
"Kenapa, Biyung?" Aku panik melihat ibuku tersayang menangis di ambang pintu.
"Heh, Ayah nanya baik-baik, kau jawab tak sopan betul. Makanya kenapa perlunya pendidikan tinggi dan agama yang kuat, biar tumbuh punya akhlak dan tata krama." Suara lepas ayah terdengar menggema, diikuti dengan ayah yang berada di sisi biyung dan merangkul biyung.
Biyung memeluk ayah, tangannya melingkar di perut ayah.
Aku sudah sampai di teras, abu Zuhdi muncul dari pintu halaman samping sebelum kanan, diikuti dengan kak Jasmine yang menggendong anaknya tanpa mengenakan hijab.
"Biyung kenapa, Biyung?" Aku segera merangkul biyung, agar biyung berpindah pada pelukanku.
Ayah menoleh ke belakang, matanya memperhatikan orang-orang yang datang. Lalu, matanya tertuju pada kak Jasmine yang berjalan segera.
"Dek, bawa Biyung main ke tempat kau. Anak kau jangan dibawa ke sini, kaget nanti." Ayah malah membawa biyung untuk ikut dengan kak Jasmine.
"Iya, Yah. Diobrolin tuh, Yah. Jangan ribut, Yah," ujar kak Jasmine dengan membawa pergi biyung.
"Iya, Dek." Ayah kembali masuk ke dalam rumah.
"Yah." Aku berdiri di belakang ayah.
"Diam, Bang!" Ayah maju dua langkah.
"Bang, udahlah." Om Vendra menahan dada ayah.
"Kasih tau anak kau, untuk bisa menghormati orang tuanya. Kau salah, memang. Tapi mereka harusnya mikir kenapa kau sampai berbuat gitu, masih untung kau tak berzina dan punya anak dari hubungan zina." Ayah menunjuk Balawa yang menutup pelipisnya sambil terduduk si sofa.
__ADS_1
Kondisinya, kesakitannya, rintihannya, seperti ia habis ditonjok seseorang.
"Ya jangan pakai kekerasan juga, Bang," ungkap tante Nina dengan berusaha menyentuh wajah anaknya.
Suara tangisnya tak terdengar, tapi pipinya sudah basah dengan air mata.
"Jangan pakai kekerasan gimana?! Anak laki-laki kau bilang mau ng*****in anak perempuan suami kau yang di Sulawesi sana, terus ditinggalkan. Otaknya di mana?!! Dua anak perempuan di sana, itu saudara sedarahnya. Bercanda bukan gitu caranya! Mencampakkan keluarga sendiri, bukan untuk bahan bercandaan!" Sorot mata ayah tetap terarah pada Balawa dan tante Nina.
"Maaf, Yah," lirih Balawa dengan kondisi meringis.
Jadi benar, jika ayah habis memikul Balawa? Aduh, aku takut ayahku disantet oleh mereka.
"Ayah sama berbuat salah, makanya Ayah mendukung perbuatan Papah." Dehen memperkeruh suasana saja.
"Diam ya kau, A*****!!!" Ayah menunjuk pada Dehen.
Aduh, sisa bajingannya keluar.
"Bang, udahlah!" Om Vendra menurunkan telunjuk ayah.
"Dibicarakan pelan-pelan, Van. Ingat cucu kau yang baru belajar ngomong itu, Kaleel dengar nanti dia ikutan ngomong gitu." Abu Zuhdi merangkul ayah dan membawa ayah untuk duduk di sofa.
"Hen, ngomong yang sopan." Om Vendra membawa Dehen untuk duduk juga.
Ada pecahan beling juga. Sepertinya, ada gelas yang dilempar.
__ADS_1
Aku memilih untuk mencari pengki dan sapu, agar pecahan beling tersebut tidak melukai siapapun.
"Ayah seolah membenarkan Papah, padahal Papah udah ngaku bersalah," ujar Dehen setelah mereka duduk bersama.
Aku fokus pada beling saja, meski telingaku mendengarkan.
