
"Tak, Ayah." Chandra melirik kekasihnya, ia yakin kekasihnya mendengar suara lantang ayahnya.
"Kau ini aneh!" Givan tidak bisa mengerucutkan persepsinya dengan kecurigaannya pada anak laki-lakinya.
Bukan Ceysa yang mencurigakan, tapi Chandra membuat ayahnya begitu curiga padanya. Ia tahu anak laki-lakinya merokok pun tidak, jangankan berbuat macam-macam di club malam. Tapi, ia merasa ada yang anak laki-lakinya tutup-tutupi. Perihal gagal wisuda pun, cukup membuat Givan terheran-heran. Peringkat satu sampai tiga, selalu anaknya dapatkan dari pendidikan sekolah dasar. Rasanya tidak mungkin, jika anak laki-lakinya malah mendapat kegagalan di luar fakta yang ia ketahui tentang kemampuan anaknya.
"Maaf, Ayah." Chandra memeluk Cali yang masih berada di pangkuannya.
Ia merasa bersalah, karena banyak menutupi kebenaran yang ada. Ia merasa menjadi pembohong, meski ia hanya mencoba mengikuti adiknya. Jika menurut inginnya, Chandra tidak akan mengambil hal ini.
"Biar aku yang ngomong, Bang. Anak udah besar, kau masih marahin aja." Ghifar mendekati kakak satu ibunya, Givan.
Givan masih menelisik kebenaran di mata anaknya. Sorotnya tajam, terlihat amarahnya tertuang di sana. Tidak banyak yang tahu, karena mereka duduk di ruang keluarga. Sedangkan keluarga yang tengah berkumpul, berada di ruang tamu.
Ghifar menarik keponakannya yang pernah ia asuh, untuk mengikutinya ke halaman belakang. Ghifar tidak ingin keributan antara ayah dan anak itu terjadi, di hari mereka merayakan kemenangan dengan berkumpul bersama.
Izza langsung murung, ia terpikirkan ucapan calon ayah mertuanya. Ia beranjak untuk mencari kekasihnya, ia ingin menuntut penjelasan dari kekasihnya. Ia khawatir, prasangka calon ayah mertuanya itu benar. Ia tidak bisa tenang, jika tidak menjelaskan secara langsung.
Baru saja Ghifar ingin membuka suaranya, sudah dikejutkan dengan kehadiran Izza di dekat mereka yang duduk di halaman belakang. Chandra menyadari, ia melirik melihat ke arah kekasihnya.
__ADS_1
"Ayah kau mau kau di sini. Ayah kau mau anak-anaknya kumpul, dia trauma masa lalunya jauh dari orang tua." Ghifar menasehati pelan, dekat dengan telinga Chandra.
"Aku pasti di sini, Pa. Aku pasti nurut. Aku pun langsung pulang lagi." Chandra merasa belum bisa mengatakannya saat ini.
"Kau bisa cerita ke Papa, nanti Papa bantu sampaikan." Ghifar mencoba tidak terganggu dengan kehadiran Izza yang sudah duduk di samping Chandra.
Ia tahu Izza sudah begitu dekat dengan keluarga di sini. Hanya saja, ia tetap merasa tidak nyaman jika ia ingin menyampaikan nasehat. Tetapi, Izza ada di sekitarnya.
"Setelah aku pulang lagi, aku pasti jelaskan semuanya." Chandra bingung ingin menjelaskan, jika Dayyan tidak berada dalam dekapannya.
"Kau punya rahasia besar?" Ghifar merasa tidak ingin mencampuri, tapi ia butuh keterangan untuk ia jelaskan pada kakaknya. Ia ingin kakaknya mengerti permasalahan Chandra, ia ingin kakaknya memberi kelonggaran untuk Chandra bisa menyelesaikan masalahnya.
"Tak ada manusia yang lurus-lurus betul. Bukan tak ada sih, tapi Papa tak pernah nemuin." Ghifar bukan tidak percaya dengan pengakuan Chandra, hanya saja ia merasa anak muda pasti penasaran dengan dunia luas.
"Nyatanya ada." Chandra menghela napasnya.
"Tak mungkin rasanya." Ghifar bahkan merasakan bagaimana dirinya sendiri saat muda.
"Udah jangan ngaku suci-suci betul!" Ghifar mengusap-usap punggung Chandra. "Tak nakal di dunia malam, dengan berpacaran lama kali pun kau macam nyari b*bi speak halal," lanjutnya kemudian.
