Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA291-292. Alasan mogok kuliah


__ADS_3

"Iya tak apa, Abang suka Abang diurus. Makasih ya?" Aku mencolek dagunya lembut. 


Wajahnya langsung bersemu merah, seperti remaja yang merasakan jatuh cinta. Nahda seberbunga itu direspon suaminya, 


"Aku pun mau terima kasih, karena Abang udah menuhin nafkah untuk aku, kasih aku hunian, kasih aku kenyamanan di rumah, kasih aku kasih sayang dan cinta." Ia memeluk padaku, karena posisinya aku duduk di kursi dan dirinya duduk di lantai. 


"Sama-sama, Sayang. Itu semua kewajiban Abang dan hak Adek." Lebay sekali kami ini. 


"Aku betah betul kalau di rumah ada Abang." Ia mengurus betisku kembali. 


Rambut tidak terlihat, karena aku jarang bercelana pendek. Terserah Nahda saja, yang penting jangan mencabutinya satu persatu. 


"Abang pun betah di rumah ada Adek. Semangat kerjanya juga, ingat Adek di rumah tuh cantik dan nampak manis kalau pakai emas. Adek semangat tak kuliahnya, kan untuk bekal masa depan kita ngurus ladang." Ia mengambil semacam fakultas kehutanan atau apa gitu, jurusannya sama seperti kakek Adi. Kalau tidak salah itu awalannya teknik. 


Nahda mendongak. Mungkin ia bingung, kenapa aku menarik pembahasan ini. 


"Nanti usaha kita kek kakek dan nenek. Kakek kan punya ilmu di ladang, neneknya yang pandai memasarkan. Nanti Adek yang buat inovasi perubahan biar ladang kita bisa lebih menguntungkan dan modern, terus Abang maju untuk pemasarannya." 


Percayalah, aku lebih suka Nahda di rumah dan nonton film di laptopnya. Ketimbang ia sibuk dengan masalah usaha, atau masalah ladang begitu. Tapi mama Aca ingin anaknya itu produktif, papa Ghifar pun ingin anaknya mengemban pendidikan tinggi. Aku menyiasati cara ini, agar Nahda terbuka pikiran dengan alasan cintanya padaku dan ingin membantu segala usahaku. 


"Abang pengen aku punya ilmu tentang ladang untuk masa depan kita?" 


Nampaknya, ia mulai terhanyut. 


"Iya, biar kita bisa kasih penghidupan layak untuk dua anak kita. Kan Adek katanya mau punya dua anak aja. Punya ladang yang banyak, untuk masa tua kita. Rumah yang nyaman, ada halaman banyak kemanginya, biar kalau Adek capek masak, tinggal beli sambal sachet aja, terus Abang metik kemangi di halaman." Mulutku pahit sekali ya ampun, perasaan dulu aku tidak lebay begini. 


Sekalipun aku ingin masa depan kita seperti ini, tapi aku tidak akan mengatakannya. Biar berjalan dengan sendirinya dan terbukti tanpa aku ungkapkan. 


Nahda tampak tengah berpikir, bahkan tangannya tidak segera bekerja untuk mengangkat cream perontok bulu tersebut. 


"Abang pengen aku punya keahlian tentang ladang?"


Kenapa pertanyaannya diulang seputar itu saja? 


"Iya, Sayang. Abang pengen banyakin ladang porang, biar ladang yang ini panen, yang ini siap panen, yang ini baru tanam. Jadi kek pakcik Gavin, tiap bulan ngerasain panenan. Ekonomi stabil, kita tak kaya pas masa panen besar aja." Aku mempertahankan senyum menenangkan ini. 


"Cuma porang?" Matanya terlihat fokus mencari keyakinan di wajahku. 


Ada apa dengan Nahdaku? Apa yang ada di pikirannya? 


"Abang pengen punya ladang jati, tapi yang ngerasain panen nanti cucu kita." Aku terkekeh kecil. "Abang pengen punya kebun bambu, karena bambu di sini kan masih banyak orang perlukan. Banyak orang buat pagar dari bambu, tambahan kayu rumah, pintu, jendela, kandang ayam. Bambu cepat panen, sehari aja tumbuh ada lima sentinya kan? Sebatang panjang lumayan tuh, paling murah kan lima puluh ribuan. Yang terpenting, cepat mutar karena pasarannya masyarakat sendiri." Di sini masih banyak rumah panggung khas yang terbuat dari kayu. Tapi bambu cuma untuk tambahan saja, bukan bahan bakunya. 


