
"Mana dek Sekarnya?" Karena disambut dengan keramahan dan sopan, Givan pun bisa menyesuaikan dengan sambutan mereka.
"Lagi sakit, tadinya tidur aja." Samia, istri Rohan bergerak untuk mengetuk kamar putrinya.
"Sakit apa, Pak?" tanya Hadi basa-basi.
Ceysa tidak suka dengan perhatian kecil yang suaminya berikan itu. Ia langsung menyikut lengan suaminya pelan, sampai suaminya menoleh dan menyadari perubahan wajah Ceysa.
"Demam." Mendengar jawaban Rohan, Chandra mengerutkan keningnya dan memandang ayahnya.
"Bapak semalam ke mana? Anaknya sakit, kok dibiarkan keluyuran sendirian?" tegur Chandra lembut.
Ia tidak ingin membuat tetangga berkumpul, karena mereka berbicara keras-keras. Jika pembicaraan ini masih bisa diselesaikan dengan baik-baik, mereka ingin semuanya terselesaikan dengan cara musyawarah yang aman.
"Keluyuran? Loh, katanya dijemput kau untuk berobat di klinik dokter Ken?" Rohan kaget karena Chandra seolah tidak tahu tentang tujuan anaknya keluar menemuinya.
"Heh? Jam berapa?" Chandra masih menjabarkan dengan cara baik-baik.
"Jam sembilanan kan?" Pak Rohan semakin bingung dengan keadaan.
"Aku tak ada jemput Sekar, Pak. Masa itu aku ketemu Sekar pun sekilas, kita ketemu di pos ronda dekat masjid rumah nenek kakek aku itu. Keadaannya pun, aku tak datang untuk nemuin Sekar. Aku cuma lewat, karena mau ke minimarket. Dia pun nyapa aku, aku buru-buru jadi cuma lihat aja terus pergi lagi. Pas aku pulang dari minimarket, Sekar udah tak ada di pos ronda. Udah sebatas itu aja, Pak. Saya ngomong jujur, berani sumpah." Chandra mengangkat tangan kanannya ke atas kepalanya.
Rohan memperhatikan Chandra dengan seksama, ia merasa begitu yakin dengan pengakuan Chandra. Namun, ia terbingung-bingung dengan kebenarannya. Karena mau bagaimana pun, ia meyakini putrinya tidak berbohong.
"Kebenaran kejadian malam itu begitu, Pak. Terus, ada yang mau Saya sampaikan juga. Anda perlu tau, biar kedepannya lebih bisa memperhatikan anak Bapak sendiri." Givan menunjuk Hadi, ia mengisyaratkan Hadi untuk mengeluarkan ponselnya.
"Loh? Memang Saya selama ini bagaimana?" Tentu Rohan merasa tersinggung dengan ucapan Givan.
__ADS_1
"Kita bicarakan baik-baik, Pak. Saya tak mau jadi ngundang perhatian tetangga di sini," ungkap Ceysa ramah.
"Ya maksudnya bagaimana gitu kan? Kok seolah Saya ini tak bisa jaga anak?" jelas Rohan dengan nada bicara yang kembali turun.
"Pelan-pelan ya, Pak? Jadi Saya ulangi aja, awal kesalahpahaman tuh setahun lalu waktu di Singapore. Kami…" Hadi menggantungkan kalimatnya, karena Izza mengangkat tangannya untuk mengeluarkan pendapatnya.
"Maaf, mengganggu. Boleh minta Sekarnya dipanggil dulu tak ya?" Izza tersenyum pada semua orang.
"Begitu bagus." Givan manggut-manggut.
"Sebentar." Rohan berjalan ke arah kamar Sekar. Ia pun bingung, karena istrinya sejak tadi tidak keluar-keluar dari kamar anaknya. Bukannya istrinya cepat menyajikan minuman untuk para tamu yang datang, tapi malah mengurung diri di kamar dengan anaknya.
"Sini keluar," pinta Rohan pada anak istrinya.
"Tapi aku tak enak badan, Pak." Sekar terlihat mencari alasan.
"Iya, iya." Sekar menurunkan satu persatu kakinya dari ranjang dengan berat hati.
"Ayo." Rohan mempersilahkan anak istrinya untuk keluar lebih dulu.
Sekar langsung menunduk, ia tidak menyangka keluarga Givan datang beramai-ramai. Bahkan, kursi teras dibawa masuk untuk menambahkan tempat duduk untuk mereka. Jika sudah begini, ia merasa kalah sebelum membuka peluang alasan.
