Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA250. Teguran dan ancaman


__ADS_3

"Ayah tanyakan dari awal, kau minat apa? Karena usaha apapun, kalau kau tak cinta, kau tak minat, kau tak tertarik, kau tak akan berhasil!" Berakhir di bentakan dan tepukan keras di pundak Hadi. 


"Ada pikir ke es batu aja, Yah. Mahal di modal, padahal bahan baku cuma air aja." Nyalinya langsung melempem saja, ia menunduk sampai bungkuk. 


Mana tadi menantu yang gagah, berani dan melampaui batas? 


"Bisa! Kau takut dibilang pengkhianat kalau pasarkan di sini? Pasarkan di kampung kau tinggal, di sana juga banyak kok yang minum es meski pakai hoodie dan sarungan." Bukan semangat lagi, ayah sudah seperti terbakar. 


"Iya, Yah." Hadi mengangguk beberapa kali. 


"Besok Ayah ke rumah, pulang kau sekarang! Bantu istri kau di rumah, anak perempuan Ayah itu." Ayah bangkit dan mengibasi alas duduknya. 


"Iya, Yah." Hadi masih duduk di tempatnya. 


"Keluarin motor, Ayah mau jalan kaki dulu. Susul Ayah nantinya." Ayah melihatku sekilas. 


"Ayah ke arah mana?" Aku bergerak cepat, sebelum kena bentak. 


"Kanan," jawabnya dengan mantap melangkah. 


"Iya, Yah." Aku langsung mengambil motorku, yang lumayan lama tidak aku pakai. 


Kurang lebih seminggu lah mendekam di garasi rumah. 


Ternyata, ayah menunggu di depan ruko galon ibu. Kamar di atas ruko itu, katanya mau ditempati oleh Aksa. Sebelumnya memang kosong, dengan usaha galon yang lebih berkembang. Bukan cuma air isi ulang, tapi ada beberapa merek air mineral ternama yang stoknya terkumpul rapi. 


"Mana kiriman screenshot dari pakcik kau? Sisa pesan chat kau sama Jessie, apa masih?" tanya ayah, ketika aku baru berhenti di depannya. 


"Chat sama Izza pun masih, aku tak pernah hapus pesan." Aku menyalakan layar ponselku. 


Wow, banyaknya pesan masuk dari pakcik Gavin. 


"Ke warung dulu, Bang. Beli air dingin dulu." Ayah naik ke atas jok motorku. 

__ADS_1


Pasti kepala ayah masih berdenyut nyeri. 


"Iya, Yah. Aku juga mau isi bensin dulu." Aku menjalankan motorku perlahan. 


Aku melirik dari spion motor, ayah terlihat menikmati perjalanan ini. Mungkin ia tengah merilekskan otot wajahnya dan meredam emosinya juga. 


Air dingin sudah, isi bensin sudah. Sekarang aku perlu tahu tujuan ayah pergi denganku ini. 


"Ke rumah orang tuanya Jessie, Bang." Ayah menepuk pundakku, bagaikan aku ini ojeknya. 


"Loh? Kenapa ke sana?" Aku khawatir dihakimi, nanti aku yang kena lagi. 


"Udah, nurut aja!" 


Ya sudahlah. 


Sesampainya di depan rumah Jessie, ayah langsung mengajak ayah Jessie untuk mendekatinya. Bahkan, ayah tidak mau masuk ke rumah. Mungkin karena melihat Jessie ada di teras rumah. 


"Kita ngobrol di bangku panjang depan pagar aja." Ayah merangkul ayah sambung Jessie. 


"Mata Bapak masih awas kan?" Ayah benar-benar mengajak pak Darmaji untuk duduk di bangku panjang. 


Seperti biasa, aku menjadi ekor ayah. 


"Masih, Pak. Bagaimana ya?" Pak Darmaji menggosok pahanya, ketika baru duduk. 


Ia cemas, ia sepertinya sudah ada feeling bahwa akan ditegur ayah. Ya aku memiliki pemikiran ayah akan menegur, tentang semua chat dari Jessie. Makanya kenapa ayah meminta pakcik Gavin mengirimkan hasil screenshot chatting mereka, aku pun ditanya tentang bekas chattingku dengan Jessie. 


"Bapak tau anak Bapak perokok?" 


Kenapa ayah bertanyanya melenceng ke sini? Katanya seputar chatting kan? Tapi aku diam saja, aku perlu menyimak dan memahami ayah dulu. 


