
"Tambah geli, Abang." Nahda terkekeh kecil, saat aku memasukinya dengan sarung bermotif seperti duri kaktus. Namun, berbahan lembut.
Aku mengatur napasku, setiap kali terasa geli mengundang. Entah ide dari mana, karena aku menarik sampai terlepas ketika aku terhanyut permainan. Tanggung memang, Nahda pun terlihat merengek. Tapi ternyata, cara ini mampu membuatku mengimbanginya.
Suatu kebanggaan, setelah usaha olahraga rutin dan pijat serta rebusan itu. Aku mampu menaklukkannya 3:1.
Bukan hunian yang jauh seperti aku harapkan, karena keluarga terlanjur mengizinkan agar kami tinggal di rumahku yang berdekatan dengan ayah. Aku makin jelas melihat aktivitas Nahda, yang ia bagi dengan waktu kuliahnya.
Benar-benar makin menjadi pertarungan kami Nahda benar-benar ingin praktek di ruang tamu dan ruangan lainnya. Ternyata, sangat mengasyikkan karena ada rasa deg-degan juga.
Nahda memaklumi jika rumah kami masih cukup kosong. Aku pun mengatakan, bahwa akan mencicil untuk barang-barang rumah tangga. Nahda menawarkan tabungannya, aku sudah menolak. Namun, barang-barang satu persatu datang yang katanya menggunakan uang dari transferan keluarga itu.
Ia adalah perempuan yang sulit dikendalikan tentang hal yang menurutnya itu tentang ruang lingkupnya, ya seperti sprei itu. Sudahlah, terserah saja. Aku tidak mau ambil pusing, karena memang aku sudah fokus memulai pembangunan rumah produksi sederhana.
"Jessie itu siapa?" tanya mama Aca, ketika aku memanggil Nahda untuk menyuruhnya pulang.
Ia tak selalu di rumah, ia main ke rumah ibunya dengan membawa setumpuk pakaian yang belum disetrika dan belum dilipat. Ia pulang dengan tumpukan pakaian rapi biasanya, katanya sulap, tapi aku tahu bagaimana sulap itu bekerja pada pakaian tersebut.
"Perempuan yang pernah dekat itu, kenapa memang?" Aku diberi beberapa buah jeruk oleh mama Aca yang disatukan di dalam kantong plastik.
"Nanti ya, Bang? Dikit lagi." Ia nyengir kuda, saat ketahuan bahwa ia mengerjakan pakaian itu dengan asisten rumah tangga di rumah mama Aca ini.
"Kenapa dia ganggu Nahda, kalau dia cuma perjalanan masa lalu kau?" Mama Aca mendekatiku, dengan sepiring lauk-pauk.
"Ganggu Nahda? Masa iya?" Aku memandang istriku, yang tengah sibuk berkutat dengan pakaian kering itu.
"Ya coba kau tanyakan aja, udah Mama nasehati sih. Apa yang menurut Mama benar, pasti Mama nasehati ke dia. Mama tak lepas tangan kok, Mama paham dia tak paham apapun jadi seorang istri." Mama Aca memberikan sepiring lauk-pauk itu padaku.
"Gih duluan, nanti Nahda angkut baju dibantu ART." Mama Aca seperti menyuruhku pergi.
__ADS_1
Mama Aca hanya membuatku penasaran saja. Aku tidak tahu pasti tentang keberadaan Jessie, entah ia masih di rumah pak Darmaji atau sudah pulang ke Pariaman.
"Mau nungguin Nahda." Rumah terasa sekali kosong, jika tidak ada dirinya.
"Mau apa? Makan kah?" tanya mama Aca kemudian.
Ya sebenarnya tak butuh apapun sih, aku hanya ingin ia di rumah saja. Membiarkannya berkeliaran di rumah, sedangkan aku bekerja dengan laptop dan memperhatikannya.
"Mau anu kah, Bang?" Istri yang sholehah itu menaik turunkan alisnya.
"Nanem terus, nanti tak jadi-jadi loh. Hubungan ranjang itu dijarangin, biar cepat jadi anak. Kek seminggu sekali, atau cukup dua kali aja."
Halah, praktiknya tetap sehari sekali. Itu pun untung ia tidak minta nambah, karena ia keluar lebih dari satu kali.
