Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA279. Full servis


__ADS_3

"Kenyang belum, Sayang?" Aku memberikan minuman yang iklannya untuk menghalau kolesterol. 


Nahda menerima. Ia manggut-manggut dengan membuka penutup minuman yang aku berikan. "Pesan untuk di rumah, satu porsi aja. Abang tak usah dikasih, udah biasa makan enak tiap hari."


Aku cekikikan sendiri. 


"Suka-suka dong." Aku menarik kembali buku menu. 


Nahda lanjut menggerogoti lobster pesanannya yang belum habis. 


Entah ia ingat tidak ingin bercerita. Aku takutnya ia mengantuk, setelah kenyang makan banyak seperti ini. 


"Bang, barangkali mau ngasih hadiah untuk aku nantinya. Kaki aku nomor empat dua ya, Bang." Ia mengedipkan matanya genit. 


"Hadiah." Aku tertawa samar. 


"Iya dong, udah selesai kok. Aku sih mau minta sepatu heels lancip, dipakai pas di kamar sama Abang." Ia menaik turunkan alisnya.


Apalagi ini fantasinya? 


"Apa yang udah selesai, Dek?" Aku berpikir itu tentang makanannya. 


"Kes tamat." Ia bergaya seperti Upin Ipin yang telah menyelesaikan misi menjadi detektif. 


"Udah cepet cuci tangan, biar enak kita ngobrol." Karena kalimatnya tertunda terus di sela kunyahannya. 


Mama Aca, tengoklah anakmu semakin bongsor denganku. Tapi ia tidak gemuk, ia gemoy saja. Ia sensitif dibilang lemaknya berlebihan, ia merasa dirinya kurus ramping. 


"Pesanin dulu, kepiting tuh." Nahda menunjuk buku menu dengan dagunya. 


"Oke." Aku memanggil pelayan dan mulai menyebutkan apa yang Nahda inginkan. 


Aku memesan dua porsi kepiting. Cukup besar, tapi cangkangnya pun tak kalah besarnya. Pesanan langsung disiapkan kata pelayan, sedangkan Nahda tengah cuci tangan setelah menyelesaikan acara penghabisan sisa lauk itu. 


Ia duduk kembali, mengambil beberapa lembar tisu dia diusapkan ke mulutnya. Ia mengambil air mineral, meneguknya dan menaruhnya kembali. 


"Alhamdulillah, kenyang." Senyumnya lebar dan terlihat bahagia. 


"Alhamdulillah." Aku membalas senyumnya. 


"Abang ganteng betul, Deh." Sempat-sempatnya ia mencolek daguku. 


"Masa sih, Dek? Kalau artis, Abang mirip siapa ya?" Aku hanya bergurau. 


"Mikko." Nahda tersipu. 


Padahal aku yang tengah dijadikan objek. 


"Siapa Mikko?" Aku tidak familiar nama artis tersebut. 

__ADS_1


"Musisi cover lagu sama selebgram. Tadi diputar di TV dalam tempat ulakan, ganteng betul dia kek Abang. Dia masih muda, masih sembilan belas tahun. Nah, Abang versi matangnya menurut aku. Lebih berisi juga badannya kalau Abang sih."


Ia memujiku, tapi wajahnya yang memerah tersenyum malu. Ada-ada saja modelan istriku ini. 


"Oh ya? Nama panjang Mikko siapa?" Aku mencoba meladeninya. 


"Mohamad Cahyo Jatmiko," terang Nahda kemudian. 


Aku manggut-manggut, aku hanya tersenyum lebar saja. Aku tidak tahu siapa laki-laki itu, aku hanya pura-pura paham saja sudah. 


"Sok cerita." Aku bertopang dagu memperhatikan wajahnya yang masih terlihat tersipu itu. 


"Tak ada, udah selesai." Ia menjentikkan jarinya. 


Aih. 


"Udah selesai apanya, Dek? Udah apanya?" Aku sedikit ngegas. 


Hufttttt, emosinya. 


"Masalahnya, Abang ganteng." Nahda bangkit dari duduknya, ia pindah di sampingku. 


Sudah kubilang, ia kenyang ya pasti mengantuk. Ia sudah ngusel di lenganku, ia bahkan menarik tanganku untuk merangkulnya. 


"Ya gimana? Kok udah selesai aja?" Aku mengusap-usap kepalanya yang terlapisi hijab. 


"Aku udah kantongin bukti-buktinya. Laki-laki itu keknya kelemahannya perempuan deh, soalnya si bang Dana langsung buka semua. Katanya…. Jati yang agak muda juga, kalau udah disemprot ya sama aja. Aku bilang, aku baru mulai usaha jadi butuh seseorang untuk arahin. Ya dia semangat tuh, Bang. Mikirnya, ngarahin aku biar bisa dekat sama aku juga kali." Nahda terkekeh kecil. 


