Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA86. Kasus komplit


__ADS_3

"Abang udah mandi?" Ia memandangku dan Zio secara bergantian, kala baru memasuki kamar. 


"Udah dong." Zio yang menjawab dengan menata rambutku. 


Seperti anak kecil, kita mandi bersama dengan masih berpakaian. Pakaian Zio terlanjur basah semua kala membantuku mandi, alhasil akhirnya kami mandi bersama. 


"Ayo kita minta makan, Bang." Zio melempar sisir rambut secara asal di atas tempat tidur. 


Kemudian, kursi rodaku didorongnya ke dapur. Ia pun mengenakan pakaianku, tubuh kami seukuran, tapi mungkin Zio lebih tinggi lima senti. Jika badan, mungkin lebih padat aku. Zio cenderung tinggi kurus dan berkulit putih. 


Kami makan makanan yang sudah dibuatkan asisten rumah tangga. Ia pun sudah memasak untuk biyung yang ada di rumah sakit, hanya saja kami bingung untuk mencari orang yang mengantarnya. Karena aku dan Zio diminta bertahan di sini, khawatirnya ada pihak kepolisian yang datang dan ingin olah TKP lagi. 


Salah satu dari kami, memang tidak ada yang mendapat luka bakar. Tapi kan ada korbannya, ditambah kerugian yang bukan sedikit. Yang jadi penyebabnya pun agak aneh, karena rumah kosong yang kompornya bisa memasak sendiri. Jadi otomatis kan ada yang sengaja menyalakan, bukan tiba-tiba muncul api di kompor tersebut. 


Setelah kami selesai makan, Izza baru muncul lagi dengan bertanya, "Abang udah makan?"


Hei, padahal Zio tadi pun bilang kami akan mencari makanan. Harusnya ia langsung mengurus makananku, entah menyediakan piring atau airnya. Lalu, baru kemudian setelah itu ia mandi. 


"Udah," jawabku kemudian. 


"Kenapa aku tak diajak?" Ia terlihat kesal, kemudian langsung melangkah ke arah rak piring. 


"Ayo kita keluar dulu, Bang." Zio membawaku pergi dari dapur. 


Jadi aku harus mengajak dirinya makan ya? Aku yang harus mengajaknya mandi juga ya? Aku merasakan ulu hatiku langsung sesak dengan tingkahnya. 


"Kau di teras aja, Bang. Tinggi kali teras ini, kau maksa turun keknya bisa-bisa pincang dua-duanya."


Aku terkekeh kecil, sepertinya Zio kehabisan cara untuk membawaku turun dari teras. Kami bangun kesiangan sekali, pukul delapan baru pada melek. Karena memang beresnya itu sampai dini hari, barulah kami bisa tertidur. 


"Bang, Cala di kamar berapa?" Ma Giska muncul dari pintu yang sudah gosong itu, dengan membawa tentengan. 


"Anggrek 01, Ma. Mau ke sana?" Aku sedikit berseru. 


"Ya, mau antar makanan. Hadi sama Ceysa udah dikasih tau, barangkali kau butuh tenaga Ceysa untuk urus kau." Ma Giska seperti lupa jika aku beristri. 


"Sekalian nitip makanan yang udah dibuat bibi, Ma. Bentar, aku siapin dulu." Zio meninggalkanku di teras rumah. 


Aku langsung menekan pengunci kursi roda ini, aku khawatir tiba-tiba kursi roda ini meluncur dan membuatku nyungsep ke halaman. Kan tidak lucu sekali. 


"Tangan kau keknya agak bengkak, Bang." Ma Giska naik ke teras, kemudian memperhatikan perban yang menutup luka jahitku. 

__ADS_1


Kata perawatnya sih perbannya anti air, makanya aku bisa mandi. Jika aku tidak mandi, aku tidak bisa membayangkan bagaimana bau badanku karena bekas darah dan reruntuhan yang menempel di rambut serta kulitku. 


"Iya, Ma. Dijahit, kaki dikorek, jadi sakit betul jalan." Akh menunjukkan luka perban di telapak kakiku. 


"Izza mana?" Ma Giska menoleh ke belakang. 


"Ada, lagi makan. Masuk aja, Ma." Berbarengan dengan ma Giska yang masuk, Zio keluar dengan menggigit kerupuk. 


"Kalau rumah tak cepat diratain dan dibangun ulang, Cali bakal tetap nangis aja." Zio duduk di undagan tangga teras. 


"Iya, Cala pun bakal trauma juga. Entah-entah mau ditempati tak sama mereka." Aku ingat jika Cala sempat mengigau saat aku masih di rumah sakit semalam. 


"Ma berangkat dulu, Bang. Hari sama Ceysa suruh di sini aja, bantu urus kau. Gwen sama Fandi ikut Ma ke rumah sakit sama abu." Ma Giska muncul dengan rantang plastik yang memiliki brand ternama. 


"Ya, Ma." Aku mengangguk. 


"Ati-ati, Ma," ujar Zio kemudian. 


"Ya, Bang." Ma Giska melangkah melewati pintu samping yang gosong itu. 


