
"Oleh-olehnya banyak kali, ya ampun." Om Vendra geleng-geleng kepala, saat aku dan Nahda sedang packing.
"Om harus tau, kalau ipar aku banyak." Nahda menghela napas berat, kemudian melirikku.
Om Vendra tertawa dengan memegangi perutnya. "Mana perempuan semua lagi iparnya, itu ujian rumah tangga kau." Celetuknya kemudian.
Adik-adikku aman-aman saja, dibilangnya ujian rumah tangga.
"Dari awal itu sih. No problem, yang penting tidur sama aku terus." Sempat-sempatnya Nahda menarik rahangku dan mencium pipiku.
"Hamili, Bang. Hamili, Bang. Kunci perempuan kau biar tak bisa lepas." Om Vendra terkekeh dengan menepuk pundakku semangat sekali.
"Tak lah, aku pandai kali. Tak kek istrinya Om yang di sana itu, tak paham dia kalau lagi dikunci," sindir Nahda lirih dengan kerlingan genit.
Om Vendra ternganga. "Idih sial, bajingan juga rupanya." Tawanya membahana sampai terpingkal-pingkal.
Masa iya Nahda bajingan? Ia hanya genit sedikit saja.
"Sembarangan, Om tuh! Menantu yayah Ipan nih, dobrak dong." Nahda bergaya sombong membusungkan dadanya.
Aku tak bisa menahan tawa, aku meraup wajahnya dan kami tertawa bersama. Partner ayah ini sih, sombongnya satu dua dengan ayah.
"Kau diajarin apa sama yayah Ipan?" Om Vendra duduk di tepian ranjang, dengan memakan kacang telur yang berada di genggaman tangannya.
"Banyak, tapi diancam untuk mau sama anaknya itu. Tak boleh mengkhianati, mengagumi orang lain, apalagi berencana untuk tinggalin dia. Aku sampai disuruh tanda tangani dokumen khusus di atas meja kerjanya yang udah disiapkan, demi hadiah-hadiah bekal anak cucu kami. Dikiranya aku bisa kabur dari anaknya." Nahda terkekeh kecil, dengan lanjut mengemasi barang.
Benarkah?
"Kapan tanda tangan?" Aku tertarik untuk mendengar ceritanya.
"Sebelum berangkat, biyung, papa sama mama jadi saksinya. Kak Jasmine pun tanda tangan, dia berangkat ke Singapore, anaknya sama masyik Nilam."
Wah, jangan-jangan kak Jasmine mengambil alih usaha peti mati itu.
"Kapan kak Jasmine berangkat?" Aku menarik resleting tas jinjing milik Nahda.
"Besoknya, setelah Abang berangkat."
Kenapa aku jadi kepikiran ya?
"Ayo kita siap-siap." Aku tidak sabar mewawancarai orang rumah.
Hari itu juga kami terbang ke Aceh. Kami tidak dijemput di bandara, melainkan naik travel sendiri. Kebetulan sekali travel milik Zio bekerja sama dengan bandara tersebut. Eh, bukan bekerjasama yang semestinya juga. Tapi travel milik Zio seperti direkomendasikan bandara, karena para sopir sudah menunggu penumpang yang ingin diantarkan ke beberapa tempat.
__ADS_1
"Ehh, iparku." Nahda kaget saat membuka pintu mobil travel tersebut.
Hadi tersenyum kuda. "Ya Allah, nemu aja keluarga sendiri. Kan jadi malu." Ia memeluk stir mobil.
"Lebay tuh." Aku membantu seseorang dari pihak travel, untuk mengemas barang-barang.
Sedangkan Zio, dia anteng saja di mobil itu. Mungkin ia gengsi. Nahda sudah masuk ke mobil dan duduk manis di samping Zio yang bersiap mengemudi.
Kebetulan sekali, penumpang yang lain sejalan ke arah tujuan kami. Jadi, kami tidak banyak muter-muter di daerah orang.
"Adik ipar, istrimu di mana?" Nahda sejak tadi dalam perjalanan berisik saja.
"Di rumah lah, masa mau dibawa kerja." Hadi fokus ke jalan raya di depannya.
"Udah hamil lagi belum?" Nahda bertanya sambil tertawa kecil.
"Belum, kita sih jarang tak kek Anda-Anda ini." Hadi menoleh ke arahku yang duduk di bangku tengah, tepat di belakang kursi Nahda.
"Jarang-jarang justru yang buat cepet hamil, tau!" Nahda menepuk pelan lengan Hadi.
"Ya kah? Ya udah hamil ya tak apa, aku ini suaminya." Hadi nampak rileks membawa kendaraan ini di jalan raya yang ramai.
