Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA59. Tukang bakso


__ADS_3

Canda menunggu suaminya muncul, hingga sebuah motor berhenti di depan Canda dan Chandra. Canda langsung meruncingkan bibirnya, ketika suaminya membuka kaca helmnya. 


"Pak tua, keluyuran aja?!" sindir Canda kemudian. 


"Iya dong, mau cari janda." Givan terkekeh kecil. 


Serangan langsung mendarat di hidung Givan. Givan menghalau dan tertawa lepas. "Ada kerjaan, bentar ya?" Givan memberikan alasan yang sama seperti yang ia ajarkan pada anaknya. 


"Ke mana? Kan Mas lama tak ngecek malam begini, udah ada dipegang orang suruhan." Canda jelas curiga, karena sejak kelahiran putri bungsunya. Suaminya itu betah di rumah, suaminya itu sudah tidak pernah keluyuran malam untuk meng-handle pekerjaannya sendiri. 


"Aku tak macam-macam, Canda. Memang tak untuk kerjaan sendiri, ada pekerjaan lain. Nanti aku cerita besok deh, aku harus tau dulu gitu kan? Karena, aku belum tau apa-apa kalau tak pergi." Givan tahu mulut ember istrinya. Ia tidak mau menceritakan banyak hal pada istrinya, sebelum kecurigaannya itu komplit. 


"Lagian tuh, Biyung…. Ayah tak mungkin selingkuh lah, orang dia udah tua." Chandra mengambil helm yang berada di bagian depan motor matic tersebut, kemudian mengambil jaketnya yang menutupi speedometer motor tersebut. 


"Ihh, kata siapa? Justru jaman sekarang, anak muda sukanya juragan tua kek dia. Ngurusin sebentar, kan dia dapat warisan." Canda selalu khawatir suaminya dibawa pergi perempuan lain. 


"Agak gila! Udah ah, ngaco nih. Aku pergi dulu ya? Nanti aku telpon deh kalau sempat." Givan mundur dari duduknya, ia menyuruh anaknya duduk di depan untuk melanjutkan mengemudikan motornya. 


"Iya, iya. Awas aja kalau macam-macam, doa menyesuaikan!" Canda mengacungkan jarinya. 


"Iya oke, sini cium." Givan menarik lengan istrinya untuk lebih dekat ke arahnya. 


Chandra gelang-geleng kepala, ia tidak berniat sedikitpun untuk melirik pada spion kiri motor tersebut. Ia sudah menebak, hal apa yang dilakukan orang tuanya sebelum pergi. Meski sudah memiliki cucu, tapi kebiasaan tersebut tetap berlanjut. Mereka bukan hanya membuat malu anak cucunya sendiri, karena melihat kemesraan mereka. Tapi, jelas membuat iri karena mereka kalah romantisnya dengan pasangan mereka ketimbang ayah dan ibunya itu. 


"Ati-ati, Mas." Canda mundur beberapa langkah, agar dirinya tidak tersenggol saat motor tersebut bergerak. 


"Assalamu'alaikum." Chandra mulai menarik gas motor tersebut. 


"Wa'alaikum salam." Canda memperhatikan lampu motor tersebut yang semakin menjauh. 


"Ayah yang jelas matanya, aku kadang bingung nyetir sambil lihat-lihat tuh." Chandra mulai mempercepat laju kendaraan tersebut. 

__ADS_1


"Oke siap." Givan mulai memperhatikan jalanan sekitar. 


Setengah jam perjalanan, motor mereka sudah sampai di dekat swalayan besar tempat Vano bekerja. Informasi tentang tempat Vano bekerja pun, Givan dapatkan pada saat Vano melamar Jasmine. 


"Masuk kah, Yah? Ini tuh udah lagi pada tutup, tuh pegawai pada pulang." Chandra menunjuk beberapa motor yang keluar dari mall tersebut. 


"Tak usah deh, tunggu lima belas menit sampai setengah jam di sini. Dia bilangnya apa ke kau tadi?" Givan menajamkan penglihatannya, ia pun coba mengingat plat motor menantunya. 


"Mau cek laporan," jawab Chandra cepat. 


"Kalau cuma cek kan tak lama, kita tunggu aja."


Hingga ke menit dua puluh, rasa jenuh mereka terbalaskan. Chandra masih ingat jelas jaket berwarna putih, yang dikenakan oleh kakak iparnya. Ia pun melihat sekilas jaket putih tersebut, dengan Givan yang menyadari plat nomor tersebut. 


