
"Sabar, Sayang." Aku hanya mampu merangkulnya dan menuntunnya berjalan.
Wajah Izza sudah amat merah. Beberapa bulir air mata pun jatuh melewati pipinya dan membasahi pinggiran hijabnya.
"Abis tes darah makan dulu ya?" Aku merasa memang istriku belum makan sama sekali, apalagi tadi sempat muntah.
"Maag aku kambuh sejak Abang pulang."
Astaghfirullah.
"Kenapa tak bilang? Kenapa malah didiamkan?" Kaku hati sekali aku ini.
"Kalau dikasih makan, rasanya tambah parah."
Ya ampun, maka dari itu ia lebih memilih perutnya agar tetap kosong sampai seminggu terakhir? Ia hanya makan buah-buahan, itu pun jarang. Ia hanya makan cemilan, itu pun jarang. Ia bisa-bisa kurus kering jika begini terus.
"Jadi harus berobat apa dulu ini, Za?" Runyam sekali pikiranku.
"Ke lab aja dulu." Izza memandang wajahku.
Pucat sekali istriku.
"Za, kau jaga kesehatan. Aku harus gimana, Za???" Rasanya aku ingin menangis saja. Kenapa mengurus istri harus seperti mengurus bayi? Aku pikir ia bisa makan sendiri, tanpa harus mendapat dorongan dan paksaan diriku.
Aku sudah menemukan laboratorium di rumah sakit ini. Tidak mengantri saat ini, bahkan Izza langsung dipersilahkan untuk masuk. Seperti cek darah pada umumnya, darah Izza diambil satu suntikan penuh dari lengan bagian dalamnya.
"Ditunggu sembilan puluh menit ya, Pak? Ini untuk pengambilannya, ditinggal lebih dulu juga boleh," ungkap perawat yang keluar dari laboratorium itu dengan ramah.
Entah dia perawat bukan, tapi pakaiannya seperti perawat yang bekerja di rumah sakit ini. Sama seperti asisten dokter yang berada di tempat dokter kandungan tadi.
Jadwal dokter kandungan tersebut sampai jam dua belas siang untuk hari ini. Sepertinya masih sempat untuk kembali ke ruangan dokter dengan membawa hasil dari lab ini.
__ADS_1
"Makan dulu yuk?" Aku mengajak Izza yang duduk manis memperhatikan sekitar.
Ia menggeleng. "Malu, takut muntah-muntah."
"Ya udah, ke dokter umum aja dulu yuk. Kita cek dulu maagnya," ajakku kemudian.
Apa boleh buat, daripada Izza terus menolak untuk makan. Hari ini, kita benar-benar touring ke beberapa dokter rumah sakit. Karena dari dokter umum yang ada di rumah sakit ini, Izza dirujuk ke dokter dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterohepatologi. Izza akan melakukan pemeriksaan endoskopi, merupakan pemeriksaan memasukkan alat dengan kamera ke dalam saluran cerna sehingga dapat diperoleh gambaran secara jelas dari saluran cerna bagian dalam.
Untuk biaya dari awal sampai sekarang, skip saja. Yang jelas, hampir menyentuh puluhan juta karena tidak menggunakan asuransi atau semacamnya.
"Endoskopi saluran pencernaan atas ya?" Dokter tersebut langsung membaca hasil surat rujukan dari dokter umum.
Alhamdulillah, ke sana ke mari tidak begitu amat antri. Di dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterohepatologi pun, kami hanya menunggu antrian satu orang yang hanya berjarak lima belas menit saja.
"Ini udah satu minggu, kenapa baru periksa?" Dokter tersebut memandang Izza dan tertawa kecil.
Izza hanya menjawab dengan senyuman saja.
"Masih tahan ya sakitnya? Kalau tak tahan, langsung rujuk ya?" Pedas sekali mulut dokter ini.
"Tukak lambung adalah luka pada lambung yang menyebabkan keluhan sakit maag, seperti nyeri ulu hati, kembung, dan mual. Kondisi ini sebenarnya dapat diatasi dengan mudah. Namun, jika penanganannya terlambat, komplikasi yang berat bisa terjadi. Jadi, jangan main-main dengan penyakit sekecil apapun." Dokter mulai bekerja dengan monitor yang menampilkan kamera tabung kecil yang bergerak di dalam perut Izza.
