Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA190. Kamar Bunga


__ADS_3

"Aku pulang ya, Yah?" Aku melipir, setelah mobil terparkir di halaman rumah megah. 


Namun, kerah belakang bajuku malah ditarik oleh ayah. Kemudian, aku dirangkul oleh ayah untuk ikut masuk ke dalam rumah. 


"Bentar, Bang." Ayah menyunggingkan senyum lebar padaku. 


Hmm, untungnya ayahku tampan. 


Wajahku tergantung mood. Jika tengah kesal, ya sangar. Jika tengah senang, ya terlihat ramah. Tidak stay cool seperti ayah, aku mix wajah biyung. 


"Bunga…." Pakwa melenggang masuk ke dalam rumah lebih dulu. 


"Langsung ke atas aja deh keknya." Ayah melepaskan rangkulannya padaku. 


Aku menoleh pada Hema yang tertinggal di belakang. "Ayo, Hem." Aku melambaikan tanganku padanya. 


Hema mengangguk, ia berlari kecil setelah melepaskan sepatunya. Kurus sekali dia, mungkin berat badannya sekitar lima puluh lima. Untuk laki-laki tinggi, lima puluh lima itu amat kurus. Aku saja sampai hampir tujuh puluh, aku pernah turun sampai enam puluh lima saat Izza baru tiada. Sekarang sudah merangkak naik lagi berat badanku, tapi tidak pernah lebih dari tujuh puluh kilo. 


"Besar betul dalam rumahnya, Bang." Hema mengedarkan pandangannya. 


"Tinggi, jadi nampak megah." Aku merasa bangga dengan bangunan ini. 


Renovasinya hanya cat dan atap saja lebih seringnya, temboknya benar-benar kokoh dan kuat. Beberapa kali gempa kuat, rumahnya tidak ada kerusakan yang berarti. Paling, hanya barang-barang berjatuhan. Ya gempanya tidak begitu parah, cuma dibilang cukup kuat karena beberapa bangunan warga mengalami kerusakan. 


"Rumah siapa ini sebenarnya, Bang?" Hema masih menoleh ke kiri dan kanan. 


Ia berjalan beriringan denganku. 


"Rumah almarhum nenek dan kakek. Kalau kau nikah sama Bunga, tempati aja dulu rumah ini." Daripada kosong menurutku. 


Aku lebih betah diurus, tentunya diurus biyung. 


"Aku boyong ke Bekasi, Bang. Aku belajar terjun di pabrik, mau tak mau Bunga harus ikut. Pendidikan, bisa pindah ke sana." 


Aku langsung menoleh cepat ke arah Hema. Apa-apaan itu, aku merasa tidak setuju. Bagaimana kalau ia KDRT terhadap Bunga, sedangkan keluarganya tidak ada yang tahu? Aduh, pikiranku langsung rumit saja. 


Aku adalah manusia yang apa-apa menjadi beban pikiran. 


"Ayah punya pabrik pupuk, kau bisa belajar dari ayah. Pabrik pupuk kau bisa pakai tangan kanan, biar kau sama Bunga tetap di sini." Aku ingin adik-adikku kumpul semua di gang ini, agar terjangkau oleh mata. 


"Di mana pabrik pupuknya, Bang? Apa jenisnya sama?"

__ADS_1


Kami sudah menaiki tangga. 


"Di Cirebon, pupuk organik sih. Tapi kan sama pupuk." Aku mendengar percakapan ayah, pakwa dan Bunga dari tangga ini. 


"Ya lebih jauh lah, Bang. Cirebon loh, aku di Bekasi." Hema geleng-geleng kepala. 


"Ya kan belajar tak harus datang ke tempat." Aku menjawab asal. 


"Mana bisa! Itu ilmu nampak, ya harus dilihat langsung." Hema terpancing emosi dari suaranya. 


Sifatnya saja, sedikit-sedikit emosi. Bagaimana nanti dengan Bunga yang absurd itu? Apa ia akan selalu memarahi Bunga, membentak Bunga, atau bahkan menjatuhkan tangannya pada tubuh Bunga? Duh, aku tidak bisa berpikir jernih. 


"Tuh, ah!" Bunga tengah duduk di tengah-tengah ranjang dengan memeluk selimut tebal. 


Pendingin ruangan terasa begitu menusuk, kamarnya pun cukup berantakan dengan handuk basah di ujung ranjang. Rambutnya setengah kering, sepertinya ia sudah mandi wajib. 


"Ngobrol dulu makanya." Pakwa membuka pintu balkon, sedangkan ayah mematikan pendingin ruangan. 


