
"Kami mau pernikahan yang sederhana aja, Yah." Hadi dan Ceysa berbicara hampir bersama.
"Sederhana yang gimana maksudnya?" Givan mengerutkan keningnya.
"Nikah KUA, kumpul keluarga bersama. Masalah dokumentasi, kita bisa foto studio."
Harapan Zuhdi yang ingin mengundang beberapa orang, langsung pudar seketika. Harapan Givan akan resepsi sederhana dengan kumpul keluarga, malah sedikit tidak sesuai dengan ekspektasinya.
"Kalian bujang dan perawan, masa nikahnya gitu aja?" Canda menghela napasnya.
"Tak apa, Biyung. Yang penting, kita sah juga." Bukan apa-apa, Hadi dan Ceysa memikirkan biayanya. Mereka khawatir akan biayanya, mereka tak mau terlalu merepotkan orang tuanya.
"Aku khawatir sama Dayyan, kalau ada resepsi. Nanti dia sama siapa? Nanti Dayyan rewel tak? Nanti aku bisa nyusuin tak?" Ceysa menoleh sekilas pada anaknya.
"Resepsi aja sederhana, Dek. Undang teman-teman kalian, biar pada tau kalau kalian udah sah. Karena ketidaktahuan mereka, mereka nanti bertanya-tanya kalau nanti kalian tiba-tiba gandeng anak banyak." Keith berpikir, agar Sekar pun tahu berita pernikahan itu. Ia pun tak mau Sekar mengganggu Hadi, setelah pernikahan Hadi dan Ceysa karena ketidaktahuan Sekar. Keith memikirkan hal itu, karena ia teringat akan beberapa wanita yang mengganggunya kala ia hanya melakukan satu resepsi pernikahan mereka di rumah mertuanya. Padahal, ia sudah merencanakan dua resepsi untuk mengundang teman-temannya yang berada di Singapore. Jadi, tidak hanya warga kampung halaman istrinya yang tahu bahwa mereka sudah menikah. Tapi, teman-temannya yang di di Singapore juga tahu bahwa mereka sudah menikah.
"Aku tak pusingkan itu, Bang." Sekalipun belum menikah, Ceysa tidak malu untuk membawa Dayyan ke mana-mana.
"Resepsi sederhana aja, Dek. Biar Ayah yang ngatur, kalian tak perlu pikirkan ini itu. Pernikahan kalian harus berkesan, biar kalian ingat kalau pernikahan kalian itu penuh suka cita semua saudara." Givan ingin memberikan sedikit kenangan-kenangan untuk anak-anaknya.
Agar di antara semua anak-anaknya, tidak ada yang merasa iri karena dari mereka ada yang pernikahannya tidak dirayakan. Givan ingin menyamaratakan anak-anaknya, meski beberapa diantaranya bukanlah anak kandungnya sendiri atau anak orang lain.
__ADS_1
"Tapi, Yah." Hadi merumit karena tabungannya tak seberapa.
"Tak apa. Kau udah tanya maharnya ke Ceysa?" Givan memaksa, bermaksud untuk tidak terjadi iri hati antar saudara.
"Udah, Yah. Uang aja, seratus dua puluh ribu katanya. Tanggal dua belas Dayyan lahir, dua belas kek jumlah maharnya." Hadi mengutarakan apa yang ia dapat dari Ceysa.
Givan dan Zuhdi saling memandang, jelas mereka tidak bisa berekspresi lain mendengar mahar tersebut.
"Jangan tak enak, Van. Aku tau kok, kau merasa direndahkan dengan jumlah itu. Berapa kau mau? Kau sebutkan aja? Aku bakal sanggupin lewat tangan anak aku." Zuhdi tersenyum lebar.
"Bingung aku, Di. Nikahin gadisnya Canda aja, aku keluar tujuh puluh gram emas. Belum uang dan lainnya. Mahar jandanya Canda aja, empat hektar ladang produktif, nyentuh enam miliar di masa itu. Ceysa dan Jasmine akad private pun, maharnya tak kurang dari tiga puluh mayam emas. Giska aja, sampai mau empat puluh mayam emas kan? Jadi, kau kira-kira aja lah. Tak mau aku menuntut, karena anak-anak perempuan aku pada tau kemampuan laki-laki pilihan mereka dan mereka juga tau nilai yang tak merendahkan diri mereka. Tak mau matok nilai tinggi aku, tapi aku tak sreg dengan mahar yang Ceysa mau." Givan menunduk dan menutupi wajahnya. Ia mengusap wajahnya dan memperhatikan mereka semua satu persatu. Ia merasa direndahkan dengan mahar tersebut, tapi ia tidak mengerti dengan nilai yang diminta oleh Ceysa.
