
"Sini coba, Ayah mau ngobrol." Givan menahan Ceysa yang akan masuk ke rumah.
"Ada Hadi tuh, Yah." Ceysa melirik suaminya.
"Ya sini Ceysanya juga." Hadi memberikan tempat, tapi Ceysa lebih memilih untuk duduk bagaikan sudut atas segitiga.
"Dayyan tidur kah?" tanya Givan kemudian.
"Iya, Yah." Ceysa terus melirik suaminya, ia sudah ada feeling bahwa suaminya mengadukan kekesalannya semalam.
"Jangan kasar ke suami, Dek. Masa suami sendiri digigit sampai berbekas ginu." Givan menasehati anaknya di depan suaminya.
"Hadinya tuh, Yah. Bikin kesal aja, bikin gemas aja."
Givan sudah menebak jawaban anaknya yang kekanak-kanakan itu. Mau bagaimana lagi, ia menyadari anaknya memang masih belia.
"Ada istilah bulan madu, untuk mereka yang baru menikah. Karena pengantin baru dalam hitungan bulan itu masih terasa indah, masih terasa manis. Masa baru beberapa hari, kalian udah begitu?" Givan menggunakan tutur lembutnya, agar tersampaikan ke hati anaknya.
"Aku ini, apa ya? Aku tak bisa berpikir, kalau tak punya uang. Kek mpet gitu, gelap gitu, Yah." Ceysa terlihat begitu sedih.
__ADS_1
Givan tahu tabiat ayah kandung Ceysa, yang hampir sama persis dengan tabiat Ceysa. Mau bagaimana lagi? Tak akan bisa berubah, karena itu sudah menjadi keyakinan Ceysa dan wataknya.
"Kau ada ide apa? Sambil nunggu pembukuan bulan depan?" Givan mencoba berdiskusi, daripada memutuskan sepihak yang belum tentu cocok untuk anaknya.
"Jualan sarung, tapi Hadi tak mau." Ceysa kembali melirik suaminya.
"Kalau tak mau ya, jangan. Usaha kalau dilakukan dengan terpaksa begitu, pasti hasilnya nihil. Jangan jualan sarung berarti." Givan paham ada hubungannya dengan ketulusan, jika berhubungan dengan usaha.
"Ceysa aja mau tak jualan ayam geprek?" Giliran Hadi yang melirik istrinya.
Givan menepuk jidatnya sendiri. Baginya, pernikahan Ceysa dan Hadilah yang sudah seperti menyatukan anak kecil.
"Udah ah! Masa begitu suami istri tuh? Jangan jualan deh, mental kalian tak ada yang siap. Gimana kalau buka jasa fotocopy aja? Nanti Ayah sewa ruko dekat kampus, pulang ngampus Hadi buka fotocopy. Atau, nyuruh orang gitu?" Givan yakin sudah ada usaha tersebut, tapi tidak ada salahnya mencoba.
"Tak mau, Yah. Udah ada di sana jasa fotocopy, cetak foto, laminating, printing dan cetak undangan." Hadi menolak cepat.
Givan menghela nafasnya. "Ya udah, Ayah jatah aja deh. Sampai tengok gimana nanti pembukuan bulan depan."
"Tak mau aku! Hadi suruh mandiri, Yah." Bahkan nada bicara Ceysa seperti anak-anak yang merengek memaksa.
__ADS_1
"Sabar, Ceysa. Hadi masih kuliah, Hadi masih bingung."
Kepala Givan langsung berdenyut. Ia memijat pelipisnya, kemudian memandang anak dan menantunya secara bergantian.
"Ceysa, Cantik. Dengerin Ayah dulu, Dek. Kemandirian itu datang dengan kesadaran sendiri, Ceysa maksa-maksa sampai tak kasih Hadi makan pun, pikirannya tak akan terbuka. Sabar, Ayah pun pernah di posisi tak bisa mandiri. Kita cuma nunggu waktu untuk sadar. Ceysa sabar, biar Ceysa tetap jadi pendampingnya Hadi sampai tua. Kek biyung untuk Ayah gitu. Udah, jalan keluarganya dijatah Ayah dulu. Nanti kita tengok pembukuan bulan depan. Sabar ya?" Givan mencoba menengahi keduanya dan memenangkan anaknya.
"Hadi tuh kalau dibiarin, malah keenakan!" Tangan Ceysa bergerak gemas, ia selalu ingin mencubit perut Hadi.
Givan menahan tangan anaknya, dengan Hadi yang melindungi perutnya. Ia terkekeh geli, melihat istrinya yang terlihat kesal tersebut.
"Tak, abu sosok yang mandiri. Kau harus contoh abu kau, Di." Givan menepuk paha menantunya.
"Iya siap, Yah. Orang baru nikah dua harian, langsung digencar begini begitu. Ceysa memang tak mau menikmati waktu sama Hadi dulu? Orang tuh buru-buru terus. Beli ini, beli itu, ke sana ke mari. Uang habis, ngambek." Hadi menatap lembut istrinya.
