
"Tapi mereka biasa nih beli bakso di sini?" Givan menunjuk kostan paling ujung, di mana motor menantunya terparkir. Ia merasa kakinya geli untuk bertanya sendiri.
"Azyu?" Tukang bakso menyebutkan nama pemilik kamar kost tersebut.
"Siapa namanya?" Chandra memicingkan matanya.
"Azyumardi, kalau tak salah. Soalnya, Saya ingatnya dia ini penghuni pertama kost di kostan punya bu Yohana." Givan dan Chandra langsung mengunci informasi tersebut.
"Berapa dua bakso ini?" Givan merogoh kantongnya.
"Dua puluh, Pak." Tukang bakso tersebut telah menyelesaikan membungkus bakso pesanan Givan dan Chandra.
"Saya kasih seratus ribu, tapi Abang ketok-ketok pintu kamar Azyu dan setelah dibuka tawarin bakso. Jangan pergi sebelum dibuka." Givan menyodorkan uang tersebut.
Tukang bakso tersebut enggan mengambil uang tersebut, ia berpikir bahwa dua orang laki-laki itu adalah seorang pembantai untuk Azyu. Namun, ia tidak mau berpikir buruk. Ia ingin tahu lebih pasti, tentang siapa mereka berdua.
"Kalau tujuan kalian baik, Saya bantu tanpa diupah. Apalagi, itu cuma pekerjaan ringan." Tukang bakso tersebut memasang kedua telapak tangannya.
"Saya pun tak berniat buat keributan di sini. Setelah Azyu buka pintu, Saya bakal balik ke sini untuk makan bakso. Abang masih lama kan mangkal di sini?" Chandra garuk-garuk kepala, ia langsung bingung dan tidak mengerti dengan rencana ayahnya itu.
"Iya, masih lama. Tapi terus terang aja, kalian siapa dan ada keperluan apa dengan Azyu?" Tukang bakso tersebut tidak mau siapapun mendapatkan masalah, hanya karena ia gila dengan uang berwarna merah tersebut.
"Saya tak akan cerita di awal, karena khawatirnya Saya malah menuduh Azyu. Saya dari keluarga baik-baik, Saya dari daerah sebelah, perkebunan kopi. Anda bisa cari Saya kalau memang Saya berbuat buruk di depan mata Anda." Givan terlihat begitu berwibawa sekali.
"Yah, Saya tau daerah itu. Kalau boleh tau, nama Bapak siapa? Maaf, biar kalau memang ada kejadian buruk setelah Saya mematuhi perintah Bapak, Saya bisa menarik nama Bapak di kepolisian." Tukang bakso tersebut memberi kursi plastik pada Chandra dan Givan, yang ia ambil dari atas gerobak baksonya.
__ADS_1
"Ananda Givan, putra sulung almarhumah bu Dinda. Mungkin nama itu melegenda."
Tukang bakso tersebut langsung menundukkan kepalanya. "Maaf, Pak. Saya tak kenal dan tak pernah ketemu sebelumnya, kalau teungku Adi, abu Saya pernah ikut kerja di beliau sampai wafatnya. Sekali lagi, maaf ya, Pak? Saya tau nama-nama anak teungku, tapi memang tak tau rupa." Tukang bakso tersebut merasa tidak enak hati sendiri. Ia tahu siapa itu Adinda, ia tahu apa hubungannya Adinda untuk juragan yang namanya ia sebutkan tersebut.
"Tak masalah, Bang. Saya tak bermaksud sombong juga, biar Abang bisa cari Saya kalau memang Saya di sini membahayakan penghuni kost di sini." Givan tersenyum ramah.
"Mari, Pak. Mari Saya bantu, itu mudah aja, tak perlu kasih Saya upah. Shodaqohan beras tiap bulannya, alhamdulillah masih sampai di ma. Itu udah cukup membantu, apalagi anak-anaknya masih keteteran cari uang begini." Tukang bakso tersebut mengajak mereka untuk menuju kamar kost Azyu.
"Alhamdulillah, itu keinginan terakhir orang tua Saya, Bang. Shodaqoh tak putus atas nama mereka, terutama untuk mereka yang termasuk berhak mendapatkan." Givan mengikuti langkah kaki tukang bakso tersebut.
"Yah, aku yang deg-degan." Chandra menarik jaket ayahnya.
