
"Kenapa tak biyung yang antar? Kau nih suka cari-cari kesempatan untuk ngerecokin Abang." Aku mengambil alih piring dalam nampan tersebut, kemudian duduk di teras rumah nenek.
Aku rindu tinggal di sini. Nenekku orang yang paling peduli mengurus cucu-cucunya, jika biyungku tengah sakit dan pengasuh kami keteteran.
"Mana ada, Bang. Abang aja yang pikirannya kotor terus."
Apa ia mengerti arah pandanganku? Kan tadi aku hanya mengatakan bahwa dirinya merecokiku, bukan membuatku turn on.
"Ya sok sapu, biar bersih." Aku mulai menyantap makanan ini.
Karena jika nanti-nanti, ya nantinya akan lupa makan lagi.
"Cabul!" Ia mengejekku dan mentertawakanku.
"Mana ada! Kau yang cabul kali." Aku meliriknya, di sela kunyahan makanan ini.
Nasinya sudah dicampur opor, bisa melar nanti kalau aku menunda untuk makan.
"Mana ada perempuan cabul tuh." Izza menepuk lenganku.
"Ada, kasus rental PS kemarin yang di Jambi." Perempuan juga ada yang hyper s**s lah.
"Oh, iya-iya. Abang mau rental PS di sana?" Wajahnya menyebalkan sekali, membuatku gemas saja.
"Ada kau yang bisa disewa, ngapain rental PS dia." Aku meliriknya dengan menaikan satu alisnya.
Bunga membuang wajahku. Berani sekali adik kecil ini, karena sentuhan begitu akrab dan tidak ngotak.
"Bekas orang banyak, jangan sama aku." Ia tertawa renyah.
Hah, serius ini?
"Bekas berapa orang?" Aku lanjut menghabiskan makanan ini.
"Empat, mungkin. Entah enam."
__ADS_1
Hah?
"Heh, kalau tak mungkin empat ya entah lima. Kok entah enam? Perhitungan kau meleset jauh ternyata. Entah-entah sepuluh, kalau kau tak bisa ngira-ngira sih." Aku menggigit kerupuk udang ini.
Tawanya begitu lepas. "Kau tak akan percaya, kalau aku bilang bahwa aku korban pemerkosaan di usia tiga belas tahun."
Mulutku terbuka, dengan makanan yang belum aku telan. Bisa-bisanya tadi ia tertawa, mengungkapkan kasus yang mungkin ia pendam selama ini.
"Kenapa tak swipe up ke keluarga dan lapor polisi?" Aku cepat-cepat menelan makananku.
"Aku takut masa itu, Bang. Karena aku sendiri yang tak hati-hati dan berani ambil resiko untuk pacaran yang pertama kalinya."
Aku makin penasaran. "Coba kau ceritakan jelasnya, Dek. Kau diperkosa siapa, sampai kau berpikir kek gitu?" Aku rasa, bukan keluarga dari ibu kandungnya yang memperkosa diri Bunga.
"Pacar aku, Bang. Dia lebih dewasa, jenjang usianya lebih tua delapan tahun dari aku. Aku tiga belas tahun, dia masa itu dua puluh satu tahun dan dia security sebuah mall di sana."
Hah? Pantas saja ia tidak berani mengatakan pada siapapun, kasusnya suka sama suka ya akan ditertawakan oleh polisi juga.
"Bodohnya kau!" Aku hanya bisa geleng-geleng kepala.
Idih, gila. Tebakan ayah saat itu benar juga, benar-benar tidak meleset di endingnya.
"Kau tak sayang badan kau? Sampai badan kau jadikan bahan untuk balas dendam?" Sisi ibaku keluar.
Inilah yang paling aku malas dengan diriku sendiri, karena aku mudah sekali iba pada orang lain hanya mendengar kisah hidupnya saja.
"Kasian, sekarang. Entah nanti sih." Ia tertawa sumbang. "Abang orang pertama loh yang dengar cerita aku, jangan sampaikan ke ayah aku ya, Bang." Ia menoleh ke arahku.
Ngeri, ingin menyampaikan pun harus bercerita dari mana dulu.
"Setelah cek darah, kau sehat?" Aku khawatirnya, ia tertular penyakit menular.
Ia menganggukkan kepalanya. "Aku sehat, Bang. Setelah kejadian kemarin pun, aku belum pernah melakukan s**s kembali. Karena aku lebih suka tengok orang kelabakan lihat aku, daripada menaklukkan dia di ranjang. Karena itu lebih menyiksa, ketimbang melihatnya terkulai lemas. Bodoh aja kan gitu, kalau sampai aku mau muasin laki-laki? Kalau cuma buat dia turn on kan, dia akan tersiksa sendiri nantinya."
Tepat seperti yang dikatakan ayah juga.
__ADS_1
Aku mendekati telinganya. "Tapi jangan saudara kau juga, apalagi Abang. Kasihan loh, tak punya istri." Aku berbisik padanya.
Ia menepuk pangkuannya sendiri. Ia menoleh padaku dan tertawa geli sendiri. Sampai-sampai, tawa itu menular padaku. Ia berhasil, membuat keramahan ada di wajahku lagi meski hanya sementara.
"Tenang, aku akan menjagamu." Ia menepuk dan mengusap-usap lenganku.
"Kek yang iya?!" Aku meliriknya dan menghabiskan sesendok makananku lagi.
"Iyalah! Nanti seleksi perempuan yang Abang dekati, tapi nanti salah satunya jangan aku ya, Bang?" Tawa renyahnya menguar kembali seperti pengharum ruangan.
"Kau pikir?!!" Aku menaruh piring kosongku padanya.
Ia sampai terbahak-bahak lepas, matanya pun sampai berair seketika. Aku tersenyum tipis, dengan mengambil beberapa air mineral kemasan gelas yang ia bawa. Kemudian, aku membuka plastiknya dan meminumnya.
"Jangan sampai Abang ada feel ke aku kan, terus harus aku seleksi diri aku sendiri," jelasnya kemudian.
"Ya Abang pun tak mau kau juga kali." Aku meliriknya sinis.
Eh, ia tertawa dan menepuk lenganku lagi. Sampai air minumku tumpah-tumpah, karena gerakannya itu.
"Kan Abang gatal." Ia malah menuduhku.
"Kau kali yang gatal." Aku membalikan ledekan itu.
"Oh, tidak! Tenang! Aku punya cara sendiri untuk menanggulanginya." Kemudian ia menunjukkan jemarinya di depan wajahku.
Eh, eh…. Kok aku mengerti ya?
Aku menangkupkan tangannya, kemudian terbahak-bahak bersama-sama. Mataku sampai ikut berair, membahas hal random ini.
Ya memang, ada jari jemari masing-masing yang bisa memuaskan diri sendiri. Konyol memang, bahkan beberapa hari yang lalu aku menuntaskan sendiri dengan genggaman tanganku. Hal pertama yang aku lakukan seumur hidup, karena sulit tidur masa itu.
Ah, semoga aku tak mengulangi lagi di lain waktu.
...****************...
__ADS_1