"Perempuan memang begitu, Di." Givan memaklumi drama rumah tangga anaknya tersebut.
"Ya tak begitu, Yah. Kek apa gitu? Kek serba salah aku ini. Hadi, begini begini begini. Hadi, jangan begini begini begini. Hadi tuh tak betul, harusnya begini Hadi. Dulu Ceysa tak begitu, eh satu rumah malah begitu. Rewel betul, udah kek Dayyan." Unek-unek Hadi terlempar di depan ayah mertuanya.
"Kau harus tau, kalau lelaki tempatnya salah. Istri kau tak cantik pun, kau penyebab utamanya. Karena uang kau tak cukup, karena kau tak kasih dia waktu, karena kau tak pengertian. Uang aja tak cukup, kau harus bisa atur waktu untuk gantiin dia untuk Dayyan. Karena tak bisa perawatan sendiri ataupun ke klinik dengan bawa anak tuh, Di. Contoh lainnya begini. Kau minta Ceysa masak enak terus, tapi uang belanjanya tak cukup. Terus kah salahkan Ceysa, padahal kan yang lebih salah itu kau karena kasih uang belanja tak seberapa. Contoh lagi, rumah kotor, cucian numpuk, barang-barang berantakan dan kau tak mau bereskan. Kau tak bisa salahkan Ceysa, karena kau lupa bahwa anak kau yang jaga itu Ceysa. Kalau dia fokus sama pekerjaan rumah tangga, anak kau pasti terlantar. Sedangkan, kau beranggapan Ceysa ngerjain rumah tangga masa anak kau tidur. Kau lupa, bahwa istri kau manusia. Anak kau tidur, itu kesempatan untuk dia istirahat sejenak. Penyebabnya kau yang tak pengertian sama Ceysa, tapi nuntut rumah bersih. Memang, semua ibu rumah tangga pasti mampu. Tapi tak sedikit ibu rumah tangga yang Ayah katakan. Anak-anak Ayah dari kecil sering rewel kalau malam, gimana cara menanggulanginya? Ya gantian begadang. Ayah dari menjelang tengah malam, sampai dini hari. Biyung tidur tuh, karena istirahat efektif tuh ya tengah malam. Masa dini hari menjelang Subuh, Ayah bangunkan biyung. Ayah gantian istirahat, biyung begadang sampai pagi. Karena apa? Karena Ayah besok pagi mesti kerja, mesti fresh, jadi harus istirahat untuk itu. Sedangkan kan, biyung di rumah. Ayah berangkat kerja, jam delapan jam sembilan anak kita ngantuk dan tidur, kan biyung bisa ikut istirahat juga tuh. Begitu pemikiran Ayah, kalau anak rewel. Jadi tak harus semuanya bangun, tak harus semuanya repot. Gantian, biar esok pagi aktivitas kita tetap lancar. Ayah tetap bisa kerja, biyung tak drop untuk jaga anak karena begadang semalaman. Bisa tak kalian begitu tuh? Kerja sama, saling pengertian. Kau juga tak perlu berpikir, Ceysa salahin aku terus. Loh, memang laki-laki itu gudangnya salah. Sebab akibat gitu loh, kita begini, jadi istri kita begini. Kita begitu, jadi istri kita begitu. Tak perlu banyak membatin, berkaca diri aja. Bukan berarti Ceysa seenaknya nyalahin Hadi juga dengan penjelasan Ayah yang kek gini, Ceysa harus ngerti kalau Hadi pun lagi berusaha memperbaiki segalanya. Perekonomian kalian, hubungan kalian, kehangatan kalian dan tanggung jawabnya ke kalian. Kau pun harus ada berpikir ke arah yang luas, Di. Jaga tingkah laku, diingat kalau hukum tabur tuai itu benar adanya. Jangan seenaknya bertindak ke orang lain, ingat anak istri di rumah. Terbuka bukan soal pakaian aja, tapi tentang keterlibatan semuanya. Terus terang, kalau ada sikap pasangan yang tak berkenan di hati. Soal ekonomi juga harus sama-sama, dalam artian sama-sama berjuang. Contohnya, Hadi berjuang cari uang, Ceysa berjuang kumpulin uang dan nyisihin uang. Karena uang kalian, kalah diniatkan untuk masa depan kalian, ya akan kembali ke diri kalian lagi. Hadi memang milik ibunya, tapi pastinya itu Hadi tanggung jawab orang tuanya. Hadi tak bisa kasih barang, uang ke ma tanpa sepengetahuan Ceysa. Memang tak ada larangan, kalau Hadi udah kasih Ceysa kecukupan. Tapi kan? Pasti Ceysa tak merasa dianggap, lebih baiknya kasih apa-apa ke orang tua itu pakai tangan istri. Jadi kan nama Ceysa bagus di mata mertuanya, aduh iya menantu aku sayang mertuanya. Kan begitu pikiran orang tua tuh." Givan memperhatikan kedua pasangan muda itu bergantian.
__ADS_1
...****************...