"Yang besar aja coba, Dek. Tak apa." Giska pun merasa tidak cocok dengan mahar tersebut. Ia berpikir, seolah Ceysa tengah beranggapan bahwa mereka tidak akan sanggup jika memberikan mahar yang tinggi. Giska tersinggung, dengan nilai yang begitu kecil dari Ceysa.
"Tapi, Biyung." Ceysa memiliki pemahaman bahwa mahar harus dipenuhi dari mempelai laki-laki itu sendiri, bukan orang tua mempelai laki-laki.
"Tapi apa, Dek? Kenapa?" Canda bernada selalu lembut, membuat anak-anaknya terbuka dengan pendapat mereka masing-masing.
"Mahar kan harus dari Hadi." Kalimat tersebut menjelaskan semuanya.
"Anak Laki-laki itu tetap milik ibunya, yang artinya Hadi tetap tanggung jawab orang tuanya. Kalau Hadi tak punya uang untuk kasih Ceysa makanan, pakaian, ya kami sebagai orang tuanya yang lebih sanggup, wajib kasih untuk menuhin itu semua atas nama Hadi untuk Ceysa dan Dayyan," jelas Giska perlahan.
__ADS_1
Figur ibu di sini begitu membantu menengahi mereka semua.
"Tapi kakek dan nenek kemarin yang berperan untuk itu, karena masyik dan abusyik tak mampu untuk itu. Mereka cuma mampu minjamin, tak dengan menjamin." Zuhdi berbicara dengan nada getir, ia teringat akan rasa irinya ketika saat ekonominya begitu terpuruk. Namun, ketika pada adik-adiknya. Jelas orang tuanya bersikap lain, padahal ia selalu berusaha untuk berbakti pada orang tuanya. Sampai dirinya lah yang membuat kokoh bangunan milik orang tuanya, meski pada akhirnya menjadi rebutan adik-adiknya setelah orang tuanya tiada. Ia bersyukur, karena dirinya diberi kecukupan ekonomi. Sehingga, tidak mengulik rumah kecil yang ia buat kokoh tersebut.
"Aku juga apa-apa tuh mamah sama papah, memang keluarganya Canda ada datang kasih bantuan? Hmm, tak ada! Mereka datang untuk marahin kita aja, sampai malas aku dengarnya sampai aku tinggal tidur." Givan pun mengutamakan ketidakberuntungannya dalam satu pihak.
"Anak-anak kita jangan sampai ngerasain kasih sayang satu pihak begitu, Van. Takut nanti mengganggu bakti mereka pada kita." Zuhdi belajar dari pengalamannya kemarin.
"Betul, aku sama keluarga Canda juga kurang akur. Tapi jelas beda sama almarhum ibu mertua, janda cantik soalnya." Givan terkekeh geli.
Canda memukul pangkuan suaminya, kemudian suaminya merangkulnya dan mengusap-usap lengannya. Suasana rileks sejenak, dari pembahasan yang membuat tersinggung mereka itu.
"Disamakan kek Ma aja ya, Ceysa?" Giska menarik kembali soal mahar untuk calon menantunya.
"Berapa memang dulu, Ma?" Ceysa fokus menoleh ke arah calon ibu mertuanya.
"Tiga puluh sembilan mayam emas, untuk mahar. Uangnya seratus juta lebih kalau tak salah, tapi uangnya dipakai untuk biaya resepsi itu. Ma sih dulu ada isi kamar segala macam, hantaran tuh penuh. Tujuh rupa kain jarik, pakaian sehari-hari dan peralatan make up dan lain sebagainya. Buah-buahan dan kue khas juga ada, ada makanan jadi dan ada beberapa sayur mayur. Bahkan ada sapinya juga, ada kambing dan segala macam. Abang-abang Ma pada ngasih hadiah yang ditambahkan untuk bawaan Abu, jadi tak ada kondangan lagi."
Giska dan Hadi melongo saja, mereka kaget mendengar cerita pernikahan yang nampaknya begitu mewah itu.
"Ceysa mau disamakan kek Ma?" Zuhdi menawari ulang, karena Ceysa hanya terdiam dengan mengedipkan matanya.
__ADS_1
...****************...