"Tak pegang es batu?" tanyaku lirih, dengan melongok ke depan.
"Udah, Bang. Udah ada orang yang pegang, jadi aku bisa tetap keluyuran. Udah stabil sih." Ia tersenyum senang.
"Enak tak punya uang tuh?" Aku menggurauinya.
"Enak, Bang. Seneng terus, bisa buat Ceysa ceria. Dia udah nolak jatah dari ayah, tapi katanya nanti jatah dicabut kalau utang aku lunas." Hadi tertawa geli.
"Sih masih nyopir juga?" Nahda terlihat memperhatikan wajah Hadi dari samping.
"Lumayan aja, buat pasar maleman." Hadi terkekeh kecil dan melirikku.
Ya memang lumayan, setahuku memang lumayan hasilnya.
"Pengen main ke sana deh, pasti seru kaget banyak ular naik pohon sawit ya? Aku sekali aja ke sana, pas nikahan kalian itu."
Penumpang lain yang menumpang asyik tertidur, sedangkan kami yang tidak tahu situasi orang mengantuk ini, malah mengobrol saja.
"Boleh, main lah ke sana. Ma Nilam di sana tau, lagi main aja sih, bawa anak kak Jasmine juga."
Ma Nilam memang dekat dengan Jasmine dan Ceysa, karena Jasmine dan Ceysa adalah cucu dari almarhum suaminya. Yaitu, ayahnya mangge Lendra.
__ADS_1
"Ah, aku nanti ngiri tak punya anak kecil." Nahda langsung terlihat melamun.
"Asuh Dayyan aja, aku kelonan sama Ceysa." Hadi tertawa lepas.
Hadi aslinya memang asyik orangnya, tapi terlalu banyak beban pikiran di otaknya. Membuatnya lebih banyak menjadi Hadi yang pendiam.
"Woah, enak betul. Nanti aku punya anak, gantian ya asuh anaknya?" Nahda malah mengajak barter jasa.
"Boleh, boleh. Kapan beranak? Tak enak nih aku, anak aku udah gede, kakak ipar masih belum beranak aja."
Kok nyelekit?
"Aku masih kuliah, enak Ceysa sih udah selesai semua pendidikannya." Nahda nampak bersedih hati.
"Ya aku pun masih kuliah, nyari nafkah juga. Tak ada salahnya juga kalau masih kuliah terus hamil, kan ada suaminya juga, bukan hamil sendirian." Lempeng juga ucapan Hadi.
Iya benar, apa bedanya dengan laki-laki yang kuliah dan mencari nafkah juga. Kan sama-sama mengemban tugas masing-masing, tidak merasa keberatan karena memang kewajiban.
"Bang…." Nahda menoleh ke arahku. "Nanti aku dihamilinnya sebulan aja dulu."
Polos sekali.
Sampai-sampai, penumpang yang kelihatannya tengah tertidur itu terkekeh kecil. Aku yakin, mereka semua sepertinya merem ayam saja.
"Iya, Dek." Aku menahan tawaku.
"Bisa dikantongi kok kalau hamil sih. Kau tetap bisa lari-lari, Kakak Ipar. Tenang aja." Mulut Hadi konyol sekali.
"Bang…." Nahda memutar kepalanya untuk menoleh ke arahku kembali.
"Apa, Dek?" Aku tersenyum tipis.
"Boleh kali kalau udah hamil drop out aja kuliahnya, selesai cacat aja tak apa."
Mimik wajahnya begini, 🥺.
"Bilang lah ke papa, Abang sih bakal usahain kalau Adek mau S2 juga." Aku mencolek dagunya.
"Hmm." Ia menepis tanganku, kemudian kembali duduk manis mengarah ke depan.
Ia selalu bad mood ketika membahas kuliah, apa otaknya tidak sanggup mengemban ilmu pendidikannya? Apa mungkin ia harus ganti jurusan? Tapi kan fakultas ini itu minatnya sendiri, bukan paksaan dari papa atau mama.
"Perempuan memang begitu, Bang. Alasan aja mereka ini, padahal enak dikasih pendidikan tanpa mikirin biayanya. Pas hamil nanti pun, alasan bolos karena ngidam. Udah kentara tuh, Bang." Hadi mengarahkan spion tengah ke arahku.
__ADS_1
Sepertinya, benar-benar harus mengoreksi masalah pendidikan ini. Karena Nahda itu tidak pernah mengerjakan tugas juga setahuku, ia kuliah yang penting berangkat saja, seperti tidak dari hatinya.
...****************...