"Abang pengen punya ladang kopi juga, pengen ngerasain pasar dolar. Produk kopi khas sini kan, masih jadi kopi termahal. Selain bisnis yang elit, kita tetap melestarikan sumber daya alam khas daerah kita." Kopi jenis arabika Gayo, search saja di Google agar bisa membayangkan bentuk dan pasarannya. 


"Abang suka selada, aku pengen punya kebun hidroponik untuk kasih makan Abang selada sesering mungkin. Di warung sayur jarang ada, kadang kala ada seikatnya mahal sekali."


Polosnya caranya berbicara. Aku terNahda-Nahda dengan apa adanya seorang Nahda. 


"Oke, semangat ya belajar hidroponiknya. Abang cuma tau budidaya toge di kapas itu." Nahda tertawa geli, mendengar ucapanku. 


"Apa harus belajar?"


Wah, mulai menjurus nih. 


"Apa yang buat Adek malas belajar? Abang aja masih belajar, Abang tanya ke pakcik Gavin, ke ayah juga, tentang usaha porang dan mengolah jahe itu. Ehh, ayah itu sampai belajar sama temannya, biar bisa bimbing Abang. Abang tak tiba-tiba bisa ngolah tanah, untuk budidaya porang. Abang belajar dulu ke pakcik Gavin, Abang sampai ikut dia ke Lampung loh." Basicku bisnis, semacam perkantoran. Bukan turun di lapangan begini, kan otomatis aku kaget dan harus belajar dari awal. 


"Enak di rumah, Bang. Enak jadi istri Abang, ketimbang aku harus duduk di kursi jadi mahasiswa. Suntuk, ngantuk, ngebosenin." Nahda menghela napas panjang. 


Enak jadi istriku ketimbang jadi mahasiswa? Boleh ya alasannya seperti itu? 


"Coba ceritakan, enak jadi istri Abang tuh gimana?" Pekerjaan apa yang membuatnya nyaman di rumah. 


Padahal, sama-sama capeknya menurutku. 


"Ya enak, jajan ya tinggal jajan, aku dikasih uang. Adik-adik banyak, suka berhentiin orang jualan, aku sekalian beli jajanan juga. Aku disayang-sayang, fasilitas enak, Wi-Fi ada, ranjang empuk, kaca besar, skincare punya semua. Pekerjaan rumah, capek bisa ditinggal. Coba tugas dari dosen, mana bisa kita tinggal? Yang ada, dosen ngancam ini itu. Tertekan diancam tuh, Bang. Di rumah, aku tak pernah diancam. Tak masak, paling Abang cuma nanya kenapa tak masak, setelahnya bisa order makanan atau kita keluar makan bakso di tempatnya."


Ohh, dia tertekan. 

__ADS_1


"Dosen mana yang suka ngancam? Ngancamnya gimana?" Mana tahu, aku perlu menegur. Tapi sebelumnya, akan aku pastikan dulu kesalahan ada di siapa. 


"Ya kalau tugas dikumpulkan hari ini, dapat nilai A. Tugas dikumpulkan besok, dapat nilai B. Tugas dikumpulkan lusa, dapat nilai C. Bagi yang tak mengumpulkan tugas, siap-siap dengan konsekuensi nilai akhir kalian. Halah, t**k tuh! Tak aku kerjakan sekalian, keluar juga aku dari kampus tak masalah."


Wuih…. Mulutnya. 


Nahda tengah membersihkan betisku dengan spatula, bulu-bulunya pun terbawa juga. 


"Ya maksudnya kan, biar Adek semangat kerjain tugas di hari itu biar dapat nilai A." Aku tidak yakin jika Nahda paham maksud dari dosennya itu. 


"Aku pasti tanggung jawab sama apa yang udah aku awali, tak perlu diancam tentang nilai akhir. Kalau Abang ngancam begini contohnya, ayo buatin kopi, kalau tak nanti abang ceraikan. Ya aku bakal langsung beli talak, aku bakal langsung urus perceraian, tak akan pernah aku buatkan kopi-kopi selanjutnya. Tak begitu caranya menyuruh, kenapa harus ngancam dengan nilai akhir? Kek anak TK aja, mesti diiming-imingi lanjutin mewarnai, kalau udah selesai boleh istirahat. Kita udah dewasa, kita tau kalau dikasih tugas ya dikerjakan. Tak perlu ada perkara dikasih nilai A, B atau C. Kalau caranya begitu, yang ada dosen tersebut hilang harga diri di mata aku. Tak akan pernah aku hargai lagi ilmu yang dia kasih, tak akan aku kerjakan semua tugas yang dia beri, tak akan aku hormati dia lagi."


