
"Dusta kau bisa aja." Chandra langsung menggigit ujung dada Izza.
Izza tertawa lepas, kemudian menahan kepala Chandra. Ia kaget dengan serangan tiba-tiba dari Chandra, itu terlalu cepat menurut Izza. Ia berpikir, Chandra akan melakukan dengan perlahan.
Pertempuran terjadi, dengan Chandra yang mengusahakan setengah mati akan terbangkitkan. Ia melamun, setelah selesai memberikan Izza nafkah batin.
Ia merasa, rasanya hanya begitu-begitu saja. Ia merasa s**s tidak seperti ekspektasinya. Memang seperti surga dunia menurutnya, tapi rasanya ada yang kurang dan ada yang tidak pas menurutnya. Ada ganjalan, yang tidak dimengerti oleh Chandra sendiri.
Ia meraba hatinya sendiri. Izza masih ada di sana, sayang dan cintanya masih ada untuk nama tersebut. Namun, ia merasa seperti bosan menjalani hubungan yang tidak ia mengerti ini. Ia paham, mereka adalah pasangan baru. Tapi, Chandra merasa fasenya saja yang berbeda. Pasangannya tetap sama, dengan karakter Izza yang membuatnya tetap semakin bingung.
Ia mengabaikan sikap Izza saat seperti mereka berpacaran, tapi ia khawatir Izza sakit dan ayahnya menegurnya terus menerus untuk menyenangkan Izza. Jika, ia membiarkan Izza dengan kekesalannya sendiri. Chandra merasa serba salah, padahal ia pun sudah lelah seharian bekerja untuk menambah jumlah pendapatannya. Tapi saat di rumah, istrinya ingin didengarkan dan dimengertikan saja tanpa paham inginnya.
Ia memahami, bahwa rumah tangga baru rawan perpecahan. Tapi jika ia mengalah terus, ia bahkan benar-benar kehilangan minatnya pada istrinya. Chandra tidak mengerti apa hubungannya, tapi seolah hal itu berkesinambungan. Ia pernah mendengar tentang laki-laki pasti bisa berhubungan ranjang dengan perempuan apapun, sekalipun perempuan tersebut dibencinya. Tapi ia merasa, bahwa dirinya bukan laki-laki yang seperti itu.
Ia bingung harus mencari saran di mana, karena ayahnya seolah begitu mengutamakan wanita. Tapi dirinya merasa lelah, karena harus selalu mengertikan tanpa dimengerti.
Bukannya ia ingin dipuja bagaikan raja. Ia butuh teman untuk membuat rileks suasana hati dan pikirannya setelah seharian bekerja di bawah tekanan. Tapi sesampainya bertemu istrinya, aduan dan keluhan selalu ia dapatkan. Bahkan beberapa hari yang lalu, Izza mengembalikan uang pemberiannya dengan alasan tidak cukup untuk belanja esok.
Bukan karena ia tidak memiliki uang, tapi uang cash yang ada di dompetnya hanya senilai itu. Sedangkan hari tengah hujan, membuat Chandra malas untuk keluar rumah lagi karena dirinya pun pulang dengan kehujanan.
Mungkin hal sepele, tapi membuat Chandra terus mengingat penolakan istrinya itu. Ia beranggapan, bahwa istrinya tidak akan menerima nafkah dengan nilai rendah. Padahal, pecahan tersebut bukanlah nominal yang begitu kecil menurut Chandra. Lima puluh ribu rupiah, diingatnya jelas dikembalikan oleh istrinya.
Chandra berpikir, agar istrinya memegangnya saja dulu. Bila hujan reda, Chandra akan mengambil uang lagi. Namun, penolakan lebih awal terjadi sebelum Chandra mengatakan niatnya.
Ia tidak mengerti juga, hilang minatnya berhubungan dengan apa. Tapi banyak hal yang ia pendam sendiri, agar menjaga kondisi Izza tetap sehat. Karena jika Izza sakit, ia tidak suka dengan tekanan dari ayahnya yang hanya menyudutkan dirinya saja.
__ADS_1
Chandra mencoba menjaga hal-hal tersebut.
"Kenapa, Bang?" Izza menarik tubuh suaminya, agar memeluknya kembali.
"Tak apa." Chandra tersenyum dan menuruti mau istrinya untuk mendapatkan pelukannya kembali.
