
Heboh sekali rumah paman dan bibiku, berantakan dan berwarna. Ya temboknya penuh dengan coretan indah anak-anaknya, sudah seperti karya seni.
"Baru main ya? Baru lihat yang begini-begini ya? Ini baru ruang tamu, agak bersih ini abis dicat ulang masa lebaran kemarin." Pakcik Gavin muncul, dengan membawa kopi.
"Tak sekolah kau, Ci? Bodoh kau nanti." Pakcik mengajak bicara anak perempuan yang baru aku turunkan.
"Mbu mana? Tak mau main sama Ayah Apin." Cali berlari masuk ke dalam.
"Ci itu apa, Pakcik? Kok Ci?" Aku merasa aneh dengan panggilan tersebut.
"Kelinci, Ci." Pakcik duduk di lantai teras dengan menyalakan rokoknya.
Eh loh? Anak sendiri dipanggil kelinci?
"Pakcik sih gitu sama anak sendiri, pantaslah Cali tak mau." Aku duduk di sampingnya.
"Terus harus gimana? Besar nanti pun paham lah dia, Ra aja pulang sendiri ke orang tuanya kan? Eh, kau tak ngopi kah? Pakcik buatin ya?" Pakcik melempar bungkus rokoknya di dekatku.
Aku memperhatikannya yang tengah merokok, beliau seperti melakukan pernapasan yoga. Menarik napas dengan rokoknya dari mulut, kemudian menghembuskannya lewat hidung bersama dengan asapnya.
"Baru habis tadi, mau berangkat kerja bentar lagi. Nunggu Ayah BAB." Aku celingukan.
"Berapa anak Pakcik? Ke mana semua mereka?" Rumahnya terlihat sepi, tidak seperti keadaannya yang cukup berantakan dan penuh coretan anak.
"Sembilan, ada di dalam. Ada juga yang sekolah."
Aku tidak tahu pasti jumlah anaknya yang sebenarnya, karena ketika berkunjung hanya anak yang kecilnya yang selalu dibawa. Setiap aku pulang dari Singapore untuk berlibur pun, beliau hanya mengajak anak yang kecil. Tapi anaknya selalu kecil, mungkin karena setiap tahunnya ada saja yang kecilnya sepertinya.
"Yang betul sih, Pakcik?" Aku tidak percaya mendengarnya.
"Bener, Bang. Cali, Kirei, triplets, twins, tunggal dua kali. Yang tunggal dua kali ini lahiran normal, jadi jaraknya jauh. Cali ke twins nih jaraknya dekat, satu tahunan semua. Tunggal dua, satu tahun belakangan ini, terus setelah persalinan normal yang terakhir tuh tante kau tubektomi. KB steril biasa disebut, tapi yang diikat aja, bukan dipotong. Takutnya ganti suami, minta keturunan suaminya. Tapi semoga tak ganti suami sih, soalnya anaknya ganjil, tak genap, nanti susah pembagiannya. Kan sembilan, masa satu empat, satu lima, ya tak adil."
__ADS_1
Bagaimana ya? Kok aku jadi berpikir?
Aku menjentikan jariku. "Kalau begitu hamil sekali lagi aja, Pakcik. Biar anak sepuluh kan? Cerai nanti, lima anakan aja." Aku menunjukkan lima jariku.
Beliau tertawa lepas. "Tante kau udah tiga puluh lima tahun, beresiko kalau hamil lagi."
Aih? Bukannya aku dan pamanku yang ini hanya berjarak delapan tahun? Lalu, dengan pakcik Gibran berjarak enam tahun.
"Bukannya tiga puluh tahunan ya, Pakcik?" tanyaku dengan bertopang dagu memperhatikannya dari samping.
"Itu sih Pakcik, nanti akhir tahun baru tiga puluh satu tahun."
Oh, tua perempuannya?
"Kok anaknya udah banyak sekali sih? Tiga puluh tahun, anak sembilan." Aku geleng-geleng kepala.
Jika terus membuat tanpa pelindung KB, sepertinya anaknya lebih dari itu.
Sepertinya asyik juga merokok.
"Boleh minta satu, Pakcik?" Aku mengambil bungkus rokok tersebut.
Pakcik menoleh cepat. "Hm? Serius? Pakcik tak mau ngajarin jelek."
"Iya, nyobain aja." Aku menyelipkan satu rokok di bibirku, kemudian mengambil korek api gas tersebut.
Kesan pertama? Sangit, mengepul dan pedih di mata. Hanya beberapa kali, kemudian aku menekan di asbak. Mulut pun langsung terasa kering, pahit dan bau sangit seperti baju terkena bakaran sampah.
"Kau ini, Bang. Jangan coba-cobalah, mahal ini." Pakcik mengangkat bungkus rokoknya. "Yang satu slop, tiga ratus ribuan. Habis semingguan, belum yang lainnya." Ia memperhatikan bungkus rokoknya.
