
"Ada apa, Pakwa?" Aku membaca kepanikan dari wajah pakwa, kala ia bertanya pada seorang perawat yang keluar dari ruang operasi.
"Minta baju OK." Pakwa mengejar perawat yang ia tanya tadi.
"Silahkan ikut Saya, Dok." Perawat tersebut berjalan cepat dan tergesa-gesa diikuti dengan pakwa.
Pakwa muncul dengan pakaian khas kamar operasi, pintu pun ada yang membukakan. Terlihat sejenak keriuhan di dalam ruang operasi, saat pintu tertutup perlahan setelah pakwa masuk.
"Baju OK itu baju operasi kamar kan, Yang?" Salah seorang perempuan yang akan mendonorkan darahnya berbicara pada Kaf.
"Iya, minta arahan sama petugas yang di depan." Kaf menepuk pundak teman perempuannya tersebut.
"Ada apa memangnya ini, Kaf?" Aku mendekati Kaf.
Rasanya campur aduk sekali, seolah ada yang gawat tapi tidak disampaikan padaku. Kan aku berhak tahu juga, bukan malah dilewatkan seperti ini.
"Kurang paham, tapi biasanya ada sedikit masalah." Kaf menggaruk lehernya.
Masalah apa yang terjadi pada Izza? Ia bahkan tersenyum lebar saat masuk ke ruang operasi.
"Kaf, coba tanya ke siapa gitu. Abang kok ketar-ketir betul rasanya." Kakiku bahkan geli tanpa tahu tujuannya.
"Sini duduk, Bang. Jangan buat panik pikiran sendiri, mereka lagi usaha." Ayah memanggilku.
Aku tidak bisa tenang.
"Keluarga, mohon siapkan pendonor. Minta arahan ke perawat yang di depan." Seorang perawat keluar kamar operasi dengan tergesa-gesa.
Tak lama kemudian, pintu kamar operasi terbuka lebar dan brankar Izza didorong cepat keluar ruang operasi.
__ADS_1
"Pakwa, Dok, Sus." Aku mencoba menahan salah satu dari mereka yang bergerak cepat memasang alat-alat pada tubuh Izza dengan brankar yang terus didorong.
"Bang, sini dulu." Ayah menahanku untuk tidak mengganggu mereka.
Kaf dan salah satu teman wanitanya pergi tergesa-gesa juga. Aku mengejar brankar Izza yang didorong, sampai aku ditahan tidak boleh masuk ke ruangan tersebut.
Ternyata, ruangan itu adalah ruangan ICU.
Salah satu brankar pun masuk lagi, ternyata itu adalah teman wanita Kaf yang memanggil Kaf dengan sebutan 'yang'. Ia didorong masuk ke ruangan ICU, dengan pakaian steril seperti petugas yang lainnya.
"Aduh, gimana ini?" Mataku sudah berkaca-kaca, melihat petugas medis yang kalap sendiri-sendiri tersebut.
Pakwa pun tidak terlihat, ia masih berada di dalam ruangan ICU tersebut. Keadaannya serumit apa? Sampai mereka begitu sulitnya untuk memberitahu keluarga pasien.
"Sekalian aja, sekalian aja. Mana satunya? Kantong darah O memang kosong juga kah?" Pakwa keluar dengan pakaian steril yang berbeda dengan pakaian untuk ruang operasi tadi.
"Ada, Dok. Sebentar, dipersiapkan terlebih dahulu." Perawat yang hendak masuk ke ruang ICU langsung putar balik dan berjalan cepat menjauh.
Salah satu teman Kaf didorong masuk ke ruang ICU, dengan pakaian steril juga. Kaf pun membantu mendorongnya juga, hanya sampai di depan pintu ICU saja.
Di belakangnya, ada perawat berlari tergesa-gesa dengan membawa kantong darah dalam tas khusus yang transparan. Kemudian, ada lagi perawat yang mendorong meja stainless dengan membawa alat-alat medis.
Berhubungan dengan darah kondisi Izza sekarang. Apa ia pendarahan?
"Kaf, Kaf….. Cari teman kau lagi yang punya O, untuk cadangan aja." Kepala pakwa keluar dari ruang ICU yang tengah dibukakan oleh perawat yang masuk dengan membawa meja stainless.
"Siap, Pakwa." Kaf langsung sibuk dengan ponselnya. Ia melipir mencari tempat sepi, ia berbicara dengan seseorang di sambungan teleponnya.