"Nampaknya, kau sehat aja." Ceysa mengamati penampilan Sekar sejak ia keluar dari dalam kamarnya.
"Iya, demamnya udah turun." Samia, ibunya Sekar yang menjawab pertanyaan Ceysa.
Ceysa manggut-manggut, ia masih mencoba menelisik lebih jauh tentang keadaan Sekar sebenarnya. Ia tidak percaya, saat keluarga Sekar mengatakan bahwa Sekar sakit. Karena ia melihat Sekar berjalan ke arah rumah keluarga ayah mertuanya, kala ia telah melintas menuju ke rumah ayahnya.
__ADS_1
"Gini, Kar. Aku mau kau dengar cerita versi aku, kau pun bisa tambahkan cerita yang kau tau masa itu." Hadi berbicara kembali.
"Tak perlu diulang, kalian berdua kan saling lempar tangan. Kau tak ngaku, Bang Chandra pun bilang bahwa itu di luar logikanya." Sekar sudah paham, Hadi ingin mengatakan hal apa.
"Sekarang, kau harus dengar cerita yang buat Bapak kau datang ke rumah aku pagi ini. Kau tau, semalam kami cuma tegur sapa aja. Aku tak nemuin kau, aku punya tujuan ke minimarket dan kau keknya nunggu seseorang di pos ronda itu. Karena, masa aku pulang kau udah tak ada di sana. Kalau kau jalan pulang kembali, udah pasti kau masih kelihatan dari jauh. Ngelewatin pagar rumah nenek aku, Riyana Studio aja itu, kan butuh waktu. Sedangkan, aku tak lama di minimarket. Jadi, kau kek dibawa pergi pakai kendaraan." Chandra bahkan menghitung waktu saat dirinya pergi dan kembali dari minimarket, tidak ada lima belas menit.
"Iya, kan aku mau periksa." Sekar mempertahankan kepalanya untuk tertunduk.
"Kenapa kau bilang ke Bapak kau, kalau aku yang jemput? Kemarin adalah hari pernikahan aku, malam tadi adalah malam pertama aku. Aku tak mungkin melakukan kegilaan dengan cara jemput perempuan lain, sedangkan aku baru memperistri seseorang." Chandra mengupas konflik satu persatu.
Diam, Sekar tidak merespon apapun. Ia menunduk tanpa suara, memperhatikan lantai kayu rumah kontrakannya tersebut. Keluarganya tetap diminta membayar sepuluh juta pertahun, meski kemarin Hadi adalah kekasihnya.
"Terus, Kar. Aku ngerasa ini semua ada sangkut pautnya. Kau pasti kenal akun ini semua kan?" Hadi menunjukkan ponselnya. "Tuh, Pak. Di dalam kamar, anak Bapak pakai baju yang kurang sopan." Hadi bahkan menunjukkan pada ayah Sekar.
Sekar gelagapan, ia bertanya-tanya tentang Hadi yang bisa menemukan beberapa akun lamanya tersebut.
"Itu bukan foto aku, itu orang yang edit." Alasan Sekar bisa mempengaruhi ibunya yang kurang paham teknologi. Tapi, tentu menimbulkan kecurigaan karena Rohan mengenali pakaian pendek milik anaknya, yang berada di dalam foto tersebut.
"Ditambah, untuk apa kau buat pengakuan bohong ke aku? Kau pengen ngerusak hubungan aku dengan Bang Chandra? Kalau kemarin aku percaya sama kau, mungkin hari ini aku akan nangisin perjuangan aku selama sepuluh tahun belakangan." Izza memandang nanar Sekar yang tertunduk diam itu.
"Aku tak pernah ngelakuin hal yang kau bilang ke Izza." Chandra mengambil ponsel Hadi. "Silahkan dibaca, Pak."
Detik itu juga, Rohan menutupi wajahnya sendiri. Ia amat malu, anaknya seperti merendahkan harga dirinya sendiri dan terkesan merusak hubungan orang lain. Ia memahami semuanya, usianya cukup matang untuk mengerti akan segala hal yang terpampang jelas di layar ponsel Hadi yang berada di tangannya ini.
"Bisa digeser layarnya, Pak. Biar Bapak bisa tau tentang hal lain, selain cerita dari kami kemarin itu. Kami bukan mencari pembelaan, kami cuma tengah berbicara tentang fakta sebenarnya," tambah Hadi kemudian.
...****************...
__ADS_1