Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA148. Jadwal malam minggu


__ADS_3

"Diam dulu coba, Kaf. Kau yang panik, aku yang jadi bingung kau bang-bang terus." Aku memijat hidungku. 


"Cerita ke papa yg smooth gitu, Bang. Jangan diceritakan semuanya, kalau aku doyan mesum dan segala macam. Untuk yang tau-tau aja gitu, Bang." Tangannya sampai memohon di depan wajahnya. 


Ia takut dihakimi orang tuanya. 


"Bisanya kau ada pikiran petting, Kaf? Terus perempuan kau langsung mau gitu? Kan kalau perempuan itu takutan, Izza dipegang aja itu kalap sendiri. Udah-udah aja, padahal mulut disumbat pakai bibir juga." Aku teringat saat kaca mobil diketuk oleh ayah. 


Arggghhhhh, kocak sekali. Aku jadi ingin mengulangi rasa deg-degan itu lagi. 


"Ya tak lah, ada kesepakatan makanya cuma petting aja. Aku pun tak mau ngerusak, nanti hamil duluan kan keluarga aku yang malu. Aku bujuk, aku rayu, aku kasih iming-iming, aku godain juga. Dia kan kebetulan suka betul sama artis pria yang punya badan sixpack gitu, dada lebar dan biceps jadi. Kebetulan kan aku rutin gym sejak pulang pesantren, karena sakit-sakitan aja itu. Jadi otomatis badan aku jadi, meski tertutup seragam. Main HP di kelas tuh, dia excited betul cerita tentang sixpack artis favorit dia. Aku bilang, aku punya sixpack juga dan aku kasih intip dari kancing seragam sekolah aku. Langsung merah mukanya, dia ngerengek pengen megang, pengen tau rasanya sixpack. Aku bilang lah, boleh pegang tapi aku minta cium. Mulai dari situ lah sering ada barter megang fisik tuh, kebetulan dia orangnya berenergik sekali." Ia tersenyum lebar dengan pandangannya yang lurus ke depan. 


"Agresif namanya, bukan energik." Aku mendorong lengannya sampai ia sedikit oleng. 


Tawanya terdengar renyah. "Betul, Bang. O*** pun diajarin, dia bisa dari yang aku ajarin. Pernah sama perempuan lain pun, tapi tak seenak dia rasanya."


Aku melongo dengan mata terbuka, karena kaget mendengar pengakuan Kaf. Orang alim, orang diam, seperti dia? Bagaimana yang jelas nampak bajingannya? 


"Kau sering ganti-ganti perempuan?" Aku menoleh dengan tatapan bodoh. 


"Tak, Bang. Eummm, sama pacar-pacar aja. Mungkin, sekitar tiga aja. Sama Dayana ini aku putus nyambung beberapa kali. Dia sakit, kurus, setiap aku putuskan. Kek down betul gitu, kek tak bisa lanjutkan hidupnya, padahal aku tak ambil perawan dia." 


Mendengar ceritanya, aku malah gagal fokus tentang Dayana. Apa jangan-jangan, Dayana ini pernah dipakai laki-laki lain saat putus dengan Kaf? Maksudnya, petting lagi begitu. Membuat Dayana lebih buas untuk menyerang dan membuat Kaf betah dengannya. 


"Gila ya kau?!" Aku menggeleng berulang dan menggosok ujung hidungku. 


"Tak lah, Bang. Tak aku rusak buktinya, aku cuma mengasah skill aja."


Mungkin kurangnya aku ini karena tak punya skill. Aku tak pernah jajal ini dan itu, karena aku takut bablas dan takut merusak diri sendiri juga. Namun, nyatanya membuat skillku kurang ke mana-mana. 


"Jadi, kau mau nikahin Dayana gitu? Yakin kau mampu kuliah sambil nikah begini? Kau bilang sendiri, fakultas kedokteran itu ribet dan makan waktu." Aku mencoba membuka pikirannya. 

__ADS_1


Karena menurutku, lebih baik USG saja dulu. Jika memang buktinya tidak hamil, ya diambil jalan tengahnya dulu. Khitbah dulu begitu, atau operasi lah jika mau ingin tetap utuh. 


"Memang nikah itu harus di kamar aja kah? Kan tetap aktivitas kek biasa, kek Zio atau Hadi gitu kan?"


Ia sepertinya kurang paham konsep pernikahan. 


