Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA188. Sosok Hema


__ADS_3

Hema lebih dulu datang, ia langsung berdiri dari duduknya dengan pandangan mata kagetnya. Pastilah kaget, aku datang dengan dua bapak-bapak berpostur tinggi gagah. Ngomong-ngomong, Hema pun sudah tahu siapa pakwa di hari ia berkunjung itu. 


"Ini, Bang? Iparnya si Wildan kan?" Ayah rupanya mengenali Hema. 


Kami bertiga berjabat tangan dengan Hema secara bergantian. Hema bisa tersenyum samar, mengakrabkan dirinya sendiri dengan kami semua. 


"Betul, Pak," jawab Hema kemudian. 


"Wildan yang mana?" Pakwa memandang ayah setelah dirinya duduk. 


Alhamdulillah, santai. Tidak terjadi baku hantam, atau bentakan yang menggetarkan mental. 


"Yang dagang pupuk, langganan pupuk ladang. Bloknya Izza, Bang." Ayah mengangkat tangannya, memanggil pelayan coffee shop. 


"Ohh." Pakwa menguap dan meregangkan otot lehernya. 


"Bang," panggil Hema pelan, dengan menyikut lenganku. 


"Hmm, kenapa?" Perhatianku teralihkan dari memperhatikan pelayan yang datang ke arah meja kami. 


"Nanti, pesan kopi dulu." Ayah mungkin memahami raut wajah Hema. 


Ayah memesan empat kopi dengan cemilan berupa singkong yang dimodifikasi lebih modern. Pakwa mulai merokok, aku pun mengikuti caranya juga. Tapi di rumah belum puas merokok, sudah dipatahkan oleh ayah. Awalnya seolah santai saja, tapi diam-diam langsung mematahkan rokok milikku. 


"Ini…. Tentang Bunga ya, Pak?" Hema sepertinya tidak sabar untuk mengetahui maksud kedatangan kami semua. 


"Santai aja dulu, kopi kita belum datang." Ayah bersuara lagi. 


Ayah yang memang terlihat santai, sedangkan pakwa terlihat gelisah. Bagaimana tidak bingung, jika laki-lakinya model Hema begini. Tampilannya begitu tidak meyakinkan, tapi ucapannya yang aku ceritakan pada pakwa begitu mantap. 


"Kau dari rumah, Hem? Ipar kau kasih izin kau keluar?" Aku masih ingat tentang Hema yang dilarang keluar rumah. 


"Tak ada bang Wildan, cuma memang kakak perempuan aku wawancara dulu. Aku kasih lihat aja panggilan telepon dari Abang tadi, kata aku ini Bang Chandra ngajak ngopi di luar. Katanya ya udah, nanti kirim PAP." 


Mendengarnya bercerita, aku jadi teringat dengan Hadi. Hadi yang begitu terbuka, seperti cara Hema bercerita. 


"Udah kirim PAP?" tanya ayah kemudian. 


"Belum, Pak." Hema menggeleng polos. 

__ADS_1


Bagaimana dirinya? Bahkan bajunya belum ganti. Belum mandi besar rupanya itu bocah, aku jadi khawatir ia belum mengerti tentang adab berhubungan suami istri. 


"PAP dong, sini foto bareng." 


Ayah membuatku terkekeh, ia bersikap seolah pada anak perempuannya. Padahal Hema orang luar dan dirinya baru bertemu hari ini dengan ayah. 


"Iya." Hema tersenyum lebar, kelihatannya ia sudah lebih rileks. 


Rupanya, ayah mencoba menghantar suasana santai agar Hema bisa rileks. Kemungkinan juga, agar Hema buka semua ceritanya tanpa canggung. 


Kami berempat berfoto bersama, dengan Hema yang berada paling depan memegangi ponselnya. Lucu sekali, seperti tongkrongan seumuran. 


"Ngomong-ngomong, kenapa kau dilarang keluar sama ipar kau? Kalian tak akur? Wildan aja keluyuran terus loh, malam minggu dia sampai dini hari di tempat futsal." Ayah terlihat begitu akrab. 


Akrab dibuat-dibuat nampaknya sih. 


"Aku masih dalam masa rehabilitasi, wajib lapor juga, Pak."


Mampus, mulutnya sendiri yang membuka. Untung mulutku sejak tadi sudah menahan-nahan, jadi tidak begitu dosa. 


"Hah?" Pakwa begitu kaget. 


"Ohh, Bapak pernah di rumah rehab juga? Berapa bulan lepas, Pak? Saya udah setahun lebih belum bisa lepas resep psikiater, udah sebulan juga nyoba ke psikolog, jadi rutin di dua tempat."


Memang apa bedanya? Aku jadi menggaruk kepalaku. 