"Ini nih asam lambung nih, kuning begini. Tuh, terlalu banyak. Di bagian saluran bawah yang menghubungkan ke usus, bahkan sampai ada peradangan. Tuh, memerah dengan kumpulan cairan kuning yang banyak. Biasanya, cairan ini yang kalau muntah itu rasanya pahit sangat. Ini masih bisa diobati, kita cari alternatifnya aja untuk diobati lebih dulu." Dokter tersebut masih menggerakkan arah mata kamera tersebut.
"Setelah pemeriksaan ini, kalau ada muntah darah, bisa untuk segera dirujuk kembali ke rumah sakit ya?"
Aku membuang wajahku, saat alat seperti selang itu ditarik kembali. Aku tidak tega melihat Izza yang begitu kesulitan begitu. Rasa kasihanku padanya, serasa ingin mencegah dokter untuk tidak melakukan hal tersebut.
"Bisa langsung pulang, mampir dulu ke tukang bakso juga tak apa. Jangan lupa pakai lontong ya? Jangan kasih saus dan sambal dulu. Tapi sebelum ngebakso, baiknya tebus obat dan minum obat sebelum makan dulu. Obat ini lain dari obat maag yang dijual bebas, tapi jangan ragukan harganya ya? Tapi percaya sih, keluarga Riyana ya?" Dokter setengah baya tersebut memiliki pembawaan yang seperti akrab dengan semua orang.
"Betul, Dok. Kok tau Saya cucu Riyana?" Aku menerima resep tersebut.
__ADS_1
"Tau, pak Givan sering ambil tindakan di sini kalau asam lambungnya kambuh dengan Saya yang kebetulan selalu jadi dokternya." Ia tertawa renyah.
"Wah, Saya anaknya pak Givan. Ini istri Saya, Dok." Aku merangkul Izza.
"Serius? Wah kebetulan sekali ya? Semoga cepat sembuh istrinya ya, Bang? Obat yang paling mujarab itu, ajakin happy-happy, Bang. Biarkan dia berekspresi sesuai dirinya sendiri, biarkan dia menyenangkan dirinya sendiri. Penyakit maag itu, tidak boleh stress." Ia melakukan hormat dengan dua jarinya.
Apa Izza tidak bahagia denganku?
"Siap, Dok."
Setelah itu, aku keluar dari ruangan dokter tersebut.
"Za, aku tak pernah pelit. Kau tinggal bilang, kalau mau pergi sama temen-temen kau. Kau tinggal beli, apa yang mau kau beli. Sekarang, kau mau makan apa?" Aku membawanya ke apotek lebih dulu, untuk menebus obat.
"Chicken teppan enak kali ya?" Izza duduk di bangku tunggu antrian apotek rumah sakit ini.
"Oke, abis minum obat ini ya?" Aku meninggalkannya untuk menaruh resep lebih dulu.
Sebenarnya, apa yang membuatnya lebih banyak diam seperti ini? Apa yang membuatnya memilih untuk tidak mengatakan keinginannya padaku? Apa yang membuatnya jadi menahan untuk mengutarakan apapun diriku?
Aku duduk kembali di sampingnya. Kemudian, aku melacak resto yang menyediakan teppan di menu makanannya. Sayangnya, ada pun jauh.
"Di kota, Dek. Di dalam mall." Aku menunjukkan layar ponselku.
"Sebentar lagi, ambil hasil tes. Jalan-jalan di depan aja deh, lihat-lihat makanan yang ada di sekitar sini." Izza tersenyum memandangku dari samping.
Yang awalnya ia sering memeluk lenganku, ia kini terbiasa mandiri dengan duduk yang anteng tanpa menyentuhku. Ada apa dengannya? Kenapa berubahnya banyak sekali?
"Tapi dimakan ya? Abis dari sini deh, kalau kau sehat, kita langsung ke kota." Mungkin aku akan mencari hutang setelah ini.
Gajiku dari perusahaan di Singapore, sudah habis untuk biaya kami dan biaya berobat hari ini. Jangan tanyakan celengan, karena ikut habis untuk makan dan segala macam.
__ADS_1
Aku tak akan membuat beban pikiran Izza dengan hutang yang aku punya nantinya. Dari tambak, tentu belum menghasilkan sama sekali. Malah terus ada pengeluaran yang dihandle ayah, yang katanya masih termasuk support dari ayah.
...****************...