"Ayah tak membenarkan, cuma memberi pendapat. Kalau Mamah kau boleh dibawa keluar pulau, tinggal di Sulawesi sana, pasti tak akan punya istri lain Papah kau, Hen! Apa salahnya kepala keluarga membawa anak istrinya ke tempatnya bekerja? Ayah aja, lamanya berbulan-bulan, cepatnya satu minggu, keadaan biyung fit, Ayah bawa biyung pergi ke kota tempat Ayah bekerja. Karena apa? Kami para laki-laki yang punya uang banyak, rasanya pengen gagahi semua perempuan cantik yang melintas depan mata. Tak apa adanya istri, seolah jadi pelampiasan aja. Dari pada berbuat dosa, masih untung kita menyalurkan ke istri sendiri. Kau jangan ikut kolot kek kakek kau ya, Hen! Kalau kau ikut Papah kau, mungkin kau tahun ini udah wisuda juga. Mungkin kakek kau bangga dengan hasil ajarannya, tapi orang tua merasa gagal tak bisa memberikan pendidikan untuk anaknya semampu dirinya menjebatani. Kau bahas-bahas sulung Papah kau di Sulawesi ambil kedokteran, kau pun bisa kalau kau nurut Papah kau untuk lanjut SMA dan kuliah. Kau pikir ambil kedokteran, bisa dari jalur tabib? Meski sesuatu yang bisa dibilang sama, tapi ilmunya beda, Hen!" Meski ayah sudah tidak meledak-ledak, tapi suaranya masih seperti petasan banting.
"Van, pelan. Kita udah lima puluh tahun, rawan jantungan. Kaget aku sama suara kau," tutur abu Zuhdi lirih, tapi tetap terdengar.
Ada gelinya juga.
"Hmmmm…." Ayah melirik sekilas pada laki-laki di sampingnya itu.
Beling sudah beres, aku membawa keluar dan membungkusnya dengan plastik sebelum menaruhnya di tempat sampah. Entah ada obrolan apa, karena aku cukup lama membereskan beling ini.
"Intinya, Papah minta maaf. Papah pengen kita tetap baik-baik aja, di sana pun damai-damai aja. Kau tak perlu takut, ibu kau di sana pun berpendidikan dan beretika. Dia guru PAUD, yang memang bayarannya tak seberapa, tapi dia punya ilmu dan kesabaran yang luar biasa. Sejauh ini, ibu kau di sana tak pernah mempermasalahkan apapun. Bahkan, tentang tiga anaknya tertulis hanya dilahirkan darinya aja, tidak dengan seorang ayah. Kau pun tenang aja, Nin. Dia cuma istri siri, sampai kapanpun kau yang lebih hak, apalagi tentang pensiunanku nanti. Kau jangan takut satu hak kau hilang di masa aku pensiun, itu semua akan jadi milik kau. Makanya kenapa aku tak pernah larang dia untuk tetap ngajar, untuk tetap jualan toko sembako, biar dia tak kaget masa aku udah tak bisa kasih apa-apa lagi ke dia. Aku berharap dia bisa mandiri, dari kemandiriannya selama ini. Anak-anak aku di sana, aku sekolahkan tinggi karena udah kewajiban aku sebagai orang tuanya. Dua anak laki-laki aku, tak bisa terusin profesi aku, padahal mereka bisa dapat tiket dari aku. Terus gimana? Sulung di sana tak bisa aku bawa ke militer, karena dalam dokumen dia bukan anak aku. Ya aku cuma berharap, aku mampu kasih pendidikan setinggi mungkin, untuk bekal masa depannya ngasih ibunya makan di masa ayahnya ini udah pensiun. Sulung aku harapan aku untuk ngasih makan ibunya di sana, karena aku sadar diri dengan keadaan aku yang tak punya usaha apapun untuk diwariskan. Kau ribut pensiunan tak seberapa, kau ribut anak di sana masuk perguruan tinggi. Tenang, Nin. Yang di sana tak akan pernah membuat kau repot, apalagi sampai buat kau cari hutang ke tetangga untuk saku anak kuliah dan sekolah. Aku pensiun pun, masih sekitar sepuluh atau lima belas tahun lagi, jadi tak perlu kau takut tak aku kasih makan dari sekarang. Kau tetap menang dari segala sisi."
Ketika aku masuk kembali, om Vendra hanya bisa menatap lantai dan berkata lirih.
"Kau pikir hanya itu? Gimana hati kau? Pikiran kau pun di dia aja. Untuk apa kau pulang ke aku, kalau pikiran dan hati kau ke sana aja? Sekalian aja di sana, lepasin aku, biar kau tenang nungguin yang di sana yang lagi sakit itu." Suara tante Nina yang bergetar, isakannya yang hebat, menandakan hancurnya hati seorang istri yang selama ini sudah sudi setia pada suaminya.
Aku juga ingin menangis rasanya, aku bisa memahami remuknya hati tante Nina.
...****************...
__ADS_1