Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA194. Mengadu


__ADS_3

"Kenapa kau?" Ayah mendekatiku yang tengah menikmati angin sepoi-sepoi di teras rumah sore ini. 


Setelah dari rumah Bunga, aku tidur siang sampai sore tiba. Selepas bangun tidur, aku mengumpulkan nyawa di teras rumah dengan menikmati sapuan angin alami. 


"Pengen kawin?" lanjut ayah kemudian. 


"Tak pengen nikah juga kali, Yah." Aku belum menyampaikan tentang masalah Ra, karena ayah pun tengah tidur saat aku pulang dari tempat Bunga. 


"Barangkali pengen nikah, Rukayah pun jadi kan?"


Ayah mulai mengeluarkan kandidat yang ia miliki untukku. 


"Teman SD, tak mau. Mukanya judes betul, dia pun lebih cantik muka judesnya ketimbang kalau senyum." Mana setiap hari ia mengenakan hoodie oversize. 


Mirip-mirip seperti gaya anak tomboy, ia tidak pernah mengenakan gamis atau rok di hari lebaran atau pengajian juga. Ia menggunakan kacamata berframe hitam, di mana kacamatanya berjenis fotocromic, yang berubah warna menjadi hitam jika terkena sinar matahari. Ia terlihat cool dan berwibawa dengan hoodie dan kacamatanya itu, pantas memang tapi aku suka wanita yang feminim. 


"Dengan begitu kan laki-laki jadi segan sama dia, tapi dia ramah ke Ayah kok. Kalau tak cocok, gimana kalau Hani?" 


Satu kandidat dikeluarkan lagi. 


"Aisy Hayani? Yang rumahnya di belakang ruko galon ibu itu? Anaknya temen Ayah?" Dia orang dekat, tetangga rumah. 


"Iya, anaknya Eva teman SD Ayah. Sebagai ucapan terimakasih Ayah, karena dulu dia di persidangan mau jujur dan buka semuanya." Ayah terkekeh kecil. 


Masa aku dijadikan upah. 


"Kasian masih kecil dia." Aku mengeluarkan pendapat. 


"Kecil orangnya aja, umur kan beda dua tahun sama kau. Kecil dulu, kan kau sering main ke dia juga. Cari alasan aja kau!" Ayah mengeluarkan lirikan pembunuh. 


Hani bercadar, Islamnya hebat sekali. Ia beberapa kali khatam Al-Qur'an di masjid, di pesantren salafi. Aku. Khatam Al-Qur'an di rumah memang sering, tapi di masjid kan baru dua kali. Di pesantren dulu pun tiap tahun aku khatam Al-Qur'an, tapi aku merasa agamanya lebih bagus dariku. Aku minder, aku segan padanya. 


"Dia bercadar, Ayah." Aku memperhatikan wajah ayahku dari tempatku. 

__ADS_1


Beliau tengah duduk bersandar pada tiap beton teras. 


"Kenapa memang? Itu kan komitmen masing-masing. Bercadar pun, dia pakai baju modern. Abaya yang punya motif, punya warna, bukan hitam aja."


Ya memang sih, cadar modern. Bukan serba hitam, seperti cadar di zaman aku kecil. 


"Minder, segan, Yah." Aku menatap langit-langit teras. 


"Ayah pun segan sama biyung, lulusan pesantren. Ayah apa? Lulusan penjara. Tau diri memang penting, tapi usahakan diri lebih baik lebih penting. Kalau memang minder, usahakan diri ini bisa lebih baik dari sebelumnya. Lagian selurus-lurusnya sifat perempuan, dia ini pasti bengkok juga. Biyung banyak plusnya, minusnya pun lebih banyak. Orang luar tak nampak aja, orang luar taunya plusnya aja. Sama kalau kau belum kenal Hani, kalau udah satu rumah pun kaku ulu hati juga nantinya. Rajin urus rumah, mungkin tak rajin di ranjang. Rajin ibadah, mungkin tak rajin urus suami. Hebat parenting, mungkin bisa jadi tak hebat dalam interaksi dengan mertua. Kan kita tak tau juga gimana, kalau belum kenal dan belum jadi keluarga. Nah udah begitu, barulah kau bertugas untuk didik, luruskan pelan-pelan biar tak patah. Kau udah bagus didik Izza, mungkin tugas kau sekarang kan didik yang lain kan?" Bisa saja ayah dalam menasehati. 


"Jangan bilang selera kau Jessie?!" 