Tinnnnn….


Aku melongo saja melihat mobil dinas yang seperti baja itu masuk ke halaman rumah kami. Mobil dinas militer, seukuran mobil Jeep sepertinya. 


Iya sih benar, seperti mobil tugas untuk di hutan. Jendelanya pun menggunakan jaring-jaring nyamuk. Eh, bukan deh. Tapi sepertinya bukan jaring nyamuk. Intinya, seperti kawat jaring begitu. 


Tiga orang laki-laki gagah keluar dari dalam mobil tersebut, aku mengenali salah satu laki-laki di antara mereka. Itu om Vendra, yang datang dengan gagah. 


"Ayah mana, Bang?" Mereka berjalan ke arahku. 


Ya Allah, padahal ia omku sendiri. Tapi aku tegang melihat mereka berjalan ke arahku. 


"Di rumah sakit, Om." Aku ingin bertanya, tapi sungkan dan takut tentang keberadaan dua teman om Vendra itu. 


"Ini teman Om, Bang. Tugas di daerah atas katanya sih, Om dijemput mereka dari bandara." Om Vendra akhirnya mengerti ekspresi wajah dan arah pandangku. 


"Oh, iya." Aku berjabat dengan mereka semua. 


Semua yang membuatku bingung. Om Vendra tidak mau tangannya dicium, padahal kan aku keponakannya. Jadi jabat tangan biasa, seperti pada tamu seumuran. 


"Langsung olah tempat aja, bawa kamera kan?" Om Vendra berbicara pada teman-temannya. 

__ADS_1


"Yo, siapin rokok." Om Vendra berbicara lirih dengan merangkul Zio. 


Zio mengangguk. "Siap, Om."


Tidak tanggung-tanggung, rokok yang dibawa oleh Zio sampai tiga slop. Aku langsung menyuruhnya menaruh rokok mahal itu ke dalam rumah, hanya satu slop yang aku bolehkan keluar. Tiga slop senilai satu juta, Zio mengambilnya dari dalam rumahnya. Ia perokok aktif dan atas izin ayah. 


"Siapin, bukan buka toko rokok." Aku memperjelas kalimatku. 


Ia tertawa geli dengan memegangi perutnya sendiri. 


Kocak juga anak tiri biyung ini. 


"Eh, siapa lagi itu?" Ada mobil polisi yang terparkir kembali di halaman rumah kami. 


Mobil polisi yang semalam sepertinya. Itu tuh, mobil polisi yang seperti mobil pribadi dengan lampu di atas bagian sunroof. Seperti mobil polisi mainan anak-anak, yang bisa berbunyi seperti ambulance. 


Benar, mereka polisi yang semalam. Mereka seperti kaget, saat melihat mobil baja itu ada di sini. 


Om Vendra pun kebetulan muncul, ia langsung disambut oleh dua polisi yang baru datang tersebut. Terlihat, mereka seperti berkolaborasi. Mereka saling berbicara, mendengarkan dan menunjukkan sesuatu. 


Hingga setelah satu jam mereka sibuk, mereka menghampiri kami juga. Aku takut loh dengan polisi meski tidak bersalah. Tapi yang menjadi ketakutanku adalah karena pernah ditilang masa kelas tiga SMP, dengan kunci motor langsung dicabut. 


"Mana rokoknya, Bang?" Om Vendra menyeka keringatnya. 


"Ini nih, Om." Zio langsung menyodorkan rokok satu slop tersebut. 


"Ya, ampun." Om Vendra meraih rokok dari Zio, dengan tertawa lepas. 


"Untuk ngerokok biasa lah, bukan untuk uang lelah. Sampai dikasih satu slop." Om Vendra sampai geleng-geleng kepala. 


Om Vendra membaginya rata dengan dua anggotanya, kemudian memberikan juga pada dua polisi tersebut. 


"Adik kau yang tak terluka siapa? Ada di sini kah dia?" Om Vendra mulai menyalakan rokoknya, mereka duduk di lantai teras. 


Zio masuk dan keluar dengan air mineral kemasan gelas. Tidak tanggung-tanggung, sampai satu kardus. Inilah Zio, fakta nyetok dan lebih ala dia sendiri. 


"Cali, Om. Di rumah ayah kandungnya, di pak cek Gavin." Ya itulah fakta sebenarnya. 


"Boleh dirujuk ke rumah sakit terdekat, dapat surat dari kepolisian. Ke trauma center ya? Terus, bangunan ini udah boleh diratakan. Garis polisi udah dilepas, udah tak ada penyelidikan lagi. Udah tuntas, motif udah ditetapkan, laporan udah Om ajukan barusan. Kau sama ayah kau tau beres. Pulihkan keadaan kalian, Om ada keperluan di luar untuk ciduk pelaku dan minta keterangan." Om Vendra mengambil satu gelas air mineral kemasan itu, kemudian menyobek plastiknya dengan mudah. 


Aku mengangguk cepat, aku dan Zio berekspresi sangat bodoh. Seringan itu masalah di tangan om Vendra. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2