"Kata siapa? Memang baju siapa yang nyuci? Makan kau siapa yang urus? Kau coas, istri kau butuh waktu. Dikiranya pacaran mode halal aja kah?" Aku merasakan sendiri sensasi menikah butuh waktu dan penyesuaian itu. 


Kesan pertama pernikahan, ya makan ati. Kaku, banyak miskomunikasi. 


"Ya kan bisa dibicarakan, lagian dek Yana pun masih kuliah juga."


Aku menoleh cepat. "Siapa dek Yana?" Tadi pacarnya kan namanya Dayana. 


"Ya Dayana tuh dipanggilnya dek Yana, cuma aku sering manggil nama panjangnya itu." Kaf menarik satu barang rokok dari bungkus rokokku. 


"Kau merokok juga? Bukannya tak boleh sama papa?" Papa pernah bercerita, tentang Kaf yang mengalami sakit pernapasan atas makanya dibawa pulang dari pesantren. 


"Backstreet dari papa, mama tau kok malah sering join."


"Ish, tak patuh sama orang tua." Aku mengecek ponselku. 


Ada pesan chat dari pakcik Gavin, pakcik Gibran dan Bunga. 


"Memang sekarang Abang tak dilarang?" Asap rokoknya sudah mengepul. 


"Tak pernah dilarang, cuma dibully. Dari dulu juga diizinkan, silahkan merokok tapi berhenti kalau nikah. Dibully kak Key setengah mati, dibully Hadi juga. Yang tau tuh jadi pada ngebully." Keluarga tukang bullying. 


"Ohhh…." 


"Nanti abis ini kita pulang, Abang nanti ngobrol sama papa. Atau kau duluan aja, Abang lagi buka WA." Aku masih fokus pada ponselku. 

__ADS_1


"Bareng aja. Aku mau numpang toilet dulu." Ia langsung ngeloyor pergi. 


Pesan dari pakcik Gavin. [Futsal 👌👌👌] Sudah malam minggu lagi rupanya. Jadwal futsal kami malam minggu mulai jam sembilan, atau jam sepuluh malam. Jadi yang ingin pacaran, ya bisa pacaran dulu. 


[Siap👌👌👌] Balasku untuk pakcik Gavin. 


Setelahnya, pesan dari pakcik Gibran. Katanya, [Abis Isya ke rumah, Bang.] pakcik Gibran berusia dua puluh tujuh tahun sepertinya, tapi anaknya sudah empat. Dua laki-laki dan dua perempuan, zigzag begitu, laki-laki, perempuan, laki-laki, perempuan. 


[InsyaAllah, Pakcik. Ada acara apa?] Khawatirnya, aku lama mengobrol dengan papa Ghifar. 


Balasan cepat langsung aku dapatkan. [Bawa main Farras, Bang. Pakcik mau keluar sama makcik kau, yang kecil di biyung. Yang kedua sama yang ketiga di mertua, minta nginep di sana. Nginep semalam Pakcik, mau nyobain ngamer di luar.]


Geli sendiri aku membacanya. 


[Oke, Pakcik.] Balasku kemudian. 


Makcik Mariam sendiri yang tidak memiliki pengasuh, tapi ia memiliki asisten rumah tangga. Alasannya, karena ia merasa menganggur dan tidak melakukan kegiatan apapun jika ada pengasuh. Maksudnya ada pengasuh kan untuk membantu, tapi mungkin ia tidak cocok jika anaknya diasuh oleh orang. Karena… Ia bawelnya setengah mati. 


Tinggal pesan dari Bunga. Isinya??? 


[Bang, ajak main dong. Dikasih jajan teh jus aja tak apa kok, yang penting makan angin.] Makan angin yang ia maksud adalah jalan-jalan keluar rumah. Jalan tanpa tujuan begitu, yang penting keluar dari rumah. 


Eh, aku memiliki ide agar dia menjadi penjaga Farras. Farras satu tahun lebih muda dari Kirei, usianya sekitar enam tahunan. 


[Oke, jaga Farras ya? Nanti main ke tempat futsal.] Balasku kemudian. 


[Ashiap!] Balas Bunga cepat. 


Entah bagaimana nanti di tempat futsal. 


"Bang, ayo." Ujung rambut Kaf basah. 

__ADS_1


"Ayo." Aku bergerak untuk mengunci pintu. 


...****************...


__ADS_2