana?" Izza khawatir keinginan mertuanya tak mampu ia penuhi. 

__ADS_1


"Kita buat lagi, sampai dapat laki-laki." Chandra tertawa geli, dengan mencium pipi istrinya. 


"Apa Abang mau kita banyak anak?" Izza khawatir itu menjadi tuntutan keluarga Chandra, yang merupakan keluarga besar dengan keturunan yang banyak. 


"Itu sih tergantung rejeki aja. Biyung kan tak berencana beranak banyak, Dek. Itu rejeki untuk biyung dan ayah, karena kan mereka sempat pisah juga. Hadirnya anak-anak lagi, kan semakin mengeratkan mereka." Chandra mengusap-usap pinggul istrinya. 


Namun, malah nyaman yang ia dapat. 


"Iya sih, jadi kalau mau cerai tuh ingat anak lagi." Izza berharap tangan suaminya bermain. 


"Ngantuk betul aku, Za." Chandra sudah memejamkan matanya di bahu istrinya. 


Izza menghela nafasnya. Ia tidak mengerti dengan keadaan suaminya, sekilas ia berpikir bahwa suaminya melirik wanita yang lebih menarik darinya. Namun, kepercayaannya akan Chandra yang bertahan dengannya sepuluh tahun belakang. Membuatnya selalu mendapatkan keyakinan, jika Chandra tidak akan seperti itu. 


"Sakit kah, Bang?" Izza berbaring menyamping menghadap suaminya. 


"Tak, ngantuk aja." Chandra membuka matanya sebisa mungkin. Ia sulit menahan rasa kantuknya, jika sudah berada di titik nyamannya. 


"Kok begitu terus? Aku tersinggung. Apa aku ini tak cantik kah? Dada aku kurang besar kah?" Izza mencoba menyadari keadaannya sendiri, sebelum menuduh suaminya lebih dalam. 


"Tak, Za. Ayolah, tidur dulu aja. Kita bahas besok sekalian liburan." Chandra tidak ingin berdebat sekarang. 


Izza mulai meradang, sudah hampir sepuluh hari pernikahan tapi Chandra terlihat semakin buruk minatnya padanya. "Abang tidur duluan aja." Izza menyibakan selimutnya, kemudian kakinya turun satu persatu dari ranjang. 


"Hm, jangan begadang." Chandra tidak mengerti jika istrinya tidak baik-baik saja. Ia berpikir, bahwa istrinya belum mengantuk saja. 


Izza mengambil ponselnya, ia duduk di sofa panjang yang berada di dekat jendela kamar mereka. Ia mengintip ke luar jendela, sepi dan sedikit gerimis. Ia pun menutup kembali tirai tersebut, dengan mencoba fokus pada ponselnya. 


Ia membuka aplikasi sosial media dengan logo biru. Kabar beranda pertama yang muncul adalah tentang akun suaminya yang ditandai oleh seorang wanita.sejujurnya, Izza sejak dulu sudah curiga dengan akun tersebut. Namun, suaminya hanya mengatakan bahwa wanita tersebut adalah teman kuliahnya. 


Foto kebersamaan suaminya dengan beberapa wanita tersebut, menjadi sorotan matanya beberapa menit dari sekarang. Sebelum ini, tidak ada yang mencurigakan. Karena foto-foto yang menandai Chandra selalu foto bersama, bukan foto berdua dengan mantel tebal dan background hujan salju nyata. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2