Tolong seseorang jelaskan padaku, bagaimana kondisi Izza saat ini. Karena aku begitu kalap, dengan kondisi tanpa kejelasan seperti ini. Dari ruang operasi, aku sampai mengejar ke ruang ICU. Namun, aku tidak mendapat kabar apapun tentang istriku sendiri.
__ADS_1
Informasi tentang Izza, seolah diblokade sementara dari keluarganya. Kenapa tenaga medis seperti ini? Kenapa tenaga medis membuat keluarga pasiennya bingung?
"Bang, sini duduk." Ayah sampai menarik tanganku.
Hanya ayah yang menemaniku, karena yang lainnya menunggu di kamar inap Izza. Ada juga yang pamit pulang, mengatakan bahwa dirinya akan membuatkan makanan.
Keadaannya begitu mencekam, aku tidak membutuhkan makanan. Aku hanya butuh kabar baik, tentang keadaan istriku. Semua orang tidak mengerti perasaan panikku, memintaku tenang adalah perintah tak berakal menurutku.
Bagaimana bisa tenang, sedangkan tenaga medis yang menangani Izza pun sepanik itu? Aku kira kepanikan hanya di kamar operasi saja, bukannya sampai datang ke ruang ICU begini.
"Udah, udah lagi di jalan dua teman aku lagi. Nanti kalau dia udah di depan, aku arahin mereka untuk tes darah dulu." Kaf datang melapor, kemudian ia duduk di samping ayah.
"Bang, sini dulu. Dengar Ayah dulu." Ayah menepuk tempat di sebelahnya yang masih kosong.
"Yah, aku tak mau dengar apa-apa dulu. Aku butuh informasi tentang Izza, bukan kalimat penenang atau nasehat Ayah. Aku butuh kabar baik dari Izza, baru aku bisa tenang. Aku butuh informasi yang jelas dari pihak rumah sakit, tentang keadaan Izza di dalam." Aku tetap berdiri dan mondar-mandir menunggu seseorang yang keluar dari ruang ICU agar bisa aku tanyakan.
"Iya, Ayah paham. Ayah pernah merasakan juga, Bang. Dari pengalaman Ayah, ya kau hanya dapat lelah aja kalau berdiri terus. Karena pihak rumah sakit tak akan kasih informasi apapun, sampai tugas mereka selesai dan keadaan pasien cukup stabil. Mereka lagi berusaha, mereka lagi berjuang untuk kebaikan dan kesembuhan pasien. Kalau mereka kau recoki, yang ada mereka hilang fokus dan marah karena kau terus tanya di sela pekerjaan dan perjuangan mereka. Yang ngerti, yang bisa diajak kerjasama. Mereka pun ingin yang terbaik untuk pasiennya, mereka pun pasti merasa bersalah kalau tak mampu kasih yang terbaik untuk pasiennya. Sabar, tunggu sebentar lagi. Kau berdoa aja, semoga ada kabar baik dari perjuangan tenaga medis di dalam sana. Kau do'ain keselamatan dan kesembuhan istri kau, jangan malah ikut panik dan buru informasi terus. Nanti kalau mereka udah dapat hasil, mereka pun bakal kasih tau keluarga pasien bagaimana hasil perjuangan mereka." Ayah berbicara perlahan.
"Yah, aku panik." Suaraku bergetar, aku pun mengucek mataku yang basah.
"Ayah paham, Bang. Ayah pernah merasakan masa itu. Duduklah sebentar, atur napas kau. Sabar, berdoa, sini duduk!" Ayah menepuk tempat duduk di sampingnya kembali.
"Oh, ya? Di mana? Coba kau aturlah dulu. Kita lihat dulu perkembangannya, sebelum ambil operasi lanjutan." Pakwa berbicara dengan dokter Fardan yang sama-sama keluar dari ruang ICU tersebut.
"Betul, kita tengok perkembangannya dulu." Mereka berjalan menjauh dengan cepat.
Operasi lanjutan? Untuk apa? Apa Izza benar membutuhkan hal itu? Kenapa harus dilakukan operasi lanjutan? Katanya, tindakannya hanya sederhana saja. Katanya minim resiko, jika keadaan tubuh Izza sehat dan tidak stress? Tapi kenapa langsung dipindahkan ke ruang ICU setelah operasi? Berarti, tandanya ada apa-apa dengan Izza.
Seseorang, tolong jelaskan padaku bagaimana keadaan Izza.
__ADS_1
...****************...