__ADS_1
"Pa…. Perempuan itu tak mau ngerti kalau kita punya urusan lain. Papa juga ngerasain kan, gimana hidup dengan tiga kali pernikahan Papa."
Inilah yang tidak disukai Ghifar dari Chandra. Karena anak muda tersebut langsung menjadikan lawan bicaranya contoh, untuk mengoreksi diri sendiri.
"Suatu saat, kau akan ngerti tentang komitmen. Bukan sekedar tentang kau dikekang istri dan istri ngebatasin. Kalau kau punya istri, tapi masih mau tengah malam ada di kedai kopi. Ya mending jangan dulu nikah." Ghifar terpancing emosi. Ia merasa suara lembutnya tiada guna, jika sudah berdialog dengan keturunan kakaknya.
"Ya makanya aku tak mau ambil resiko untuk nikah dulu. Ini bukan tentang kedai kopi, tapi karena cinta aku pasti terbagi. Terbagi untuk siapa? Ya untuk adik-adik aku, aku wali mereka, tanggunganku besar untuk mereka. Aku tak bisa lepasin mereka gitu aja, sampai akhirnya tanggung jawab aku berpindah tangan." Nada suaranya Chandra naik satu oktaf, membuat Ghifar geleng-geleng kepala dan ingin menggetok kepala keponakannya itu.
Ia di rumah tidak terbiasa dengan suara anak-anaknya yang meninggi. Bahkan Ra yang merupakan keturunan Givan yang menjadi anak asuhannya, bisa berbicara dengan nada lembut padanya. Menurutnya, benar-benar tidak sopan jika anak-anaknya meninggikan suaranya padanya.
Izza diam menyimak. Akhirnya, ia mengetahui alasan di balik dalih Chandra selalu mengulur pernikahan mereka. Ia berpikir juga, apanya Chandra berpikir bahwa dirinya tidak layak jika menjadi istri Chandra yang memiliki banyak adik. Karena Izza berpikir, bahwa Chandra tidak memiliki keyakinan bahwa dirinya sanggup dan mengerti akan menjadi istrinya.
"Heh! Dasar, anak Ipan! Ayah kau tak pernah marahin kau ya, kalau kau ngomong kencang begini?!" Ghifar menepuk paha keponakannya.
Chandra melirik pamannya, ia sadar sudah berlaku tidak sopan. "Maaf, Pa." Ia tertunduk kemudian.
"Asal kau tau aja, Bang! Tanggung jawab kau tak akan pernah ada habisnya. Giska, bibi kau, ibunya Hadi. Disakiti suaminya, Giska tak terima, Papa tak terima, Papa bisa minta balik Giska dari Zuhdi. Tanggung jawab wali itu, bukan cuma sampai menikah. Tapi, sampai mati! Ngakunya kau pandai agama, begitu aja kau tak tau. Jadi, mau kau tunda-tunda pernikahan kau sampai habis masa perwalian kau. Kau akan tetap jadi wali adik-adik kau. Jadi nikah sekarang ataupun nanti, kau tetap akan direpotkan adik-adik kau. Ini bukan waktunya Izza suruh tunggu kau beres, tapi kau harus kasih tau izza untuk pahami posisi kau. Tanggapan perempuan pasti beda-beda, dari mama Kin, tante Novi sampai mama Aca. Mama Kin ngebebasin materi untuk adik-adik Papa, tapi mama Kin nguasain waktu Papa untuk adik-adik Papa. Tante Novi, materi genggam, waktu pun dipermasalahkan. Mama Aca, asal terbuka dan bilang apa yang dibutuhkan adik-adik Papa. Waktu pun diizinkan, asal pengertian dan tau waktu. Papa tak bisa kek ayah kau kasih uang ke Giska contohnya satu juta, bilangnya setelahnya. Kalau Papa harus bilang dulu, baru kasih uang. Karena mama Aca ingin dihargai, ingin jangan dilangkahi. Kata dia, bukan dia pelit, tapi hanya mau dihargai dan diminta pendapat. Izza, suruh ngerti keadaan kau terus. Itu menyiksa yang ada, kau tak akan ada rukun-rukunnya. Harus ada keterbukaan, pengertian dan pemahaman."
Chandra dan Izza langsung memperhatikan Ghifar dengan seksama.
__ADS_1
...****************...