Berarti benar dugaan awalku. 


"Adek udah rekam?" tanyaku kemudian. 


"Udah, Bang. Udah aku kirim ke ke om Vendra juga, soalnya om Vendra minta untuk dipelajari dulu." 


Pintarnya istriku. Ia tidak banyak bertanya langkah-langkahnya, tapi benar-benar langsung sat set. 


"Terus gimana lagi?" tanyaku kembali. 


"Ya nanti di rumah lihat aja rekamannya. Selanjutnya, kita hubungi pak Susanto kah namanya? Aku ingat ada To gitu namanya." Nahda menguap lebar. 


"Iya, Dek. Kapan mau ke sana?" Aku akan mendukungnya yang ingin sat set itu. 


"Lepas ini aja, Bang. Sok hubungi dulu orangnya, kan bukan orang kota ini kan?" Nahda bangkit dari duduknya. "Aku mau cuci muka dulu, Bang." Ia berjalan menjauh dari meja kami. 


Okelah, kalau itu step selanjutnya. Aku menyalin kontak tersebut, kemudian menghubungi yang namanya pak Susanto itu. 


Ternyata, pak Susanto sudah menyimpan nomorku. Katanya, ia memang menungguku menghubunginya. Sepertinya, ayah sudah memberikan nomor teleponku padanya. Atau bisa jadi, ayah pun sudah memberitahu pokok masalahnya. 


Tidak banyak percakapan, pak Susanto langsung minta dikirimkan travel atau jemputan yang membawanya ke sini. Bukan PR yang besar, karena aku langsung melakukannya begitu panggilan telepon terputus. 

__ADS_1


Nahda kembali, ia sepertinya sudah membasuh mukanya. 


"Udah, Bang?" Ia menguap kembali. 


"Udah, Dek. Orangnya nanti ke rumah, kita tunggu di rumah aja." Aku celingukan menunggu pesananku yang belum rampung. 


"Kebanyakan begadang ini, jadi ngantuk terus." Nahda duduk kembali di sampingku. 


Masalahnya, ia memang mudah mengantuk ketika sudah kenyang. Mungkin itu yang membuatnya gemoy. 


"Gayanya ngajakin pesta di kamar," sindirku lirih. 


"Pengen tau beres, aku full diservis. Capek nih menyamar jadi perempuan bercadar, Bang." Ia menepuk-nepuk lenganku. 


Wow, full servis katanya. 


"Ya ayo, pulang langsung diservis. Mumpung rumah masih sepi." Aku melihat pelayan membawa pesananku yang sudah dibungkus. 


"Ayo, ayo. Semangat aku kalau soal begini." Ia terkekeh geli. 


Dasar, anaknya mama Aca. Semoga staminaku oke terus, meski dalam keadaan repot begini. 


"Abang bayar dulu ya?" Aku menerima pesanan yang diantarkan ke meja kami. 


"Langsung aja ke kasir, Mas." Pelayan tersebut menunjuk tempat kasir dengan sopan. 


Aku mengangguk. "Oke siap, makasih ya?" Aku bangkit segera. 


Nahda langsung berbenah, ia mengambil tasnya dan kacamatanya yang masih tergeletak di atas meja itu. Aku baru tahu, ternyata matanya bermasalah. Mata kanannya minus setengah, mata kirinya minus seperempat. Ia sebenarnya diharuskan selalu menggunakan kacamata, tapi ia menggunakan ketika berada di kelas saja katanya. 


Aku khawatir matanya berpengaruh saat kehamilannya. Karena aku pernah membaca, seseorang yang memiliki masalah pada matanya akan dilakukan persalinan secara sesar. Tapi aku kurang tahu pasti berapa batas minusnya, yang menjadi ketetapan aturan seperti itu. 


"Dua juta tiga ratus lima puluh, Mas." 


Mantapnya. 


"Debit aja." Aku menyodorkan kartuku. 


Nahda nyengir kuda, ia mepet terus padaku. Ia kira aku akan marah kah, jika membayar makanannya yang sebanyak itu? 


Sesekali, tak apa. Nahda ingin restoran mahal juga, baru aku turuti sekali ini. 


Aku tidak pernah makan di tempat yang begitu mahal seperti para artis, yang sampai menghabiskan uang sampai puluhan juta hanya untuk sekali makan saja. Karena dari aku kecil, aku dididik makan kemangi yang dipetik di pekarangan rumah. 


Lucu memang. 


Bukan karena takut harta habis untuk biaya makan, tapi keluargaku khususnya ayahku suka makan sayuran dan makanan sederhana. Makan enak seperti ini tak apa, tapi hanya sesekali. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2