Chandra cukup paham sekarang, dengan segala apa yang istrinya inginkan. Tapi ia merasa ada ganjalan, ia merasa seperti halnya kurang ikhlas untuk bertindak.
Ia cukup memahami karakter Izza sejak dulu. Hanya saja, ia terlampau kasihan dengan gadis yang selalu mendapatkan beasiswa tersebut.
Ia memilih mendiamkan Izza, jika dirinya tengah marah, atau mendengar ocehan Izza. Bukan karena dirinya merasa harus menang, tapi ia khawatir mulutnya memutuskan hubungan mereka.
Akan siapa yang mengasihani Izza, jika bukan dirinya. Tak semua orang mau peduli, apalagi tentang hal materi. Bukan ia merasa kelebihan harta, ia pun rela mengumpulkan rupiahnya demi Izza. Ia merasa jauh lebih beruntung, ketimbang Izza yang serba susah sejak dulu. Hal itu yang terus mendorongnya, untuk tetap peduli pada sesama dan orang terdekatnya.
Ia memahami ekonomi orang tua Izza sejak dulu. Tapi secuil sikap Izza yang mengembalikan uangnya, menggores hati lembut Chandra yang selalu mengasihinya. Izza jelas tidak tahu, karena Chandra hanya diam. Diamnya Chandra pun, untuk menjaga Izza agar tidak tiba-tiba sakit.
"Aku tambah sayang sama Abang." Izza mengusap pipi suaminya.
"Oh ya? Karena apa?" Chandra tersenyum samar pada istrinya.
"Karena Abang sekarang lebih ngertiin aku. Kenapa tak dari dulu, Abang pahami mau aku kek gini?" Izza begitu mengagumi sosok yang ia puja selama ini.
"Karena dulu itu aku." Cukup ambigu jawaban Chandra. Tapi, ia tidak berniat untuk memperjelasnya.
"Memang sekarang siapa? Memang Abang kembar? Ketukar orangnya begitu?" Izza tertawa geli.
__ADS_1
Chandra hanya menarik garis bibirnya. Ia tidak berniat sama sekali untuk menjelaskan hal itu.
Paket liburan yang Chandra booking, hanya sia-sia saja. Karena tiga hari berlibur, Izza hanya ingin bersamanya di dalam selimut. Bahkan, Chandra hanya diam mencoba mengambil rasa pengertian Izza kala perutnya berbunyi.
Makan pun, Izza lebih suka dengan makanan yang diantarkan ke kamar mereka. Aktivitas mereka hanya di kamar, meski tidak melulu melakukan hubungan ranjang.
Menurut Chandra itu bukanlah liburan, tapi itu adalah cara untuk mengekang dirinya. Moodnya berubah drastis, ia sering tersenyum palsu sampai datang satu bulan pernikahan mereka.
Chandra semakin merasa kehilangan jati dirinya, juga kebebasannya bersosial. Canda tawa di ranjang, adalah kesenangan Izza dan Chandra harus memenuhinya. Sedangkan, ia lebih suka bersenda gurau di luar ruangan dengan keramaian saudaranya. Bukan ia ingin bersama keluarganya saja, tapi ia ingin Izza larut dalam kebahagiaan dan kehangatan keluarganya juga.
"Ada apa sih, kok ayah jadinya sering manggil-manggil Abang dari luar kamar gini?" Izza kembali protes pada suaminya, karena suaminya tergesa-gesa meninggalkan kamar mereka.
"Ayah butuh anaknya, Za." Chandra hanya mendelik sekilas, kemudian keluar dari kamarnya. Setiap ada yang memanggilnya, itu seperti kesempatan untuk Chandra agar bisa keluar dari dalam kamar.
Tidurnya selalu terganggu, karena Izza selalu mengajaknya berbicara dan membahas yang ia suka. Dunianya pun begitu kalau, karena kini kehidupannya seperti Izza yang mengatur.
"Gimana, Yah?" Chandra membuka pintu kamarnya, kemudian ia mengenakan kaosnya.
"Paman kau tak bilang Ayah harus ada persiapan begini begitu. Yang benar aja itu, surat penjemputan langsung datang juga petugas kepolisian." Givan panik, ia sulit mendeskripsikan keadaan saat ini.
"Hah?" Chandra melebarkan mata ngantuknya.
"Ayah bingung sendiri, itu polisi nunggu di teras rumah." Givan menarik anaknya untuk keluar dari rumah.
...****************...
__ADS_1