
"Ambilah, ambil aja." Canda tidak berpikir macam-macam tentang menantunya.
"Iya, Biyung." Izza malu untuk bergerak.
"Tak usah sungkan lah, Biyung tau kau belum punya gas dan alat dapur." Canda mengambil sesuatu dari lemari pendingin, kemudian kembali lagi ke depan kompor.
"Iya, Biyung. Belum beli apapun." Izza sedikit malu untuk mengambil nasi dengan porsinya.
"Bawa minumnya juga, Dek." Canda membantu mengambilkan piring lain.
"Ada minum sih, Biyung. Sisaan air mineral kemasan gelas setengah kardus, dibawa masuk bang Chandra ke rumah." Izza melirik piring yang diletakkan di sampingnya itu.
"Lauknya jangan dicampur, Dek. Chandra risih kalau nasinya bercampur dengan bumbu tuh. Apalagi ini, tumis sawinya sedikit berair. Canda tak suka kuahnya, apalagi kalau nasinya kena kuahnya." Canda menyendokan hasil masakannya, untuk ditempatkan di piring lain.
Izza banyak belajar dari Canda, ia harus tahu lebih banyak tentang suaminya. Agar meminimalisir kekeliruan, karena efek ia tidak tahu lebih tentang Chandra. Lamanya hubungan mereka pun, terjalin lewat komunikasi jarak jauh saja.
"Ya, Biyung." Izza mencari nampak, kemudian menyusun nasi dan lauk pauk tersebut.
"Ati-ati, Dek," pesan Canda, saat Izza berlalu membawa makanan tersebut.
Chandra memasang senyum lebarnya, saat istrinya masuk ke dalam rumah dengan menggunakan nampan berisi makanan. "Makasih sayangku, nanti kalau masalah udah beres kita beli perkakas rumah tangga." Chandra membantu menurunkan isi piring tersebut.
"Makan selanjutnya beli aja sih, Bang." Izza merasa malu, jika ia harus memindahkan makanan terus dari dapur ibu mertuanya.
"Iya, nanti kalau siang udah clear. Sore nanti kita jalan-jalan ya?" Chandra mencoba mengertikan istrinya.
"Iya, Bang. Aku mandi dulu ya?" Izza tidak mau diburu-buru dengan keadaannya masih dalam kondisi junub.
"Iya, aku makan duluan ya?" Chandra mulai mencicipi lauk pauk tersebut.
"Oke." Izza mencari handuknya dan masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Hadi dan Ceysa pun datang, mereka mulai berunding dengan Givan dan Chandra yang memperhatikan dengan seksama. Dayyan menjadi perhatian Canda, karena ia yakin suaminya mampu menyelesaikan masalah tersebut. Jika ia ikut pusing, jelas nanti ada yang membutuhkan perhatiannya seperti Dayyan.
Semua bukti disatukan ke satu ponsel Hadi, cerita Ceysa dan kejelasan dari Hadi menjadi penguat mereka. Namun, Givan kembali menimbang jika harus membuka aib anaknya. Karena jelas, keluarga Sekar akan membalas dan mengatakannya pada ketua RT. Yang ditakutkan Givan akan terjadi, jika sampai rahasia kamar hotel Hadi dan Ceysa terbongkar.
Salah satu adik andalannya dari ayah kandungnya menjadi bentengnya. Ia langsung menghubungi Mavendra, adiknya satu ayahnya yang menjadi anggota kepolisian. Jika nanti permasalahan itu semakin meluas, Givan meminta agar adiknya menarik permasalahan tersebut ke hukum negara saja. Agar, anak-anak dan menantunya tidak merasakan hukum adat yang berlaku. Bukan ia tidak mendukung, ia hanya seorang ayah yang ingin melindungi anak-anaknya.
Mereka sepakat untuk menyembunyikan tentang fakta kamar Ceysa, jika masalah mudah diselesaikan dengan musyawarah kali ini saja. Namun, jika Sekar di sana semakin banyak berulah. Mau tidak mau, Givan akan menarik cerita bahwa korban sebenarnya adalah Ceysa.
"Izza juga ikut kah, Yah?" Chandra menunjuk istrinya yang sering meringis ketika akan duduk.
Chandra paham, semalam ia sedikit menyakiti istrinya secara tidak sengaja. Ia terbawa arus kehangatan mereka, ketika pertempuran itu sudah terjadi. Meski awalnya ia sesuai saran dari ayahnya, tapi tetap setelahnya ia terjerembab permainannya sendiri.
"Ikut aja. Yang percaya sama suami kau, Za. Jangan panas hati, jangan cemburu buta. Kau udah nyimak kan cerita aslinya gimana?" tegas Givan pada Izza.
Izza mengangguk cepat. "Iya, Yah." Ia paham sekarang, siapa Dayyan dan bagaimana perjalanan cinta Hadi dan Ceysa.