Random sekali pamanku ini. Sayangnya, memang tidak bisa membuatku tertawa.
__ADS_1
"Kirain jangan coba-coba tuh karena nanti gimana gitu?" Aku menepuk bahu pamanku.
"Karena nanti ketergantungan, Pakcik pengen lepas pun susah. Ditambah, lingkungan kerja merokok semua. Sedangkan, sebaiknya tak merokok karena baju yang kita pakai itu terkontaminasi asap rokok. Kalau kita gendong anak, partikel rokok yang nempel di baju bisa kehirup anak. Bahaya, anak bisa bengek. Yang bahaya, ya perokok pasif. Lepas ini pun Pakcik langsung berangkat kerja, tak ada rencana gendong anak karena tak baik untuk mereka." Pakcik menaruh kembali bungkus rokoknya.
"Ya aku memang mau gendong anak siapa, Pakcik? Santai ajalah." Tak mungkin juga duda hamil dan memiliki anak.
"Keponakan kau, Dayyan, Kaleel, anak-anak Pakcik yang kau ajak. Mereka anak-anak, Bang." Pakcik memperhatikan aku dari samping.
Malas aku membahas anak, aku tersinggung. "Pakcik lagi punya kesibukan apa?" Aku mengalihkan pembicaraan.
"Berladang aja, jahe tapi. Garap kopi, yang dapat warisan keluarga aja. Sama Pakcik ada titipan ladang punya kau kan, jadi paling dapat bagian setiap kau panenan. Pakcik pengen buka usaha lain-lain, bisa aja, mampu Pakcik merasanya. Tapi keluarga Pakcik pasti kekurangan perhatian, anak-anak Pakcik juga pasti butuh orang tua sekaligus temannya. Kemarin itu Pakcik ada di Lampung, pulang mendadak pas dapat kabar duka itu. Kalau kau mau belajar ladang, ayo Pakcik ajarin. Nanti minggu depan, ikut Pakcik panenan di Lampung sekaligus garap ladang baru. Dua mingguan paling, terus pulang."
Aku tertarik mendengarnya.
"Cuma butuh waktu dua minggu, Pakcik?" tanyaku kemudian.
"Tak lah, di sana tiap bulan lima hektar ladang panen. Pakcik di Lampung ada enam puluh hektar ladang jahe, disetting panen berkala tiap bulannya lima hektar. Nambah ladang baru lima hektar, tapi masih garap tanah, belum bisa langsung pakai. Di sini ada empat puluh hektar, panen berkala juga. Makanya entah di sana entah di sini, semuanya nyuruh orang semua. Cuma kalau kau mau belajar, ya ayo Pakcik ajak lihat langsung panenannya. Pakcik ke sana bukan mau panen langsung, tapi niatnya garap tanah itu."
Ish, mantap. Aku terkesima mendengar total ladangnya, sampai seratus lima hektar.
"Pakcik mulai garap ladang jahe dari umur berapa sih? Itu udah terhitung ladang kopi bagian juga kah? Nanti aku izin dulu ke ayah masalah ke Lampung, tapi aku pribadi sih mau, Pakcik." Aku tertarik sekali ketika mendengar anak muda yang sukses.
Pakcik masuknya anak muda, tapi anaknya banyak yang kembar jadi total anaknya banyak. Tapi di usia tiga puluh tahun, ia sudah sejaya itu.
"Dari jadi duda, dua puluh dua tahun. Dibawa kakek ke Lampung, karena kakek punya sepuluh hektar jahe di Lampung. Kok enak gitu, tak susah budidayanya, tak butuh waktu lama juga. Jadi, Pakcik langsung lah minta start ladang modal. Dikasih tiga hektar lahan kosong masa itu, terus beranak terus sampai sekarang. Istri juga tak banyak nyetirin, sedangkan Pakcik orangnya fokus. Apalagi niat Pakcik bukan untuk nikah lagi gitu, niat untuk anak-anak Pakcik biar tak kekurangan. Jadi bismillah aja, lancar sampai sekarang dan semoga sampai nanti-nanti. Itu total punya Pakcik sendiri, Bang. Dulu Pakcik nyewa ladang mahar punya biyung kau, ladang mahar kan pasti jaya kalau diolah dan diniatkan untuk kebaikan. Begitu kata orang jaman dulu sih, jadi dari nyewa ladang dua tahun berturut-turut itu, berhasil bisa beli lahan sendiri meski dicicil. Ladang kopi itu, kita masing-masing dapat tiga puluh hektar, ditambah bagian waktu kecil empat hektar. Jadi ada tiga puluh empat hektar punya Pakcik. Kalau kau mau belajar, ya ayo. Kalau niat kau baik, InsyaAllah hasilnya pasti bagus." Pakcik tersenyum lebar.
Ini salah satu contoh pamanku yang paling malas, konon katanya. Bagaimana pamanku yang lain coba?
Aku jadi iri, dua puluh dua tahun belum bisa berjaya jelas.
...****************...
__ADS_1