Mereka mulai menutup kaca helm mereka, kemudian menarik gas motornya secara perlahan. Mereka tetap menjaga jarak, agar Vano tidak melihat keberadaan kendaraan tersebut. Yang menjadi perhatian Givan adalah wanita berseragam suatu brand kosmetik, dengan pakaian sopan sesuai ketentuan daerah mereka. Rok span yang dikenakan wanita yang duduk di jok belakang motor Vano, membuat footstep belakang motor tersebut hanya digunakan satu. Sama persis dengan kecurigaan Givan siang tadi. 


"Adiknya kah itu?" Chandra mencoba berpikir positif, karena barangkali Vano memiliki banyak adik perempuan sama seperti dirinya. 


"Kalau dia SPG, belum nikah keknya. Karena kalau SPG kan, persyaratannya harus belum menikah." Chandra mengamati SPG yang berbalut seragam ketat di badan tersebut. 


"Entahlah, Bang. Yang Ayah pertanyakan, dia siapa? Kenapa, sampai Vano rela ninggalin istrinya untuk jemput perempuan itu?" Givan menunjuk motor milik Vano. 


"Belok ke mana tuh?" Chandra menarik gas motornya agar tidak tertinggal jejak. 


"Ohh, iya-iya. Aku pernah jalan-jalan sama Zio, ini tuh kost-kostan khusus untuk mereka yang kerja di swalayan itu. Jadi kek jaraknya dekat, jadi kost-kostan ini dikerubungi mereka gitu loh. Kost-kostan khusus putri, sampai Zio bilang nyari cewek tuh tinggal nongkrong di warung kopi dekat sini aja." Chandra tetap menjaga jarak, meski mereka sudah berbelok di gang yang cukup satu mobil saja. 


"Kalau memang cuma antar, jalan kaki puk bakal sampai deh. Orang dekat kok, tuh banyak yang jalan kaki juga. Eh, tapi kok tak ada kampung ya? Kek seluruh tempat ini tuh kost-kostan." Givan melihat sekeliling jalanan yang mereka lewati. 


"Kok aku jadi tambah berpikir buruk ya?" Chandra mencoba menghalau pikiran buruk tersebut. 


"Heem, Ayah pun." Givan ingin tidak suudzon, tapi malah semakin suudzon melihat hal ini. 

__ADS_1


"Berhenti, Yah." Chandra memarkirkan kendaraannya di sebelah gerobak tukang bakso keliling. 


Mereka turun dari motor, kemudian langsung merapat ke gerobak bakso yang masih sepi tersebut. Saat Vano memperhatikan sekitar pun, ia tidak melihat bahwa ayah mertua dan adik iparnya ada di sekitar sana. 


"Keren betul, jemurannya banyak, jadi ketutup orang lain siapa yang masuk ini." Givan membaca situasi kostan tersebut. 


"Buat berapa baksonya?" Tukang bakso bingung, karena tiba-tiba ada dua orang yang langsung mendekati gerobaknya. 


"Ohh…" Chandra dan Givan beradu pandang. Kemudian, mereka terkekeh geli karena memahami pasti tukang bakso tersebut menyangka bahwa dirinya akan membeli bakso. 


"Dua deh, dibungkus." Givan terlanjur malu. 


"Jangan dikasih mie, Yah. Takut masih lama, nanti mienya melar." Chandra masih memperhatikan perempuan yang baru masuk setelah mengangkat jemuran terserah. 


Jemuran tersebut mayoritas adalah kain dan sprai, membuat Chandra teringat pertarungannya dengan istrinya semalam yang membuatnya harus mengganti sprei kamarnya. 


"Sering mangkal di sini, Bang?" Givan memperhatikan aktivitas tukang bakso tersebut. 


"Sering, tiap hari keliling di sini," jawab tukang bakso tersebut. 


"Hafal dong penghuni kost di sini?" Givan kembali mewawancarai tukang bakso tersebut. 


"Tak terlalu, Bang. Paling mereka yang sering beli bakso aja" Tukang bakso tersebut baru memasukkan bakso baru. Jadi, harus menunggu beberapa menit dahulu. 


"Memang di sini kost-kostan bebas kah, Bang?" tanya. Chandra kemudian. 


"Tak juga sih, paling laki-laki yang sering bolak-balik tuh ya keluarganya." Mendengar jawaban tukang bakso tersebut, Givan menjadi dilema untuk datang mengetuk pintu kost tersebut. 


Ia memandang anaknya, ia bingung ingin mengambil keputusan apa. Maju untuk bertamu di tempat kost tersebut, atau percaya ucapan tukang bakso ini. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2