
"Kalau ucapan Ayah tak bisa dibuktikan, gimana?" Aku memandang ayahku kembali.
Heran, wajahku kenapa tidak mirip dirinya? Aku cenderung memiliki wajah seperti biyung, dengan sifat mix mereka.
"Kau pengen Ayah nyaranin kau untuk pisah? Ayah nasehati, kesannya kau kek tak terima terus. Kalau menurut anggapan kau, kau ini benar. Ya udah, tanggung jawab dengan pendapat kau sendiri. Ayah nasehati begini, karena udah tau rasanya pisah dan beristrikan perempuan lain. Mungkin memang kau pengen jajal trend sekarang, di mana bubaran lebih cepat dari masa pengenalan. Ingat, kau ngeluarin mahar besar. Kau harus tau, cerai dari pihak laki-laki yang menggugat itu mahal." Ayah bersuara lantang seketika.
Aku langsung menunduk. Bukan ini maksudku, tapi ayah berpikiran begitu jauh.
"Apa kau beranggapan keren, kalau sampai menjajal status duda? Laki-laki, ngeduda? Hai, dia akan dipandang lain oleh semua orang yang berpikir dengan logika. Dia urus satu perempuan di rumah aja tak becus, bagaimana ngurus usahanya? Terus gimana tanggung jawabnya ke pekerjaannya, kalau tanggung jawabnya mendidik istri aja tak bisa? Kehormatan laki-laki itu pada tanggung jawabnya ke pekerjaannya. Pandangan orang tentang kau akan dipukul rata, kalau sekali kau tak bisa bertanggung jawab atas istri kau. Bukan cuma tentang didikan, tapi nafkah lahir batin, juga rasa kasih dan sayang kau. Kau tak bisa tanggung jawab ke istri kau, sama dengan kau tak bisa bertanggung jawab atas pekerjaan kau. Jangankan istri, Ayah dulu ngenalin perempuan sebagai tunangan Ayah ke kolega bisnis, terus Ayah nikahnya sama biyung kau, Ayah lari dari jangkauan kolega demi menyelamatkan nama baik Ayah dalam pekerjaan. Laki-laki, pebisnis, satu istri, sepuluh selingkuhan, itu tidak dipermasalahkan kolega meski mereka tau hal itu. Tapi laki-laki, pebisnis, riwayat cerai pisah bahkan yang gugat perempuan, bisnis kau rawan dipertanyakan kolega untuk jangka panjangnya. Ini menurut pandangan Ayah, yang berpikir menggunakan logika. Memang tak semua pebisnis begitu, tapi pemahaman Ayah tentang apa yang Ayah alami di kehidupan Ayah sendiri tuh begitu. Kau tau lagu un holly? Bukan rahasia lagi, dunia pebisnis itu ya toko perempuan hiburannya. Tapi dalam lagu tersebut, disebutkan juga kalau pebisnis itu ada istri. Bajingannya kita tak akan dipermasalahkan, tapi komitmen kita akan dijadikan tolak ukur kualitas diri kita pada bisnis dan kehidupan lainnya. Kau bisa berkomitmen dengan satu perempuan dan bisa mempertahankan, kolega akan berekspektasi tinggi tentang diri kau dan usaha kau. Ini di dunia logika, lain perasaan." Ayah sampai ngos-ngosan mengatakan hal itu.
Kenapa benar apa yang diucapkan ayah? Tapi kenapa juga tidak berkenan untuk hatiku? Atau terlalu jahat menurutku, meski aku tahu bagaimana kuatnya komitmen ayah dengan biyung.
"Ayah berpikir jauh tentang aku, Ayah beranggapan aku ini seburuk itu." Jakunku naik turun.
Aku pasti bisa menangis, jika ayah bersikap begitu padaku. Aku paling tidak bisa, jika orang tua sendiri berpikiran buruk.