Keras, mak. Lihatlah, ia mengucapkannya dengan kekesalan. 


"Dosen siapa yang begitu?" Aku akan berpikir ulang untuk menegurnya, supaya Nahda mau kuliah lagi. 


"Ya ada pokoknya, tak cuma satu orang."


Bingung juga, siapa yang salah sebenarnya. Nahda yang memang tidak mau diberi perintah, atau dosen tersebut yang caranya salah. 


"Ya Abang aja kan, nyuruh ambilin ambilin air putih tuh ada ucapan 'tolong'. Tolong ambilkan air putih untuk minum abang, kan gitu? Memang ada orang-orang terdekat aku nyuruh aku dengan ancaman? Apa pernah papa nyuruh aku, terus kalau aku tak mau nanti papa ngancam tak sayang aku lagi? Tak pernah tuh. Aku itu patuh, nurut, taat. Aku dididik selalu seperti itu, kalau perintahnya dalam hal yang baik. Kan perintahnya juga bukan seperti, sana jual diri! Kan tak begitu, Bang. Aku pasti kerjakan tugas, tak perlu diancam atau gimana."


Ya masa dosen akan mengatakan 'tolong, kerjakan tugas dari saya ya?'. Rasanya kok aneh, bukan? Dosenku dulu pun, memerintahkan seperti ini 'silahkan dikerjakan, agar tau kemampuan pemahaman kalian sampai mana'. Tidak ada yang meminta tolong, agar tugas darinya dikerjakan. 


"Beda dong, Dek. Nanti Abang ngomong sama dosennya, tapi Adek besok kuliah dulu ya? Tak semua perintah, harus diselipkan permintaan tolong. Tak semua orang menganggap kita balita, Dek. Orang-orang terdekat kita, orang tua contohnya. Memberikan perintah, dengan permintaan tolong tersebut karena kita dianggapnya anak kecil. Biar kita pun tak seenaknya nyuruh orang tua, kita nyuruh di saat kita butuh pertolongan. Contohnya, Adek lagi tanggung cebok di kamar mandi. Tapi teko siul Adek udah nyaring tuh bunyinya, ya Adek pasti nyuruh orang terdekat dengan permintaan 'tolong' tersebut, karena Adek sedang dalam kondisi tidak bisa segera mematikan teko berisik itu." Nahda ingin semua orang sesuai ajarannya di rumahnya. Ia tidak paham, orang lain dididik dengan cara yang berbeda. 


Sopan santun itu tolak ukur ajaran orang tua. Ya tapi, kita tidak bisa memaksa semua orang agar bisa bersikap baik pada kita dan memberikan kita senyum setiap hari. Mungkin kebiasaan mereka di rumahnya tidak seperti itu, mungkin ajaran mereka di rumahnya tidak seperti itu. 


"Ya kak dia berpendidikan, Bang. Banyak cara memerintah, tidak dengan mengancam." Nahda melipat bibirnya, ia kentara kesal dengan hal itu. 


"Adek tertekan dengan cara mengancam? Tak suka dengan ancaman nilai akhir itu?" Aku membingkai wajahnya. 


Nahda melirik ke bawah, kemudian ia mengangguk samar. 


"Ya, nanti besok kuliah Abang anter. Nama dosennya siapa aja yang suka ngancam? Nanti Abang komplain ke kepala dosennya, tentang cara mengajar mereka." Memang benar, tidak sebaiknya diancam juga caranya. Mungkin benar keputusan yang aku ambil ini, tidak salahnya untuk menegur secara halus dan sopan. Mana tau juga, dosen tersebut adalah dosen yang masih muda dan dosen yang memang baru jadi dosen. 


Diancam itu. Tidak enak, memang benar-benar tidak enak. 


Kemudian, ia fokus membersihkan sisa cream perontok bulu di betisku tersebut dengan tisu basah. 


"Tak, Dek. Tenang aja ya?" Aku suami Nahda dan aku yang menegur dosen yang bermasalah dalam mengajar tersebut, otomatis dosen pun tahu jika Nahda yang berkeluh kesah tentang dosen yang bermasalah tersebut. 


