
"Mana bisa lah, Bunga!" Sudah keturunan darah tinggi, ada saja yang membuat emosi sepagi ini.
"Kenapa tak bisa lah, Bang?!" Ia menoleh ke arahku dan menahan tawa.
Ia pikir ini lucu.
"Aku mau kerja lah, bukan mau traveling! Kau kira apa kali, bisa ikut segala!" Diam-diam aku emosian orangnya.
"Memang apa kali apanya?" Ia benar-benar menahan tawa.
"Udahlah, coba dulu bawa aku," pintanya kemudian
Heh! Apalagi ini coba-coba membawa janda muda? Bisa mati keok dikempit di sela ketiak janda aku ini.
"Ngapain dibawa-bawa? Kau pikir, kau bisa apa?" Aku sampai menepikan kendaraanku.
Tawanya lepas seketika. "Abang pikir??? Hayo, aku bisa apa?" Ia mencolek pinggangku.
Hai, salah teks kah?
"Udah ah! Malas aku sama kau nih!" Emosian aku ini berhadapan dengannya.
"Nebeng bentar sampai swalayan skincare depan pagar sandang itu loh. Ya ampun pengantin baru kurang jatah, sensitif sekali."
Oh ya ampun, aku sudah berburuk sangka. Masih untung dia tak tersinggungan dengan sikapku barusan. Masalahnya hanya satu, aku takut ia mengacaukan keimamanku. Ia cantik sekali, mak. Alisnya tebal, dagunya runcing, hidungnya minimalis tapi part belakang oversize.
Sekali ajakan zina darinya, aku takut tidak bisa menolaknya. Soalnya mubazir sekali pasti kan?
"Ya kau tak bilang!" Aku mulai menginjak pedal gas kembali.
"Ya Abang kan biasanya tak bawel dulu tuh, sekarang banyak omong. Mana aku tau Abang udah berubah banyak begini."
Heh, yang jadi masalah itu perubahan tubuhnya. Ia dulu adik kecil yang tak membuatku bergelora, sekarang hanya wanginya saja membuatku sudah setengah tiang.
"Ya dikira-kira aja lah! Dulu kan masih kecil, sekarang kan udah dewasa." Harusnya ia sadar diri.
__ADS_1
"Memang apa hubungannya?"
Tak mungkin ia tidak mengerti.
"Udah ah, yang di mana nih swalayannya?" Banyak toko kosmetik besar di sini.
Wajar gadisnya glowing-glowing. Padahal kulit pribumi aslinya adalah hitam manis, tapi jadi seputih awan.
"Yang paling besar tuh."
Kenapa pikiranku travelling? Yang paling besar katanya?
Ah, aku jadi terkekeh sendiri. Tiba-tiba tawanya menggema, kemudian ia menunjuk wajahku. Mungkin, pikiran kita searah.
"Mesum betul kau! Mulut kau kotor betul, Dek. Apa yang keluar dari mulut kau itu ke arah yang negatif semua." Aku malah keceplosan seperti ini.
"Daripada yang masuk ke mulutku negatif semua."
Eh, eh, ehh! Kenapa aku berpikiran itu tentang cairan laki-laki?
"Rusuh kau! Dah sampai tuh." Aku menepikan kendaraanku.
Heh, aku kakak angkatnya. Kenapa ia menggodaku?
Sampai malam harinya, ia bertamu ke rumah dengan membawa masakan dari ibu sambungnya katanya. Riang sekali pembawaannya, ia seperti terlihat bahagia selalu. Ah, sudah seperti ulang tahun saja.
"Yah…." Aku mendekati ayah yang tengah fokus dengan laptopnya.
"Hm? Udah kirim laporan?" Ayah melirikku.
"Udah, udah." Aku memandang pintu akses, aku khawatir Bunga muncul dari sana.
"Izza mana? Udah makan?" Ayah bertanya ke mana-mana.
"Udah, sama biyung di ruang tengah sama Bunga juga. Eh, Ayah merhatiin Bunga tak?" bisikku kemudian.
__ADS_1
"Kenapa?" Ayah bertanya dengan lirih.
"Gerak tubuhnya, physical touchnya, lirikan matanya. Terus…." Aku memandang kembali ke arah pintu penghubung.
"Dia suhu, ati-ati," pangkasnya kemudian.
"Hah? Serius, Yah?" Aku terkejut mendengar ucapan ayah.