"Terus Ayah harus berpikir apa? Ayah kasih saran, dibilangnya Ayah ini tak paham kau. Ayah kasih jalan tengah, biar kau bisa tetap sama-sama sama Izza. Apa kau ingin Ayah murka, terus berpihak pada kau dan minta kau tinggalkan Izza? Ayah tak akan pernah nyaranin anak untuk berpisah, kasus Jasmine kemarin aja yang beresin cerainya om kau. Ayah sadar anak perempuan Ayah banyak, kalau Ayah nyaranin kau cerai dengan Izza. Gimana nanti, kalau menantu laki-laki Ayah diminta cerai sama orang tuanya dan ninggalin putri Ayah? Ayah tak mau hal itu sampai terjadi, karena tak semua kasus perceraian itu kuat untuk mental semua orang." Ayah menekan suaranya dan menekan telunjuknya di dadaku.
Bukan aku ingin bercerai juga. Duh, bagaimana menjelaskannya. Aku ingin Izza yang mengerti tentang aku dan ia memperbaiki sikapnya pada keluargaku.
"Aku pengen Izza tuh sadar kalau dia salah, aku pengen dia itu mau ke sini dan akrab ke keluarga aku. Dia mau berubah dan dia mau memperbaiki hubungan kedepannya." Aku harap ayah paham kalimatku.
"Terserah! Ayah bilang begitu, karena biar sama-sama enak. Kau enak, Izza pun enak. Kalau begitu, Izza pasti tertekan karena keputusan kau. Intinya, terserah aja. Semoga Izza berumur panjang ya?" Ayah mengacungkan ibu jarinya.
Kok aku terkesan membawa penyakit untuk Izza. Setiap ayah berkata, selalu bisa menyinggungku.
__ADS_1
"Yah…." Aku menarik lengan ayah, karena beliau duduk memunggungiku.
"Terserah kau, Bang," tutur lembut ayah membuatku ngeri.
Dasar, Jefri Nichol kemasan tua dan jangkung.
"Bang…."
Panggilan itu membuatku menoleh ke sumber suara. Bunga, dengan daster panjang polos dan sweater yang pas di lengannya. Duh, perempuan nifas satu ini ingin membuatku pulang ke istri saja.
"Apa?" Aku menunduk kembali karena melihat diri bawah begini terlalu indah.
"Minta uang, GO-FOOD." Tangannya menengadah padaku.
"Kurang, Yah. Biyung ada dua setengah, ini GO-FOOD tiga setengah." Bunga menunjukkan ponselnya.
"Nih." Aku langsung memberikan sejumlah uang agar pas untuk makanan itu.
"Makasih, Bang." Ia beranjak turun dari teras.
"Abang kau aja, kau masuklah ke dalam," pinta ayah membuat Bunga melepaskan lagi sandalnya.
"Ini, Bang." Bunga memberikan ponselnya dan sekepal uangnya.
Seperti anak kecil, uang dikepal-kepal begini. Aku langsung meluruskan uang tersebut, sebelum akhirnya melipatnya menjadi satu. Pas, sejumlah tiga ratus lima puluh ribu.
__ADS_1
"Ayah keluar dulu ambil uang, bilang biyung." Ayah beranjak pergi dari teras ini.
Bunga masuk ke dalam, tapi setelah ayah pergi dengan motornya ia muncul kembali. Ia bersedekah tangan, dengan tersenyum miring.
"Apa kau? Hp kau? Tuh! Tak Abang apa-apakan." Aku memindahkan ponselnya lebih jauh dariku.
Android biasa, bukan seperti milik anak orang kaya seperti biasanya.
"Cie, mau jadi duda." Ia tertawa renyah.
Sialan! Ia meledekku.
"Sembarangan!" Aku menatap lurus ke depan.
Semoga ia tidak duduk di sini, karena aku bisa-bisa pulang ke Izza merengek ingin selang******nya. Malam ini pun aku berniat tidur di Zio saja, jika memang Bunga tinggal di sini.
Ia baru lulus SMA, tapi badannya sudah matang seperti lepas wisuda. Dadanya memang tak seberapa, tapi part belakangnya ini aduhai sekali.
Ah, mampus kau Chandra! Ia duduk di dekatmu malahan.
"Pacaran lama, masa nikahnya sebentar aja sih? Masalahnya apa sih, Bang? Kak Izza memang kurang apa?"
Mendengar pertanyaannya, aku malah melirik wajahnya. Ia duduk di sini, bisa-bisa benar aku akan pulang ke Izza. Lekuk pinggangnya terlihat jelas dari sini, bahkan empuk-empuk itu nampak besar dari sisi samping begini.
...****************...
__ADS_1