"Jadi siapa aja nama dosennya?" tanyaku kemudian. 


"Danny, Bani, Martino." 


Ohh, laki-laki semua. 


"Oke sip, besok berangkat ya? Nanti Abang antar kok. Jemputnya, Abang usahain ya?" Aku mengusap-usap kepalanya. 


"Siap, Abang." Ia tersenyum lebar. 


Dosen di tempatku kuliah boro-boro mau mengancam atau memperhatikan satu persatu mahasiswanya. Percaya atau tidak, mereka tidak peduli ada yang memperhatikan mereka atau tidak saat mereka memberi pelajaran di kelas. Entah siapa atau siapa yang tidak mengerjakan tugas pun, mereka tidak mempermasalahkan. Toh, yang rugi kan mahasiswanya sendiri. Perguruan tinggi di tempatku sekolah itu masuknya pendidikan elit, biayanya selangit. Siapa yang mau rugi bayar mahal, tapi tidak peduli dengan pelajaran? 


Mahasiswa dan mahasiswi di sana pun rajin-rajin. Nilai delapan puluh pun, mereka minta diberi kesempatan untuk mengulang, agar mendapatkan nilai yang sempurna. 


Apalagi mengancam, sepertinya mereka berpikir itu malah membuang waktu mereka. Kita para mahasiswa yang malah mengejar mereka, meminta bantuan agar mendapatkan arahan yang lebih mudah. 


Mahasiswa tidak ada yang komplain di belakang juga seperti Nahda. Mereka komplain di mading yang tersedia, nama jelas dosen yang kena kritik pun pasti ditulis di situ. Dosennya lagi, mereka tidak akan marah, atau mencari siapa pelaku yang memberikan kritik tersebut, malahan mereka akan memperbaiki cara mereka mengajar. 


Orang luar cuek-cuek, cek faktanya di acara jam enam di Trans7. Orang Indonesia perhatiannya luar biasa, apalagi tetangga sebelah rumah, mereka bagaikan CCTV. Tapi untunglah kita hidup di Indonesia, merasakan ramahnya tegur sapa dan perhatian sampai dosennya tahu jika Nahda tidak peduli dengan pendidikannya dan tugas-tugasnya. Dosennya pada sayang ke Nahda, tapi Nahdanya memang tidak jinak saja. 


"Udah licin belum betis Abang?" Aku merunduk melihat betisku sendiri. 


"Udah udah bersih semua sebatas lutut. Ada efek apa?" Nahda mengusap betisku lembut. 


"Dingin sih, kek shampo yang ada sensasi mintnya gitu. Tapi untuk cek alergi, sebaiknya Adek jangan langsung pakai deh. Nanti tunggu besok, betis Abang ada reaksi alergi taknya." Aku menarik tangannya, kemudian membantunya untuk bangun. 

__ADS_1


Dasar si part belakang besar, bangun pun agak kesulitan. 


"Aku bersih-bersih bekas ini dulu ya? Gih Abang ke kamar duluan." Nahda memunguti tisu bekas. 


Aku mengangguk, membawa laptop dan ponselku ke dalam kamar. 


Alhamdulillah, esok harinya aku mampu menyampaikan keluh kesah Nahda secara halus dan sopan. Kepala dosen, tidak tahu jika tiga dosen muda tersebut memiliki cara mengajar yang kurang. Benar dugaanku, dosen tersebut baru mengajar ke perguruan tinggi negeri ini kurang dari satu tahun. Pihak kampus meminta maaf, kemudian berjanji memberikan penataran kembali. 


Sebucin itu Nahdaku. Ia mengirimkan fotonya yang tengah belajar, dengan pesan yang membuatnya nyengir sendiri. 


Katanya, [semangat untuk nambah ladang].


Aku yakin ia akan sungguh-sungguh belajar, aku pun harus sungguh-sungguh menyiapkan dana untuk menambah ladang untuk macam-macam budidaya. Nahda orangnya tidak bisa dibercandain, dalam hal yang serius begini. Ia sudah mau berusaha untuk belajar memiliki basic ilmu budidaya, aku tidak boleh mengecewakan apalagi menyia-nyiakan ilmu dan kemampuan yang sudah ia dapat. 