Kini, ia malu sendiri karena sudah iri dengan pernikahan Ceysa kemarin. Padahal, Ceysa berhak mendapatkan kebahagiaan itu dengan perjuangannya mengandung sendiri selama ini.
"Aku ada feeling sih, Yah," kata Chandra, kala mereka berjalan ke arah mobil.
"Sekar bakal main drama kek kemarin itu. Yang waktu dia ke sini, masa aku dari rumah Izza itu tuh. Dia seolah paling tersakiti, lalu pasrah dengan keadaan. Ia seolah buat sekelilingnya percaya, bahwa kita ini jahat dan tak bisa kasih keadilan ke mereka." Sudah bukan rahasia keluarga lagi, jika Chandra dikenal sebagai seseorang yang memiliki insting yang kuat.
"Kita lihat gimana dia di sana. Memang betul, semalam kau cuma papasan aja?" Givan memastikan kembali cerita tambahan dari anaknya itu.
"Iyalah! Aku malah lihat-lihat sekeliling pas mau pulang, saking tak mau papasan sama dia lagi." Bahkan tadi Chandra menceritakan tentang apa yang dibelinya dalam tujuannya ke minimarket.
"Lagian, dia ini ngapain keluar malam tanpa mahramnya? Ayahnya gitu, atau kakaknya gitu. Mencurigakan sekali, kok sendirian aja?" Ceysa mencoba memahami semua ini dengan otaknya. Sayangnya, pemikiran geniusnya tentu tidak bisa menebak isi pikiran Sekar dan isi hati Sekar.
"Heem, kerja kan tak perempuan paling malam itu jam delapan kan? Bahkan ada tempat kerja yang tak ada jam kerja sampai malam gitu untuk perempuan. Lagi pun, Sekar kan tak kerja kan?" Chandra mengemukakan pendapatnya sendiri.
"Dia tak lanjut kuliah juga, cuma sampai SMA. Kalau kuliah kan, mungkin baru selesai kerjain tugas gitu kan? Dia kan gak juga tuh," timpal Hadi menambahkan pendapat mereka.
__ADS_1
"Coba nanti kita tanyakan tujuannya apa. Agak aneh otaknya ini, cuma papasan disangkanya macam-macam." Givan geleng-geleng kepala.
"Yang waktu DM aku aja, yang screenshotnya udah aku kirim ke Hadi. Kan dia seolah merasa bahwa dia benar-benar melakukan dengan Bang Givan, ceritanya itu kek real gitu." Izza sempat cemburu buta dengan kabar dari Sekar tersebut.
"Iya ya, aku bacanya gila sendiri. Pengakuannya pun, kek sama yang waktu dia minta tanggung jawab ke aku. Mana baru lulus SMA masa itu, stress bukan kepalang." Hadi juga membaca screenshot yang dikirimkan kakak iparnya itu.
"Persis begitu, Di?" Chandra menoleh ke arah Hadi.
"Heem, di situ kan dituliskan Izza bahwa paginya Abang ngecek pakai jari. Kek yang aku ceritakan ke Abang itu, pas setelah lebaran di kamar aku." Mulut Ceysa terbuka tidak percaya, suaminya tidak pernah bercerita jika jari suaminya itu pernah berkunjung ke tempat lain.
"Jari Hadi?" Ceysa menunjuk jemari suaminya.
"Heem. Untuk cek, karena Hadi kan tak percaya." Hadi mengangguk membenarkan.
"Ihh! Hadi cuci belum?!" Ceysa langsung merasa jijik dengan jemari milik suaminya.
Hadi terkekeh geli. "Belum keknya." Ia mengusapkan jarinya ke wajah istrinya.
"Idih!" Ceysa langsung mengusapi wajahnya dengan cepat.
"Ya masa udah setahun tak cuci, yang benar aja?!" Hadi mencubit pelan pipi istrinya.
"Memang jari itu udah berkunjung ke rumah kau juga, Dek? Kok sampai segitunya?" Givan terkekeh geli, dengan melirik ke arah anak sambungnya itu.
Mereka sama-sama telah dewasa, tentu mereka cukup mengerti dengan ucapan Givan yang kurang jelas tersebut. Izza bahkan menjadi terbayangkan, jika jemari suaminya berkunjung ke miliknya juga. Karena semalam, Chandra tidak melakukan hal yang aneh-aneh.
"Belum juga, tapi Hadi kan suka pegang-pegang aku." Ceysa masih melirik sinis pada suaminya.
"Bersih, Ceysa cantik. Tenang aja." Hadi memberi senyum menenangkan untuk istrinya.
"Udah sampai, yuk turun?" Givan menarik rem. tangan mobil tersebut.
__ADS_1
Mereka berlima keluar dari dalam mobil, jelas mengundang kecurigaan tetangga kediaman Sekar. Rohan pun langsung keluar dari rumah, begitu menyadari kedatangan keluarga Riyana tersebut.
...****************...