Aku langsung menoleh cepat pada ayah. "Tak juga, cuma ganggu konsentrasi aja. Kalau Ayah bisa handle Ra, aku tak apa deh diungsikan sementara. Kalau aku tiba-tiba nikah sama gadis sini, takutnya Jessie tetap recok, atau bahkan jadi orang ketiga." Aku mencoba mengalihkan topik pembicaraan. 


Sebenarnya, aku memang belum ingin menikah lagi saja. Mobil tak punya, rumah diberi, setidaknya usahaku harus naik dulu. Porang baru siap tanam, belum ada hasil dan perkembangan. 


"Ra kenapa?" Ayah merendahkan suaranya. 


"Ra modifikasi mobil itu." Aku menunjuk mobil pink hello kitty itu. 


"Dia balap mobil di ladang," lanjutku kemudian. 


"RAAAAAA! CAERA!" pekik ayah lepas dengan menoleh ke arah rumah baru yang diperuntukkan untukku. Namun, ditempati oleh Ra agar tidak kosong. 


"Ya, Ayah," sahutan itu lamat-lamat. 


"CEPAT KAU!" Suara ayah menggelegar sekali. 


Di ujung barisan rumah kanan, ada menantu yang tengah menyapu teras. Istrinya Zio sampai mematung, sebelum akhirnya ia menyibukkan diri lagi. 


Ia selalu datang di waktu biyung melipat baju setelah sholat Isya. Paginya ia tetap berjualan es teh di depan kampus, sampai sore hari. Zio mengambil pekerjaan menjadi sopir travel usahanya sendiri, ia pun kini kuliah hanya di hari Sabtu-Minggu saja. Pikirannya berkembang, karena ia memiliki tanggung jawab mencari nafkah. 


Kehadirannya melalui cara yang tak baik, bukan berarti ia menjadi laki-laki yang tak baik juga. Hidupnya lurus, berkat asuhan biyung dan didikan ayah yang kejam. Ya kejam kadang-kadang, karena ya kalian tahu sendiri saja. 

__ADS_1


Istrinya Zio cukup dekat dengan biyung, tapi nampak segan pada ayah. Namun, ia begitu hormat dan sopan pada ayah. 


"Aku lagi ganti baju, Yah." Suara pintu terbuka, diikuti dengan penampilan Ra yang bertudung handuk. 


"Sini kau!" Ayah menepuk tempat di sebelahnya. 


"Apa tuh, Yah?" Ra melangkah tergesa-gesa. 


Perempuan, tinggi besar. Apa karena ayah tinggi? Tapi anak perempuan yang lain tidak ada yang sebesar dirinya. 


"Kau tertarik dunia mobil? Suka balap?" Pertanyaannya lembut ayah tidak dibarengi dengan tatapan ayah yang begitu sangar. 


Ra langsung memelototiku. "Abang!!!" Ia langsung menyerangku dengan cubitan tangannya. 


"Awas aja ya, Abang ngaduan. Kalau aku tau belang Abang pun, aku laporin ke Ayah!" Ancamnya ditengah tangkisan tanganku. 


"Ayah, itu anaknya!" Aku mencoba meminta pertolongan ayah, pedas sekali cubitan Ra di perut dan dadaku. 


"Sini Ra!" Ayah menarik tangan Ra. 


Sampai handuk di kepala Ra terlepas, karena serangannya brutal sekali. 


"Abang nyebelin betul! Mentang-mentang gak punya istri, recokin aku terus!"


Detik itu juga, aku melihat ayah mencubit mulut Ra. Ayah tidak pernah seperti ini sebelumnya, mulutnya saja yang heboh biasanya. 


"Dia pun tak mau tak punya istri tuh, Ra! Kau kalau buat drop orang, jangan senggol hal yang di luar kehendaknya. Lebih baik kau senggol dia dengan sikapnya, biar dia bisa berubah menjadi lebih baik! Udah gede, ampun! Mulut tak ada filternya." Ayah memarahi Ra di depanku. 


Ra langsung tertunduk dengan bibir mengerucut. Ayah pun tak sadar juga rupanya jika mulutnya kasar, kadang pun tak ada filternya juga. Siang tadi pun pakwa marah gara-gara mulut ayah yang frontal ke Bunga. 


"Abangnya tuh, Yah!" 


Drama queen juga, Ra sama cengengnya. Inilah yang membuatku berat untuk meninggalkan adik-adikku, bagaimana mereka kalau aku ke Singapore? 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2