"Ish! Kau ini!" Givan merasa risih karena tingkah anaknya itu.
Tukang bakso itu tersenyum samar, kemudian ia memandang Chandra dan Givan sebelum mulai mengetuk pintu kamar kost tersebut.
"Siapa?" Suara laki-laki berseru dari dalam.
Givan kenal suara tersebut.
Ketukan terus berulang, sampai akhirnya kunci pintu diputar segera. Vano membulatkan matanya, melihat ayah mertuanya dan adik iparnya berada di belakang tubuh tukang bakso langganannya tersebut.
"Kak Azyu, bakso tak?" tawar tukang bakso tersebut ramah.
"Tak, Bang." Azyu muncul dari dalam, tanpa tahu ada orang lain di belakang tukang bakso langganannya tersebut.
__ADS_1
Pakaian apa adanya, ditambah dengan Vano yang tidak mengenakan baju, seolah membuat Givan gelap mata. Azyu mencoba menutupi pakaian minimnya, dari tiga laki-laki yang ada di depan pintu kamar kostnya.
Satu dorongan tangan Givan pada pintu kamar tersebut, memperlihatkan isi kamar kost yang menampilkan pakaian yang dikenakan perempuan itu berhamburan dengan pakaian dalamnya juga. Kaos dan jaket Vano yang tergeletak di dekat pintu, menambah nilai kecurigaan Givan karena pengait celana jeans yang Vano kenakan itu terbuka.
"Oh, ya. Iya, Kak. Maaf ganggu ya?" Tukang bakso tersebut berbalik ke tempatnya, yang diikuti oleh Givan kembali.
Chandra bolak-balik menggaruk kepalanya, ia amat bingung sendiri mengikuti rencana ayahnya. Kenapa ayahnya tak memukul kakak iparnya, kenapa ayahnya hanya diam saja dan malah bersikap seperti tukang bakso. Kepala Chandra dihiasi oleh pertanyaan-pertanyaan seputar sikap ayahnya.
Givan duduk kembali, di kursi plastik yang disediakan tukang bakso tersebut. Chandra pun, hanya mengikuti ayahnya saja. Chandra semakin bingung, kala ayahnya mengambil bungkusan bakso tersebut dan memakannya dengan mata yang terarah pada kamar kost Azyu yang setengah terbuka tersebut.
Aktivitas Vano yang memunguti pakaian dan juga mengenakan kembali pakaiannya itu, menjadi pemandangan Givan. Vano keluar dari kamar kost milik Azyu, dengan sudah mengenakan helm kembali. Bahkan, Vano langsung tancap gas begitu cepat kala melewati gerobak bakso tempat Givan masih nongkrong di sana.
Tujuan Vano adalah pulang ke istrinya. Ia akan menceritakan cerita sesuai versi dan tambahannya dulu, sebelum ayah mertuanya otu mengadukan sesuatu pada Jasmine.
Givan santai saja duduk di sana, ia bahkan memperhatikan kesibukan tukang bakso tersebut yang sibuk membuat pesanan untuk penghuni kost yang silih berganti datang untuk membeli bakso tersebut. Chandra pun mengikuti ayahnya yang memakan bakso dengan tangan, karena ia pusing memikirkan tingkah ayahnya yang di luar nalarnya.
Chandra merasa, ayahnya itu bukan ayahnya sekali. Ia bahkan merasa asing, dengan tindak langkah ayahnya.
"Beliin air mineral botol di situ tuh, Bang." Givan menyuruh Chandra dan menunjuk toko yang berada di belakang gerobak bakso tersebut. Ia memberikan anaknya uang merah, yang ditolak oleh pedagang bakso tersebut. Bahkan, ia belum membayar harga bakso tersebut.
Chandra pun patuh saja pada anaknya. Ia ingin banyak bertanya, tapi ayahnya tengah makan. Ia pun tidak tahu isi kepala ayahnya, yang lebih ditakutkan lagi karena ia khawatir ayahnya tengah memendam amarah. Jadi, ia memilih untuk patuh dan tidak banyak bertanya.
"Tujuan Bapak ini apa, Pak? Saya jadi bingung sendiri," tanya tukang bakso tersebut dengan duduk di kursi plastik lainnya.
Givan menoleh ke arah tukang bakso tersebut, dengan mulut masih mengunyah.
__ADS_1
...****************...