"Psikolog fokus terapi kejiwaan, psikiater kasih obat biar dia tak ketergantungan barang haram lagi." Ayah menepuk bahuku. 


"Ohh gitu." Aku manggut-manggut karena baru tahu. 


"Kau kena masa tahan juga?" Pakwa masih berekspresi seperti terheran-heran. 


"Iya, kurang lebih delapan bulan. Satu bulan proses sidang, udah kena tahan juga. Tapi divonis tujuh bulan masa tahan, setelah beberapa kali sidang." Hema berkata persis seperti ceritanya padaku, ia tidak menutupi identitas dirinya. 


"Rehab di mana awalnya?" tanya pakwa kembali. 


"Di RSKO Jakarta, Cibubur. Terus orang tua meninggal, diurus pindah ke sini semua termasuk rumah rehab aku. Sekarang aku rawat jalan rehabilitasi di RSUD Bener Meriah, Pak." Hema menjawab dengan mantap. 


"Maaf sebelumnya, bukan Saya membanggakan keburukan Saya. Tapi Saya hanya ingin kalian tahu identitas Saya, agar tak kaget kalau ada orang lain yang bilang tentang diri Saya. Bunga pun udah tau siapa Saya dan keadaan Saya," lanjut Hema kemudian. 

__ADS_1


Pelayan datang dengan membawa pesanan kami, ayah langsung membantu menempatkan dengan benar di depan masing-masing dari kami. Ayah tersenyum ramah dengan berterimakasih pada pelayan. 


"Orang tua riwayat sakit apa?" Pertanyaan pakwa membuat aku, ayah dan Hema bertukar pandang. 


"Bapak darah tinggi, meninggal karena serangan jantung. Mamah diabetes dengan luka basah, meninggal karena serangan masa jantung aku kena tangkap tangan."


Apa motivasi Hema agar jujur semua? Kan ia jadi terlihat banyak minusnya. Pasti pakwa memikirkan penyakit yang biasanya diturunkan ke anak cucu itu, pasti pakwa berpikir ulang untuk menikahkan Hema dengan anaknya. 


"Bapak kau serangan jantung karena kau kena tangkap juga kah?" Pakwa terlalu serius. 


"Tak, bapak serangan jantung di rumah sakit. Entah karena faktor apa, tapi kondisi bapak udah lama rawat inap di rumah sakit. Bapak jatuh di pabrik pengolahan pupuk, dengan tekanan darah yang lagi tinggi. Diagnosis katanya kena struk, bapak benar-benar lumpuh setelah sadar. Terus bapak dirawat inap terus, karena darahnya tinggi terus. Hampir sebulan keknya di rumah sakit, terus dapat kabar mendadak di kondisi aku lagi 'hilang sadar', sampai datang sadar aku merasa betul-betul bersalah ke bapak karena sorenya bapak ada minta aku untuk datang ke rumah sakit." Wajahnya sendu dengan pandangan kosong. 


Hema membuat tanda kutip dengan jemarinya, saat mengatakan hilang sadar. Mungkin maksudnya, saat ia dalam pengaruh obat-obatan terlarang. 


Ternyata, semua orang memiliki penyesalan dalam hidupnya. Aku sampai saat ini begitu merasa menyesal membawa Izza berobat dan membubuhkan tanda tangan izin keluarga bahwa dirinya dioperasi. 


"Berarti, bapak dulu baru mamah kau?" Pakwa bersedekap tangan menyimak cerita Hema. 


Wajahnya masih datar saja, entah opsi apa yang nantinya diambilnya. 


"Iya, bapak dulu baru mamah. Setelah bapak empat puluh hari, aku kena tangkap, mamah wafat. Untungnya, aku dapat izin untuk datang ke pemakaman mamah." Hema sudah lebih rileks, dengan pemilihan kata yang tidak sedikit baku seperti awal. 


"Siapa ipar kau tadi?" Pakwa memejamkan matanya dan menyugar rambutnya. 


"Bang Wildan, Pak," jawab Hema kemudian. 


"Oke, asli orang mana kau? Wildan kan asli orang sini. Berarti kau adik dari istrinya Wildan kan?" Pakwa terlihat jelas tengah mengorek asal-usul Hema. 


"Betul, Pak. Aku asli Bekasi, aku pun dua bersaudara." Hema sampai menambahkan informasi lengkap. 


"Ehh, dia ini yang hari itu main ke Gavin kan? Yang Pakwa bilang dia mirip sama om Edi adiknya kakek kau itu, Bang." Pakwa mengerutkan dahinya dengan memandangku. 


Lah, baru ingat rupanya. 


"Iya, Pak. Itu aku, aku datang hari itu untuk ambil tugas di Bunga."


Aku yang ditanya, Hema yang menjawab. Tapi berani sekali Hema ini. Apa pendapat kalian tentang sosok Hermawan ini? 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2