Gila, rasanya seperti di freezer. Apa yang Bunga rasakan, dengan rambut setengah basahnya itu? 


"Hema…." Bunga memandang ke arah pintu. 


Pikiranku mulai berkelana membayangkan barang-barang yang ingin kumiliki, aku sering seperti ini jika hampir tertidur. Apalagi ingat dengan jumlah uang yang aku dapatkan, dari hasil tambakku. 


Aku ingin memiliki mobil sendiri, tapi jangan warna pink. Aku ingin memiliki Honda Jazz juga, tapi dengan warna putih. Honda Jazz memang identik dengan mobil perempuan, tapi rasanya keren jika memakainya dengan warna putih. Terkesan seperti barang mewah, ditambah beberapa modifikasi yang wah. 


Mobil milik Hema memang lebih mahal, tapi maksudku masa uangnya harus dibelikan mobil mahal? Kan lebih berarti, jika membeli tanah atau membeli ladang. 


"Ya, Bang?" Ayah menarik ibu jari kakiku. 


"Apa, Yah?" Kesadaranku terkumpul kembali. 


"Ish! Kau ini! Agak gemas aku sama keturunan Cendol, beda gitu loh sama keturunan Fira atau Putri." Pakwa geleng-geleng kepala dengan bersedekap tangan. 


"Anak laki-laki Gue ini, kebanggaan." Ayah malah menarik kakiku begitu kuat. 


"Ayah, ya ampun." Aku sampai terseret ke ujung ranjang. 


"Sini di balkon, biar enak ngobrolnya." Pakwa melebarkan pintu balkon. 


"Di kasur aja, Ayah! Aku lagi enak rebahan." Bunga merebahkan tubuhnya kembali. 

__ADS_1


"Capek ya? Berapa kali keluar?"


Aduh, aku kadang malu sendiri dengan mulut vulgar ayah. Ayah berbicara tanpa disaring dulu, tatapan pakwa sudah tak mengenakan. 


"Belum, Ayah Ipan! Ayah kok ngomongnya gitu?" Bunga sudah mewek-mewek. 


Aku tahu, dirinya akting saja. 


"Anak n*****t!" Ayah terbahak-bahak dengan menunjuk Bunga dan menoleh ke arah pakwa. 


Pakwa sampai melotot sempurna, dengan bertolak pinggang. Ngeri sekali pakwa ini, sedangkan ayahku santuy sekali. 


Ekspresi Hema seperti kena mental melihat tingkah mulut ayah. Pasti ia berpikir, ini pak tua mulutnya kotor sekali. 


"Berantem aja kita, Van! Anak aku perempuan loh, mulut kau e***t-e***t keluar! Kubuat kau berobat juga sekalian!" Pakwa sampai menaikan dagunya pada ayah. 


Ayah terbahak-bahak lepas, dengan melemparkan sebuah bantal ke arah pakwa. Hitungan kedua, pakwa langsung mengejar dan ayah langsung melompat ke tengah ranjang. Pakwa tidak tinggal diam, ia langsung naik ke atas ranjang juga dan menutupi wajah ayah dengan bantal tanpa menekannya. Pakwa memberikan pukulan ringan di atas bantal, yang berada di atas wajah ayah tersebut. Suara tawa ayah masih menggema, seolah gurauan mereka begitu menyenangkan. 


Aku bisa melihat Hema masih berdiri di ambang pintu, ia terlihat begitu terheran-heran dengan dua pak tua ini. Mereka sering berantem, adu mulut, cekcok, tapi cepat akur juga seperti anak kecil. 


"Ayah, jatuh aku nih." Bunga menarik-narik tangan pakwa. 


"Ayah Ipan kau buat emosi aja!" Pakwa menyudahi menganiaya ayah sampai terbahak-bahak itu. 


"Sini, Hem." Aku menepuk tepian tempat tidur berukuran 200 x 200 ini. 


Hema mengangguk, ia duduk di tepian ranjang di dekatku. 


"Aduh, bonyok Gue." Ayah bangkit dan menata bajunya. 


"Tau tak, Bang? Waktu kecil Ayah dimaki terus sama Pakwa kau, bangsat memang punya abang." Ayah kini merapikan rambutnya. 


"Pertanyaan kau banyak tak ngotak waktu kecil, buat emosi aja!" Pakwa duduk di ujung ranjang, berhadapan dengan Bunga. 


Pakwa sejajar dengan Hema. 


"Ya namanya juga mengabangkan orang yang dirasa lebih tua, wajar lah banyak nanya. Ehh, jadi gimana nih calon menantu?" Ayah melirik ke arah Hema. 


Hema kini menjadi perhatian kami semua. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2