"Ya, beberapa tetangga yang kerja sama Bang Chandra pun, mereka ada bisik-bisik di kedai kopi tentang Jessie yang katanya merokok di rumah singgah Bang Chandra. Saya minta maaf ya, Pak? Sebelumnya, sudah Saya tegur dan peringatkan kok. Maklum, pergaulan anak kota." Pak Darmaji memasang senyum kaku. 

__ADS_1


Ohh, ternyata buruh ladangku menjadi CCTV. 


"Bapak tau tentang ini. Ini dulu, sebelum Saya buka lebih lanjut." Ayah menoleh ke arahku. "Mana HP kau, Bang? Mana hasil screenshot pakcik kau?" Ayah merebut ponselku, kemudian ia fokus sejenak sebelum membagi layar ponselku pada pak Darmaji. 


Reaksi pak Darmaji menakutkan, ia memegangi dadanya seperti terkena serangan jantung. Matanya pun mekar, tapi mulutnya terus mengucapkan istighfar. 


"Dia mengakui dirinya b***** besar, berikut ayah kandungnya. Bisa nih kita ajukan ke hukum syariat lah minimal, buktinya banyak kok di sosial medianya." 


Ohh, begitu cara main ayah. 


"Mana p*s*r Jessie, Bang? Apa namanya?" Ayah menyodorkan ponselku ke arahku. 


Aku melongo loh, kenapa dengan p*s*r? 


Aku memandang wajah ayah heran, sampai ayah akhirnya meraup wajahku dan terkekeh kecil. "Maksudnya, sosial medianya? Kata Bunga, dia umbar identitasnya dan pakaian mininya di sana," jelas ayah kemudian. 


Ternyata, ayah mencari informasi juga. 


"Ohh…." Aku langsung masuk ke IGku. 


Untungnya, Jessie belum memblokir akunku. 


Terlihat sudah bagaimana indahnya kemolekan Jessie, aku harap ayah tidak s**** melihat anak muda itu. 


"Ini, Pak. Begini juga yang dia tampilkan di foto statusnya untuk orang yang dia incar, terutama anak laki-laki Saya dan adik Saya yang sudah beristri. Jadi kejadiannya begini, Pak….. "


Keren liciknya ayah. Ayah membuka semua bagaimana kelakuan Jessie, disertakan dengan bukti screenshot di dalam ponselku yang berada di tangan ayah. Setiap kalimat yang keluar dari mulut ayah, ayah sertakan dengan bukti yang ada. Ayah menunjukkan hal itu pada pak Darmaji dengan semangat, ekspresi pak Darmaji pun nampak terpukul sekali. 


Bagaimana tidak, jika melihat anak perempuan yang ibunya ia nikahi ternyata tingkahnya di luar nalar?


"Terang saja, Pak. Saya terusik dengan anak perempuan Bapak, rumah tangga adik laki-laki Saya pun sedikit retak meski masih baik-baik saja. Kalau Bapak tidak bisa kasih ketegasan pada Jessie, bukan tak mungkin kalau tanpa izin Saya bawakan bukti ini ke pihak yang berwenang. Ditambah lagi, anak laki-laki Saya sekarang sudah beristri. Khawatirnya, malah terjadi kesalahpahaman di kemudian hari. Saya tegur ke Bapak langsung, biar Bapak tak malu. Coba bayangkan kalau istri dari adik laki-laki Saya ke sini dengan teriak-teriak, karena dia tak terima kalau Jessie ganggu suaminya? Bagaimana malunya Bapak jadi tontonan keluarga? Pasti malu kan???" Suara ayah terdengar ditekan. Namun, penuh dengan ancaman dan ketegasan. 


Pak Darmaji manggut-manggut. "Kalau begitu, Saya minta maaf ya, Pak?" Ia menyatukan tangannya dan tertunduk. 

__ADS_1


"Saya tak butuh permintaan maaf Bapak, Saya maafkan kalau Jessie tak ganggu lagi. Istri adik laki-laki Saya, yang kebetulan adik dari istri Saya, pagi ini dia sampai datang ke rumah dengan nangis-nangis, cerita tentang bagaimana Jessie mengganggu suaminya. Dia jelas khawatir kehilangan suaminya, anaknya sembilan, dia butuh suaminya bukan tentang biaya aja. Saya tak meminta Jessie pergi dari sini, atau hukuman apapun yang pantas untuk dia. Saya tak punya hak untuk menghakiminya, biarpun Saya punya buktinya. Jadi, gimana menurut Bapak biar keluarga besar Saya tentram dan tenang?" Ayah menurunkan telapak tangan pak Darmaji yang menyatu di depannya tersebut. 


...****************...


__ADS_2