
"Maafin aku, Yah." Aku memeluk ayahku sebisa tangaku meraih.
"Ayah pasti selalu bisa maafin anak-anak Ayah. Yang terpenting, bentengi diri kau karena kau harapan Ayah. Kau anak laki-laki Ayah, Bang." Ayah menepuk-nepuk punggungku.
"Bang, itu ada anaknya pak Darmaji. Maghrib-Maghrib begini mau keluar lagi kah?" Penuturan biyung melepaskan pelukan ayah dan anak ini.
Aku dan Ayah langsung memandang, kemudian aku baru memandang biyung dengan bingung. "Aku tak punya janji sama Jessie, Biyung." Aku membenahi kaosku untuk menutupi celana jeans yang kepalang lengket dan basah ini.
"Ayah suruh dia pulang ya?" Ayah segera bangkit dari duduknya.
Eh, sepertinya aku memang memiliki janji deh.
"Yah, Yah, Yah." Aku melambaikan tangan pada Ayah, yang sudah berjalan tiga langkah ke depan.
"Ada apa?" Ayah menoleh ke arahku, dengan biyung yang menatap kami berdua dengannya bingung.
"Jessie minta belajar ngaji, terus aku bilang nanti belajar ngajinya sama Biyung aja. Soalnya, dia sama sekali tak bisa ngaji" Aku memamerkan gigiku dan menggaruk kepalaku.
Ini fatal sih, baru saja ayah memintaku untuk memberi jarak dengan Jessie.
"Oh, tak apa. Ih, Biyung seneng kalau ada orang yang baru mau belajar, hijaiyah dari Biyung pasti jariyah sampai selama dia mengamalkannya. Gas, Biyung temui Jessica dulu." Biyung berjalan cepat ke arah ruang tamu.
"Jessica?" Ayah garuk-garuk kepala dengan memandangku.
"Bukan salah aku, Yah. Tuh, biyung sendiri yang semangat." Aku mengedikkan bahuku.
"Hmmm…." Ayah mengikuti biyung ke ruang depan.
Baiknya aku mandi besar dan sholat, rasa lengket ini amat tidak nyaman sekali. Pasti juga baunya tercium orang lain, karena menurutku baunya cukup menyengat.
Aku lanjut mencuci baju-bajuku, setelah keluar dari kamar mandi belakang. Hanya handuk yang melilit di pinggangku, sebelum akhirnya aku melarikan diri ke kamar karena sudah terdengar suara orang mengaji. Aku terbiasa lanjut mengirim doa dan surat-surat pendek untuk Izza, karena hanya inilah caraku mengutarakan rasa sayangku padanya.
Ia istri yang patut, aku yakin ia mendapat tempat terindah di sisiNya.
Tok, tok, tok….
"Bang, ada Kaf." Itu suara biyung.
"Ya, Biyung." Aku membuka pintu kamar terburu-buru, dengan masih menggunakan pakaian sholat.
Jessie masih ada di sini, ia ada di ruang tamu dan berbincang bersama biyung. Aku celingukan, karena tidak ada Kaf di ruang tamu ini.
"Katanya ada Kaf, Biyung." Aku memperhatikan buku yang ada di tangan biyung. Buku itu adalah kiat untuk belajar membaca Al-Qur'an dengan cepat.
"Itu di teras." Biyung menunjuk ke arah pintu.
Aku menganggukan kepala, kemudian berjalan keluar menuju teras. Benar, ada Kaf di sana. Ia duduk dengan dua gelas kopi dan juga sebungkus rokok kesukaanku.
__ADS_1
"Gimana, Kaf?" Aku menghampirinya yang duduk di teras bagian samping kiri.
"Udah seminggu dari kejadian aku dimarahi papa, Bang" Wajah frustasinya terlihat rapi.
Ini ekspresi alami.
"Terus?" Aku duduk di sampingnya.
"Papa diamin aku seminggu, terus baru pulang kuliah sore tadi papa ajak aku ngomong. Di tengah kondisi Dayana yang udah tak ngerengek minta dinikahi, entah apa yang mama omongi ke dia. Eh, sekarang papa nyuruh aku nikah siri aja. Karena papa dapat informasi, ada aturan baru di mana mahasiswa kedokteran itu belum dibolehkan untuk nikah. Kecuali, tengah lanjutkan pendidikan spesialis. Malam ini aku disuruh datang ke sana dan ngomong ke Dayana juga orang tuanya, masalahnya aku tak berani, Bang." Ia baru menoleh ke arahku di akhir kalimat.
Aku mengerti, aku diminta untuk menemaninya.
"Ya udah sama Abang, jam berapa? Jangan sampai jam sepuluh, soalnya nanti Abang ketinggalan futsal." Aku memamerkan gigiku.