"Kek bukan suami istri aja jarang-jarang," sahut Nahda yang memang dasarnya dirinya doyan itu.
"Yaa maksudnya sih, Dek. Biar air laki-laki kau itu berkualitas gitu loh, biar kau cepat hamil." Mama Aca sampai geleng-geleng kepala.
Aku malu berada di tengah-tengah ibu dan anak yang tengah membahas s**s ini.
"Kau kira hamil itu datang bulan? Keadaan kau dan bayi kau aman, ya tancap aja terserah kau." Nada bicara mama Aca naik satu oktaf.
"Tapi Abang janji, hamilnya nanti aja." Suaranya seperti merajuk manja.
"Heh, Nahda. Yang namanya berhubungan s**s, suami istri apalagi, ya resikonya…."
Aku segera menepuk pundak mama Aca. "Udah aku kasih tau, Ma. Udah tinggal iya aja, masalah hamil urusan nanti." Aku berbicara lirih sekali.
Nahda anak perempuan yang ngeyel.
__ADS_1
"Mama khawatir psikisnya tak siap, kalau dia hamil tanpa pemahaman," terang mama Aca lirih juga.
"Ya gimana? Mama tau sendiri anaknya gimana?" Takutnya pun seperti Ceysa, yang terlalu banyak berprasangka buruk tentang aibnya yang tak disengaja itu.
"Ya kita bareng-bareng kasih pemahaman, Bang. Dia juga banyak tanya ke Mama, tentang kenapa dia harus patuh ke kau, harus buat sarapan, harus siapin baju dan harus urus rumah. Dia beranggapan, istri itu ya ratu, dilayani. Dia bisa sampai paham ini semua kan, karena mulut Mama sampai berbusa. Yang paham lah, Bang. Istri kau itu baru lahir kemarin sore, kalau bukan kita yang kasih pemahaman, ya siapa lagi? Jangan Mama aja gitu loh, peran kau juga harusnya nampak di sini."
Begini ya punya mertua?
"Iya, Mah." Aku tidak mau berdebat.
"Jangan cuma kau suruh-suruh dan kau pakai aja." Mama Aca meninggalkan sofa tempat kami duduk bersama.
Apakah Nahda bercerita dusta bahwa aku sering menyuruhnya? Atau, apa benar aku sering menyuruhnya? Di awal menikah, aku hanya memberikan pemahaman agar ia membuatkan sarapan, makanan dan juga mengurusku.
Namun, setelah hari itu Nahda melakukan hal-hal itu sendiri. Aku tak minta ia untuk membuat sarapan lagi, karena ia sudah membuatkan terlebih dahulu. Aku tak minta ia untuk mengurusku, karena ia bukan hanya mengurusku, tapi melayaniku lebih dulu.
Aku datang masuk rumah, ia langsung menyodorkan air putih. Aku mandi, pakaian ganti sudah ia siapkan juga. Aku diminta makan, kemudian ia sibuk menyiapkan makanan kami agar kami makan bersama. Aku beranjak ke ranjang, ya ia sudah siap dengan pakaiannya yang gampang aku buang.
Ya, mungkin itu semua jasa nasehat mama Aca selama ini. Tapi, benarkah harus diakui begitu besarnya jasanya? Lalu, apakah aku harus bercerita semua hal yang aku jelaskan pada Nahda, agar anak perempuannya itu paham segala tentang resiko kehamilan dan dunia peribu-ibuan?
Mungkin orang-orang di luar sana pun, merasakan ditegur mertua. Mungkin ini semua alasan sebenarnya mereka semua, untuk minggat dari pondok indah mertua. Aku berpikir demikian, karena aku pun shock mendapatkan teguran seperti ini.
Masa baru saja saja, aku ditegur. Ini itu, diminta keterangan. Rasanya seperti tak bebas sekali menikahi anak perempuan mereka ini.
Hmm.
"Dek, ayo." Aku bergerak mengajak Nahda untuk kembali pulang.
Aku khawatir mulutku tidak sengaja melarang Nahda untuk berkunjung ke orang tuanya, jika cara mama Aca seperti itu. Ya bagaimana, memang agak sesak di dada.
__ADS_1
"Iya Abang sayang, ayo pulang." Nahda tersenyum lebar, kemudian mengangkat keranjang bajunya.
...****************...