"Pura-pura tak tau aja. Tinggal kau yang hati-hati, jaga jarak, ingat istri kau lagi sakit." Ayah tetap fokus pada layar laptopnya.
"Ayah orang tuanya loh, masa pura-pura tak tau? Kasian lah dia, dia udah terjun di jalan yang salah." Aku sampai menepuk pundak ayah.
"Dia tau jalannya, dia tak terjun di jalan yang salah. Tapi tabiatnya begitu, Bang. Itu pilihan yang ia jalani, bukan salah jalan."
Kebiasaan, aku sering tidak mengerti ucapan ayah. Mungkin ayah menyadari, jika aku memperhatikan wajahnya dari sampai sejak satu menit yang lalu.
"Ish! Anak Canda! Ada fase di mana mendewasakan diri, mencari jati diri dan menikmati masa mudanya. Tobat dia pasti, tapi bukan sekarang. Ayah pun pernah nasehati dia dan memberi saran terbaik untuk kehidupannya, tapi kalau dia tak pakai saran Ayah, itu bukan kesalahan Ayah. Itu jalan hidupnya yang ia pilih, dia tau dia berbuat hal yang salah dan dia sadar dia melakukan hal yang salah."
Makin rumit. Mungkin karena aku belum kenyang, jadi aku sedikit pusing memahami kata-kata dari ayah.
Ayah menghela napasnya. "Sayangnya kau kadang dominan biyung kau, Bang. Emosinya Ayah di situ." Ayah menepuk pundakku.
Aku terkekeh geli, kemudian memandang wajah ayah. Ayah menahan tawanya, sampai tawanya terdengar.
"Ayah udah nasehati dia, udah sarankan untuk bermain ke hal yang positif. Terus dia jawab apa? Dia jawab, aku sakit hati ke laki-laki. Bingung Ayah, nasehati udah, sarankan udah, jadi Ayah cuma bisa berpesan. Yaitu, jangan sampai dia hamil di luar nikah lagi."
Aih? Bolehkan berpesan seperti itu?
"Marahin lah, Yah. Kurung di kamar." Emosi aku mendengar saran ayah.
"Kena HAM Ayah nanti. Dia udah dewasa, pikirannya lebih matang dari kau. Satu kegemarannya, yaitu buat laki-laki 'ingin' karena dirinya, lepas itu dia tinggalin laki-laki itu dengan pikirannya yang udah ke mana-mana." Ayah membuat tanda kutip ketika mengatakan ingin.
"Dia merasa puas, dia merasa senang, karena udah buat laki-laki kalau, rumit, pusing, pening karena ulahnya. Kasian, memang Ayah kasian. Ayah bilang, periksa lab coba. Dia iyakan, terus pagi tadi, dia kirim hasil tes katanya dia sehat. Yang Ayah cari bukan karena sehatnya, tapi takutnya dia dapat penyakit dari laki-lakinya yang kemarin. Sepaham Ayah juga, perempuan itu bakal cukup lama pulih dari sakitnya kalau dia masih baru disakiti. Ini dia kek kebal disakiti, kek nenek Dinda. Berpikirnya pakai logika, Ayah suka cara berpikirnya. Sedihnya Ayah, ia jadikan tubuhnya sebagai perantara balas dendamnya. Biarpun dia tak bilang, tapi Ayah yakin laki-lakinya bukan cuma satu yang ceraikan dia kemarin itu. Maksudnya, pengalaman pertamanya bukan dengan laki-laki itu. Pasti, laki-laki itu adalah yang kesekian dan sialnya dia dapat suami orang kala dia mau berubah. Perantara hamil, niatnya dia ingin menyudahi kegiatan gilanya. Tapi sayangnya, laki-lakinya itu jahat dan picik. Ayah sih nebaknya begini, karena perempuan yang udah lelah dengan kegilaannya itu akan menerima kehamilannya. Lain dengan perempuan yang tak sengaja hamil, dia pasti tau caranya untuk hilangkan kehamilannya. Bunga tak begitu, dia senang dengan kehamilannya, beda dengan laki-lakinya yang sengaja membunuh kehamilan Bunga untuk lepas dari tanggung jawab. Kau laki-laki yang tak punya pengalaman, mungkin pikiran kau tak sampai ke hal ini."
Memang merumitkan, lebih baik aku tak memikirkan. Apa terbaca ya oleh pak wa, jika anaknya seperti itu?
__ADS_1
"Dia berubah kalau?" Aku bertanya tapi menggantungkan kalimat.
...****************...