Aku kecanduan futsal juga akhirnya.
"Bilang aja Abang mau pacaran sama perempuan itu kan?" Kaf menunjuk ruang tamu dengan dagunya.
"Tak lah, sama Bunga dong." Karena nyatanya lebih aman main dengan Bunga.
Meskipun sering turn on, aku tidak pernah sampai c*** seperti itu. Ya memang sudah biasa juga, jika malam Minggu, Bunga pasti ikut main.
"Coba ikut sih, Bang. Kita sekalian ajak Bunga aja, biar pulangnya langsung ke tempat futsal."
Aku manggut-manggut. "Begitu pun tak apa, tapi nanti ya Abang mesti makan di rumah dulu. Ini kopi siapa nih?" Sudah menjadi kebiasaanku mengopi dan merokok.
"Kopi untuk Abang, aku bawa dari rumah. Aku sih tak biasa makan malam, Bang. Khawatir perut dadut, nanti kurang lincah gerakan aku." Kaf mulai merokok.
"Ya misal di ruang operasi, kan gerak cepat lah." Asap mulai mengepul.
Aku kira bergerak ekhem-ekhem, makanya harus dengan gesit.
"Eh, mau masuk kah?" Aku melihat Zio melepaskan sandalnya di ujung teras.
"Ya, Bang. Mau izin nginep di rumah mertua." Ia menata rambutnya.
"Tolong ambilin makan untuk Abang, Yo." Aku terbiasa dilayani.
"Belum makan?" Zio hampir masuk ke dalam rumah.
"Belum malam sih, sama air putih juga, Yo." Untungnya, adik-adikku penurut.
"Ya, Bang."
Biyung marah jika aku tidak makan di rumah, minimal sekali saja katanya. Aku pun ikut aturan saja, toh itu bukan hal yang susah.
Aku melepaskan baju kokoku, kemudian menyampirkannya ke bahu. Hanya singlet yang aku kenakan, aku pun membahas banyak hal sembari menunggu nasiku datang.
__ADS_1
Namun, Zio malah keluar seorang diri.
"Nitip rumah ya, Bang? Minggu sore aku pulang." Ia malah ngeloyor saja.
"Oh, iya-iya. Mana makan Abang?" Aku menegakkan dudukku.
"Tuh." Zio menunjuk pintu rumah dengan dagunya.
Aduh, kenapa Jessie yang mengantarkannya?
"Makasih. Biyung mana?" Aku menerima makanan dalam nampan itu.
"Lagi urus ayah makan. Aku sekalian pulang ya, Bang?" Ia tersenyum manis dan menaruh nampan di dekat aku duduk.
"Oh, ya. Makasih ya?" Aku membalas senyumnya.
"Ya, Bang." Ia meninggalkan teras.
"Tinggian ini dari Bunga, kek perawakan mama loh dia. Cuma bedanya, lebih singset aja. Mama kan gemoy." Kaf melirik ke arah perginya Jessie.
"Masa? Gitar spanyol gitu?" Akh mulai melahap makananku.
"Jam pasir, Bang. Karena di tinggi kurus, jadi kek jam pasir."
Aku langsung membayangkan jam pasir.
"Oh, iya-iya. Pakaiannya longgar terus, jadi tak tau pasti." Aku menikmati tumis masakan biyung ini.
Paten sekali rasanya jika biyung membuat tumis. Meski tidak ahli membuat masakan lain, tapi tumisnya luar biasa enak. Biyung mendalami ilmu masak tumis, tapi hasilnya tidak kaleng-kaleng.
"Nampak di cekungannya, Bang. Mata Abang kurang jeli sih." Kaf terkekeh geli.
"Mata kau lebih keranjang soalnya." Aku meledeknya.
"Tak sekarang sih, kena mental aku didiemin papa berhari-hari." Kaf menyeruput kopinya.
"Menurut kau, enak kah selang*****n Dayana?" Aku terkekeh kecil.
"Enak, kek blush gitu di kepala. Tapi ngeri ya sakit kencingnya sampai beberapa hari, shocknya di situ sih aku, Bang." Kaf menanggapi dengan serius.
"Kau yakin kah Dayana itu perawan?" Bisa jadi pakai alat saja.
"Bener lah, aku paham kali ciri-ciri perempuan perawan. Dari permukaannya aja udah nampak, Bang. Ayo cepat, Bang. Aku ambil motor dulu ya?" Kaf berdiri dari duduknya.
"Ya udah ambil motor aja dulu, tanggung sedikit lagi." Aku menunjukkan isi piringku.
"Oke, Bang. Jangan lupa Bunganya dikontek, Bang." Kaf pergi lebih dulu.
__ADS_1
"Oke." Aku mengangguk berulang.
...****************...