[Bang, Kakak udah buat daftar kebutuhan habis punya Reynal. Minta tolong belanjakan, terserah kau mau pergi belanja sama siapa, nanti Kakak transfer uangnya.] satu pesan masuk datang dari kak Jasmine. 


[Aku ada uang, Kak. Kirim list kebutuhan sama mereknya juga aja, Kak.] balasku kemudian. 


Aku tengah berada di rumah ladang. Merokok di teras, dengan mendengarkan cerita dari orang kepercayaan yang mengurus ladang porangku selama ini. 


[Udah, tenang aja. Ini daftarnya, uangnya udah Kakak transfer.]


Keluargaku jika ada uang mesti sombong, begitu lah didikan ayah. Mungkin nanti aku belanja bersama Nahda sore nanti. 


[Oke, Kak.]


Tidak ada lagi balasan dari kak Jasmine. Aku berharap ia fokus kerja saja dan menjaga marwahnya, jangan lagi mainan laki-laki nanti dirinya merugi lagi. Meskipun ia kakakku dan bukan saudara kandungku, aku sedih ketika kemalangan menghampirinya. 


"Pupuk dari bang Wildan kan memang udah berhenti, Bang. Baiknya gimana? Stok udah menipis juga." 


Aku menoleh padanya dan memperhatikan wajahnya. Benar, aku teringat tentang Hema dan kakak perempuannya yang sudah bagi waris itu.


"Aku hubungi seseorang dulu ya? Jangan dulu ambil dari orang lain." Hitung-hitung membantu melancarkan usaha yang berpindah tangan pada Hema, agar ekonomi Hema dan Bunga nanti tetap stabil. 


"Siap, Bang. Silahkan." Ia mengangguk mantap. 


Semoga Hema tidak dalam kondisi bingung karena reaksi obat. Aku lekas menghubunginya, agar masalah pupuk ini terselesaikan. Syukurlah, langsung diangkat oleh Hemanya. 


"Siap, Bang. Gimana nih, Bang?" ucapnya langsung tanpa 'hallo' atau salam terlebih dahulu. 


"Lagi di mana, Hem?" Aku melirik ke arah jam tanganku. 


Pukul setengah sepuluh pagi. 


"Habis nganter Bunga berangkat kuliah, Bang. Ini lagi di jalan pulang lagi," jawabnya kemudian. 


"Singgah ke rumah pupuk ya? Mau ngobrol." Aku memperhatikan langit terik hari ini. 


"Siap, Bang. Ada ayah tak di situ, Bang?"


Aku menyuruhnya ke sini, agar enak mengobrolnya lebih jelas. 


"Tak ada, pagi tadi sih ayah berangkat ke gudang kayu yang di sini. Kenapa gitu?" tanyaku kemudian. 


"Ayah janjikan mau ke Bekasi, mau kasih arahan. Ada orang kepercayaan ayah aja di sana, tapi kan aku tak tau apa-apa tuh." 


"Nanti malam aja ke ayah, pasti ada biasanya sih. Abis Isya tuh ada, Hem," ujarku kemudian. 


"Oke siap, Bang." 


Tak lama kemudian, Hema datang dan kita mulai membahas perihal pupuk. Hema menghubungi orang kepercayaan ayah yang diberi pegangan mengurus usaha Hema, karena Hema mengatakan tidak tahu apa-apa caranya memesan barang dengan pemasaran jauh begini.


Ehh ternyata, malahan pakcik Gavin dan saudara yang lain pun ternyata order pupuk dari usaha warisan yang Hema dapat. Permasalahan selesai, karena pengiriman pupuk akan segera dikirimkan dari sana. 


Bukan di sini tidak ada yang jualan pupuk. Tapi jika bisa membantu usaha orang sendiri, ya kita akan usahakan dulu untuk menjalin kerjasama tetap. Ya seperti dengan Hema begini. 


"Bang, kakak ipar Nahda ada di rumah tak? Minta tolong siapkan barang-barang untuk hantaran, nanti uangnya aku transfer. Bunga mampu sebenarnya, tapi aku pengen surprise tuh. Dia tak ikut campur dan tak tau-tau, eh tiba-tiba barang kebutuhannya di bantaran ada semua," ungkap Hema setelah habis pembahasan. 

__ADS_1


Wah kebetulan, selera mereka kan hot-hot juga. Jenis-jenis sholehot, pasti Nahda paham selera pakaian hantaran atau barang lainnya untuk Bunga. 


...****************...


__ADS_2